Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Kebenaran


__ADS_3

Seorang pemuda tampan lari dengan kencang, mengabaikan orang di sekitar lorong rumah sakit. Tujuannya hanya satu, ruang ICU. Azriel menuju rumah sakit dengan perasaan was-was. Ada kesedihan dan kekhawatiran mendalam yang dia rasakan. Azriel masuk ke ruang ICU setelah mendapat ijin dari petugas ruang. Dia menatap Lia yang terbangun lemah. Seluruh tubuh Lia terpasang alat-alat entah apa itu. Tubuh Azriel serasa hilang tenaga dan tak bertulang. Tangannya bergetar tak kuasa melihat Lia, sosok yang selalu ceria selama ini terkulai.


“Kamu harus bangun. Kamu harus sembuh. Aku tidak akan memaafkan diriku bila kamu tidak bangun. Tolong bangun. Jangan membuat aku takut. Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. Aku di sini” bulir air bening menetes dari mata Azriel. Ini salah satu hal yang dia takutkan ketika dia pergi ke luar kota tanpa Lia.


Selama 5 tahun ini, Azriel selalu membawa Lia pergi bila dia ke luar kota ataupun ke luar negeri. Dia tidak mau kejadian seperti ini terjadi. Tapi apa, ternyata demi mengikuti Ayu ke Makasar, Azriel melupakan Lia. Dan apa yang dia hindari selama ini, terjadi tiba-tiba.


“Maaf, pak Azriel. Dokter Coni meminta anda datang ke ruangan. Ada hal yang akan beliau sampaikan terkait kesehatan nona Lia” perawat jaga mendekati Azriel.


“Apa yang terjadi Zriel, aku sudah memeperingatkan kamu berkali-kali. Jangan sampai Lia mengalami hal ini. Dan apa ini, ternyata kesehatan Lia buruk, jauh lebih buruk dari 4 tahun lalu. Apa dia tidak mengkonsumsi obat secara rutin? Ini sangat fatal Zriel” ucap dokter Coni dengan sedikit keras. Dokter Coni adalah teman Azriel satu asrama mahasiswa ketika menempuh pendidikan di US. Azriel mengambil bisnis, sedangkan dokter Coni spesialis penyakit dalam. Azriel hanya bisa menundukan kepala mendengar omelan sahabatnya ini. dia teringat dengan laporan Dion asistennya ketika di pesawat. Dion baru saja menerima laporan bahwa Lia selama ini tidak meminum semua obat yang diberikan. Padahal dia tidak bisa lepas dari obat. Asisten rumah tangga Lia menemukan tumpukan obat di gudang yang disembunyikan dalam kardus.


Empat hari sudah Azriel menemani Lia yang ada di rumah sakit. Dia tidur di Rumah sakit, tanpa sekalipun pulang atau ke kantor sejak dari Makasar. Azriel berjanji tidak akan meninggalkan Lia lagi, apalagi dalam keadaan seperti ini. Kesehatan Lia setelah dirawat mengalami kemajuan. Dia sudah tersadar dan hari ini bisa dipindah di ruang perawatan.

__ADS_1


Sementara itu di ruang Dinas Pxxxxxxxxx sedang diadakan acara syukuran atas keberhasilan yang diraih Ayu.


“Selamat Paginbapak dan ibu semua, hari ini kita bersyukur atas capaian yang diraih salah satu rekan kerja kebanggaan kita yaitu mbak Ayu karena telah menjadi petugas pengelola anggaran pusat terbaik tingkat nasional. Perlu diketahui, bahwa sehari yang lalu mbak Ayu menerima penghargaan dari Direktur Jenderal langsung di Makasar sebagai petugas terbaik. Ini adalah capaian terbesar dari dinas kita tahun ini dan saya sangat berharap ini akan menjadi motivasi kita semua untuk bekerja dengan optimal dan memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Meski mbak Ayu baru satu tahun bergabung dengan kita, dia sudah menunjukkan dedikasi yang tinggi akan kinerjanya di sini. Maka dari itu, kita harus berusaha mendukung dan memotivasi diri sendiri untuk bekerja dengan lebih baik dan mempertahankan prestasi ini secara bersama-sama. Sekali lagi selamat mbak Ayu” Kepala Dinas membuka acara syukuran dengan sambutan yang cukup panjang, sebagai ungkapan kebanggaannya kepada Ayu. Semua yang ada di ruangan bertepuk tangan dan bangga. Ayu tersenyum melihat sambutan semua yang ada, dia bersyukur. Tapi pikirannya berkelana entah kemana, mencari kehadiran dan kabar sosok yang dia tunggu, Azriel.


“Assalamualaikum mbak…mbak ada yang penting. Rumah kita…”Ati langsung menyambar ketika Ayu mengangkat panggilannya setelah beberapa kali.


“Ada apa dek…ada apa dengan rumah kita? Apa ada yang bocor atau ada banjir bandang lagi di desa?” Ayu panik.


“Ngomong yang jelas ti. Jangan bikin aku panik. Gimana keadaan bapak dan ibu?” Ayu.


“Bapak dan Ibu baik. Rumah kita ada yang renovasi mbak. Dibangun total. Lantai sudah berkeramik, tembok diperbaiki, atap, pintu, jendela, kamar mandi dapur sampai semua furnitur semua lengkap mbak…” Ati menjelaskan kepada Ayu dengan opanjang lebar tentang keluarga Azriel yaitu Kyai Madun yang sudah merenovasi rumah dan menawarkan beberapa terapi ke ibukota untuk penyembuhan kaki bapak.

__ADS_1


“Ustad Azriel meminta Ibu untuk tidak mengatakan kepada mbak Ayu. Dan Kyai Madun juga sudah aku tanya langsung, ternyata ustad Azriel yang ikut andil pada semua ini. Jadi aku ingin tahu apa ini mbak Ayu sudah tahu? dan apa mbak Ayu sudah ketemu Ustad Azriel? ternyata dia sekarang satu kota dengan mbak Ayu” sahut Ati dengan beberapa pertanyaan Ayu.


“Bagaimana bisa mas Azriel melakukan ini di belakangku. Apa tujuannya? Jadi dia bilang pulang ke rumah untuk mengurus hal penting ketika proyek pemberantasan buta aksara itu karena ini” gumam Ayu setelah mengakhiri telepon dari Ati. Memang Ayu sejak 5 tahun ini kuliah sambil kerja demi membiayai sekolah kedua adiknya. Sampai dia mendapat kerja, dia tidak ada kemampuan untuk memperbaiki rumah. Dia hanya fokus kepada adik adiknya. Dan sekarang Azriel ternyata mengambil tugas Ayu untuk merenovasi rumahnya.


Ayu menghubungi Azriel beberapa kali. Tapi tidak diangkat. Pesannya pun tidak dibaca. Sudah 3 hari Azriel tanpa kabar. Dia tidak menghubungi Ayu sama sekali. Berbeda dengan dulu ketika dia marah dan jauh pun, Azriel hampir setiap saat menghubungi dan memeberikan pesan. Tapi sekarang Azriel mengabaikan Ayu. Terlihat ada hal yang lebih penting dari Ayu sekarang yang harus dia urus.


Hari ini Ayu mengontrolkan bapaknya ke Rumah Sakit besar di kota. Ayu menolak permohonan Kyai Madun untuk membantu proses penyembuhan bapak. Hal ini karena Ayu belum mengetahui maksud di balik Kyai Madun dan Azriel. Ya, Azriel memang menyelesaikan masalah kecelakaan itu tanpa memberitahukan keluarga Ayu. Dia menutupinya untuk sementara waktu untuk menghindari penolakan dari keluarga Ayu. Kyai Madun datang meminta maaf bahkan hampir bersujud di kaki bapak Ayu, tanpa berkata apa-apa. Ibu Ayu pun bingung sampai sekarang. Dan tidak mengetahui bahwa Kyai Madun, paman Azriel yang menabrak suaminya.


Di ruang administrasi, sekelebat Ayu melihat sosok Azriel. Dia mengurus beberapa syarat untuk perawatan seseorang. Smeentara Ayu melakukan antrian kasir atas pengobatan bapaknya. Ayu penasaran dengan Azriel. Dia memutuskan untuk mengikutinya. Ayu membuka ruangan yang ditingalkan Azriel beberapa waktu lalu. Dia ingin tahu siapa yang dirawat dan dijaga oleh Azriel. Apa benar Lia sesuai dengan dugaannya.


“Kemari Ayu…kenapa kamu kaget melihatku? apa aku tidak cantik lagi? aku kacau sekali ya? hikkks…hiks…hhiiiikkkss…huuuuuuu” Lia menangis sejadi jadinya. Dia menutupi wajah pucatnya. Lia mencegah Ayu yang

__ADS_1


 terkaget dan akan lari dari ruangannya setelah melihat keadaan Lia. Ayu mendekati ranjang Lia, dan memegang kaki lemah Lia. Dia sungguh tercengang melihat keadaan Lia. Sangat berbeda. Gadis rupawan nan jelita yang membuat semua kaum Adam tidak akan mampu mengedipkan matanya, sekarang sungguh berbeda. Lia terlihat sangat pucat, kulitnya keriput dan tubuhnya sangat kurus. Dan satu lagi…rambut indah yang selalu dia cat warna warni dengan tatanan salon nan menawan, sekarang sudah tidak ada. Lia sekarang botak, tanpa rambut sehelai pun. Ayu menenangkan jantungnya. Dan memberanikan diri untuk menepuk-nepuk punggung Lia demi memberikan sedikit ketenangan.


__ADS_2