
“Maafkan Aku mas. Mungkin kita memang tidak jodoh. Acara besok sebaiknya tidak ada. Aku tidak bisa bersamamu. Aku tidak bisa hidup dengan orang pembohong seperti kamu!” isi pesan Ayu yang dikirim ke Azriel malam ini.
Azriel tersentak membaca pesan itu, ini serius atau bercanda dia sangat bimbang. Azriel langsung memanggil Ayu lewat HP nya. Tapi hingga beberapa kali tidak diangkat. Azriel membalas pesan itu.
“Dek…adek baik-baik saja? bisa angkat telepon mas sebentar dek?” pesan pertama Azriel.
“Sedang apa dek? dek Ayu sehat?” pesan selanjutnya.
“Sayang…angkat telepon mas sayaaaang…” berikutnya pesan dikirim kembali.
“Mas ke rumah dek Ayu sekarang ya…dek Ayu baik-baik saja kan?” pesan Azriel yang kesekian kali.
“Mas berangkat dek…” Azriel. Hati Azriel berdegup tak karuan, karena semua panggilan dan pesan yang dia tujukan tidak direspon. Yang membuat Azriel khawatir adalah pesan-pesan itu dibaca, tapi tidak ditanggapi. Itu artinya Ayu tidak berkenan untuk membalas. Dan itu artinya ada sesuatu. Berbagai pikiran berkeliaran di otak Azriel. Ini adalah hal paling menakutkan bagi Azriel. Dia tidak punya daya apa-apa bila berhubungan dengan hati Ayu. sampai sekarang pun dia masih berusaha menyelami isi hati kekasih tercintanya itu. Ayu sulit ditebak. Meski dia sudah mengenal sejak kecil.
Di ruang tamu rumah minimalis ini, Azriel menunggu. Ya rumah ini sudah dibangun Azriel dengan pelaku utama pamannya, Ustad Madun sebagai tanda maaf atas kejadian yang dilakukan. Sekarang berdiri cantik sudah satu bulan. Beberapa saat, Ayu tidak keluar. Justru adiknya, Ati yang ke luar dari kamar.
“Apa maksud kamu ke sini?” sorot mata Ati begitu mengkilap tajam menusuk.
“Saya mau ketemu dek Ayu…tadi sudah minta ijin bu lek” Azriel menjawab dengan hati-hati. Mungkin semua orang tidak akan tahu kalau dia seorang Direktur Utama jika tata bahasa Azriel seperti ini.
__ADS_1
“Jangan harap kamu bisa mendekati mbakku…dengan menutupi kebusukan keluargamu!” Ati lantang menjawab dengan menuding Azriel. Dia memang dikenal pemberani. Tidak ada apapun yang dia takuti. Mendengar suara lantang Ati, Ayu keluar. Dia memang tidak tahu bila Azriel sudah sampai rumahnya. Karena ibunya, yang membuka pintu, tidak memberitahu. Sang ibu takut, dengan Ati karena dari kemarin dia marah-marah terkait keluarga Kyai.
“Dek…masuk saja. Biar mbak” Ayu bicara lirih.
"Dek…apa semua baik-baik saja?” tanya Azriel dengan pelan sepeninggal Ati. Azriel bermaksud meraih tangan Ayu, tapi Ayu menghindar.
“A…apa maksud pesan dek Ayu. Tolong jelaskan ke mas. Semua baik-baik saja kan dek?” dengan sabar Azriel bertanya.
“Kenapa mas lakukan ini sama aku?” Ayu menjawab dengan pandangan tak tentu.
“Maksud dek Ayu apa?” meski Azriel sudah mulai menebak permasalahan apa yang akan dihadapi, namun setiap kali di depan Ayu dia akan linglung.
“Mas tidak bermaksud itu dek…dengarkan penjelasan mas” akhirnya Azriel berani memutuskan bahwa tebakannya tentang kecelakaan bapak Ayu adalah masalah yang sekarang harus dia hadapi. Sebenarnya dia akan menjelaskan ini segera, namun kejadian sakit Lia hingga meninggal dan kesibukan beberapa waktu lalu membuat dia mengulur waktu beberapa saat.
“Pembohong….!” tes. Air mata Ayu meluncur begitu saja.
“Dek…kita duduk sebentar ya. Tolong beri mas kesempatan menjelaskan. Percaya a mas” Azriel menarik pelan tangan Ayu, tapi ditepis kasar.
“Bila dek Ayu tidak percaya, bisa minta bapak dan ibu buat nemeni. Ini semua sudah mas selesaikan beberapa bulan yang lalu dek. Tolong beri waktu mas untuk menerangkan semua ini. Tolong…” Azriel benar-benar memohon dengan sangat. Ayu berusaha untuk menahan emosi. Dia duduk dengan tatapan tak terarah.
__ADS_1
“Memang benar Pak Lek Madun yang menabrak bapak dek Ayu, tapi beliau tidak tahu dek. Pak lek salah dan sudah menyadari kesalahannya, beliau sudah minta maaf ke bapak dan ibu. Alhamdulillah bapak dan ibu sudah memaafkan. Dan akhirnya kami setuju untuk merehab sedikit bagian rumah dengan persetujuan bapak dan ibu juga. Tolong dek maafkan mas baru menjelaskan ini” mohon Azriel.
“Apa dengan uang semua bisa selesai mas…apa mas tidak memikirkan bagaimana penderitaan kami. Sudah berapa banyak air mata yang kami tumpahkan selama ini karena kecelakaan yang menimpa bapak. Berapa banyak pengorbanan yang telah kami lakukan untuk bangkit dari semua ini. Apa semua yang dirasakan oleh adik-adikku menjadi anak yang tidak bisa bahagia dibandingkan teman-temannya. Mereka berkorban sekolah sambil bekerja. Kami semua dicerca orang-orang desa. Dan perasaan ibu…keluh kesah ibu yang sudah merawat bapak selama 5 tahun bapak di kursi roda…” Ayu menangis tertahan tanpa suara. Azriel tidak mempunyai keberanian untuk menyela.
“Aku tidak pernah minta keluarga kalian memikirkan bagaimana perjuanganku untuk membantu bapak dan ibu. Aku tidak butuh semua. Tapi aku tidak akan lupa dengan penderitaan keluargaku setelah kejadian itu. Betapa sakitnya bapakku menahan kesakitan dibadannya dan berusaha untuk bangkit tapi tidak bisa sampai sekarang. Hinaan yang dia dengar dari semua orang yang dulu menunduk di depannya. Dan sakit di tubuh yang dia tahan karena kami tidak mempunyai kemampuan untuk memberikan pengobatan kepada bapak yang layak karena kami tidak mampu. Dan bagaimana rasanya bapak…ditabrak tapi ditinggal seperti hewan….” Ayu tercekik mengatakannya. Hampir tidak bisa bernafas. Begitu juga Azriel yang tidak kuasa menahan tangis.
“Aku butuh waktu untuk ini mas, sebaiknya acara besok ditunda dulu. Maaf sekali lagi bila aku menyakiti mas dan tidak bisa menerima mas…beri waktu aku untuk berfikir. Ini terlalu berat buat aku” kata akhir Ayu. Azriel hanya bisa diam. Dia pamit pulang dan mencoba menerima keputusan Ayu untuk berfikir atas apa yang terjadi. Azriel merasa bersalah karena tidak menceritakan semua ini sejak awal. Dan sekarang, apa yang didengar Ayu adalah apa yang benar menurut Ayu.
Ayu di kamar mengingat apa yang diceritakan oleh Ati ketika dia datang. Banyak hal yang diceritakan oleh Ati dan itu cukup membuat terkejut. Ati dengan gamblang menceritakan apa yang diketahui dia.
“Mbak…jauhi mas Azriel dan keluarganya. Mereka tidak pantas untuk keluarga kita. Mereka benar-benar biadab mbak. Mereka yang sudah menabrak bapak mbak. Dan dengan sifat binatang mereka, bapak ditinggal dalam keadaan terkapar tidak ditolong. Bagaimana bila tidak ada yang menemukan bapak pagi itu mbak? benar-benar biadab mereka!!!” mata Ati menyala-nyala. Rahang mengeras dan tangannya terkepal.
“Mmm…maaak…maksudmu apa dek?” Ayu masih mencerna yang dikatakan Ati.
“Kyai Madun ternyata yang menabrak bapak waktu itu mbak. dan dia tidak mau tanggung jawab. Dia meninggalkan bapak begitu saja setelah menabraknya. Mungkin mereka mengira bapak pantas mendapatkannya karena bapak dan mbak Ayu yang menyebabkan keluarga mereka terluka terutama kejadian mas AZriel yang menceraikan mbak Sari. Dan dengan mudahnya mereka minta maaf sekarang dengan memperlihatkan kekayaannya membangun rumah ini. Kurang ajar mereka mbak. Nyawa bapak diharga dengan uang. Aku yakin mereka minta maaf adalah siasat mas Azriel karena mas Azriel ingin mendapatkan mbak Ayu” mata Ati memerah.
“Haaaaahhh… apa yang kamu bilang itu benar dek?” tanya Ayu dengan lelehan air mata.
“Dan mbak tahu…yang lebih kejam dari mereka lakukan. Mereka melakukan semua ini sejak awal mbak. Merekalah yang menghancurkan usaha bapak!!! Mereka mbak!!! mereka yang menarik motor bapak dengan membujuk leasing. Mereka yang menghilangkan lahan parkir bapak. Mereka yang mengirim Om jok untuk menipu bapak dengan usaha belut. Bapak menanggung banyak hutang dan kehilangan pekerjaan. Mereka kejam mbak. Mereka benar-benar keluarga iblis. Keluarga Kejaaaaaammmm” Ati berteriak histeris. Sementara Ayu lemas serasa tanpa tulang mendengar semua ini.
__ADS_1