
Mereka sudah berkumpul menyambut kedatangan tamu dari pondok pesantren terkenal itu. Semua hidangan dari makanan, camilan, minuman sampai oleh - oleh untuk tamu sudah tertata rapi. ruangan di hias dengan bunga dan taplak warna warni yang rapi. Pulang dari rumah Umi, Ayu langsung masuk ke kelas mencari Puji dan Sari. Ternyata mereka sudah sampai kelas dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ustad Yayan. Semua ustad hari ini tidak mengajar, sebagai gantinya mereka memberikan tugas kepada murid - murid dan jam kepulangan akan dimajukan yang biasanya jam 16.30 pulang menjadi jam 16.00. Ayu memegang pundak sang sahabat. Puji sudah menunggunya. Dia memandang Ayu dengan perasaan aneh.
“Apa kamu tadi tidak sadar bila di kantor tadi ada orang orang banyak? kenapa berdekatan dengan Ustad Azriel? “ Puji
“ Untung Sari tidak melihat gimana kalian berdua berpandangan dan berdekatan di pojok ruangan. Kalau dia tahu kamu habis Yu. Dia pasti memutuskan hubungan pertemanan kita. Dan kamu pasti akan dicecar banyak orang yu. Sadar yu. Kamu berhubungan dengan siapa dan akan berhadapan dengan siapa “.
“Aku tidak ada hubungan apa apa dengan Ustad Azriel. Meskipun dia mendekatiku“ Ayu
Apa ???? dia mendekatimu ??? maksudnya apa ??? dia menyukaimu ???” Puji. Ayu diam. Dia tidak berani menjawab pertanyaan Puji. Untung mereka duduk di pojok dan berbisik bisik jadi kemungkinan kedengaran teman teman yang lain tidak mungkin. Apalagi suasana kelas yang riuh karena antara satu dan yang lain pada ngobrol. Mumpung tidak ada Ustad Yayan yang terkenal disiplin. Ayu tetap diam ketika Puji mengoyang goyangkan badan Ayu untuk segera menjawab. Puji tidak sabar dengan jawaban Ayu. Tetapi Ayu tetap diam.
“Terserah kamu yu … kalau gitu. Kamu gak mau jujur sama aku “.
__ADS_1
“Aku bukannya tidak mau jujur sama kamu Ji … tapi Ustad Azriel hanya mungkin sekedar suka sama aku dan itu sementara. Tidak usah ditanggapi saja “. Ayu
“Terus kamu jawab apa tadi? “ Puji
“Aku belum jawab. Sudah kerjakan tugas“ Ayu. Tatapan Puji tetap ke arah Ayu. Dia memperhatikan dengan seksama manik mata dari sahabat yang sudah menjadi teman sejak dia di taman kanak kanak sampai sekarang. Dia mencari kebohongan di mata Ayu. Tapi tidak menemukannya. Ayu tetap diam dia dengan tenang mengerjakan tugas. Meskipun dalam hatinya dia bingung memikirkan ke depannya. Apa yang akan dia lakukan dengan Ustad Azriel? ditambah lagi dengan ustad Imron yang mendesaknya terus. Padahal sebenarnya dia sudah tahu apa yang harus dia jawab untuk mereka dan siapa yang akan dia pilih. Hatinya tidak bisa dibohongi. Dan dia bukan orang yang mau serta rela meghianati isi hatinya sendiri.
Selesai mengerjakan tugas, semua murid pulang. Ayu dan Puji berjalan berdampingan. Sekilas mereka melihat ke kantor. Tampak tamu tamu sudah datang dan duduk rapi. Terdapat beberapa ustad yang seumuran Azriel, lebih tua dan 2 kyai. Sekilas Ayu mendengar pembicaraan mereka tentang rencana beberapa ustad yang akan melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren. Tapi tidak terlalu jelas. Saat melintas di depan pintu kantor, mata Ayu tidak sengaja bertubrukan dengan mata Azriel. Ayu agak terkejut. Tapi yang membuat dia lebih terkejut adalah respon Azriel yang langsung mengalihkan pandangannya dari Ayu. Azriel terlihat sangat dingin dan seperti tidak ingin melihat Ayu. Ayu menudukkan pandangannya dan segera berlalu. Malam mini malam yang indah. Bintang bertaburan dan rembulan tampak malu malu menyerupai alis kumbang desa. Suasana bertambah syahdu dengan suara suara hewan di sekitar. Ayu duduk di teras rumahnya yang masih di semen biasa. Rumahnya ini baru dibangun oleh bapaknya setelah dulu sejak Ayu lahir, keluarga mereka menumpang di rumah neneknya. Bapak Ayu baru mampu membangun rumah dengan ala kadarnya. Yang mereka syukuri rumah mereka sudah bertembok batu. Meski masih berlantai tanah dan jendela maupun pintu rumah masih terbuat dari anyaman bambu. Ayu dan adek adek nya sangat berdyukur bisa mempunyai rumah. Meski jauh dari kata mewah dan luas seperti teman teman mereka. Terdengar suara laki laki yang mengucapkan salam ke arah rumah Ayu. Dan ternyata adalah ustad Imron. Malam ini ustad Imron memakai baju yang santai. Dia memakai baju bahan dan kemeja yang sopan. Terlihat sekali dia mempersipkan untuk mendatangi Ayu. Ucapan salam Ustad Imron dijawab oleh Ibu dari dalam rumah. Ibu terheran ada apa Ustad datang malam malam.
“Dek kedatangan mas kemarin sebenarnya mau menanyakan soal jawaban dek Ayu. Mohon maaf dek bila mas tidak bisa bersabar. Tapi insyALLAH mas siap untuk mendengar jawaban dek Ayu. Mohon maaf juga mas mendesak tidak bisa menunggu seperti permintaan dek Ayu. Karena ….” Imron menjeda kata katanya. Dia terdiam dan menunduk.
“Besok pagi mas mau pergi dek. Mungkin dalam waktu yang lama. Mas mau melanjutkan sekolah lagi di Gxxxxx . jadi mas ingin mendengar kepastian dari dek Ayu. Agar mas bisa tenang belajar di sana. Mas janji dek akan pulang bila bisa ijin dan ada libur. Mas janji akan tetap setia dengan dek Ayu. Mas tetap akan menjaga hati ini hanya untuk dek Ayu “
__ADS_1
“Mas mau sekokah berapa lama…? berangkat sendiri mas ?“ Ayu
“Mas berangkat dengan Ustad Azriel dan Ustad Salim dek. Kami akan diantar Kyai besok pagi “. Hati Ayu teriris pilu mendengar kata Ustad Azriel disebut. Berarti Azriel akan pergi ? tetapi kenapa Ustad Azriel tidak memberitahu apa apa tentang ini ? padahal kepergianya untuk waktu yang cukup lama. 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk berpisah dan berjarak dengan terkasih. Apa Ustad Azriel menganggap ini hal yang tidak penting untuk sampaikan ke Ayu. Atau memang ustad Azriel sudah menyampingkan keberadaan Ayu bahkan hatinya untuk Ayu. Padahal belum ada 24 jam dia menyatakan rasa sukanya kepada Ayu. Dan meminta jawaban Ayu serta memohon untuk menerima hati Azriel. Apa ini bentuk keseriusan seorang Azriel. Ayu menatap Ustad Imron dengan mantap. Dia pun bertekad untuk menyelesaikan malam ini.
“Mas … saya sudah memikirkan tentang mas. Dan saya…” Ayu terdiam menunduk. Memejamkan mata. Menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan dari mulut. Tangannya saling bertaut. Kepanikan mulai menyelimutinya.
“Ayu …. Ayu tidak bisa menerima mas Imron. Maaf “. Ayu menjawab tanpa melihat Imron sama sekali dia selalu menunduk. Dia masih menunggu bagaimana jawaban Imron atas jawaban hati yang dia sampaikan. Apakah imron mau menerima? Apakah Imron akan tetap maju ?
Pukul 07.00 pagi Ayu melihat beberapa iringan mobil di depan mushola. Kebetulan hari ini hari minggu. Jadi Ayu tidak pergi sekolah. Ayu mendekati keramaian di depan mushola. Dia melihat Ustad Imron dan Ustad Salim membawa tas besar. Mereka terlihat mencium tangan beberapa orang di sekitar nya. Sepertinya mereka berpamitan. Tapi sosok yang Ayu cari tidak ada. Beberapa waktu baru terlihat Ustad Azriel keluar dari rumah. Diiringi ibu dan kerabat kerabatnya. Ibunya memegang lengan Ustad Azriel serasa tidak mau melepaskan sedangkan kerabat yang lain terlihat mengelus elus punggung Ustad Azriel. Beberapa dari mereka memberikan nasehat dan pesan pesan untuk Azriel. Ayu mengharapkan satu detik saja sinar mata Azriel. Dia hanya ingin memandang. Ingin memastikan apa yang akan disampaikan mata itu ke Ayu. Mengapa hal sebesar ini dia tidak tahu. Tanpa terasa sebulir air mata jatuh di pipi Ayu yang mulus. Namun tatapan matanya tidak melepas Azriel.
“Mungkin kemarin adalah mimpi. Bukan nyata. Dia tidak pernah menyatakan perasaan kepadaku. Itu hanya ilusi ku. Akan kah aku harus mengubur hatiku untukmu… kenapa kamu tidak berkata apa apa ? mungkin aku tidak penting bagimu. Aku tidak pantas mengharapkanmu “. Isi hati Ayu.
__ADS_1
Sementara di dalam mobil … Azriel menatap sayu ke arah pujaan hatinya. Dia berkata “ TUNGGU AKU “.