
Azriel menggandeng tangan Ayu dengan terus memandang makam Lia. Ada rasa masih tidak rela meninggalkan gadis yang sudah beberapa tahun menemaninya dan membuat dunianya ceria setiap saat. Lia memang gadis yang menyenangkan. Ayu pun maish enggan meninggalkan lokasi ini. Kalau tidak mengingat pesan dari Dion, dia tidak akan mengajak Azriel pergi. Tapia da sedikit iri di hati Ayu, karena sepanjang perjalanan menuju mobil, Azriel terus memandang makam Lia tanpa menghiraukannya.
“Apa mas Azriel masih mau di sini? bila masih mau di sini, Ayu mau bareng sama mas Dion saja. Dia masih di sana” Ayu menunjuk Dion yang sedang menerima telepon di samping mobil yang terparkir tidak jauh dari mobil Azriel.
“Tidak. Sama mas saja. Maaf ya, karena mas kamu jadi tidak makan dari kemarin sore. Mas lupa dek” Azriel menjawab dengan sendu dan lemas. Ayu tersenyum kecil melihat wajah Azriel. Ada rasa kasihan, tapi ada rasa cemburu. Iya, cemburu. Karena demi wanita lain, kekasihnya itu rela meluangkan semua waktu, pikiran dan tenaganya hingga lupa dengan semua termasuk dia.
Di mobil, suasana hening tanpa pembicaraan. Ayu enggan untuk memulai. Azriel dengan pikirannya sendiri. Sampai kos Ayu, dia turun tanpa berbicara dengan Azriel. Azriel yang baru sadar dengan perubahan Ayu, menyusul Ayu tapi terlambat. Ayu sudah memasuki kos dan tidak menoleh dengan panggilan Azriel di luar pagar.
“Mikir apa akuuu…ya Allah. Bahkan aku gak ngajak dek Ayu makan. Huuuft…” Azriel mengusap erat rambutnya.
Dihempaskan tas kecil yang dia bawa ke tempat tidur kecil itu. Ayu merebahkan badannya yang seharian kaku. Dia memejamkan mata sejenak, mengingat semua bayangan Lia selama beberapa bulan dia kenal. Perutnya yang pagi tadi melilit karena lapar, kini sudah tidak terasa sama sekali. Sudah hilang nafsu makan Ayu karena Azriel yang tidak ada inisiatif apapun mengajak dia makan sepanjang perjalanan dari makam menuju kos. Tiba-tiba Ayu teringat sesuatu.
“Amplop coklat dari mbak Lia” seru Ayu dengan cepat mengambil amplop itu dari tas. Dibuka amplop itu, dan benar itu adalah handphone milik Lia. Masih utuh, casing HP yang glamour dan hiasa HP lain yang mencolok adalah milik Lia.
__ADS_1
“Apa maksudnya mbak Lia memberikan aku HP. Ini untukku untuk tak pakai atau apa ya ?” batin Ayu penasaran. Dia memeriksa amplop lagi. dan dia mendapatkan secarik kertas agenda kecil bertuliskan “REKAM SUARA”.
Ayu mencoba peruntungan dengan membuka HP. Ternyata HP tersebut tidak terkunci. Dia melihat aplikasi perekam suara pada HP tersebut. Dia tekan daftar inbox dan hasilnya ada rekaman suara yang bertanggal pada hari Lia meninggal dengan waktu rekam pagi hari. Yang membuat penasaran adalah nama rekaman tersebut yaitu “untuk Ayu”. Ayu dengan penuh tanya membuka rekaman tersebut …..
“Haloo dek Ayu. Aku panggil dek saja yah. Karena memang aku lebih tua beberapa tahun darimu. Aku kan hampir seumuran mas Azriel. Mas Azriel, satu satunya yang aku punya di dunia ini.
Dek aku tahu kamu pasti marah denganku. Mungkin kamu bahkan pengen menjambak rambutku. Kamu pasti cemburu dan sakit hati melihat kedekatanku dengan mas Azriel. Kamu pastipercaya dengan gosip di kantor tentang kami berdua. Kamu pasti percaya kalau aku wanita penggoda. Kamu pasti menganggap aku sekretaris yang suka main api dengan bosnya. Tapi yang harus kamu tahu, itu semua tidak benar.
Jujur aku sangat mendambakan cinta mas Azriel. Dari mulai bertemu dia, aku jatuh cinta. Semua wanita pasti akan mengagumi sosok laki-laki seperti mas Azriel. Laki-laki hebat hati dan raganya.
Kamu tahu dek, meski aku selalu mendekati dan mencari perhatiannya, dia selalu menanggapi dengan lembut. Tidak menolak, dia dengan sabar memberi pengertian bahwa aku hanya adik di sisinya. Tidak akan berubah. Bahkan aku pernah memaksa cintanya, dia menanggapi dengan sabar. Dia melakukan itu karena tanggung jawab dia melaksanakan amanah dari papa dan kakakku. Dia tidak akan bisa menghindariku karena itu.
Setiap hari dia memperlakukan aku dengan manis, mengajakku makan di waktu istirahat. Itu karena aku harus menjaga pola makanku dengan memilih makanan yang sehat dan harus segera minum obat. Oleh karena itu mas Azriel selalu mengajak aku makan ke luar. Mungkin gosip di kantor kami punya skandal. Dia selalu berangkat dan
__ADS_1
pulang mengantarku. Itu karena mas Azriel memastikan aku tidak kecapekan dan sering dia menggendongku ke rumah karena aku pingsan. Mungkin gosip di kantor kami tinggal satu rumah, kumpul kebo. Sering mas AZriel memanggilku ke ruangan. Dan kami akan lama di ruangan dengan pintu terkunci dan tidak mau diganggu. Itu karena mas Azriel memijat kakiku dan punggungku yang harus selalu di kasih minyak hangat. Karena aku sakit. Aku yang minta mas Azriel untuk merahasiakan sakitku. Mungkin orang di kantor akan berfikir kami melakukan hal yang tidak senonoh di jam kerja.
Ada satu hal yang perlu kamu ketahui dek. Aku akui, aku selalu merayu mas Azriel. Itu karena aku memang ingin mendapatkan hati mas Azriel. Aku selalu menngodanya dengan tubuhku. Aku sengaja berpakaian dan berpenampilan menarik bahkan aku pernahmenanggalkan bajuku. Tapi semua itu tidak pernah berpengaruh sedikitpun denganmas Azriel. Dia bahkan akan tertawa ketika melihat aku menggodanya. Dia bilang aku “Badut Kecil”. Dia tidak akan memarahiku dek, karena dia tahu kesehatanku.
Setiap kali ke luar kota, mas Azriel pasti akan mengajakku. Karena dia khawatir denganku bila ditinggal. Dia akan mengajakku tidur dengan kamar bersebelahan yang ada connecting door. Itu karena dia selalu memantauku setiap kali jam tidur atau belum makan dan minum obat. Dia juga yang membelikan aku apartemen berdekatan dengan apartemen barunya. Karena dia sangat bertanggung jawab dengan adiknya yang nakal ini. orang yang tidak tahu pasti mengira aku wanita simpanan. Huffft… terserah apa kata mereka. Dulu aku senang bila mendengar gossip kalau kami mempunyai hubungan spesial. Itu artinya tidak ada yang berani mendekati mas Azriel. Karena sudah ada aku. Tapi mas Azriel tidak pernah memberi kesempatan kepada wanita manapun. Bahkan kadang aku berfikir apa nafsu dan hati mas Azriel sudah mati dengan wanita.
Aku memastikannya. Terakhir ketika bakti social di Desa. Aku tahu akan berdampingan kamar dengan mas Azriel. Karena mas Azriel pasti yang meminta kepada Kepala
Desa untuk meminta kamar berdekatan dengan kamarku. Bahkan mas Azriel selalu memberi kunci kamarnya kepadaku, katanya bila aku tidak bisa tidur atau merasa sakit aku bisa membangunkan dia langsung bila lewat HP dia tidak mendengar. Aku sengaja membawa lengire seksi untuk menggodanya. Aku masuk ke kamarnya ketika tengah malam menggunakan lingire itu dan merayunya ketika dia bangun habis sholat tahajud dan masih bertelanjang dada. Aku tahu jam segitu mas Azriel pasti bangun tidur dan sholat malam. Oleh karena itu aku diam-diam memeluknya dari belakang ketika dia mau memakai baju. Tapi apa yang aku dapat, kamu tahu? Mas Azriel malah tertawa. Katanya aku adalah badut kecil yang sekarang tengah malam menjelma jadi “wewe gombel” hehehee. Dia bilang baju dan rambutku kayak wewe karena oyak-oyakkan. dia menolakku dengan halus. Dia tidak akan berani memarahiku, karena pernah dia melihat papa marah dan aku kaget hingga pingsan. Makanya dia tidak berani.
Aku tidak ada artinya untuk mas Azriel. Hanya kamu yang yang selalu ada di hatinya dek. Hanya AYU. Tidak ada yang lain. Percaya sama aku dek. Aku tidak bisa selalu di dekatnya. Tolong cintai mas Azriel. Selalulah bersamanya”
Ayu meneteskan air mata mendengar isi rekaman Lia yang sangat panjang itu. Lia terdengar berusaha dengan keras membuat rekaman itu. Suaranya terbata-bata dan kadang, tersengal karena nafasnya yang lemah. Terimakasih Lia, kamu memberikan terang dikala gelap.
__ADS_1