Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Sang Pewaris


__ADS_3

Beberapa waktu Ayu tenggelam dengan perasaanya. Perasaan terkejut dan kasihan terhadap Lia. Dia memeluk pelan Lia sambil mengelus punggung tipisnya. Hanya sekelumit kulit kering yang membungkus tulang kurus. Lia hampir seperti mayat hidup.


“Aku minta maaf…aku banyak menyakitimu” ucap Lia pelan dengan nafas terputus-putus.


“Aku tidak bermaksud untuk merebut mas Azriel darimu. Karena itu tidak mungkin. Umurku tidak lama lagi” lanjut Lia.


“Jangan bicaranseperti itu. Kamu harus kuat. Kamu harus semangat mbak” Ayu berbicara dengan gemetar.


“Sebenarnya mbak Lia sakit apa…kenapa bisa tiba-tiba seperti ini?” tanya Ayu. Lia tidak menjawab dia hanya menangis tanpa suara. Air mata mengalir deras di pipinya yang keriput dari kelopak mata yang menghitam.


“Dengar yu…aku dan Azriel tidak ada hubungan apa-apa. Meski aku selalu mengejar cintanya. Tapi di hati dia cuma ada kamu. Aku sudah lelah. Sampai kapanpun dia tidak akan bisa menerimaku. Karena dia hanya mencintaimu. Kamu harus percaya. Dia selalu menunggumu, dia selalu menyebut namamu” Lia.


“Apa yang kamu lihat selama ini tidak seperti yang di luar. Sebenarnya kami ….” Lia berkata dengan tatapan lemah ke Ayu.


“Sssssssttttt…sudah. Tidak perlu kamu jelaskan lagi. Yang penting sekarang kesembuhanmu. Kamu harus sembuh. Kamu bisa” Ayu mengenggam tangan dingin Lia. Dingin, tanpa aliran darah.


“Aku tidak bisa. Aku sudah lelah dengan penyakit ini. Aku kalah” pasrah Lia.


“Kamu tidak boleh seperti itu. Kamu sakit apa? Jelaskan sama aku!!!” Ayu memegang kedua bahu Lia dan menggoyang-goyangkan tubuh kurus Lia, menuntut untuk dijelaskan.


“Apa yang kamu lakukan!!!” Azriel terkejut melihat ada seseorang yang mengguncang tubuh lemah Lia. Dengan cepat dia menangkap tubuh orang tersebut. Dan betapa terkejutnya dia, jika ternyata itu adalah orang teristimewa bagi Azriel.


“Kamu tidak apa-apa Lia. Apa yang kamu rasakan. Aku panggilkan dokter” Azriel bergegas menuju tombol bel di belakang ranjang Lia, tapi tangan lemah Lia menangkis.

__ADS_1


“Tidak perlu. Aku tidak perlu bertemu dokter lagi. Aku hanya perlu bertemu papa dan kakak. Aku rindu mereka. Mereka juga rindu sama aku. Mereka ingin aku didekat sana” Lia dengan tatapan kosong.


“Sudah…kamu harus istirahat” Azriel membantu merebahkan kepala Lia. Dia membelai ujung kepala Lia dengan lembut. Terpancar rasa sayang Azriel ke Lia. (Apa kabar hati Ayu???).


“Tidurlah. Nanti aku bangunkan bila dokter datang” Azriel membantu merapikan baju Lia yang terkoyak kesana sini karena ulah Ayu yang reflek tadi.


“Mas Azriel…aku sudah capek. Aku gak kuat lagi…” lirih Lia dengan mata terlinang.


“No…kamu akan selalu hidup. Percaya sama Allah. Hanya dia yang bisa menolongmu. Kamu yakin. Kamu pasti bisa. Aku di sini. Jangan takut” Azriel memeluk Lia erat. Tak tahu apa yang dipikirkan. Dia hanya takut Lia pergi. Takut yang sangat. Azriel menangis keras dengan membekap tubuh tipis Lia. (Apa kabar lagi hati Ayu???).


Ayu melihat semua yang ada di depannya. Melihat dua insan manusia yang sangat dekat. Mereka begitu terlihat saling menyayangi. Dia melihat Azriel sangat tidak sanggup dengan kata-kata menyerah Lia. Ada apa iniiiii? sebenarnya apa iniiii? hanya itu yang ada di pikiran dan hati Ayu. Ayu pergi. Dia membiarkan Azriel menguatkan Lia. Di luar ruang, Ayu menyandarkan tubuhnya di tembok. Dia pejamkan mata, mencoba menata hati dan pikiran yang tidak terkendali.


Ayu berjalan cepat menuju Ruang Perawatan Lia. Sore ini, Ayu akan menjenguk Lia. Dia sudah memutuskan akan melupakan rasa cemburunya. Nyawa Lia lebih penting. Meski tidak terlalu dekat, tapi Ayu cukup sering berhubungan dengan Lia selama proyek di desa berlangsung, ada perasaan empati untuk Lia.


“Assalamualaikum…” salam Ayu. Tidak ada yang menjawab. Terlihat Lia berbaring memejamkan mata. Dan…ada Azriel yang sholat di samping ranjang Lia. Ayu memberanikan dirimendekati Lia dan meletakkan rangkaian buah di nakas meja. Dipandangi Lia dengan seksama.


“Baik mas” jawab Ayu. Mereka memandang Lia dengan perasaan masing-masing.


“Bisa kita bicara sebentar di luar? Lia baru saja tidur. Mungkin agak lama bangunnya” Azriel. Ayu mengangguk. Di luar kamar, Azriel dan Ayu duduk di kursi panjang sepanjang lorong.


“Mas tahu, dek Ayu pasti punya banyak pertanyaan tentang ini. dan dek Ayu pasti marah sama mas, karena tidak menjelaskan segera” Azriel.


“Maaf dek, banyak hal yang menghalangi mas untuk mengatakannya. Tapi sekarang kamu sudah bisa bertanya apa saja kepada mas” Azriel.

__ADS_1


“Tidak perlu mas. Lupakan yang lalu. Kesehatan mbak Lia lebih penting” Ayu.


“Sebenarnya…sebenarnya mbak Lia sakit apa mas? kenapa bisa sampai begini?” tanya Ayu.


“Dia mengidap kanker darah sejak kecil. Dia berjuang menutupi semua dari orang. Kankernya sudah stadium 4. Sudah berbagai upaya kita lakukan pengobatan tapi tetap tidak bisa” jawab Azriel dengan pelan. Dia memandang Ayu dengan seksama. Azriel tahu, bagaimana perasaan Ayu ketika Azriel bersama dengan Lia.


“Mas…bagaimana mas tahu penyakit mbak Lia, katanya dia menyembunyikan dari samua orang dan…” Ayu akhirnya bertanya tentang hubungan Azriel dan Lia.


“Lia adalah pemilik PT ADI WARDANA. Dialah sang pewaris tunggal perusahaan” jawab Azriel.


“Bagaimana bisa? jika mbak Lia pemilik kenapa dia jadi sekretaris saja? sergah Ayu.


Flashback on


“Zriel…ayo cepat kamu jangan baca buku terus. Sekali-kali kita keluar. Cuaca lagi hangat di luar. Ayo kita ke taman” Leon.


“ Aku malas Leon, kamu saja yang keluar sama Agus dan kawan-kawan. Aku mau lihat dari balkon saja” jawab Azriel.


“Ah kau. Gak asik. Masak tiap hari pulang kampus hanya baca buku. Dan menulis surat untuk kekasihmu …. siapa itu, Ayu. Sudah lah bro, dia gak bakal balas surat kamu. Paling sudah punya cowok di sana. Lagian cewek cantik….mana tahaan?” goda Leon.


“Dia beda dengan yang lain bro…aku tidak bisa melupakannya. Sampai kapanpun dan dimanapun” Azriel.


“Ya sudahlah kalau gitu. Susah ngajak kamu bro. Setia sekali lo. Ya sudah gue cabut” Leon.

__ADS_1


“O ya jangan lupa lo telpon tu adek pungut lo yang manja itu. Daritadi pesan berpuluh puluh kali kangen sama abangnya. Lagian yang kakaknya siapa, yang dikangeni siapa?” teriak Leon sambil berlalu. Azriel tersenyum.


“Assalamualaikum wr wb…apa kabar dek ??? tentu saja mas kangen..iya….iya…hemmmm…” Azriel mengangkat telepon dari seseorang. Azriel tersenyum ketika menutup telepon yang berdurasi lama hingga membuat HP nya panas. Dia geli dengan tingkah laku Lia, gadis SMA yang suka menyatakan cinta langsung dengan hanya beberapa kali pertemuan dengan Azriel. Lia begitu manja dengan Azriel, lebih manja dibandingkan dengan kakak kandungnya sendiri, Leon. Meski Azriel sering menginap di kediaman keluarga Azriel, tapi Azriel hanya menganggap Lia sebagai adik. Azriel berteman dengan Leon bahkan dekat dengan Pak Hardibrata, pemilik PT ADI WARDANA.


__ADS_2