
“Lepaskan aku. Jika kamu tidak lepaskan aku. Kamu hanya akan mendapatkan tubuhku. Tidak cintaku. Dan aku akan membencimu. Selamanya…” Ayu menangis mengatakannya dengan memejamkan mata. Azriel yang mendengar ini mengatur nafasnya yang belum teratur. Akankah dia memaksa Ayu seperti beberapa hari yang lalu? tatapan Azriel tajam namun sayu menatap manik hitam cantik di depannya. Dia istrinya. Tapi dia tidak mau disentuh olehnya.
“Aku butuh waktu. Tolong jangan paksa aku” tegas Ayu.
Suasana hening. Azriel tidak menjawab apa-apa terhadap pernyataan Ayu. Dia hanya memandang wajah Ayu yang tertunduk. Ada kecewa, tapi apa daya cinta mati Azriel ke Ayu mengalahkan segalanya. Azriel menunduk. Panas tubuhnya mereda dan kini melemas tanpa tulang. Terdengar suara tangisan sesegukan Ayu. Ya. Ayu menangis. Banyak hal yang akan dia sampaikan ke Azriel. Tapi tidak bisa. Karena semua keputusan beberapa hari ini diambil oleh Azriel dan kedua orang tua. Dia tidak dilibatkan sama sekali. Terdiaman Ayu diartikan sebagai
persetujuan.
“Aku ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku…hiks…hiks” Ayu menangis tersedu. Azriel membelai lembut lengan Ayu. Tapi di tepis.
“Jangan sentuh aku. Pergi” seru Ayu.
“Apa salahku dek? sebesar itukah salahku padamu? mas sudah minta maaf. Dan semua orang sudah menerima dengan ikhlas. Mas mencintaimu. Kamu juga mencintai mas kan? benar kan kalau kita menikah?” Azriel bersimpuh di samping Ayu.
“Pergiiii…aku mohon…pergiiiiiiii” Ayu menjawab dengan menahan suara. Dia menahan emosi yang siap membuncak. Ada hal yang tertahan di dadanya. Azriel dengan berat meninggalkan pengantinnya. Dia menyerah. Malam pertamanya tak seindah bayangannya selama ini. Dia selalu menolak Ayu ketika berani mengajak bermesraan selama ini, dengan harapan bahwa malam pertama dia yang akan memimpin, lebih indah karena sudah sah. Tapi apa yang dia dapat? Azriel keluar kamar dengan tertunduk. Malam terlampaui dengan kesunyian.
Pagi cerah terusik dengan suara ketuk pintu dari luar. Azriel yang saat ini sedang menikmati nasi goreng buatannya, berdiri untuk membuka pintu. Dan munculah wajah flamboyan sahabatnya, Dion.
“ Bro…lho sarapan apaan ini? Ayu yang buat nasi goreng ini?” tanya Dion sambil meneliti nasi goreng sepiring di meja makan.
“Tunggu…tunggu ini mah bukan lain lagi. Nasgor buatan lho ini…lha bidadari surgamu mana?” cibir Dion. Azriel diam menikmati nasi goreng buatannya. Melihat mode diam sahabatnya, Dion dengan cepat menyumpal mulutnya dengan kue kering di samping Azriel. Suara langkah lembut seseorang terdengar turun dari lantai atas. Ayu turun dengan senyuman begitu gemilang menyilaukan laksana matahari pagi ini.
“Busyet…istri lho cantik banget sih bro. Gue rela nih nunggu jandanya” seloroh Dion tanpa kedip.
__ADS_1
“Anjiiiirrr…kakik ni..kakiiiiikkk.Tega lho bro haiiiiissss” Dion terkaget tiba-tiba Azriel menginjak keras kakinya tanpa aba-aba. Ya iyalah di…masak nginjak pakai permisi. Hadeeeehhh
Azriel tersenyum manis melihat istrinya turun dengan wajah cerah. Tak terlihat apapun kesedihan Azriel yang dirasakan tadi malam. Semua tersiram dengan senyum manis Ayu. Azriel bangkit menarik kursi untuk istri cantiknya ini. Dia bahagia Ayu menerima perlakuannya.
“Mas Dion…jadi ke Den Haag nya?” Ayu.
“Jadi dong cantik…mas siap menemanimu kemanapun cantiiik” goda Dion.
“Niiih…mulut gak dijaga” Azriel menyumpal mulut Dion dengan kue kue kering di toples.
Pagi ini selepas sarapan, Azriel dan Ayu menuju bandara. Azriel tidak mempermasalahkan Ayu yang tidak membuatkan sarapan untuknya, justru Ayu makan makanan yang dibawa Dion. Meski sepanjang perjalanan Ayu lebih banyak ngobrol dengan Dion pun, Azriel berusaha memaklumi. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Ayu.
“Sudah gue tinggal yah. Yang akur di sana. Cepet buat ponakan yang cantik. Biar bisa gue gebetin!!!” Dion berkata sambil berjalan mundur waspada supaya tidak terkena lemparan barang setelah berucap.
Sepanjang menunggu pesawat boarding dan selama menuju pesawat, Azriel tidak pernah melepaskan gemggaman tangannya. Sesekali dia mencium tangan istrinya. Di dalam pesawatpun, karena Azriel mengambil tiket VIP, Azriel bisa leluasa memanjakan Ayu. Didekapnya sang istri dengan seluruh kasih sayang, sambil mencium pucuk kepala.
“Capek…?mau nyender sini?” Azriel menoleh memandang istrinya. Ayu diam.
“Sayang...” rayu Azriel lagi. dia memindai anak rambut Ayu ke belakang telinga. Tapi….ditepis Ayu. Azriel mengernyit dengan perlakuan Ayu.
Mereka tiba di Bandara Amsterdam Schiphol. Setelah perjalanan 14 jam akhirnya mereka tiba di negeri itu untuk menikmati……….bulan madu. Iya, bulan madu yang banyak diimpikan pasangan pengantin baru. Kelelahan setelah menempuh perjalanan yang panjang membuat mereka tertidur sepanjang hari ini. hanya tidur. Karena lelah.
Pukul sepuluh pagi waktu Den Haag, Azriel terbangun. Dia melihat Ayu masih tidur di sampingnya. Dengan lembut Azriel membelai pipi mulus sang istri. Makin lama,Azriel makin tergoda. Diusapnya bibir warna pink itu. Dan tanpa bisa ditahan, Azriel mengecup ranum bibir istrinya dengan memejamkan mata menikmati. Cukup lama Azriel mengecup bibir Ayu, dan akhirnya dia membuka mulut dan menjulurkan lidahnya untuk mengusik tidur Ayu. Azriel memeluk tubuh Ayu dengan posesif. Ayu yang terusik dengan gerakan liar Azriel, seketika bangun dan mendorong tubuh Azriel dengan kuat.
“Sayang maaf…aku mengganggu tidurmu. Apa kamu masih ngantuk?” Azriel mendekati Ayu dengan pelan Ayu yang masih seperti orang kaget karena bangun tidur tanpa keinginannya, bernafas terengah. Dia seperti ketakutan melihat Azriel.
__ADS_1
“O ya sayang…ini ada beberapa destinasi yang akan kita kunjungi seminggu ini di sini. Kamu bisa pilih mana dulu yang mau kita datangi…lihat” Azriel dengan hati-hati mendekati istrinya di pojok tempat tidur dan membuka tabletnya untuk menunjukkan daftar tempat yang akan dikunjugi. Dia berusaha mengalihkan prasangka buruknya melihat beberapa kali respon sang istri menolak sentuhan-sentuhan yang dia lancarkan selama perjalanan hingga kini di Den Haag.
“ Ini namanya Majesty of Peace Palace atau Istana Perdamaian merupakan gedung ikonik yang menampung Mahkamah Internasional, Akademi Hukum Internasional Den Haag, Pengadilan Arbitrase Permanen, dan Perpustakaan Istana Perdamaian. Bangunan menakjubkan ini menjadi salah satu contoh terbaik dari arsitektur abad ke-19” terang Azriel.
” Kalau yang ini ada Grote of Sint Jacobskerk merupakan Gereja Protestan bersejarah yang berlokasi di Torenstraat. Gereja ini salah satu bangunan tertua dan paling penting di kota ini” lanjut Azriel.
“ Lalu ini namanya Maduromdam. Tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal di negara ini. Bentuknya berupa taman mini yang telah ada sejak 60 tahun yang lalu” terang Azriel berikutnya.
“ Dan yang ini namanya Binnenhof atau Inner Court merupakan episentrum politik Belanda yang berada di jantung kota. Episentrum ini dikelilingi oleh banyak bangunan bersejarah yang menambah keindahannya “ Azriel dengan sabar menggeser beberapa gambar di tabletnya. Dan memberikan keterangan. Ayu mulai tertarik dan mau didekati Azriel. Tanpa terasa tubuh mereka menempel tanpa jarak.
“Yang terakhir ini Mauritshuis adalah museum utama yang menampilkan karya seni yang tak ternilai dari abad ke-17 dan ke-18. Dahulu museum ini adalah rumah dari Count Johan Maurits van Nassau Siegen. Meskipun museum ini berukuran kecil, namun koleksinya berkelas dunia dengan koleksi lukisan Belanda yang luar biasa dari zaman Rembrandt dan Vermeer” Azriel memaparkan semua dengan sabar dan lembut.
“ Istri mas…mau mana dulu yang kita kunjungi?” tanya Azriel.
“Yang ini…” Ayu menunjuk Majesty of Peace Palace. Azriel tersenyum. Namun hatinya tercubit melihat Ayu yang masih kaku terhadapnya meski dia sudah melakukan banyak pendekatan dengan sabar dan lembut?
__ADS_1
“Kapan kamu mau menerimaku dek? akankah bulan maduku sama dengan malam pertamaku?” batin Azriel dengan tatapan pilu.