Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Masa Indah 2


__ADS_3

Meski kaget, dengan penuturan Puji, tapi Ayu bisa menghembuskan nafasnya dengan lega. Tidak ada kabar duka seperti yang dia khawatirkan tadi. Dia takut terjadi apa apa dengan keluarga. Terutama bapaknya. Sering sekali bapaknya kecelakaan di jalan. Entah itu jatuh dari motor, entah berantem dengan keluarga yang dia tagih atau sesama penagih hutang. Dia tidak mau terjadi apa apa dengan bapaknya, apapun itu bapaknya adalah jantung hatinya. Penyangga keluarga. Bagaimana mereka bisa hidup dan sekolah bila tidak ada bapaknya.


Ayu menghela nafas. Dia menganggukkan kepala kepada Puji. Pengalamannya menghadapi sekolah di kota dengan persaingan siswa yang pintar dan dari sekolah favorit menjadikan dia lebih dewasa. Pengalamannya bersama Ilham, juga menjadikan dia lebih berhati hati dan sabar. Pengalaman dia mengikuti berbagai perlombaan menempa dia lebih kuat dan berhati tajam. Ustad Azriel berdiri melihat kedatangan Ayu. Mukanya bersinar, senyumnya mengembang dan matanya berkaca kaca melihat bunga hatinya. Bunga hati yang selalu dia rindukan hampir 2 tahun ini. Tiap bulan dia mengirim surat untuk Ayu melalui Puji. Tapi tidak satu pun yang dibalas. Hal ini tidak mengurangi rasa cintanya kepada Ayu. Justru perasaan cinta dan rindunya semakin menumpuk di dalam hati.


Azriel mendekati Ayu. “ Dek ........... “ mulutnya tak mampu berkata kata lagi.  Dia hanya ingin melihat pujaan hatinya. Cukup melihat. Dia tidak pernah berfikir untuk menyentuh atau merusak bunga indahnya. Tatapan matanya hanya untuk Ayu. Ayu tersenyum kecil melihat Azriel. Ada rasa rindu. Rindu yang dalam. Tapi di balik rasa rindu tersimpan rasa bersalah. Bersalah karena tidak pernah membalas surat surat Azriel. Bersalah karena sejak membuka surat surat itu, dia tidak pulang untuk menerima surat surat lainnya dalam kurun waktu hampir 1 tahun terakhir. Dan yang paling membuat dia merasa bersalah adalah dia menjalin hubungan dengan Ilham. Dia malu bila Ustad Azriel mengetahuinya. Betapa hinanya dia di hadapan Ustad Azriel. Tapi ada sedikit kelegaan, karena dia merasa ditinggal Azriel ... he ... he .... he .... ( jadi Ayu tidak merasa bersalah dong ).


Ayu mempersilahkan Ustad Azriel dan Puji untuk duduk di ruang tamu kecil di kosnya. Kemudin dia minta ijin untuk bersih - bersih diri. Di ruang tamu, suasana hening tidak ada yang memulai pembicaraan. Azriel yang dari perjalanan panjang ke rumah langsung mengajak Puji untuk ke Kos Ayu, sudah merangkai banyak kata dan dia sudah tidak sabar untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Ayu. Namun kenyataannya berbeda. Di hadapan Ayu saat ini, Azriel tidak mampu berkata apapun. Lidahnya kelu. Dia seperti terpaku. Puji melihat ketidak enakan suasana ini. Suasana jadi ewuh ewuhan.


“ Eh yuuu ... tadi cerita dari Yati, katanya kamu mengikuti lomba di Sxxxxxxx ya. Kamu menang ya yu ? Hebat kamu yu. Kamu mengalahkan banyak peserta ya ? “ Puji berusaha memecahkan keheningan.


“ Alhamdulillah ji. Juara 2. Tapi aku bersyukur sekali bisa masuk final “ Ayu


“ Puji apa kabar? “ Ayu


“ Alhamdulillah yu.. baik semua. Ibu mu juga sehat kelihatannya. Kemarin aku lihat ibumu ambil daun pisang untuk mepes ikan di samping rumah. Dia sehat ”. Puji


“ kalau bapak lihat gak Ji  ? “ Ayu

__ADS_1


“ bapakmu kemarin aku lihat pulang naik motor yu. Dia duduk di depan sambil minum kopi “ Puji.


Dan ternyata Azriel dicueki nih readers .... he he he. Salah sendiri dari tadi diam saja yah. Jauh jauh dari provinsi paling timur menuju sini malah diam saja. Padahal biasanya dia kan ceramah di depan kelas. Azriel tersenyum melihat Ayu. Dia tidak mengalihkan tatapan matanya. Ayu terlihat tambah ayu. Kulitnya agak menggelap sedikit. Tapi justru tambah manis. Dia terlihat lebih dewasa. Tidak malu malu. Lebih pintar menghadapi situasi.


“ Ustad apa kabar ? “ akhirnya Ayu menyapa Sang Ustad. Tapi sapaannya tidak dijawab. Sang ustad ini malah memandang Ayu dengan seksama. Sampai beberapa menit. Ayu memandang Puji. Mereka saling melihat heran. Kenapa ustad ditanya tidak menjawab.


“ Oh ya... mau minum apa ? anget atau es ji ? saya sampai lupa. Maaf “ Ayu


“ Tidak usah repot repot dek “ Azriel menarik kecil tangan Ayu. Ayu reflek melepas pegangan tangan Azriel. Situasi jadi canggung lagi.


“ Gak enaknyaaaaa aku di sini. Kayak perang dan kayak boneka aja “ batin Puji yang


Saat ini mereka bertiga sedang menunggu pesanan nasi goreng di warung pinggir jalan dekat Kos Ayu. Mereka mencari makan setelah melaksanakan sholat berjamaah di mushola dekat kos. Dan seperti biasa Azriel memaksa untuk mengajak makan bareng. Ayu sudah bisa menolak. Pilihan mereka akhirnya jatuh pada nasi goreng “ Pak No “ pinggir jalan yang ramai. Ketika menunggu pesanan, Azriel membuka pembicaraan. Mereka berdua terpisah oleh Puji. Puji yang berada di tengah bermaksud pindah tempat agar mereka leluasa berbicara. Tapi Ayu memegang erat lengan Puji. Dan menekannya sedikit sebagai tanda dia tidak mau berdekatan sebelah Ustad Azriel.


“ Dek sebelumnya mas minta maaf, karena pergi ke pondok tidak bilang. Mas juga baru tahu setelah pembicaraan di madarasah. Ternyata bapak minta mas ikut rombongan ke Gxxxxx . Saya kira masih ada waktu beberapa hari. Ternyata karena bapak sibuk banyak pesanan pengajian, bapak minta mas sekalian ikut rombongan. Karena bapak tidak bisa mengantar mas. Maaf dek “. Azriel


“ Malam itu mas .... “ Azriel melanjutkan.

__ADS_1


“ Saya sudah tahu tadz. Malam itu ustad Azriel mau ke rumah Ayu. “ Ayu menyela. Dia malu dengan Puji.


“ Sudah ... sudah saya baca semua surat ustad. “ Ayu ragu mengatakannya, ada rasa tidak enak karena sudah membaca surat tapi tidak membalas.


“ Makasih dek. Mas harap dek Ayu bisa memahami semua situasi yang mas alami. Termasuk keberadaan Ustad Imron “ Azriel. Ayu mengangguk.


Akhirnya ada dewa penolong yaitu anak Pak No yang mengantar pesanan.


“ Ini pesanannya mbak Ayu. Se ayu orangnya. He... he...he “ anak pak No yang ramah mengantar pesanan sambil berseloroh. Membuat pelanggannya selalu senang untuk datang.


“ Makasih ya mas “ mereka bertiga menjawab.


Sepanjang makan nasi goreng, tidak ada pembicaraan yang berarti. Azriel menceritakan tentang hari harinya di pondok. Termasuk kebersamaannya dengan Ustad Imron. Dia mengatakan bahwa Ustad Imron sudah ikhlas. Ustad lebih rajin beribadah dan beberapa kali menanyakan keberadaan dek Ayu bahkan mendorong Azriel untuk mendekati Ayu. Ayu hanya tersenyum menanggapinya. Pertemuan Ayu dan Azriel malam ini diakhiri dengan kesepakatan bahwa Ayu masih belum bisa menjawab perasaan Azriel. Dia tidak bisa mengatakan bahwa salah satu alasannya adalah karena sedikit traumanya dengan kejadian Ilham. Azriel tidak mempermasalahkan itu, meski dalam hati dia ingin sekali Ayu menjawab. Sudah cukup lama hampir 2 tahun. Tapi harus memaklumi karena mereka terpisah jarak dan tidak ada alat komunikasi.


“ Dek ... ini tolong diterima. Ini penting sekali untuk komunikasi. Mas berharap sekali dek Ayu mau menerima. Ini juga melancarkan komunikasi dengan keluarga di rumah. Karena mas tahu dek Ayu sekarang sibuk. Apalagi mau kelas 3. Pasti akan banyak try out dan les untuk menghadapi ujian akhir. Dan jarang pulang. “ Azriel menerangkan dengan hati hati. Dia tidak mau Ayu tersinggung dengan pemberian HP yang dia bawa masih di dalam kotaknya yang rapi. Dia tahu Ayu pasti akan menolak. Makan saja Ayu tidak mau dibayari. Malah dia yang membayar dengan alasan dia dapat uang banyak dari lomba. Sekarang dia yang traktir Puji dan ustad.  Sebenarnya HP itu ia beli agar dia bisa menghubungi Ayu kapan saja. Karena meski di pondok tidak boleh membawa HP. Tapi karena Azriel senior, dia bisa membuka HP ketika mau tidur atau di jam istirahat.


Ayu akhirnya menerima HP dari Ustad Azriel dengan tidak enak. Dia akan mencari cara bagaimana akan mengembalikannya entah denagn cara Apa. Pantang baginya untuk menerima pemberian dari orang selain keluarganya. Apalagi laki laki.

__ADS_1


“ Besok hari sabtu bila dek Ayu mau pulang ke rumah, mas jemput ya .... sekali kali jangan naik bis. Mas juga ada perlu untuk memperbaiki AC mobil di sini sekalian mau membelikan pesanan ibu. Mau ya dek ? “ Azriel tidak mau menyia nyiakan waktu liburannya yang hanya seminggu di rumah. Dia akan mendekati Ayu dan mengambil hatinya .... dengan Bissmilllah.~~~~


__ADS_2