Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Seperti Ini


__ADS_3

“Kapan kamu mau menerimaku dek? akankah bulan maduku sama dengan malam pertamaku?” batin Azriel dengan tatapan pilu.


Setelah memilih daftar tempat berjalan sesuai keinginan Ayu, mereka bersiap untuk berangkat. Semua fasilitas sudah disediakan oleh Dion melalui relasinya. Azriel menyetir sendiri mobil yang disediakan untuk memberikan privasi dan keleluasan berduaan dengan Ayu. Itu yang dia idamkan sejak sebelum menikah. Meski sekarang beda.


Hari pertama ke Majesty of Peace Palace Ayu menggunakan dress simple. Kebetulan cuaca panas dan sangat mendukung untuk mereka menikmati taman-taman. Azriel berusaha sekali selalu tersenyum sepanjang perjalanan. Semua perlakuan dia begitu lembut dan melayani Ayu, dia menjadikan Ayu bagai ratu. Dalam hati Azriel…dia berharap mimpi buruknya 2 hari yang lalu hilang. Dan hanya angin dingin lewat dalam hidup. Dia bermimpi Ayu manis dan agresif seperti Ayu sebelum kesalahpahaman mereka muncul.



“Kamu cantik sekali dek…gimana cara mas bisa menahan semua ini” monolog Azriel dalam hati melihat istrinya turun dari tangga bersipa menuju obyek pertama.


Di taman yang begitu megah, Ayu menikmati udara sekitar gedung. Gedung di sini dibangun dalam campuran gaya Gothic dan Neoklasik, diapit di façade panjangnya yang berat dengan atapnya yang menjulang tinggi dan menara


setinggi 80 meter. Ayu menyusuri jalan yang panjang dan lapang di depan gedung, sementara Azriel berjalan di sampingnya. Tidak ada genggaman tangan, karena ketika di tempat sepi Ayu langsung melepaskan tangan Azriel. Dia menjauh dan langsung terdiam berbeda ketika ada di tempat keramaian.


Ayu memandang gedung Mahkamah Internasional, Pengadilan Arbitrase Permanen, Akademi Hukum Internasional dan perpustakaan hukum internasional, yang menawarkan dekorasi interior yang kaya disumbangkan oleh berbagai negara, termasuk marmer dari Italia, panel kayu dari Brasil dan Amerika Serikat, serta pagar besi hias dari Jerman. Dia memandang dengan sendu. Dan berbalik menuju pintu keluar tanpa memperdulikan Azriel. Azriel yang baru menyadari, langsung berlari mengejar istrinya.


“Tunggu dek. Mau ke mana?” tanya Azriel berusaha menjangkau tangan Ayu yang jalan cepat. Ayu hanya diam, tidak menjawab.


“Dek…???”


Akhirnya Azriel menyerah setelah beberapa kali pertanyaannya tidak dijawab oleh sang istri. Azriel hanya mengikuti langkah Ayu, yang menuju mobil dan masuk.


“Ada apa? bukannya baru sebentar kita di sini?” Azriel. Tidak ada jawaban. Azriel menarik nafas pelan.

__ADS_1


“Sekarang permaisuri mas mau diantar ke mana?” akhirnya Azriel memilih mengalah dan mencairkan suasana yang sejak 20 menit tanpa pembicaraan. Tidak ada jawaban.


“Kita makan ya sayang?” tanya Azriel berusaha sabar. Tidak ada jawaban.


“Di sini ada makanan seafood enak. Biasanya Lia dan beberapa sekretaris klien mas pada suka di restoran itu, karena dekat dengan pusat penjualan tas branded. Mereka belanja setelah makan” Azriel berusaha menarik perhatian Ayu yang penyuka Seafood.


“Jadi mas sering ke sini” Ayu bertanya lirih hampir tidak kedengaran.


“Heeem..dengan beberapa klien mas hampir tiap bulan ke Eropa untuk tender“ Azriel mulai antusias untuk bercerita dengan Ayu yang mulai membuka lampu hijau.


“Ooooo…sering ya. Ketemuan sama klien yang kebanyakan ngajak sekretaris cantik. Seneng ya sering dikerumunin cewek-cewek cantik” ketus Ayu menghadap jendela mobil. Azriel kaget dengan pernyataan Ayu. Namun, beberapa detik dia tersenyum. Dia mencium aroma cemburu dari istrinya.


“Pasti sering. Mereka perempuan yang cantik dan smart jadi enakdiajak kerjasama. Mudah menarik konsumen karena komunikatif dan menarik” Azriel mengucap dengan tersenyum dalam hati.


“Ya pasti menarik…apalagi sama bos-bos yang punya uang banyak. Mudah ya dapat cewek yang menarik” Kesal Ayu dengan nafas mulai tercekat.


“Sayaaang…itu punya orang. Kenapa kamu rusak?” Azriel masih ngilu melihat nasib hiasan itu sekarang tak beraturan.


“Biarin aja. Katanya Direktur Utama….masak ganti hiasan mobil aja gak bisa!” seru Ayu.


“Tapi itu kan kamu yang ngerusak. Bukan mas….” jawab Azriel tanpa bersalah.


“Kan aku istri mas…jadi yang tanggung jawab buat ganti ya mas. Lupa kalau sudah punya istri!!!” bentak Ayu. Azriel reflek menginjak rem. Mobil berhenti mendadak. Untungnya jalan-jalan di sini lebar dan sepi.

__ADS_1


“Bagaimana bisa aku lupa. Kamu yang lupa kan, kalau punya suami belum dapat hak atas istrinya” Azriel mendekati Ayu. Mengikis jarak dan dengan cepat menarik pinggang ramping Ayu. Dia bungkam bibir Ayu dan mengaitnya dengan lembut menggoda. Tangannya menelusup ke dalam rok ayu dan menyikapnya ke atas. Azriel semakin memperdalam lilitan lidahnya, dan Ayu terbuai. Dia mengikuti irama ciuman Azriel. Ayu membalas ciuman itu dengan begitu indah. Suasana dal mobil memanas. Azriel mengabsen setiap inci leher Ayu. tangannya mengusap seluruh lengan tangan Ayu yang terbuka mulus. Dan tangan yang lain mengusap kulit halus perut Ayu dari dalam rok. Kini kepala Azriel sudah berpindah tempat ke bagian dada Ayu. Dan mendekap 2 bukit kembar nan menggoda milik istrinya. Dia cium dua mainan itu yang baru pertama kali disentuh dan dia hirup hingga,dalam. Lidahnya menjulur-julur memberikan kenikmatan pada sang permaisuri. Suara rintihan Ayu lolos dan menambah panas serta memacu jantung Azriel untuk merasakan lebih….


“Tiiiiiiitttttttttttt…” suara klakson terdengar nyaring darI arah belakang. Ada pengemudi taksi yang terganggu dengan ulah kedua pasangan ini. meski di Negara ini bebas melakukan apa saja termasUk melakukan **** di jalan, tapi mobil Azriel menghalangi jalan. Sehingga mereka mengklakson dengan keras.


Lima hari sudah berlalu di negeri ini. Semua tempat yang menjadi list tujuan telah selesai dikunjungi. Dan selama 5 hari itu pula…pasangan suami istri itu belum menikmati indahnya bulan madu. Tidak ada kemesraan apapun diantaranya. Ayu benar-benar mengubur hatinya untuk Azriel. Malam ini adalah malam terakhir mereka di negeri kincir angin. Azriel bertekad untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi dengan berbicara. Hanya berbicara dari hati yang menurut Azriel bisa menyelesaikan ini. Namun apa daya, kekerasan hati Ayu tidak terbantah. Selama di meja makan, Ayu memasang mode diam. Tapi setiap bertemu orang, dia akan memasang mode tersenyum.



“Dengar sayang…aku minta dengan sangat beri waktu sedikit buat mas untuk menyelesaikan semua ini. Mas tidak tahan kamu diamkan dek” sergah Azriel ke Ayu yang mau masuk ke kamar dan selanjutnya akan menguncinya. Ayu tetap terdiam.


“Mas mohon dek… apa yang harus mas lakukan supaya kamu mau memaafkan mas. Mas tidak ada maksud jelek dek. mas hanya ingin menyelesaikan dan membantu paman madun menebus kesalahannya kepada bapak. Paman sudah menyadari kesalahannya dan sudah meminta maaf. Bapak ibu juga sudah ikhlas memaafkan. Dan merenovasi rumah hanya tujuan kami untuk membantu. Tidak ada maksud lain. Apa lagi mengganti nyawa bapak dengan uang seperti yang kamu tuduhkan, tidak ada dek. Maafkan mas” mohon Azriel dengan merendah serendah-rendahnya di hadapan istrinya.


“Mas…mohon kamu….” Lanjut Azriel.


“Cukup!” potong Ayu dengan mata tajam.


“Cukup. Jangan sebut nama bapak, jika kamu tidak bisa menghargai perjuangan seorang bapak. Kalian orang kaya tidak pernah merasakan penderitaan orang rendahan seperti kami. Kalian tidak pernah kan merasakan kelaparan tanpa sebutir nasipun di rumah, dan kami hanya bisa berpelukan menangis menunggu bapak kami pulang membawa sebungkus nasi untuk dibagi. Tidak pernah kan? kalian menganggap bapak kami itu seperti hewan. Apa kalian tidak berfikir bagaimana nyawa kami bisa hilang tanpa bapak. Dan karena harta, kalian mendewakan harta dan tersenyum di atas nyawa yang tergeletak tak berdaya. Itu bapak kami mas. itu nyawa kami. Kalian menganggap kami sampah. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan kalian. Tidak akan pernah!” seru Ayu dengan mata menyala berkobar.


“Sampai kapan kamu seperti ini? sampai kapan kamu menutup mata hatimu” pinta Azriel dengan air mata yang menetes. Azriel tidak berdaya di depan Ayu. selalu tidak berdaya.


“Sampai kalian merasakan pedihnya hati kami selama ini” Ayu.


Malam itu, Azriel keluar dari kamar hotel mewah yang sudah 5 hari dia tempati. Dia ingin menghirup udara segar setelah pertengkaran dengan istri berkepala batu itu. Dia tidak tahan. Di taman Azriel menundukkan kepala merenungi semua. Kisahnya dengan Ayu dari dulu hingga sekarang. Rasa cinta yang mereka rasakan. Dia masih mempunyai keyakinan bahwa Ayu mencintainya. Dan Ayu yang memang diciptakan untuk menjadi belahan jiwanya.

__ADS_1


Hiiiks…hiiiiiiiks….hiiiiiiiiiiiikkkkkksss


Sayu-sayup terdengar suara orang menangis di taman. Semakin lama semakin jelas terdengar. Keingintahuan Azriel membawa dia menyusuri sudut taman. Dan dia menemukan seseorang yang sedang tertunduk membungkuk memeluk kedua kaki sambil menangis. Seorang perempuan menangis di atas kursi taman dengan suara menyayat hati…dan perempuan itu seperti Azriel kenal……~~~~


__ADS_2