Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Saling Suka 2


__ADS_3

Dua hari berlalu dan ternyata tanpa satu katapun Azriel tidak mendekati Ayu untuk kejelasan ngaji khusus yang dia janjikan kepada Ayu. Begitu sebaliknya Ayu, dia ragu untuk menanyakan dan memutuskan “ Ya sudahlah ” dalam hatinya karena tidak berani dan rasa yang tidak karuan dalam hatinya. Setiap kali ngaji di mushola, Ayu selalu menghindari Azriel. Dia selalu memilih untuk antri ke ustad atau ustadzah lain. Dan tanpa terasa hal ini menjadi perhatian Azriel.  Dia selalu mengawasi gerak gerik Ayu dan mencari waktu dimana dia harus berbicara dengan Ayu. Dia pun kesulitan mencari cara. Ketika dia akan mendekat, tiba-tiba ada ustad lain atau murid yang berkepentingan dengan dia, sulit bagi dia karena dia adalah mutiara bersinar yang gemerlap menjadi perhatian semua orang. Sekali gerak, orang lain pasti akan mengetahui. Keraguannya adalah karena dia merasa takut, apakah orang seperti dia bisa mendekati seorang Gadis secantik Ayu yang menjadi primadona dengan banyak penggemar di sekitarnya. Yang notabene semua penggemar dia bergerak aktif dan lebih gaul serta romantis untuk Ayu. Sedangkan dia tidak tahu menahu akan cinta dan bagaimana memulainya.


Hari ini jam 15.30 semua orang berkumpul menuju mushola untuk melaksanakan ibadah. Beberapa sudah antri untuk mengambil air wudhu. Mushola kecil di desa kecil hanya ada tempat wudhu masing-masing untuk 2 lokasi. Jadi antrian bisa memanjang bila mendekati adzan sholat. Tidak ada pembedaan laki-laki dan perempuan untuk tempat wudhu. Semua jadi satu. Ayu mengambil antri bersama Puji dan Sari. Saat antri, ada salah satu ustad yang selama ini mendekatinya. Semua orang warga tahu bila Ustad Masruri suka dan tergila-gila dengan Ayu. Berbagai cara dia lakukan untuk mendekati Ayu. Ayu hanya membalas dengan senyum tipis ketika Ustad Masruri mendekatinya.


“Dek Ayu apa kabar? Kemarin kok mas gak ketemu. Ngaji gak sih?” Ustad Masruri


“Ngaji mas … .hanya telat. Jadi wudhu dari rumah” Ayu. Ayu memanggil ustad Masruri dengan mas karena sdh terbiasa dan dia sendiri yang minta dipanggil mas. Ustad di mushola ini semua masih muda-muda. Umur masih belasan tahun. Dipanngil ustad karena mengajar. Bukan karena pendidikan. Hanya lulus pondok pesantren setara SMP SMA sudah mengajar dan warga desa tidak mempermasalahkan karena juga dilakukan secara sukarela tanpa gaji apapun.


“Lho kok telat kenapa dek Ayuuuu (ditekankan dengan genit untuk menunjukkan kalau si Ayu seayu wajahnya)” besok mas ampiri (jemput) bila mau ngaji mau dek ?” ustad Masruri menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri dengan senyuman mengembang. Ayu hanya membalas dengan senyum yang ditahan. Agak tidak suka dengan sikap Ustad Masruri yang kegenitan. Gerakan ustad Masruri yang aktif dan tawanya yang menggema menjadi pusat perhatian orang-orang  yang lagi antri wudhu. Termasuk Azriel. Azriel mengantri wudhu sambil duduk di lambiran gapura masuk mushola. Dia mengamati dengan tajam komunikasi Ustad Masruri dan Ayu. Tatapannya tajam menyempit sekali-kali dialihkan ke pandangan lain. Azriel terlihat menahan gemuruh di dada. Matanya terpejam sesaat entah apa yang membuat sedikit sesak. Ada rasa sedikit tidak rela bila melihat laki-laki lain akrab dengan Ayu. Harus gimana dia memulai??? .... (ayoooo…readers kasih masukan buat Azriel biar gak kalah ma ustad Masruri).

__ADS_1


Azriel sengaja menunggu Ayu di depan pintu masuk dalam Mushola setelah sholat isya. Ia menunggu sampai suasana sepi. Selama ini dia memperhatikan bila Ayu selalu pulang paling akhir. Ini hari ke 3 setelah tidak ada kejelasan Ayu menanggapi tawarannya ngaji khusus. Dia tidak bisa menahan lagi. Dia harus mendapat kepastian kenapa Ayu tidak menyambut tawarannya. Apa Ayu menganggap tawarannya tidak serius? Atau Ayu memang sama sekali tidak tertarik berdekatan dengan orang seperti Azriel. Bahkan untuk berteman kah? dia tidak pantas?


Dari arah pintu dalam mushola putri, Ayu keluar dengan mendekap mukena. Azriel dengan cepat berjalan menuju Ayu. Saat itu suasana mushola gelap. Biasanya takmir segera mematikan lampu dalam mushola setelah Isya. Hanya lampu luar yang dinyalakan. Azriel menghalangi jalan Ayu. Hal ini membuat Ayu kelabakan begitu kaget. Ada laki laki yang mendekati.


“Astaghfirulloh haladziiiim” nafas Ayu terengah dan jantungnya berdetak kencang karena kaget. Matanya membelalak dan langkahnya mundur selangkah setelah memastikan bahwa yang ada di depannya adalah Azriel. OMG


“Ustad kok masih di sini?ada apa ya tadz?” Ayu nafasnya masih terengah engah.


“Bukannya ustad yang lupa? saya sudah ikut antri tadz. Tapi selalu tidak dapat giliran. Dan kelihatannya ustad juga sibuk”Ayu menjawab dengan hati-hati dengan sedikit menunduk.

__ADS_1


“Apa maksudmu? aku selalu menunggu dan memperhatikan kamu ada niat ikut ngaji atau tidak. Tapi kamu tidak pernah datang. Atau jangan-jangan kamu memang tidak suka mengaji denganku. Kamu lebih suka ngaji dengan Ustad Masruri, Ustad Eko atau Ustad Choirul? ” Azriel.


“Maaf tadz. Saya tidak ada maksud untuk menghindari dan tidak ada maksud tidak mau ngaji dengan ustad Azriel. Saya jelas mau. Karena saya sadar tajwid saya memang tidak bagus. Dan saya memang sudah menunggu ustad dari kemarin. Saya ……” Ayu menjawab dengan sedikit bergetar. Kenapa hatinya ngilu dengan tuduhan Ustad Azriel yang mengatakan bahwa dia lebih memilih ustad yang lain dan sengaja tidak menanggapi tawarannya.


“Kamu jangan kepala besar dek … karena aku ngajak ngaji khusus. Aku tidak ada maksud apa apa. Hanya murni untuk memberimu tambahan ilmu. Aku gak ada maksud seperti ustad lain yang mendekati kamu bahkan terang terangan suka sama kamu. Jadi jangan salah sangka!”……


(ooooooohhhh …. Azriel kenapa kata kata itu yang keluar. Apa yang bersarang di otaknya selama ini. Malah itu yang keluar…. bodoh…bodoh…bodoh). Author.


Ayu kaget mendengar kata kata itu keluar dari mulut Azriel yang selama ini diam diam dikaguminya. Hatinya terasa tersayat. Ustad Azriel menuduhnya seperti gadis gadis lain yang mendekati dan ke ge er an dengannya. Kenapa bisa Ustad Azriel berpikiran seperti itu???

__ADS_1


Dengan cepat Ayu menjawab “Tidak tadz. Saya tidak ada maksud sedikit pun menganggap ustad mendekati saya. Saya juga tidak mengharap sedikitpun Ustad mendekati saya !!!! permisi tadz” suara Ayu bergetar ketika mengucapkannya. Bisa dipastikan air matanya akan keluar sebentar lagi bila dia tidak menahannya. Dengan langkah pasti dia meninggalkan Ustad Azriel. Dia tidak peduli. Ini dianggap sopan atau tidak ketika murid meninggalkan ustad yang berbicara dengannya tanpa ijin. Azriel ~~membelalakkan matanya mendengar jawaban Ayu. Dia baru tersadar setelah ayu sudah keluar mushola. Tanpa berfikir yang lain Azriel langsung berlari mendekati Ayu. Tapi ayu lari cepat setelah tahu Azriel mengejarnya.~~


Di jalan seluruh isi kepala ayu diliputi dengan kata “kenapa”. Kenapa bisa begini? kenapa ustad Azriel berfikir seperti itu? Kenapa Ustad Azriel menganggap aku seperti itu? Ayu menangis. Kesal dia ternyata pujaan hatinya menganggap dia hanya wanita seperti yang lain yang berebut mengejarnya. \~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2