Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Malam Pertama?


__ADS_3

“Maaf dek. Aku tahu kamu kecewa dengan mas. Karena mas melakukan semua ini tanpa sepengetahuan dan persetujuanmu. Mas janji, akan membuatmu tersenyum dan mendapatkan kebahagiaan lahir batin selama menjadi pendamping hidup mas. Selamanya kamu akan menjadi Khatijahku, cintaku selamanya” batin Azriel dengan sorot mata yang penuh makna.


“Ashtagfirullah…” Puji terkaget dengan pandangan kedua yang dilihat siang ini. Setelah tadi dia melihat Azriel memeluk Ayu dari belakang di depan kamar mandi, sekarang dia melihat Dion yang bertubi-tubi mencium Ati.


Selepas Ijab Qubul yang dilantunkan dengan lancar oleh Azriel satu tarikan nafas, semua orang yang hadir bisa bernafas lega. Semua bahagia dan mengucapkan selamat. Sambil menunggu acara resepsi yang akan diadakan 2 jam lagi halaman jalan depan rumah Ayu yang disulap bak Istana dengan menutup semua akses jalan, Ayu mohon diri untuk ke belakang. Dia ingin ke kamar mandi, tapi masih harus antri dengan yang lain. Karena rumah Ayu hanya ada 1 kamar mandi. Azriel yang menunggu Ayu dari tadi saat dia ijin ke belakang, mulai gelisah. Akhirnya


dia mencari istrinya.


“Masih antri dek? apa mau mas antar ke rumah mas? masih ada sekitar 1 jam lebih sebelum naik panggung” Azriel menghampiri dan mengelus rambut indah Ayu.


“Di sini saja” jawab Ayu lirih serasa tanpa tenaga. Azriel yang mendengar jawaban istrinya yang enggan justru mendekati dan menyentuhnya dengan lembut. Tanpa malu Azriel memeluk sang istri yang baru saja dia halalkan itu dengan lembut dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


“Ikut saja kata ratu hatiku ini. Mas tunggu di sini, mas gak bisa jauh-jauh dari kamu sayang” timpal Azriel dengan menghirup penuh kasih aroma rambut Ayu yang harum menenangkan.


Di dapur, dua insan lain yang lagi dimabuk cinta sedang mencari kesempatan untuk berdua. Dion dan Ati. Dari tadi Dion memberi kode kepada Ati untuk menyingkir dari keramaian. Karena sejak seminggu ini dia tidak ada waktu untuk bersama dengannya.


“Huuupppp…kutangkap kau!” Dion menangkap pacar yang baru seminggu ini membuat hatinya berbunga-bunga.


“Dion…jangan kayak gini. Dilihat orang!!!” Ati tersentak melihat kenekatan Dion.


“Yang sopan manggil pacarnya. Jangan nama saja. Gak Sopan!” sahut Dion semakin mendekap Ati.


“Iiiihhhh…siapa yang jadi pacar kamu? enak saja” cibir Ati.

__ADS_1


“Bidadari galak ini yang mau. Yang nyosor-nyosor abang kemarin…”goda Dion.


“Ngarep!!!” sentak Ati.


“Jangan gitu lah sayang, jangan marah. Abang kemarin sibuk sekali ngurus semua. Si bos ini, dia yang nikah aku yang kayak kesetanan ngurus semua” Dion mencium rambut Ati.


“Alasan. Dari kemarin dihubungi gak bales-bales. Sok sibuk. Baru seminggu jadi pacar saja dicuekin. Gimana kalau sebulan. Bakal merana aku. Kamu tinggal terus” gerutu Ati. ~~~~


“ Jadi pacar mas kangen ni ceritanya. Kalau kangen bilang dong sayang, bilang pengen dibelai, pengen dipeluk, pengen dicium gitu. Jangan galak-galak sama pacar” Dion menggoda Ati dengan mendusel dusel hidungnya di rambut Ati. Ati yang kegelian, berusaha lepas dan lari. Tapi seperti biasanya, Dion lebih sigap dalam hal kecepatan. Dengan bertubi-tubi Dion mencium pipi kanan dan kiri Ati bergantian. Ati berteriak-teriak berusaha melepas diri. Sungguh bahagia pasangan yang dimabuk cinta ini.


“Yang…kamu tahu gak. Mbakmu kenapa? Apa dia sempat cerita-cerita sama kamu? gimana perasaannya saat ini? tak lihat muram terus itu muka” Dion menghentikan aksi gilanya.


“Itu yang mau aku omongkan ke kamu. Dari kemarin gak sempat terus. Aku sudah berusaha mendekati mbak Ayu. tapi dia menghindar. Dan bilang gak ada apa-apa. Katanya dia hanya kaget dengan semua ini. ini terlalu cepat katanya” jawab Ati dengan berbisik.


“Mbak Ayu memang orangnya suka memendam masalah. Dari dulu dia akan diam bila ada masalah dan menyelesaikannya sendiri. Semua kesulitan dihadapi sendiri. Tapi aku takut…kadang dia mengambil langkah yang aneh” Ati khawatir.


“Kita berdoa saja. Mudah-mudahan pernikahan mereka baik-baik” Dion menghirup nafas. Dia tahu betapa besar cinta sahabatnya untuk Ayu. Dan betapa hancurnya Azriel ketika Ayu mengindahkan cintanya.


Malam ini… di kamar pengantin yang sudah dihias indah…


“Aku gak mau tidur di sini malam ini” Ayu duduk di tempat tidur sempit kamarnya, Azriel terpaksa merubah kamar Ayu untuk mamar pengantin sesuai permintaan Ibu Ayu. sebenarnya dia tidak nyaman, karena sempitnya kamar dan tidak kedap suara dan banyaknya saudara Ayu yang menginap dan tidur di luar kamar di lantai.


“Kenapa, gak nyaman dengan mas?” Azriel menjawab dengan melepas bajunya. Baru saja dia masuk kamar, karena tadi dia menyambut para koleganya. Dan berbincang-bincang, sementara Ayu sudah masuk kamar dan berganti baju. Ayu pun mengganti baju santai, tidak seperti pengantin lain yang berganti lingire seksi. Dia menunggu Azriel dari tadi dengan wajah masam. Ayu menggeleng pelan mendengar jawaban Azriel. Azriel dengan sabar dan mendekati istri kecilnya itu.

__ADS_1


“Ada apa sayang…istriku…bidadari surgaku…bilang sama mas bila ada yang tidak kamu suka” Azriel.


“Aku mau pindah kamar. Ke tempat yang gak ada orang banyak!” Ayu


“Di sini jauh dari hotel sayang, bila kita pesan hotel ke kota, akan memakan waktu beberapa jam” jawab Azriel dengan sabar.


“Pokoknya aku mau pindah. Sekarang!” Ayu menundukkan kepalanya. Azriel yang mencium gelagat Ayu mulai emosinya sedikit meningkat, segera mengiyakan permintaan Ayu. dan menelepon Dion untuk menyiapkan kamar di rumah Azriel yang baru setahun ini dia bangun. Azriel memiliki rumah di desa ini, rumah berlantai dua yang luas dengan banyak tanaman teduh dan gaya victorian ini dia bangun untuk mempersiapkan diri ketika menikah. Dan tentunya dengan Ayu sang dambaan hati. Malam itu pun, pengantin baru itu pindah ke rumah baru Azriel yang sebetulnya akan dia persembahkan untuk Ayu sebagai kejutan setelah bulan madu yang sudah dia siapkan selama seminggu.


Di dalam kamar, Ayu terlihat masam.



Azriel yang memang merasa bersalah dan tahu kesalahannya, berusaha meredam kemarahan istrinya yang sedang merajuk. Dia dekap Ayu dengan lembut.


“Maaf…maafkan mas”Azriel mengucapkan maaf dengan memeluk Ayu dari belakang dan membisikkan ke telinga Ayu.


“Maafkan mas yang sudah mengabaikanmu atas semua yang ada akhir-akhir ini. mas sudah tidak bisa menahan keinginan untuk menghalalkanmu sayang. Mas sangat mencintaimu. Hingga mas mengabaikan perasaanmu. Mas sengaja tidak memberitahu masalah kecelakaan bapak karena mas takut, kamu akan menghindari mas bila tahu siapa yang menabrak bapak. Dan mas juga takut kamu tidak menerima mas dan keluarga mas. mas merencanakan semua ini dengan cepat agar kamu segera menjadi milikku sayang. Hanya milikku. Seutuhnya. Malam ini” suara Azriel mulai berubah parau. Suasana kamar terasa mulai memanas. Tangan Azriel bergerilya ke mana mana mencari apa yang bisa dibuka dari tubuh Ayu. Sedangkan bibir dan hidungnya mengendus semua kulit leher Ayu dan menghirup aroma rambutnya yang membuat mabuk kepayang darah kelakiannya. Dia tidak membiarkan satu inci pun kulit leher Ayu dari jangkauan lidahnya. Ayu memejamkan mata merasakan perlakuan Azriel. Tangannya mencengkeram seprei dengan kuat. Semakin lama Azriel semakin menggila. Tubuh bagian atas Ayu sudah polos. Dan tangan Azriel mulai menelusup ke dalam kain segitiga dan mencari isinya. Lidah Azriel pun tidak kalah aktif. Kini lidahnya turun menyesap pangkal dada atas Ayu. Nafas Azriel terdengar terngap-ngap menahan hasrat.


“Aku belum siap” suara Ayu memecah hasrat Azriel.


“Lepaskan aku. Jika kamu tidak lepaskan aku. Kamu hanya akan mendapatkan tubuhku. Tidak cintaku. Dan aku akan membencimu. Selamanya…” Ayu menangis mengatakannya dengan memejamkan mata. Azriel yang mendengar ini mengatur nafasnya yang belum teratur. Akankah dia memaksa Ayu seperti beberapa hari yang lalu? tatapan Azriel tajam namun sayu menatap manik hitam cantik di depannya. Dia istrinya. Tapi dia tidak mau disentuh olehnya.


“Aku butuh waktu. Tolong jangan paksa aku” tegas Ayu.

__ADS_1


__ADS_2