Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Cemburu = Cinta


__ADS_3

Di dalam rumah Umi, ternyata sudah ada beberapa orang yang membantu memasak. Ada ustadzah ana dan Ustad Imron. Mereka berdua adalah keponakan Umi. Sama halnya dengan Azriel.  Bila Azriel adalah keponakan Umi langsung, kalau Ana dan Imron adalah keponakan dari suami Umi. Sosok Imron adalah sosok yang popular bagi siapapun. Kepribadiannya yang lemah lembut dalam mengasuh murid murid di madrasah dan mushola selalu menjadi rasa kagum semua orang. Dia sopan kepada orang tua dan sayang kepada muridnya. Tidak pernah ada hal buruk yang tersemat pada nama seorang ustad Imron. Meski secara fisik ustad Imron tidak setampan Azriel, tapi ustad Imron lebih dekat dengan warga dibanding Azriel. Imron adalah senior Azriel 3 tahun lebih atas di pondok pesantren gxxxxx dulu. Prestasinya pun luar biasa. Dia mampu mengharumkan nama desa karena dia merupakan santri terbaik dari pondok pesantren gxxxxx. Sikapnya yang selalu bijaksana dan menjadi rujukan ustad lainnya bila ada masalah menjadikan semua orang segan. Setiap kali Kyai berhalangan hadir, maka Imron lah yang ditunjuk untuk mewakili beliau. Justru bukan Azriel. Karena Imron dianggap lebih mumpuni memimpin dan mampu menyelesaikan banyak masalah bila Kyai tidak di tempat. Azriel pun sangat hormat dengan Imron. Dia adalah salah satu senior yang menjadi rujukannya. Baik ilmu maupun dalam hal hidup. Dia sering bertanya dan mencontoh Ustad Imron akan beberapa hal.


Imron tersenyum manis melihat kedatangan Ayu dan Azriel. Dia seketika berdiri dan menghampiri ke pintu seolah menyambut kedatangan 2 insan yang baru saja selesai membuat drama entah apa itu.


“ Ayo dek Ayu … masuk saja dek. Alhamdulillah bila dek Ayu bisa membantu “ dia terlihat sangat girang.


“ Zriel … kok bisa dek Ayu bareng sama kamu ke sini ? kamu yang minta dek Ayu membantu atau tadi kebetulan bareng ke sini ? “ Imron . Azriel belum sempat menjawab. Imron sudah menyela lagi

__ADS_1


“ Ah sudahlah. Makasih ya. Kamu mau ke sini lagi. Padahal sudah beberapa kali ambil barang ke sini sendiri. Sekarang ngajak bantuan. Dek Ayu lagi “ . Terdapat hal aneh dari kata kata dan mimik Ustad Imron ketika menyebut nama Ayu. Tapi Azriel menghalau pikirannya. Dia sangat menghormati Ustad Imron. Jadi dia tidak akan pernah bersuudzon sedikit pun dengan sosok ini.


Ayu duduk mendekati Ustadzah Ana. Dia membantu Ustadzah Ana memotong motong daun pisang untuk menghias tumpeng yang baru saja mau disajikan oleh Umi. Tanpa dikomando, Imron duduk menghampiri Ayu. Dekat. Sangat dekat sekali. Imron mengambil beberapa lembar daun pisang dan mengelapnya untuk Ayu. Senyumnya selalu terbit di sini. Padangannya tidak pernah teralihkan dari Ayu. Dan dia meninggalkan pekerjaannya yang tadi menyusun kue “bugis” di plastik plastik untuk di bawa ke madrasah. Semua orang yang ada di sana melihat tingkah laku Imron. Umi tersenyum malu melihatnya. Sedangkan Ustadzah Ana yang erupakan adek dari Ustad Imron menahan senyum melihat tingkah laku sang kakak.


Berbeda dengan Azriel. Dahinya berkerut beberapa kali. Mulutnya terbuka sedikit mengisyaratkan keheranan. Dia memperhatikan dengan seksama tingkah Ustad Imron kepada Ayu. Sangat dekat dan ada keinginan untuk mendekati Ayu. Saat Ustad Imron memberikan gunting untuk Ayu pun, mereka terlihat bertatapan. Senyum mengembang di bibir Ustad Imron. Tetapi Ayu terlihat canggung. Beberapa kali dia menundukkan kepala dan memberikan senyum tipis yang tertahan. Dan beberapa kali dia memandang ke Ustad Azriel. Pandangan tidak enak dengan sedikit ketakutan. Azriel masih berdiri kaku memperhatikan mereka. Saat Ayu mengambil daun untuk dipotong, Imron menahan ujung daun itu. Ayu menatap Ustad Imron.


JEDEER

__ADS_1


Kilat dengan kekuatan jutaan mega watt menyambar hati Azriel. Mulutnya menganga melihat adegan ini. Nafasnya hampir terputus mendengar kata kata Ustad Imron. Bagaimana bisa … ternyata ustad Imron menyukai pujaan hatinya. Dan bahkan telah lama menyatakan cinta kepada Ayu. Bila Azriel bisa memaklumi sikap sikap ustad ustad lain yang lagi mengejar Ayu dan pemuda pemuda desa yang kecentilan dengan Ayu. Tidak dengan Imron. Dia tidak menyangka sosok Imron ternyata menjadi salah satu pengharap cinta Ayu. Kekagumannya dengan Ustad Imron menjadikan dia sosok panutan setelah Kyai, sang bapak. Dia akan dengan sukarela mengalah bila itu adalah permintaan dan nasehat dari Ustad Imron dalam semua hal. Apa yang harus dia lakukan? akankah dia mundur dari perasaan yang membelenggunya? atau dia akan tetap mempertahankan hatinya untuk Ayu? Umi dan Ustadzah Ana ikut terhentak dan menghentikan pekerjaannya. Mereka tidak menyangka Ustad Imron telah melakukan langkah yang cukup berani kepada Ayu. Pandangan Ayu melemah. Tangannya bergetar semua orang menatapnya dan memang tidak mungkin dia meminta waktu lagi kepada Ustad Imron untuk menjawabnya. Sudah berkali kali dia meminta waktu untuk berfikir. Hal ini dilakukan karena kebingungannya atas beberapa sikap berani lawan jenis yang mendekatinya yang menyatakan perasaan kepada Ayu. Banyak hati yang harus ia jaga dan banyak hal yang harus dia pikirkan.


“Maaf ustad Imron. Saat ini saya belum bisa menjawab lagi. Apa ustad masih bisa menunggu ? maaf. “


“Sampai kapan dek? sampai kapan aku harus menunggu? sampai kapan kau menggantungkan hatiku tanpa kepastian. Apa yang salah denganku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menjadi terbaik untukmu.  Di hatiku hanya ada dirimu dek. Tidak ada yang lain. Aku bersumpah“ . Suara Ustad Imron tercekat mengatakan ini.


“ Maaf. Beri waktu sedikit lagi“. Ayu menjawab dengan menunduk. Seolah-olah ingin menenggelamkan dirinya ke bumi paling bawah. Menghindari tatapan semua mata di ruangan itu. Begitupun dengan Azriel. Dia menundukkan kepala. Matanya terpejam. Imron pun melakukan hal yang sama menunduk dengan hati bercampur aduk. Dia bertekat mendapatkan hati Ayu. Tapi bila digantung berkali kali dan selama ini …. apa dia sanggup. Impiannya untuk mendapatkan hati Ayu segera sebelum keberangkatannya beberapa hari ke kota Gxxxxx pupus sudah. Tapi untuk insan yang sekuat dan sesabar Ustad Imron ini hanya sebuah ujian kecil untuknya. Maka dia memutuskan untuk tetap maju. Dia tersenyum kepada Ayu. Tidak terlihat raut sedih pun di wajahnya. Memang dia pemuda yang baik. Pemuda yang ideal menjadi pemimpin. Selalu berlapang dada, menghadapi semua masalah dengan jiwa besar. Dia usap kepala Ayu yang tertutup jilbab. Ayu bergeming dia semakin menundukkan kepalanya. Ingin rasanya dia bersembunyi di langit sap ke 7. Dia memikirkan Ustad Azriel. Apa yang saat ini terjadi dengan dia? mundurkah? majukah? biasakah? cemburukah? bukannya cemburu bagian dari sebuah cinta? Itu yang dia tahu tentang cinta. Dan apakah Ustad Azriel cemburu serta benar-benar masih cinta dengan dia setelah ini?

__ADS_1


__ADS_2