
Pembicaraan ibu ibu di warung makin lama makin memekakkan telinga. Merembet ke mana mana.
“Aku gak tahan“ batin Ati dengan muka menyeramkan.
BRAAAAAKKKK …..
suara botol kecap dilempar sama Ati di depan Ibu Ibu.
“ Maksud ibu ibu apa membicarakan mbak saya. Gak ada kerjaan membicarakan orang lain. Kalau mbak saya bisa menjadi calon mantu kyai itu malah baik. Berarti mbak saya lebih segalanya daripada anak anak ibu yang sama sekali gak ada yang menarik. Tak doakan jadi perawan tua semua !!! ” seru Ati sambil menendang pintu dan berlalu.
Suasana warung mendadak menakutkan. Semua diam. Tapi setelah Ati berlalu … seperti biasa mereka langsung bergosip tak terarah. Dalam perjalanan pandangan mata Ati terasa berkobar. Memang dari 3 anak, Ati paling berani. Paling temperamen dan mudah emosi tidak mau tersentuh sedikitpun.
“ Apa yang kamu lakukan mbak Ayu. Kenapa bisa ada gossip seperti ini di keluarga kita. Sudah cukup keluarga kita dipandang rendah orang mbak “ Mata Ati menyala nyala penuh emosi.
Sesampai di rumah Ati masuk dengan membuka pintu bambunya dengan keras. Dia melihat ibunya yang termenung di kursi dari anyaman bambu.
“Bu … jam segini kok sudah pulang? laris buk ? ini gorengannya kok masih banyak buk?" Ati bertanya dengan mengamati mimik muka sang ibu, ibunya terlihat nelongso dan mata sembab.
“ Ibu habis nangis? “ Ati
“ Mbakmu nduuuuukkk …. Ayu kamu kenapa nduk kok bisa sampai ada kabar seperti ini. Apa benar kata orang orang nduk? Ibu menangis dengan mengelus elus dadanya “
Mata Ati melotot, tak menyangka bila ibunya juga sudah mendengar kabar itu. Dengan marah Ati menuju kamar. Diambilnya hand phone jadul yang dia punya dari hasil menjual es lilin keliling sepulang sekolah dan menitipkan di warung sekolah. Ketiga anak ibu Ayu, semua anak yang pekerja keras. Tidak manja dan mau membantu orang tua mereka mencari uang semampu mereka. Adik Ayu yang bungsu bernama Uma pun, sepulang sekolah mencari kayu bakar dengan teman temannya dan kapuk randu untuk dijual ke pengepul.
“ Mbak … katakan yang jujur! Mbak ayu benar ada hubungan dengan Ustad Azriel “ suara Ati menggema langsung kepada orang di seberang tidak lain adalah Ayu.
“ Ken .. kenapa kamu tanya kayak gitu Ti ? “
“ Jawab iya atau tidak !!! cukup itu mbak ! “ Ati semakin menaikkan nada suaranya.
“ Mbak … mbak sama ustad Azriel … hanya … “ Ayu bergetar menjawab pertanyaan sang adik yang terkenal suka marah dan emosi dalam menanggapi apapun.
__ADS_1
“ Jadi benar mbak … ? tega kamu mbak. Bapak ibu banting tulang kerja siang malam buat nyekolahkan kita. Kamu malah tidak menurut kata bapak. Apa mbak Ayu sudah bosan dengan hidup kita hingga mbak Ayu merayu ustad Azriel dan mau dibawa kesana kemari sama anak orang kaya dan terpandang itu? apa seperti itu yang diinginkan mbak Ayu jadi simpanan orang kaya? Merebut calon suami orang ? mbak Ayu gak mau hidup susah lagi ? terlalu kamu mbak. Memalukan !!! “ Ati menutup hp dan melempar ke kasur. Dia tutup wajahnya dengan bantal dan berteriak. Kata kata dan bulian ibu ibu di warung berputar putar di kepalanya.
“ Kasihan bapak … sudah terhina tambah terhina pak. Kapan kamu akan hidup bahagia pak? “ hiks hiks hiiiiikkkks. Ati menangis di balik bantal yang menutup kepalanya.
Sementara di Kos. Sore hari ini Ayu sangat gelisah mendengar kemarahan adiknya. Dia mempunyai firasat yang buruk. Hatinya berdebar debar dari kemarin.
“Apa yang akan terjadi ya Allah. Maafkan Ayu … pak …. Bu … adik adik. Maaafff “. Ayu menangis di kamar. Untung hari ini ke 2 teman kamarnya sedang ikut les tambahan mata pelajaran. Ayu tidak ikut les, karena biaya tidak mampu. Tapi dia selalu belajar di kos dengan sungguh sungguh dan hasilnya dia yang paling unggul di sekolah.
“ Broooo … wah kok kerja terus, istirahat-istirahat. Sebentar lagi jadi besan kyai kok. Gak usah kerja. Tinggal kipas -kipas uang. “ teman ojek bapak Ayu.
“ Lho yooo to. Aku dengar kemarin katanya anak kamu yang no 1 yang sekolah di kota itu yang sudah lama jadi simpanan anak kyai ya ? apa hamil kok anaknya kyai mau ? “ sahutan yang lain. Sementara teman yang lain ada yang menyenggol untuk mengerem kata-kata.
“ Kalau ngomong jangan sembarangan. Dijaga mulut kalau masih pengen kerja di sini “ Bapak Ayu melotot sambil menuding tangan ke temannya.
Sebenarnya bukan kali ini saja bapak Ayu mendengar kabar kedekatan sang anak sulung dengan anak tunggal kyai. Kemarin, ketika dia membantu salah satu teman untuk meminta ijin mengadakan pentas music di acara nikahan, beberapa teman polsek yang di kantor juga bertanya dan berkelakar tentang puteri sulungnya.
“ Lho mas. Puterimu yang nomor satu yang ayuuu banget itu katanya yang mau nikah yo ? waah pinter tenan pilihannya anak orang kaya 7 turunan “.
Bapak Ayu masih menahan diri. Dia tidak mau tersulut emosi karena dia masih sangat membutuhkan kerjasama dengan polsek ini. Beberapa pekerjaan yang dia jalankan harus berurusan dengan polsek, seperti ijin keramaian yang biasanya dia disuruh orang menguruskan dan mendapatkan imbalan, nagih hutang bila sampai ke meja polisi, dan lain lain. Dia masih memikirkan masa depan anaknya. Gimana nasib mereka bila dia sampai di bui karena tidak bisa menahan emosi dan melakukan kekerasan. Bapak Ayu juga sudah tahu semua tentang Ayu dan Azriel. Dari mulai dijemput di Kos, dikasih HP, jalan berdua ke kota Kxxxx, dll. Semua dia tahu. Karena dia mengikuti Ayu beberapa hari ini.
Tanpa terasa sebulan sudah berlalu.
Suara-suara di desa semakin menjadi, bahkan mengarah ke fitnah. Sudah ada suara yang mengatakan bahwa Ayu telah berbadan dua. Makanya selama sebulan ini setelah kepergok jalan di luar kota berdua sama Ustad Azriel, Ayu tidak pulang rumah. Karena malu perutnya sudah kelihatan hamilnya. Berkembang juga ternyata Ustad Azriel di jampi jampi Ayu dengan susuk yang dipasangkan bapaknya dan ustad ustad yang mengajar di madarasah juga terkena jebakan susuk itu. Suara suara sumbang semakin membuat merah telinga keluarga Ayu.
“ Sudah bu …. Jangan menangis terus. Mbak Ayu gak seperti itu. Percaya sama anak. Kita berdoa saja bu. Supaya orang orang itu sadar. Dan mbak Ayu juga disadarkan serta dilindungi “ Uma yang sabar menasehati ibunya yang tiap hari hanya menangis. Dalam seminggu ibu hanya berjualan di pasar beberapa kali. Dia sudah tidak berjualan keliling sore karena sudah tidak kuat dengan omongan orang.
Sementara di pondok pesantren. Azriel sedang uring-uringan karena kekasihnya sudah seminggu tidak membalas semua chat, tidak mau mengangkat telepon.
“Kamu kenapa dek? angkat teleponnya sayang?“ Azriel mendekatkan Hp nya dan memencet beberapa kali. Entah panggilan keberapa puluh yang dia lakukan ke Ayu tapi tidak diangkat.
Bapak Ayu baru saja turun dari ojek pesanannya. Sudah 3 hari dia tidak pulang ke rumah. Ini hal yang biasa. Jika ditanya, alasannya kerja di luar kota. Dengan keadaan capek dan peluh dia berjalan dari jalan besar menuju ke rumah. Dari kejauhan ada kerabatnya yang datang naik sepeda.
__ADS_1
“ Lho dek … kok ngilang juga. Kamu pergi nengok Ayu po ? jadi bener ponakanku satu itu hamil dihamili ustad Azriel dan disimpan di luar kota ? “
Tiba tiba ….. BRAAAAKKKK. Suara keras terdengar. Kerabat yang tadi naik sepeda terjatuh terpental 1 meter. Sementara sepedanya terbalik. Ya. Bapak Ayu yang menedang roda sepeda itu. Dicengkeramnya kerah baju sang kerabat.
“ Sekali lagi kamu menjelekkan anakku. Aku tidak akan ingat kamu saudaraku. Tubuh laki laki itu dibanting. Bapak Ayu berlalu. Orang orang yang melintas berkumpul. Dari seberang kumpulan ibu ibu ada yang berceloteh.
“ Wong anak. Anak simpanan kok dibela. Lha ya benar bapaknya preman anaknya jadi simpanan “
Tangan bapak terkepal kuat. Sampai rumah dia ambil pedang panjang yang dia simpan di bawah tempat tidur. Pedang itu selalu dia simpan untuk melindungi diri bila bekerja di jalan.
“ Pak … pak … mau kemana pak? sabar pak … sabaaar “ ibu Ayu lari terbirit birit mengejar suaminya. Bapak Ayu membawa parang pedang panjang ke arah rumah komplek rumah kyai.
“ Zrielll… Azrieeelll. Keluar kamu !!! . Tanggung jawab kamu ! jelaskan semua. Ini salahmu. Kamu yang merayu Anakku. Bukan anakku. Ustad ustad apa kamu. Membawa anakku tanpa izinku. Keluar kamuuuu !!! “ bapak Ayu melibas semua barang di meja teras rumah Azriel yang biasa untuk menerima tamu dalam jumlah banyak.
Kyai mendengar teriakan seseorang di luar, dia segera keluar. Dia tahu itu suara bapak Ayu. Dia sangat familiar dengan suara itu. Karena mereka dibesarkan bersama dan dia berhubungan baik selama ini.
Entah apa yang terjadi kenapa bapak Ayu berteriak di kediamannya sore ini.
Baru saja Kyai keluar pintu rumah, bapak Ayu langsung menarik badan kyai dan memepetkan ke tembok.
“ Mana anakmu suruh keluar. Jelaskan ke semua orang kalau dia yang merayu anakku. Anak kyai didikan agama apa yang malah merugikan orang. Pengecut “.
“ Sabaar dek …sabaaaar bicara baik-baik “ nafas kyai tersengal karena dorongan yang kuat ke tembok.
“ Katakan sama anakmu kalau dia berani menemuai Ayu lagi. Kubunuh dia. Kamu tahu siapa aku. Ingat itu!”
Di kamar uminya Azriel sedang menelepon seseorang dengan gemetaran dan menangis.
“ Zrieeel … nang cepat pulang nang. Bapakmu nang …. mau dibunuh sama bapaknya Ayu !!!" umi menelepon sambil nangis dan tergagab gagab.
“ Astaghfirulloooh ….. “ Azriel dengan langkah cepat menuju mobil. Dia tidak sempat berpamitan dari pondok. Dia segera menancap gas dengan panik.
__ADS_1