Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Melanjutkan Cinta


__ADS_3

Entah apa yang dirasakan Ayu. Dia membaca satu demi satu surat yang ditulis Ustad Azriel dengan tenang. Ditatapnya surat surat dengan pandangan kosong. Ada rasa kecewa, mengapa dia baru sekarang membaca surat itu. Padahal dia sekarang baru berjuang untuk mengubur dalam dalam hatinya. Apalagi sekarang Ayu tidaklah sendiri.  Ya. Ayu tidak sendiri sekarang. Dia telah menerima pernyataan cinta dari seniornya di SMA. Ilham adalah senior Ayu dua tingkat di atas. Hampir di setiap kesempatan, Ilham menjadi pembimbing Ayu. Khususnya diekstra Osis dan pramuka. Ilham tertarik dengan figure Ayu yang sederhana. Ayu begitu polos dan fokus dalam semua hal. Ini yang membuat Ayu berbeda dengan yang lain. Meski Ilham tahu bahwa banyak yang berusaha mengambil hati Ayu, tapi Ilham tetap berusaha. Dia sangat gigih mendekati Ayu. Beberapa kali pernyataan cinta Ilham ditolak Ayu. Namun dengan mudah pula Ilham menghilangkan rasa kecewanya. Usahanya yang luar biasa untuk mendekati Ayu, membuat hati Ayu empati.


Empati seperti apa yang dirasakan Ayu hanya dia yang tahu. Yang jelas, Ayu kala itu berfikir sudah saatnya dia melupakan dan menghilangkan jejak Azriel di hatinya. Salah satu cara adalah mengisi hatinya dengan orang lain. Ayu juga menerima Ilham, karena dia berdalih ingin menghentikan kekonyolan Ilham yang terus mendekatinya. Kasihan dan Malu adalah dua kata yang pas untuk Ayu ketika menerima Ilham. Yang terpenting adalah tidak adanya jejak Azriel lagi. Tanpa kata, tanpa pesan tanpa pamitan Azriel pergi begitu saja bahkan hingga 1 tahun lebih. Siapa wanita yang mau menunggu tanpa kejelasan seperti Ayu?


Ilham adalah sosok yang periang. Terkadang Ayu menyukai sifat Ilham yang pandai menghibur. Hubungan Ayu dan Ilham dijalani hanya beberapa bulan karena Ilham melakukan seleksi penerimaan Akademi Kepolisian. Kesibukan Ilham dapat dimaklumi Ayu. Toh mereka selama ini hanya bertemu di sekolah. Ilham hanya sekali datang ke kos. Dan itu juga bersama temannya. Hal ini merupakan syarat Ayu. Karena dia tidak ingin bapaknya mengetahui. Ayu tidak bisa membayangkan gimana sikap bapaknya yang mengetahui ternyata Ayu selama ini berpacaran. Padahal pesan dan wanti wanti dari bapaknya adalah fokus belajar karena dia berusaha keras menyekolahkan anak anaknya. Tidak untuk berpacaran atau bersantai santai. Bapaknya selalu berpesan bahwa sebagai wanita harus berhati hati dengan laki laki. Selama sekolah jangan macam macam.


Singkat waktu, Ilham diterima di Akpol. Ini membuat ilham harus masuk ke asrama dan komunikasi pun putus, namun berbeda dengan Azriel, Ilham pergi dengan berbagai janji janji yang ia lantunkan kepada Ayu. Dia berpamitan dengan pesan khusus dan mengungkapkan isi hatinya, berjanji tidak melupakan Ayu hingga memberikan beberapa barang yang bisa mengingatkan hubungan Ayu dan Ilham. Dia juga menawarkan alat komunikasi untuk Ayu. Tetapi Ayu tidak mau menerima. Dia beralasan bahwa dia akan segera membeli sendiri bila beasiswa nya datang lagi. Alasan yang benar adalah karena Ayu tidak ingin Ilham mengganggu aturan di Asramanya. Asrama tempat pendidikan Ilham tidak mengizinkan tarunanya membawa HP dan baru mengizinkan untuk pulang setelah 3 bulan di sana. Itu pun hanya sebulan sekali selama 2 hari.


Selama 1 tahun ditinggal pendidikan Ilham di Ibukota Provinsi, Ayu hanya menerima 1 surat dan bertemu dengan Ilham dua kali bila sedang pulang. Kali ini setiap datang, Ilham datang sendiri. Pernah dia didampingi oleh seniornya di Akpol yang ternyata adalah kakak dari teman Ayu di sekolah. Ayu merasakan ada sedikit perubahan pada Ilham. Meski hanya 2 kali bertemu, tapi tatapan mata Ilham berbeda. Dari segi kata kata dan gerakan, Ilham lebih aktif dibanding dengan Ilham yang dulu. Dia mulai berani memegang tangan Ayu dan merayu dengan kata kata puitis. Ayu menanggapinya dengan dingin. Hal ini karena di hati Ayu masih ada sedikit penasaran akan isi isi surat yang dikirim Azriel kepadanya. Bahasa Azriel terlihat dalam, dia mengungkapkan kata demi kata ke dalam goresan tinta dengan menyentuh. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua ini. Yang salah adalah Ayu yang tidak tegas dengan hatinya. Dia membohongi diri dan hatinya. Dia mulai menghianati prinsipnya selama ini. Melakukan hal yang berbeda dengan hati dan keyakinan. Tapi dia melanggarnya.


Hari ini Ayu pulang bareng dengan Tia. Teman Ayu di kelas. Tia adalah siswi yang sama yang mempunyai kakak menjalani pendidikan di Akpol. Tia seperti biasa akan mampir beberapa jam ke kos Ayu sebelum dia pulang ke rumah sore hari. Meski ia tidak terlalu dekat dengan Tia, tetapi Ayu mempersilahkan teman sekolahnya untuk sekedar menunggu jam berangkat ekstra, atau mengerjakan tugas bareng.


“  Say … nanti jam 2 an habis sholat jumat antar aku ke sekolah ya. “ Tia

__ADS_1


“ Lho ngapain lagi ke sekolah ya ? Ada buku yang tertinggal ? “ Ayu


“ Gak. Aku ada janji ketemuan sama cowok. Sudah lama aku janjian tapi baru kali ini mau bisa


ketemu langsung. Karena dia pas di kota ini “. Tia.


“ Emang dia kerja ya? “


“ Oooohhhh … okey “ Ayu menjawab tanpa mengalihkan perhatianya dari buku tulis. Saat ini Ayu sedang mengerjakan beberapa soal Kimia. Pelajaran yang paling dia sukai di kelas.


Siang itu di bawah terik matahari yang cukup menyengat, Ayu dan Tia berjalan menuju sekolah. Kata Tia, mereka janjian ketemu di depan pintu pagar sekolah. Sepanjang jalan Tia mengeluhkan panasnya matahari. Dia mengoleskan beberapa kali tabir surya untuk melindungi kulitnya. Tia memang perempuan yang pandai merawat diri. Di usianya yang belum genap 17 tahun, Tia bisa mendandani diri dan mengetahui banyak tentang perawatan untuk kecantikannya. Berbeda dengan Ayu. Jangankan melakukan perawatan, hanya sekedar membeli hand body untuk berangkat sekolah pun Ayu akan berfikir ulang. Karena dia akan memilih menabung uangnya atau membeli beras untuk dia masak di kos. Ayu tersenyum melihat Tia.


Beberapa belas menit mereka menunggu sang pangeran yang belum menampakkan diri. Selama menunggu, Tia bercerita bahwa pacarnya adalah tipe laki laki yang roamantis. Pandai merayu dan melayangkan hati Tia. Tia sangat mencintainya meski belum bertemu. Tia mengatakan bahwa selama ini pacarnya mengaku mempunyai pacar. Namun dia tidak mendapatkan kebahagiaan karena si wanita kaku. Tidak mau disentuh meski hanya tangan dan akan sering menolak bila dikasih barang.

__ADS_1


Akhirnya pacar yang ditunggu Tia datang. Ada dua sepeda motor besar yang datang menghampiri Ayu dan Tia. Masing masing dengan satu pengendara yang mengenakan seragam kepolisian dengan gagah. Tia melompat kegirangan melihat sang pangeran yang datang. Ayu dengan santai tersenyum dan membolak balikkan majalah remaja yang sengaja dia bawa untuk menemaninya nanti bila Tia pulang dengan pacarnya. Ayu tidak ingin sendiri berjalan, makanya dia membawa majalah kecil sebagai teman yang bisa ia baca di jalan.


“ haloo my honey…my sweety my baby “ suara laki laki dari salah satu motor yang berhenti di depan mereka.


Ayu kaget mendengar suara itu. Dia cukup mengenal suara yang baru saja dia dengar. Dia mendongakkan wajahnya. Dan di depannya ternyata adalah sosok yang dia kenal. ILHAM. Dia menatapnya dengan mata yang melotot. Begitu juga Ilham. Mereka sama sama kaget. Tenggorokan ayu tercekat tidak bisa berkata kata. Sedangkan Ilham berusaha menghindar dari tatapan mata Ayu. Ada apa ini? Kenapa Ilham yang datang ke sini? Apakah Ilham adalah sosok pacar yang ditunggu Tia dan yang selama ini diceritakan Tia ? Ayu masih menahan bibirnya untuk bertanya.


Tia yang dari tadi tidak sabar, langsung menghambur ke arah Ilham. Dia pegang tangan Ilham dengan posesif dan langsung mengambil buket bunga dari tangan Ilham.


“ Makasih honey “ itulah kata yang diucapkan Tia. Kata itu pula yang sudah menjelaskan kepada Ayu, bahwa Ilham adalah sosok yang memang disebut pacar oleh Tia. Hati Ayu tercubit keras melihat ini.


Sepanjang jalan menuju kos, Ayu menangis. Tidak seorang pun yang tahu bahwa ia menangis, jalan yang dia lalui adalah jalan besar. Dan tidak ada yang mengenalnya. Ya, Ayu berjalan seorang diri. Dia menolak ajakan dari kakak Tia untuk naik berboncengan menuju kos. Dia menolak dengan alasan akan masuk ke sekolah. Ada beberapa alat madding yang akan dia ambil.


Ayu menangis dan berkata “ BAPAAAK… maafkan Ayu pak “ air matanya berurai deras. ~~~~

__ADS_1


__ADS_2