
“Maaf mbak, ini tempat duduk saya. Mungkin mbak salah seat” salah satu penumpang menegur Ayu.
“Ini tempat duduk saya kok mbak, seatnya benar. Lihat di boarding passnya” jawab Ayu.
“Mohon maaf dengan Ibu Ayu Wibisono, bisa ikut saya bu?” pramugari menghampiri dua wanita yang sedang sama sama bingung.
“Iya mbak. Ada masalah apa mbak? ini bagaimana bisa ada seat yang sama untuk 2 penumpang?” tanya Ayu.
“Ada kesalahan teknis bu. Ibu seatnya kami pindah di depan. Silahkan saya antar” pramugari.
Ayu mengikuti pramugari dengan membawa tas berisi dokumen dan lap top serta tas punggung untuk keperluannya di Makasar selama 4 hari. Dia sengaja tidak menempatkan barang di bagasi, agar lebih cepat ketika kedatangan di Bandara Sultan Hasanuddin tanpa menunggu tas.
“Silahkan bu Ayu, ini tempat duduk ibu” ramah pramugari.
“Kok bisnis mbak, saya kan pesannya ekonomi. Dan dari kantor saya memang ada aturan harus ekonomi nanti pertanggungjawaban ke kantor gimana mbak dan bukti buktinya?” tanya Ayu.
“Tidak ada masalah ibu. Semua bukti sesuai tiket yang ibu Ayu beli sesuai yang anda pegang sekarang tidak ada perubahan. Mohon maaf atas tidak kenyamannya. Kami harap ibu bisa menikmati penerbangan bersama kami. Mohon maaf sekali lagi” pramugari meninggalkan Ayu yang masih bingung. Baru kali ini dia mengalami hal yang ganjil. Setelah menunggu beberapa lama, pesawat siap take off.
“Assalamualaikum” suara seseorang di samping yang baru datang. Ayu kaget melihat siapa yang datang, mata Ayu melotot tidak menyangka.
“Assalamualaikum wr wb…” salam kedua Azriel.
“Waalaikumsalam wr wb…” Ayu menjawab tanpa melihat Azriel. Hatinya dongkol tidak karuan.
“Gadis cantik, kalau jawab salam dibarengi dengan senyum yang manis. Pasti tambah sempurna. Senyum ibadah kan nona” Azriel. Tanpa diduga Ayu merespon dengan memukul-mukul pundak Azriel yang menempel di pundaknya. Ayu ambil kursi yang dekat jendela, sedangkan Azriel di sampingnya. Ayu pukul bertubi-tubi melampiaskan dongkol hatinya hingga nafasnya terengah-engah. Sementara Azriel hanya tersenyum manis melihat wajah menggemaskan Ayu yang memerah dan mata melotot karena geram melihat kedatangannya.
Lampu tanda dipadamkan dan pesawat take off, tubuh pesawat naik dan sedikit bergetar, Ayu menghentikan pukulannya dan secara otomatis memegang lengan Azriel dengan kuat bahkan mendekap bahu Azriel dengan mata terpejam. Azriel membalas dekapan Ayu, dengan menyandarkan kepalanya ke kepala Ayu. Dia salami wangi lembut rambut Ayu dan menyalurkan hasrat kerinduan yang dia tahan selama 2 hari ini. Lampu dinyalakan, tapi dua insan ini masih memejamkan mata menyelami kenyamanan yang tercipta. Selama 30 menit keadaan ini tidak terusik.
“Selamat siang bapak ibu, mohon maaf mau minum apa?“ suara pramugari sedikit mengusik. Ayu hanya menggeliat kecil, sementara Azriel sudah sigap bangun.
“orange juice 2 ya mbak” pinta Azriel.
“orange, pakai es bapak?” tanya pramugari. Azriel menggeleng.
Dia mengagumi wajah nan mulus Ayu yang tanpa cacat, bening memancarkan cahaya kecantikan alami. Dibelainya rambut berkilau Ayu, alis, mata dan pipi yang aduhai itu. Ayu terusik, bangun. Dia baru tersadar lagi bahwa dia duduk di dekat Azriel. Netra matanya memandang dalam mata tajam Azriel. Ayu tidak bisa menghalau, bahwa Azriel adalah sosok yang selalu bisa membuat nyaman selain bapaknya.
__ADS_1
“Maaf” Ayu mengalihkan pandangannya. Tapi tangan masih tetap memegang lengan kekar Azriel. Dia menyadari salah. Baru marah dan menghindar, justru dia yang mendekap Azriel.
“Tidur lagi. Masih ada waktu satu jam an. Nanti mas bangunkan bila mau landing” Azriel membelai lembut pucuk kepala Ayu. Ayu tidak menolak. Air matanya menggenang. Hampir tumpah, entah apa yang dia rasakan saat ini. Marah dengan kejadian tempo hari dengan Azriel yang bersama Lia, tapi dia rindu.
Mereka turun dari mobil yang dikendarai Dion di depan lobi hotel. Azriel dengan sigap membantu Ayu membawa tas-tasnya. Sementara semua barang Azriel Dion yang mengurus. Di Lobi, Ayu disambut oleh panitia acara.
“Mbak Ayu, tadi saya telpon beberapa kali tidak diangkat. Saya pastikan ikut pemberangkatan nanti malam atau besok” panitia.
“Ooooh maaf. HP saya low bat mbak” jawab Ayu.
“Tak apa mbak. Bisa kita bicara sebentar di sana?” Ayu melihat Azriel yang tanpa takut ikut duduk bersama.
“Gini mbak. Kami panitia melakukan penilaian untuk pengelola dana pusat terbaik. Dengan kriteria teraktif, terupdate dan terbaik dalam proses maupun pertanggungjawaban. Tiap tahun kami akan memilih. Dan ini tahun pertama. Kami memilih mbak Ayu sebagai pengelola terbaik. Ada sedikit penghargaan dari kami yang akan disampaikan oleh Pak Dirjen di akhir acara yaitu di hari keempat acara penutupan” jelas ~~~~panitia.
“Kami harap mbak Ayu bisa pulang sampai hari keempat, untuk bertemu bapak Dirjen. Karena setahu kami mbak Ayu kan biasanya maksimal 2 hari saja bisa menyelesaikan penyusunan anggaran. Bahkan seringnya hari pertama malam sudah bisa pulang. Bisa ya mbak, penghargaan ini penting untuk memotivasi daerah lain. Dan meningkatkan kualitas pengelola serta pelaksanaan kegiatan kita” lanjut panitia dengan memohon.
“Okey mbak. insyALLAH bisa. Saya juga belum pesan tiket pulang. Seperti biasa menyesuaikan keadaan”.
Setelah berdebat dengan Azriel yang memaksa untuk memesan tiket dengan uangnya di hari keempat berdua dengan tiket bisnis, akhirnya Ayu mengalah. Ternyata Azriel sudah menyiapkan semua. Termasuk koordinasi dengan bendahara dinas terkait bukti-bukti yang harus disertakan dan izin dari kepala dinas Ayu.
“Dasar, mentang-mentang sudah jadi direktur seenaknya saja ngatur. Harus dipatuhi lagi” cemberut Ayu.
Dan benar adanya setelah 30 menit bersih-bersih, Azriel sudah menunggu Ayu di depan kamar. Ayu sempat terkejut melihat Azriel yang sudah stand by di depan pintu kamarnya. Namun dia terpana akan penampilan Azriel yang santai. Semakin membuatnya tampan dan coll. Azriel seperti biasa, selalu melihat kesempurnaan Ayu dengan semua penampilan sederhana yang dia buat.
Mereka menyusuri sepanjang jalan depan hotel yang letaknya berhadapan persis dengan Pantai Losari. Ayu memilih makanan khas Makasar di pinggir jalan untuk makan siangnya. Azriel mengikuti ke mana saja keinginan gadis yang dianggap kekasih selamanya, meski 2 hari yang lalu sang gadis minta mengakhiri hubungan mereka. Dia tidak menanggapi. Baginya, Ayu akan selalu menempati yang pertama dan satu-satunya. Setelah menghabiskan makan siang, mereka berjalan menyusuri pantai.
“Selama 4 hari di sini, bila ada break dari acara adek kasih tahu mas ya. Kita bisa nyari oleh-oleh atau nonton dan jalan-jalan kemanapun yang kamu mau. Mas nunggu di kamar. Gak kemana-mana” Azriel.
“Memang serius nunggu di sini 4 hari. Ninggalkan perusahaan selama itu tidak apa-apa? tidak perlu seperti itu” Ayu tidak enak.
“Memang kenapa kalau mas nunggu pacar kerja 4 hari, sekalian kita jalan-jalan. Mas kan bisa memantau perusahaan dari sini. Semua data sudah dibawa Dion” jawab Azriel.
“Yeee…siapa yang pacar?” sanggah Ayu.
“Sudah berapa kali mas bilang. Kita akan selalu bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Kamu senang sekali ya buat mas ngejar-ngejar kamu dan uring-uringan hingga gak bisa tidur ?” Azriel.
__ADS_1
“Mas…aku punya perasaan. Hubungan mas dan mbak Lia terlalu dekat mas. semua orang juga mengatakan kalian ada apa-apa. Mas harus sadar diri. Dan memang kalian ada hubungan kan sejak dulu?” kilah Ayu.
“Cukup. Jangan bawa nama orang lain diantara kita. Aku dan Lia tidak ada hubungan apa-apa. Kami memang dekat. Dia sudah ada sejak mas kembali ke Indonesia dan memulai semua. Tapi kami tidak ada hubungan lebih. Tidak perlu mendengar omongan orang” sergah Azriel.
“Hanya kamu di hati mas dek” Azriel berusaha dengan keras meyakinkan Ayu, dia memegang kedua tangan Ayu.
“Tapi aku tetap tidak mau mas terlalu dekat dengan mbak Lia” bibir Ayu manyun ketika mengatakannya. Menggemaskan.
“Khawatir banget sih sama mas, cewek manis kalau cemburu tambah imut ya. Mas jadi gak sabar buat ngelamar” goda Azriel.
“Iiiiihhhh…dulu baru jadian 1 jam sudah ngelamar. Sekarang habis bertengkar ngelamar lagi. Aneh!” jawab Ayu lagi-lagi dengan cemberut.
“Itu tandanya mas sangat cinta sama adek. Gak ada pilihan lain” tegas Azriel.
“Kalau diminta milih aku dan mbak Lia, pilih mana? “ tanya Ayu.
“Dengar dek, mas pernah tersiksa terlalu dalam. Bahkan hampir gila dan mati karena kamu. Tolong jaga hati mas. Dan tolong mulai sekarang dek Ayu jangan pernah membohongi hati dek Ayu. Turuti apa kata hati. Jangan ditutupi. Kita saling mencintai dek. Jangan seperti ini terus. Nikah yuk…pulang dari Makasar mas lamar kamu ya dek. Mau ya ?” mohon Azriel.
Ayu menatap lekat mata Azriel. Ada sedikit keraguan di hati Ayu. Karena baginya, Azriel sekarang berbeda posisi. Semakin jauh dengan Ayu. Ada rasa penasaran yang belum terjawab akan hubungan Azriel dan Lia. Dan ini yang akan menjadi tembok kokoh Ayu untuk tidak menerima Azriel dengan mudah.
Deeeeeerrrt…deeeerrrt….deeeeerrrrt
Suara panggilan di Hp Azriel. Kelihatan penting karena Azriel sudah memberi pesan kepada rekan, kerja hanya melakukan panggilan jika penting.
“Assalamualaikum…apaaaa? Lia pingsan? bagaimana keadaannya??? Astaghfirulloh” Azriel menerima telpon dengan panik menerima kabar dari seberang. Beberapa kali dia mengusap rambutnya tanda dia sangat khawatir.
“Tolong bawa dia ke rumah sakit sekarang. Cari dokter Coni. Berikan Lia perawatan terbaik segera. Aku akan pulang hari ini juga. Utus beberapa orang untuk bertanggung jawab dengan keperluan Lia di Rumah Sakit. Kabari aku bila ada apa-apa. Aku segera pulang!” perintah Azriel kepada orang yang telepon.
“Haloo Dion. Carikan aku tiket sekarang juga. Kita balik. Lia sakit. Bagaimanapun caranya kita harus pulang!” Azriel melakukan panggilan berikutnya. Dia memejamkan mata. Terlihat sekali kekacauan di pikiran Azriel. Dia sangat-sangat panik. Azriel lupa, di sampingnya ada seseorang yang sudah linu mendengar pembicaraan Azriel di telepon. Nafas Ayu seakan hilang seketika, mendengar dan melihat respon Azriel terkait kabar Lia yang pingsan di kantor. Segitunya Azriel terhadap Lia. Apa ini yang dia bilang hubungan kerja biasa.
“Halooo Dion…aku tidak peduli bagaimana caranya. Meski tiket habis, kamu bisa sewa jet pribadi atau cari cara tiket penerbangan terdekat semua maskapai atau apa. Apapun caranya” jawab Azriel. Dia mengalihkan pandangannya. Dan di depannya sudah ada Ayu yang menahan tangis. Tanpa banyak bicara, Azriel memeluk Ayu dengan erat. Sementara Ayu hanya bisa diam seperti patung.
“Sekali lagi mas minta pengertian kamu. Sekali ini percaya dengan mas. Maaf mas harus pulang sekarang. Karena dia membutuhkan mas. Tapi yakinlah dek, hanya ada kamu di hati mas. Selamanya. Kamu jaga diri ya. Dion akan mengurus kepulanganmu. Maaf mas tidak bisa menepati janji mas menemani dek Ayu menerima penghargaan dari Pak Dirjen, sukses ya dek. Jangan sekali-kali kamu ragukan mas” Azriel mengecup puncak kepala Ayu, dan berlalu meninggalkan Ayu seorang diri.
“Astaghfirullloh…ya Allah. Mas Azriel…hiks…hiks…hiiikkks” Ayu menangis hebat dengan memegang dadanya yang terasa sangat nyeri.
__ADS_1
(Aduh Zriel…kalau ~~~~otor mah langsung tak bikin sambel nih pacar kayak kamu…ck…ck…ckkkk)