Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Isi Hati Azriel


__ADS_3

Azriel melangkah mendekati Ayu. Tidak tahu mau apa. Ayu mundur selangkah demi selangkah dan tiba tiba terbentur almari yang di belakang meja Azriel. Dia bingung tidak bisa bergerak.


Azriel “Dek kamu mau memaafkanku kan? kamu beda dek. Tidak seperti yang lain. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Semalam aku tidak bisa tidur. Aku salah. Aku minta maaf. Aku akui aku mengajak kamu ngaji khusus karena ingin lebih dekat dengan kamu dek“ . Ayu lemas mendengar kata kata itu keluar dari mulut Azriel. Di serasa melayang. Apakah ingin dekat maksudnya ingin dekat antara wanita dan laki laki. Apakah Azriel mempunyai perasaan sama dengan dia?


Mata Ayu bersinar. Kaget. Azriel semakin mendekat. Deru nafas mereka hampir bertabrakan. Wangi parfum mereka bercampur. Jarak mereka hanya terpisah 5 cm. mereka serasa di luar angkasa terbang berdua. Tanpa ada orang lain di sekitarnya.


Azriel mengajak Ayu menuju tempat umi rodiah. Dan Ayu tidak bisa menolak. Azriel mempersilahkan Ayu untuk jalan duluan. Sementara dia mengatakan kepada Puji dan Sari serta ustad ustad lain yang ada di ruangan kantor bahwa dia dan Ayu akan ke rumah Umi Rodiah untuk mengambil beberapa camilan dan gelas yang belum diambil untuk sajian tamu. Di jalan Ayu berusaha menjaga jarak dengan Azriel. Sang Ustad pun masih tahu diri. Dia berjalan di belakang Ayu. Meski dia ingin seklai jalan berjejer dangan Ayu supaya bisa ngobrol, tapi saat ini belum tepat. Karena perjalanan dari madrasah menuju rumah Umi Rodiah cukup ramai dipenuhi orang berlalu lalang menuju Madrasah. Dia takut menjadi pertanyaan banyak orang bila berjalan berdua dengan Ayu. Sepanjang perjalanan, Azriel berusaha meyakinkan Ayu tentang isi hatinya. Dia mengatakan bahwa dia tiap hari kepikiran dan terbayang bayang Ayu. Sampai tidak bisa tidur seperti yang disampaikan di kantor tadi. Ayu hanya menunduk diam. Tidak menjawab. Sesekali hanya menjawab iya iya dan iya.


“Dek … apa kamu mengerti yang aku sampaikan dek?, Kamu mengerti perasaanku sama kamu kan?”


“Apa kita bisa lebih dekat dek?“ Azriel


“ Maaf tadz …ini di jalan. Banyak yang melihat kita. Lebih baik jangan berbicara yang aneh aneh“ Ayu


“Apa maksudmu aneh aneh dek ? aku laki laki normal, aku menyukaimu dek. Tolong pertimbangkan aku . Kamu tidak harus menjawab sekarang “.

__ADS_1


“maaf tadz … sebentar lagi saya harus masuk kelas. Jadi harus cepat ke uminya takut terlambat masuk kelas Yayan"


“aku akan mengizinkan kamu nanti dengan Ustad Yayan. Kamu jangan khawatir. Toh kita di rumah ummi tidak bisa cepat cepat. Harus membantu umi juga“.


“Maaf tadz … saya……..???“


“Jangan panggil aku ustad. Panggil aku mas saja. Serti Sari dan lain lain“ Azriel


“Saya tidak bisa. Maaf. Mungkin Sari sudah dekat dengan Ustad dan sedekat apa hubungan ustad dengan Sari itu urusan kalian. Saya tetap murid ustad“.


Semakin Ayu mempercepat langkah Azriel semakin mendekatinya. Dia tidak mau hari ini tidak membuahkan hasil untuk mengungkapkan semua isi hatinya kepada Ayu. Sampai di halaman rumah Umi yang luas dan sepi…Azriel mencekal tangan Ayu. Dia menariknya agar Ayu berhenti. Tatapan Azriel menyala seolah menuntut. Tangannya menggenggam erat tangan Ayu.


“Apa mau ustad?“


“Jangan panggil aku ustad. Panggil aku mas“

__ADS_1


“Nggak bisa“


“Apa maksudmu gak bisa dek? Apa kamu gak mau memberi kesempatan kepadaku untuk berhubungan sama kamu. Aku menyukaimu dek. Kasih kesempatan aku untuk membuktikan dan mari kita saling mengenal“ Azriel


“Ini terlalu cepat mmmm mas…“ Ayu masih kikuk.


“Kita belum terlalu mengenal“


 "Aku serius dek. Tolong akuuuu“ Azriel. Ayu tidak kuasa untuk menjawab ingin sekali dia menjawab IYAAAAAA. Dia serasa melayang dan berada di taman yang bertaburan bunga. Tapi gengsi nya dan pikirannya masih  bisa diajak berfikir. Dia bukan siapa siapa. Dia bukan anak kyai atau ustadzah ustadzah yang sudah mendekati Ustad Azriel. Dia jauh dari mereka. Mereka sempurna. Sedangkan dia…? Siapa? Anak siapa? Pantaskah dia? Jangankan bersanding. Berteman dengan Azriel pun dia tidak seimbang.


Ayu hanya diam. Dia menatap Azriel dengan kosong. Sementara Azriel masih mencengkeram lengan Ayu. Tidak rela dia lepas. Sorot matanya meminta jawaban Ayu. Menyepitkan mata dan menundukkan kepala dengan mantap. Mengharap Ayu juga membalas dengan anggukan kepala. Tetapi Ayu masih pasif. Ayu menahan diri. Dia serasa ingin menangis di posisi ini. Apa yang harus dijawab? dari netra mata Azriel dia melihat ketulusan. Ketulusan yang dalam. Apa dia harus menerima? tapi apakah ini akan bertahan lama? atau ini hanya sementara? Azriel hanya sesaat suka dengan dia? dan akhirnya Azriel akan meninggalkan dia? apa keluarga Azriel akan menerima? TIDAK MUNGKIN.


“Kasih waktu aku“ itu keputusan Ayu.


“Aku akan membuktikan ketulusanku“ Azriel menganggukkan kepalanya. Ayu melepas tangannya. Dia malu bertatapan lagi dengan Azriel. Dia bergegas menuju rumah Umi Rodiah. Azriel mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Umi Rodiah adalah Ustadzah yang mengampu madrasah dan ngaji di Mushola. Dia adalah adik dari Kyai atau bibi  Azriel. Semua orang khususnya murid madrasah memanggilnya dengan sebutan “ umi“. Umi Rodiah pandai memasak. Semua kajatan yang berhubungan dengan mushola dan madrasah pasti menggunakan masakan Umi. Dia bisa menyajikan semua menu terutama yang menjadi kesukaan Kyai.


__ADS_2