
“ Tolong janganseperti ini mas. Ini sudah malam, tidak enak bila dilihat orang “ dengan bisikan dan lirih Ayu menjawab cengkeraman tangan Azriel.
“ Mas sangatmmencintaimu dek. Mas yakinkan itu. Selama lima tahun mas hanya bisa mengikutimumdari jauh, berharap tidak ada laki-laki lain yang masuk dalam hidupmu ” ucap Azriel.
“ Beri aku waktu mas. Aku perlu waktu untuk menata ulang hatiku dan untuk keluarga kita, apa mas sudah memikirkannya ? ” lirih Ayu.
“ Keluarga akan mendukung semua langkah yang menuju kebahagiaan kita. Aku berjanji akan meyakinkan orang tuamu. Aku berjanji akan berjuang dek “ jawab Azriel.
“ Kita bahas besok saja, ini sudah malam. Ayu ngantuk banget ” Ayu tersentak ketika tangannya justru ditarik Azriel, dia didekap dengan erat.
Azriel memeluk Ayu dengan erat malam ini. dia masih enggan untuk berpisah, meski sudah larut malam. Dia benar benar meluapkan segala kerinduan yang dia pendam. Dihirupnya, aroma sampo dari rambut Ayu yang saat ini diikat tinggi, sehingga ia bebas mengendus. Ayu membalas pelukan Azriel. Dia akhirnya menerima permintaan maaf Azriel, dan sedikit membuka ruang hatinya.
“ Besok mas akan pergi ke Swiss selama seminggu, ada kerjasama dengan penerbit di sana. Mas berharap bisa tidur dengan tenang di sana setelah mendengar isi hatimu malam ini dek ” lirih Azriel dengan memejamkan mata dipelukan Ayu.
“ I Love You Honey ” lanjut Azriel.
“ Love You to ” Jawab Ayu dengan mengeratkan pelukannya. Dia tidak bisa lagi membohongi isi hati. Cukup lima tahun dia menutupi dan menghindar dari Azriel. Pelukan erat mengakhiri kehangatan mereka malam ini.
Di kamar, Azriel tersenyum tersenyum sendiri mengingat beberapa menit yang lalu sang gadis pujaan hati menerima cintanya. Dia memejamkan mata masih tidak percaya. Berusaha mengulang kejadian hari ini. Usahanya untuk bicara hati ke hati di gubug, akhirnya membuahkan hasil. Dia mampu menggetarkan hati sang kekasih yang resmi disandang Ayu. Namun masih ada pekerjaan rumah yang harus Azriel uraikan benang kusut dan masalahnya, yaitu terkait keluarga mereka. Azriel akan memulai dengan kejadian yang menimpa bapak Ayu. Kecelakaan yang Ayu ceritakan tadi di gubug.
Flashback On
Tampak seorang laki-laki setengah baya sedang mengatur parkir kendaraan motor dengan meniup peluit. Cuaca panas dan debu yang beterbangan di jalan tak menyurutkan semangatnya. Dia duduk di kursi kecil sambil menunggu motor yang datang. Dihitung penghasilan uang hari ini berupa uang recehan. Senyumnya terbit mengetahui jumlah yang didapat hari ini.
“ Besok kita bisa makan nasi padang bareng nduk. Kamu suka makan nasi padang kan ” dia senyum mengingat puteri kesayangannya yang selalu dirindukan di kota, sekolah SMA. Puteri kebanggaan dan semangat hidupnya.
Namun senyumnya hilang ketika dia melihat ujung tempat parkir, tempat dia biasa menaruh motor. Motor andalan yang dia pakai untuk mengais rejeki, menjadi tukang ojek ketika parkir sepi dan menunggu parkiran datang, kini sudah tidak ada. Beberapa hari lalu, pihak leasing menarik motor tersebut karena dia tidak bisa membayar setoran beberapa bulan.
“ Maaf ya nduk…motor yang kamu beri hilang. Nanti bapak beli lagi bila sudah punya uang ” tanpa sadar air mata mengalir di pipinya yang sudah keriput dan berminyak bercampur debu jalan.
__ADS_1
Bapak Ayu, dia adalah sosok yang sekarang ada di parkiran menangis tanpa diketahui orang karena dia menutup dengan topi romping yang selalu dipakai tanpa ganti, karena itu topi satu satunya. Dia tidak tahu kalau motor yang dia punya ditarik leasing karena ulah seseorang yang sangat membencinya.
“Mas itu, motor punya preman desa ditarik wae mas. Wes berapa lama gak bayar setoran? Ditarik saja mas. Percaya sama saya, itu gak bakal dibayar malah nanti akan dijual ke penadah gelap. Wong namanya preman ya tetap jadi preman. Malah nanti kamu resiko mas. Motor hilang. Gak bisa ditarik. Leasing rugi ! ” seorang kyai duduk di kursi sambil melipat satu kaki, dan memberi perintah ke salah satu anggota leasing yang bosnya sudah akrab. Sementara yang diajak bicara, manggut manggut mengiyakan. Memang beberapa bulan tidak setor. Jadi sesuai aturan layak ditarik unitnya.
Siang ini Ayu sangat bahagia, karena dia melihat ada sandal sang bapak di teras kos. Itu artinya bapak datang. Dia sangat rindu. Dan pasti dia akan dapat uang bulanan dan uang buku yang sudah 3 bulan ditunggak. Karena tidak punya uang. Uang hasil dia lomba dan lain-lain dia kumpulkan dan dia berikan kepada bapaknya sebagai uang muka beli motor. Dia sangat senang bisa memberi uang bapaknya, meski hanya untuk uang muka beli motor kredit. Sedangkan setoran bulanan, bapak yang membayar.
“ Kok bapak gak bawa motor ? Tadi naik bis apa yah ? ” Ayu bertanya dalam hati. Kini mereka sudah di warung nasi padang dekat kos. Mereka jalan kaki. Bapak tidak berkata apa-apa tentang motornya.
“ Enak nduk…? nambah ayo. Bapak punya uang. Makan yang banyak. Supaya belajarnya semangat. Makannya tiap hari masih nasi sama telur dadar nduk ? ” Bapak mengelus rambut panjang Ayu dengan sayang.
“ Masih pak. Uangnya cukupnya buat itu. Yang penting Ayu bisa makan 3x ya pak. Bisa sekolah. Sudah senang. Makasih ya pak. Sudah ngajak Ayu makan enak tiap minggu ” jawab Ayu sambil menyantap lahap nasi padang kesukaannya. Sebenarnya dia ingin tanya kenapa motor bapak tidak dibawa, dan bapaknya milih naik bis dan angkutan umum ke sini. Kan keluar uang banyak. Tapi ada yang mengganjal. Ayu melihat raut kesedihan di wajah sang bapak. Dan dia tidak mau bapaknya sedih. Biar bapaknya terhibur dengan celotehan dia yang lucu-lucu.
“ Eh pak. Kemarin aku didatangi sama guru kelas. Katanya rangking kelasku bisa diturunkan kalau tidak bayar uang buku bahasa inggris 3 jilid. Tapi aku gak takut pak. Dulu waktu kelas 1 juga pernah. Aku telat bayar uang bangunan masuk sekolah. Dibilang nanti nilainya dikurangi. Tapi nyatanya Ayu tetap rangking 1. Rangking 1 terus malah sampai kelas tiga. Ya kan pak? Jadi bapak gak perlu bingung kalau belum punya uang. Uang buku Ayu dibayar bulan depan saja pak. Nanti tak cari alasan lain. Serahkan semua sama Ayu !” celotehan Ayu sengaja dia buat untuk menghibur bapak.
“ He…he…he. Kamu tu paling pintar kalau ngomong. Jangan suka bohong, nanti pasti ketahuan. Ngomongnya yang jujur saja. Bapak belum punya uang. Tapi sekarang bapak mau antar uangnya. Bapak sudah punya uang nduk. Kemarin parkirnya ramai. Ojeknya juga sehari bapak bisa berkali kali antar orang. Uang bapak cukup buat bayar uang buku kamu. Jadi kamu gak perlu bohong lagi sama guru nduk ” Bapak berseloroh. Dia menasehati anaknya untuk tidak bohong. Tapi nyatanya sekarang dia bohong. Sudah seminggu dia tidak bisa narik ojek karena motornya sudah ditarik leasing. Uang bulanan yang biasa dia setor, dia gunakan untuk uang les Ati. Yang sekarang sudah kelas 3 SMP. Banyak les dan try out yang diikuti. Bapak pengen Ati jadi lulusan terbaik agar bisa masuk SMA favorit seperti Ayu.
“ Waaah… Alhamdulillah. Pasti karena doa Ayu pak. Ayu setiap malam doa. Agar rejeki bapak buaaaaaannnyyaaaaakkkk ” Ayu memeragakan bulatan besar membentuk gunung. Dan bapaknya tertawa. Senang sekali mempunyai puteri seperti Ayu. Cantik, pintar, sopan, rajin bantu orang tua, mau diajak prihatin dan tidak pernah menuntut. Ayu memeluk bapaknya yang lagi menyeruput kopi dari samping. Dia kangen, meski bapaknya bau debu, asap jalanan, rokok bahkan kadang kadang bau alkohol, Ayu tidak bosan bosan untuk memeluk kencang sang bapak. Apapun itu dia selalu melihat bapaknya sebagai pahlawan.
Minggu ini bapak Ayu semangat sekali, dia sangat senang karena mendapat pekerjaan baru. Seorang pengusaha baru dari Jakarta yang baru datang ke desa menawari bapak untuk mengumpulkan belut dalam jumlah besar. Belut belut itu akan disetorkan ke semua rumah makan nasi padang di area provinsi. Pengusaha itu juga meyakinkan punya rumah makan besar di Jakarta. Bapak sudah mencoba 1 bulan ini dan dia mendapat keuntungan yang lumayan. Lebih dari ojek dan parkir. Bapak berhutang banyak untuk membeli belut-belut dari petani. Dia menjemur belut itu sendiri di depan rumah. Dan berharap bisnis ini akan berjalan lama untuk biaya sekolah anak-anaknya sampai sarjana. Dia tidak perlu jadi tukang tagih utang, parkir, becak dan kondektur bis ke luar kota.
“ Nduk, bawa sini belut kering yang dikamar. Tak jemurnya lagi biar lebih kering. Om Jok bilang bila kering lebih mahal “ Bapak meminta Ati dan Uma untuk membantu menjemur belut yang numpuk di kamar.
“ Bapak belutnya banyak sekali. Ini beli dari petani mahal ya pak ? “ Ati dari kemarin melihat banyak belut kering yang menggunung di kamar. Dan dia pikir pasti bapaknya keluar modal banyak untuk beli belut itu.
“ Iya mahal, tapi kan nanti balik modal. Bahkan untung. Kemarin setoran pertama bapak untung 500 ribu. Lumayan buat kirim mbakmu kos. Ini bapak beli banyak lagi. Sepuluh kali lipat. Kemarin minjam-minjam modal. Kalau hitungannya kayak setoran kemarin, kita bisa untung sampai 5 juta lebih nanti. Mau bapak tabung buat biaya masuk kamu SMA. Kan uang bangunan SMA di kota mahal nduk. Doakan lancar ya nduk… supaya nanti bisa nabung buat masukkan mbak mu kuliah di kota. Dengar dengar kuliah butuh biaya banyak. Jadi bapak senang bisa punya usaha ini ” senyum bapak merekah menerangkan kepada anak keduanya, Ati. Ati yang mendengar hanya diam saja. Entah mengapa ada perasaan yang gak enak tiap kali bapak ngobrol sama Om jok yang selalu datang ke rumah. Fillingnya yang tajam, membuat hati Ati merasakan tanda tidak enak.
Siang ini ada truk di depan rumah Ayu. Truk itu akan mengangkut belut-belut kering ke kota. Bapak senang melihat truk besar terisi penuh belut hasil dia membeli dan mencari petani-petani ke seluruh pelosok. Bahkan ke luar desa. Dia sudah membayangkan keuntungan yang akan didapat.
“ Wah mas, ini banyak sekali. Bisa untung berkali kali lipat ini. Bisa jadi orang kaya kamu. Gak naik sepeda butut lagi. Bisa beli motor bahkan mobil lama-lama. Keren kamu mas “ Om Jok menepuk nepuk pundak bapak Ayu. Dia membawa kemeja panjang dengan sepatu mengkilap.
__ADS_1
Seorang laki laki paruh baya…jalan tanpa tentu arah. Pandangan mata lelaki itu tidak melihat jalan…dia seperti berhalusinasi dan tubuhnya tidak terurus. Baju kumal, rambut berantakan dan kulit hitam legam mengkerut. Dilihat dari cara jalannya, dia kelihatan belum makan berhari hari. Lelaki itu adalah bapak Ayu. Sudah seminggudia tidak pulang. Tidak berani pulang karena banyak ancaman ke dia dan keluarga.
“ Piye ikiiii…hidupku hancur. Anak-anakku bisa lanjut sekolah tidak ini. semua habis. Lahan parkirku sudah kujual. Motorku hilang. Aku dipecat dari koperasi yang biasa minta nagih hutang, hutangku banyak dan isi rumahku habis. Anakku belum bayar sekolah. Lahhh.. nasibku. Gak pernah enak. Anak-anakku gimana mau makan…” Lelaki itu berbicara sendiri. Pikirannya kalut. Tangannya gemetar tanpa tenaga. Jalan tidak lurus ke kanan dan ke kiri sesukanya.
Tiba-tiba ….
BRAAAKKKK. JEDEEER. DUG
Tubuh lelaki itu terpental hingga 10 meter. Sebuah mobil melaju kencang yang menabrak berhenti sejenak.
“ Yi…gimana ini. siapa tadi yang kita tabrak yi. Coba lihat yi. Kasihan masih hidup apa tidak itu. Astaghfirullloh…” Kyai Madun meremas rambutnya. Kaget dan bingung karena sudah menabrak sesuatu. Dan dia yakin itu orang. Suasana saat ini masih subuh. Jadi sepi di jalan tidak ada orang maupun mobil yang lewat dekat jalan pematang sawah.
“ Waalah gak usah. Mumpung gak ada orang. Nanti malah kita masalah sama polisi segala. Kalau mati malah ngurus semua. Biarkan saja yi. Tadi juga gak tahu kita itu orang atau setan atau hewan. Masih sepi paling bukan orang yi” sahut Kyai Parji.
“ Tolong dilihat saja yi, tolong sekali. Kaki saya malah gak bisa digerakkan. Gemeter ini yi. Minta tolong diperiksa, kalau orang masih hidup kita bawa ke rumah sakit. Kalau hewan kita kubur yi “ melas Kyai Madun. Yang gemeteran dan kakinya lemas tidak bisa digerakkan. Kyai madun masih shock. Kyai Parji turun meriksa.
“ Sopo to iki…pagi pagi mau Adzan subuh kok keluyuran gak ke masjid malah di sawah!” dilihat lelaki yang tertelungkup. Kyai Parji melihat kepala lelaki itu yang bersimbah darah. Lelaki yang ditabrak membentur tumpukan bahan bangunan yang akan dipakai untuk membangun jalan desa di pematang sawah itu. Sekujur tubuhnya bersimbah darah.
“ Walaaahhhh… malah preman kampung iki. Rasakno. Makanya jadi orang itu masih hidup jangan menghancurkan kebahagiaan orang. Ini karma karena kamu sudah merusak pernikahan anakku lewat anakmu yang kamu kasih susuk itu. Lihat anakku sudah gak jadi istrinya Azriel lagi. Karma. Masuk neraka kamu !!!” Kyai Parji menendang kaki bapak Ayu yang tergeletak. Tidak ada gerakan dari bapak Ayu. Hanya seperti suara lirih dan jemari tangan yang berdetak sedikit.
“ Ternyata cuma anjing liar yi. Wes gak usah diurusi. Gak usah dikubur juga. Wong namanya anjing yo najis. Kita urusi malah kena najisnya. Wes ayoo yi” kilah Kayi Parji.
“ Yakin yi, itu hewan ? bukan orang kan yi ? nek hewane milik penduduk gimana yi ? kita bawa saja buat dikubur atau besok dicari pemiliknya. Kita minta maaf yi dan kita urus gimana baiknya” Kyai Madun memastikan.
“ Wong saya lihat dengan mata kepala sendiri kok yi. Sudah sudah ayo kita ndang ke masjid. Selak adzan subuh. Warga desa Meranggen sudah menunggu tausiah Kyai Madun ” bujuk Kyai Parji. Kyai Madun menjalankan mobil pelan, dengan doa dan istighfar. Ada perasaan mengganjal yang dia rasakan. Kesalahan besar entah itu apa.
Flash Back Of.
Azreil menitikkan air mata mengingat cerita Ayu tentang bapaknya yang mengalami bencana berkali-kali. Motor ditarik leasing, dia dipecat dari koperasi tempat bekerja, tidak bisa ngojek, parkiran terjual, ditipu orang hingga puluhan juta, isi rumah dikuras penagih hutang. Dan bapaknya terkena struk ringan karena pikiran yang berat. Selama 2 tahun tidak bisa bekerja. Dan bencana besar berikutnya bapaknya ditabrak lari. Untung Tuhan masih memberikan pertolongan ketika ada petani yang pagi-pagi melihat orang tergeletak di tumpukan bangunan di pinggir sawah. Itu yang membuat Ayu mengambil alih tugas bapaknya, bekerja keras menyekolahkan kedua adik. berbagai rintangan dan kesediahan Ayu lalui.
__ADS_1
“ Deal. Dek Ayu sudah menerima diriku. Dan akupun harus menerima keluarganya. Akan aku curahkan cintaku untukmu sayang mulai sekarang dan selamanya. Aku akan berusahan membahagiakan kamu” janji Azriel.
(Aku nangis readers nulis part ini. Untuk semua bapak di dunia ini. Mudah mudahan diberikan surga dan balasan terbaik dari Allah atas perjuangan kerasmu untuk keluarga). Aamiin...