
Azriel tertunduk menceritakan hubungannya dengan keluarga Hardibrata. Dia pilu mengingat betapa banyak bantuan dan kasih sayang keluarga Hardibrata atas masa depannya sekarang. Ayu terdiam mendengar. Dia tidak menyangka ternyata Lia adalah sosok yang membawa sebuah kisah untuk Azriel. Dan dia tidak hanya sekedar seorang pekerja bagi kehidupan Azriel. Dia menepuk dan mengelus punggung Azriel. Azriel yang tersadar dengan sentuhan Ayu, mengambil tangan Ayu dan mengenggamnya. Dicium tangan lembut Ayu yang selalu dia rindukan. Dia dekatkan tangan itu ke wajahnya, menyalurkan segala hasrat dan kesedihan yang dia rasakan saat ini.
“Mas Azriel yang sabar, yang terpenting adalah kesehatan mbak Lia” Ayu membelai rambut Azriel dengan tangannya yang lain. Azriel berdiri menarik Ayu masuk ke ruang perawatan Lia. Dengan tergesa dia membuka dan menutup pintu. Dipeluknya tubuh Ayu dengan erat, seerat-eratnya. Kerinduan dan kesedihan ini hanya Ayu yang bisa meredam.
“Mas sudah, aku tidak bisa nafas” Ayu mengurai sedikit pelukannya. Tapi nyatanya, Azriel malah semakin erat memeluk Ayu. Mereka tidak tahu, di belakang mereka, terdapat seseorang yang tersenyum bahagia melihat mereka. Lia, dia tersenyum bahagia melihat Azriel untuk pertama kalinya memeluk seorang perempuan dengan penuh cinta. Sekarang Lia yakin, bahwa Ayu lah perempuan yang tepat menjadi pendamping Azriel. Dan Lia rela melepas Azriel untuk cinta sejatinya.
“Mas…” Ayu melepas pelukannya, karena terlalu erat dan terlalu lama. Namun tidak disangka, Azriel menarik Ayu dan mencium bibir ranum itu. Ayu melotot terkaget. Dia memukul punggung Azriel beberapa kali. Namun justru Azriel ******* bibir itu dan menggigit sedikit agar Ayu membuka dan memberi ruang dia untuk lebih memperdalam ciumannya. Ayu terbuai. Dia membalas ciuman itu. Mereka melakukan dengan penuh cinta.
“Akhirnya kamu menemukan cintamu mas. Semoga kamu bahagia. Terimakasih atas semua. Selamat jalan….” Lia.
Ayu memukul punggung Azriel dengan keras tat kala nafasnya habis. Azriel akhirnya melepas pagutannya.
“Maaf..maaf...” Azriel membelai bibir Ayu yang sedikit bengkak karena ulahnya. Dia hapus sisa saliva yang menempel di bibir Ayu. Didekatkan kepalanya ke Ayu. Dia pejamkan mata, mencari ketenangan kembali. Terasa tidak puas bagi Azriel menyelami keindahan Ayu.
“Mas…mbak Lia apa kalau tidur lama? dia tidur dari jam berapa?” tanya Ayu.
“Tadi baru dikasih obat lewat infus sama perawat, mungkin karena pengaruh obat dia mengantuk dan tidur. Biasanya tidak lama, dia suka terbangun mencari mas” jawab Azriel.
“Mbak Lia cinta banget sama mas ya? sampai saat seperti ini hanya mas yang dia cari” lirih Ayu. Azriel mengangguk. Mereka ngobrol masih dalam posisi kepala saling menempel.
“Mas Azriel apa gak pernah merasa tertarik dengan mbak Lia, mbak Lia kan cantik?” tanya Ayu dengan hati-hati. Azriel tersenyum.
__ADS_1
“Menurut kamu?” Azriel menggoda Ayu dengan senyuman smirk. Dengan cemberut Ayu mencubit perut sixpack itu.
“Makanya kalau gak mau mas jatuh cinta ke yang lain…dek Ayu jangan menghindar terus dong. Nikah yuk dek” mohon Azriel dengan membelai pipi mulus Ayu.
“Gak mau. Mas Azriel nyebelin. Gak mau njelasin semua ke Ayu. Coba dari dulu mas jelaskan, Ayu kan gak banyak pikiran buruk ke mbak Lia. Kasihan kan mbak Lia aku cemberutin terus” jawab Ayu.
“Ternyata benar, kamu selama ini cemburu. Cinta banget ya sama mas, sampai kayak gitu cemburunya” Azriel menggoda Ayu dengan memeluk dari belakang ketika Ayu melepas tempelan kepalanya dan berusaha lari.
“Gak ya. Biasa saja” sewot Ayu. Azriel memeluk dengan mencium harum rambut Ayu.
“Mas kok mbak Lia tidurnya tenang sekali ya. Padahal tadi kan kita berisik” tanya Ayu.
“Dek…dek…bangun. Kamu gak apa-apa kan dek?” Azriel mulai panik.
“Dek Lia bangun dek…kamu jangan buat mas takut. Bangun!”Azriel menggoyang-goyangkan tubuh tipis Lia dengan kencang. Ayu lari mendekati mereka, dan menyentuh nadi Lia. Tidak ada denyut nadi. Dipegangnya bawah hidung Lia, tidak ada hembusan nafas.
“Mas…mbak Lia tidak bernafas. Denyut nadinya juga…” Ayu kaget. Dengan cepat dia lari keluar mencari perawat jaga. Dia lupa ada tanda bel di atas kepala Lia. Tidak peduli dengan Azriel yang masih berusaha membangunkan Lia.
Bunyi sirene ambulans memekakkan telinga menuju pemakaman Keluarga Hardibrata. Semua handai taulan, rekan kerja dan teman sekolah Lia mengantar kepergian Lia untuk selama-lamanya. Pemakaman dilaksanakan dengan khidmat sesuai dengan aturan di Keluarga Hadibrata. Lia adalah seorang kristiani. Dia memeluk agama sama dengan papanya. Sedangkan Leon, memeluk agama Islam sama dengan mamanya. Seluruh keluarga Hadibrata dikebumikan di makam keluarga ini. Makam yang cukup luas dengan tatanan nan apik dan mewah. Azriel meminta bantuan asistennya yang merupakan asisten papa Lia untuk mengurus semua pemakaman yang dia tidak tahu prosesinya.
Di depan makam Lia, Azriel memandang foto Lia cukup lama. Dia tidak peduli dengan semua orang yang sudah pergi meninggalkan area pemakaman. Beberapa kali Dion Asistennya membujuk untuk pulang. Tapi Azriel menolak. Sementara Ayu diam, melihat Azriel yang sudah lama terduduk di sana. Ayu ingin memberikan waktu kepada Azriel. Dia tahu, Azriel memang menyayangi Lia.
__ADS_1
“Maaf dek Ayu…bisa kita bicara sebentar?” Dion menghampiri Ayu yang berdiri agak jauh dari area makam.
“Iya…ada apa pak?” jawab Ayu.
“Panggil mas saja” sahut Dion.
“Ooooh…iya” ~~~~Ayu.
“Begini…satu hari sebelum meninggal Lia menitipkan sesuatu kepada saya. Dia berpesan untuk memberikan ini kepada dek Ayu langsung” terang Dion sambil memerikan sebuah amplop coklat besar berisi suatu barang yang tebal.
“Ini apa ya mas…?” Ayu meraba amplop itu terlihat berisi benda pipih keras seperti hand phone.
“Aku tidak tahu isinya. Tapi sepertinya waktu saya pegang itu seperti HP. Lia berpesan agar aku memberikannya ketika dia sudah meninggal…ini amanah dari dia. Dia sudah merasa kesakitan ketika menyerahkannya. Dia bilang sudah tidak kuat. Dia ingin menjelaskan sesuatu kepada kamu. Dan minta aku memberikan ini kepada dek Ayu langsung” balas Dion.
“Iya terimakasih mas” jawab Ayu. Ayu memasukkan kertas coklat itu ke dalam tas.
“ Aku minta tolong sama kamu dek. Tolong bujuk pak Azriel untuk meninggalkan tempat ini bila sudah terlalu lama. Dia harus istirahat. Sejak pulang dari Makasar, pak Azriel tidak istirahat sama sekali. Bahkan malam dia tidak bisa tidur. Menjaga Lia terus. Dia tidak mengizinkan aku untuk mengganti menjaga. Urusan perusahaan sudah mulai banyak dan banyak dokumen yang harus ditandatanganinya. Jadwal meeting juga sudah menumpuk. Tolong kuatkan dia untuk mengiklaskan Lia. Dia sudah menjaga Lia dengan baik sesuai amanah Pak Hardibrata dan mas Leon. Dia tidak perlu menyesali. Semua sudah takdir. Dan takdir juga yang membawa dia menjadi pemimpin PT ADI WARDHANA. Nasib perusahaan dan ribuan karyawan ada di tangan dia. Tolong kamu nasehati. Aku rasa dek Ayu bisa melakukannya” Dion memohon kepada Ayu dengan sangat. Ayu hanya mengangguk. Tapi sebenarnya dia tidak yakin.
“Mas Azriel…sudah lama kita di sini. Apa mas gak capek? Ayu sudah capek. Mau pulang tapi di sini gak ada kendaraan. Sudah gak ada orang. Dari kemarin Ayu belum makan. Kalau mas gak mau pulang…Ayu jalan saja. Ayu sudah lapar” kata Ayu dengan berjongkok mendekati Azriel. Azriel melihat Ayu dan berdiri.
“ Mas antar…” jawab Azriel memegang tangan Ayu dengan memandang foto Lia yang tersenyum manis. -SELAMAT JALAN- ~~~~
__ADS_1