
Rombongan mobil berlalu di hadapan Ayu. Ayu memandang dengan seksama. Dia berusaha menahan rasa dan uliran air mata yang jatuh. Dia cari sosok yang dirindukan. Meski kemarin sudah bertemu. Namun Azriel tidak memandangnya sedikitpun. Padangan Azriel terarah kepada keluarganya. Serasa Ayu bukan siapa siapa. Hari hari berlalu … Ayu menjalani dengan perasaan yang digantung. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Selama ini karena kekurangan ekonomi keluarganya, dia tidak mempunyai hand phone. Hanya bapaknya yang mempunyai. Itu saja Hp jadul yang dia beli untuk bekerja. Ayu hilang komunikasi dengan Azriel. Sang pujaan hati tidak meninggalkan apa apa. Apa itu pesan atau secarik kertas. Bagai hilang ditelan bumi. Kini Ayu masuk sekolah menengah di Kota. Dia yang merupakan 2 dari lulusan terbaik di SMP nya mempunyai kesempatan untuk melanjutkan ke SMA di kota. Cukup jauh kota dari tempat tinggalnya. Ayu memilih SMA Favorit di sana dank arena prestasi akademiknya, dia mendapatkan beasiswa yang akan ditransfer tiap bulan dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Jakarta. Ayu mendapatkan uang saku tiap bulan yang jumlahnya lumayan. Tekat bapak Ayu yang akan menyekolahkan anak anaknya sampai sekuat tenaga. Dia ingin anak anaknya menjadi orang yang hidupnya lebih baik dari dirinya. Dihormati, tidak dihina. Disayangi tidak dicaci maki.
Dari seluruh siswa yang ada di SMP Ayu, hanya 9 orang yang melanjutkan ke jenjang SMA di Kota. Tetapi Ayu sedih karena sahabatnya Puji dan Sari tidak melanjutkan sekolah SMA. Puji memilih putus sekolah dan di rumah membantu orang tuanya. Bukan pilihan Puji sebenarnya. Tapi orang tuanya, karena di Desa anak anak mengenyam pendidikan SMP adalah tingkatan yang sudah cukup tinggi. Selebihnya mereka akan menikah dan mempunyai anak di usia dini. Sedangkan Sari karena orang tuanya adalah ulama besar dan mampu, maka dia melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren di Gxxxxx. Setiap kali dia teringat Sari, dia akan ingat Ustad Azriel. “ mereka pasti akan sering ketemu “ Fikir Ayu. “ seandainya aku yang jadi Sari pasti akan aku pastikan hubunganku yang belum dimulai ini dengan Ustad Azriel “ batin Ayu lagi. Hati Ayu teriris, tersayat. Sakit mengingat Ustad Azriel akan bersama Sari.
1 tahun kemudian … Ayu sekolah di Kota dengan tenang. Dia memilih untuk kos dengan teman temannya yang lain. Untuk menghemat biaya, dia mengambil kamar yang ditempat 3 orang. Ini tipe kamar kos yang biayanya paling murah. Ayu tidak mempermasalahkan hal ini. Yang penting dia bisa datang ke sekolah tepat waktu dan menghemat biaya karena diatidak perlu naik bis habis subuh berangkat dari Desa. Ayu akan pulang ke rumah bila akhir pekan. Dan esok paginya dia berangkat ke kos lagi hingga satu pekan begitu seterusnya. Awal tahun pertama Ayu sekolah dia mendapatkan peringkat 1. Sebenarnya Ayu kaget dengan hasil rapot yang diterima. Dia merasa teman teman yang lain di kelas cukup pintar. Apalagi mereka besaral dari SMP Favorit di kota serta mempunyai fasilitas yang Waah dari Orang tua mereka. Selain pintar di kelas, Ayu juga aktif di kegiatan ekstrakulikulir sekolah. Yaitu Majalah dinding, pramuka dan Osis. Pada kegiatan ekstrakulikuler yang diikuti, Ayu selalu mendapatkan posisi sebagai sekretaris karena kerapiannya dalam mengatur sesuatu. Di ekstra madding, Ayu sebagai pemimpin redaksi. Dia sering sekali membuat puisi yang kemudian dipajang di madding sekolah. Ayu menjalani semua kegiatan sekolah dengan mantap dan fokus, dia berusaha memberikan yang terbaik untuk kebanggaan orang tuanya. Dan tanpa terasa …. dia melupakan Azriel.
Hari hari Ayu yang dipenuhi dengan membaca buku dan membantu ibunya untuk berjualan keliling desa bila hari libur sekolah, dia jalani dengan senang. Meski uang bulanan dari beasiswa ada, tetapi jumlahnya tentu tidak bisa menutupi semua kebutuhan sekolah Ayu. Mungkin hanya bisa membantu untuk membayar SPP bulanan dan buku buku. Tetapi untuk biaya hidup dan membayar kos, Ayu masih harus membantu orang tuanya berjualan dan berhemat tentunya. Kedua adeknya pun menjalani hal yang sama. Ati meskipun jauh lebih pintar dan benar benar kutu buku, dia masih mau
membantu ibunya yang membuat kue untuk dijual di pasar setiap pagi. Sedangkan si Uma, dengan senang hati menjual es keliling ke desa. Mereka menjalani dengan suka cita untuk bisa hidup dan sekolah. Meski tidak punya apa apa. Sore itu Ayu pulang pada akhir pekan seperti biasa. Pada sabtu sore ini, Ayu bisa berkunjung ke rumah Puji. Sudah cukup lama Ayu tidak ketemu Puji. Meski bertetangga tidak terlalu jauh, tapi karena kesibukannya, Ayu beberapa kali tidak pulang karena ada kegiatan ekstra dan rapat organisasi di sekolah. Puji sangat senang akan kedatangan sahabatnya. Cukup lama mereka bercengkerama. Mereka bercerita tentang banyak hal. Hingga akhirnya Puji memilih ke dalam sebentar untuk mengambil sesuatu. Puji membawa sebuah kantung. Ayu mengernyitkan dahinya melihat tingkah laku Puji. Apalagi Puji terlihat memantau situasi sekitar seperti maling yang takut ketahuan. Ayu tersenyum.
__ADS_1
“ Yu … ada titipan buat kamu.” Puji
“ Apa ? pakai sembunyi sembunyi. Aku tidak lagi ultah ji … kamu ngelindur apa ? “. Ayu
“ Bukan ini benar benar buat kamu “. Puji mengeluarkan secarik amplop seperti surat dari kantong.
“ Dari ustad Azriel ” Bisik Puji ke telinga Ayu. Ayu menganga. Apa ? Ustad Azriel ? Apa tidak mimpi ? Untuk apa ? ternyata dia masih ingat ? Ah… apa peduli ku. Batin AyuAyu menepis tangan Puji. Dia tidak mau menerima. Tapi Puji yang menjelaskan bahwa ternyata Azriel mengirim surat tiap bulan untuk Ayu. Surat surat itu disimpan Puji. Dan dia sama sekali tidak mengetahui isinya. Puji belum berani memberikan kepada Ayu. Dia takut ketahuan. Tetapi setelah 1 tahun, Puji bertekad untuk mencari cara agar Ayu bisa membaca isi surat surat itu. Akhirnya Ayu menerima. Satu kantung itu yang isinya beberapa surat.
Assalamualaikum wrr wb…
__ADS_1
Apa kabar dek Ayu? Mas tahu kamu pasti marah dan bingung dengan mas. Dek Ayu pasti beranggapan bahwa apa yang dikatakan mas tentang isi hati mas, hanyalah permainan. Tapi tidak dek. Jangan sekalipun kamu meragukan cinta mas ke dek Ayu.
Iya cinta. Inilah cinta. Akhirnya mas mengakuinya. Di sini mas banyak berfikir apakah isi hati mas yang sellau merindukan dek Ayu hanya sekedar suka atau sekedar simpati. Tapi tidak ternyata ini cinta. Aku selalu memikirkan dek Ayu di setiap detik nafasku. Aku tersiksa dek. Selalu ada dirimu di hatiku. Tetapi aku tidak bisa menggapaimu. Malam itu, sebelum mas pergi ke kota ini, sebenarnya mas datang ke rumah dek Ayu. Tapi di jalan mas melihat Ustad Imron menuju rumahmu juga dek. Mas hanya bisa memandang kalian berdua yang berbicara di teras. Di hati ini ada rasa sesak yang teramat ketika melihat kalian berdua. Mas turunkan ego mas dan berusaha mengikhlaskan dirimu bila memang Ustad Imron adalah jodohmu. Maaf bila mas tidak pamit dek. Ini begitu cepat dan mas pun tidak tahu bila bapak akan mengirim mas hari itu ke Gxxxxx. Semoga dek Ayu bisa memahami keadaan mas saat itu.
Saat mas mau sholat tahajud di mushola, mas mendengar ada seorang yang menangis. Dan ternyata itu adalah ustad Imron. Dia menceritakan singkat pertemuan malam itu. Ternyata dek Ayu tidak menerima Ustad Imron. Mas senang dek. Mas masih punya harapan dan kesempatan untuk hati dek Ayu.
Maafkan mas … tolong jaga hati dek Ayu untuk mas.
Tunggu aku dek
__ADS_1
Wassalamualaikum wr wb (AZRIEL)