Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Keluarga Hadibrata


__ADS_3

Lia melompat-lompat kegirangan di sofa mewah ruang keluarga. Bocah SMA yang baru jatuh cinta dengan teman kakaknya ini senang tak terkira ketika telepon yang dia buat berpuluh puluh kali beberapa hari ini akhirnya diangkat laki laki impiannya.


“Yeeee…yeeee. Mas Azriel kangen sama akuuuuu…yeeeeeaaayy” suara Ayu menggema.


“Itu suara apa…bi? Lia kenapa teriak-teriak begitu? “ tanya Pak Hadibrata, tuan rumah.


“Non Lia lompat-lompat seneng tuan…kelihatannya nyebu-nyebut nama den Azriel” jawab bi tunik.


“heheee..Anak itu, sudah dibilang jangan ngejar-ngejar gitu. Azrielnya malah takut nanti” Hadibrata menggeleng-geleng. Hadibrata mengancing ujung lengan kemeja kantor dan keluar rumah menuju asisten dan sopir yang telah siap menunggu sejak pagi. ~~~~


“Papaaaa…sebentar aku mau minta sesuatu sama papa” Lia melompat dari sofa berlari menuju papanya yang sudah bersiap mau menuju kantor.


“Tentunya kamu punya keinginan. Kalau tidak punya mana mau mendekati papa” Hadibrata mencolek pipi anak bungsu itu.


“Kapan papa berangkat ke US. Lia ikut pa…plisssss……Lia kangen banget sama Azriel” pinta Lia.


“Panggil dia mas Azriel. Dia lebih tua dari kamu, anak manja. Harus sopan. Lagi pula jangan sering ngangeni pacar orang. Mas Azrielmu itu sudah punya perempuan yang dicintai. Ayolah, lepaskan dia sayang” jawab Hadibrata.


“No. Azriel milikku. Hanya akan jadi milikku. Gak ada yang boleh jadi pacar Azriel kecuali Lia” Lia cemberut, hampir tiap hari papanya memperingatkan dia untuk tidak menggoda Azriel.


“Jangan manyun seperti itu, gadis papa. Senyum lebih cantik seperti matahari pagi ini. Papa janji akan membelikan semua yang kamu pesan dari US. Kamu tidak bisa ikut sayang, seminggu lagi kamu ujian” nasehat Hadibrata.


“Lia janji akan pulang sendiri pa. Di sana hanya 3 hari. Lia bisa belajar ujian akhir 3 hari di sini. Cukup untuk belajar…plizzz pa” rengek Lia dengan menggoyang goyangkan lengan papanya.


“Bagaimana dengan kesehatanmu sayang. Kamu harus banyak istirahat, obat kamu harus kamu minum tiap hari. Dan tidak boleh kecapaian. Penerbangan panjang resiko buat kesehatanmu. Papa tidak mau kamu mengalami koma seperti tahun lalu. Papa sangat sayang sama kamu. Tolong mengerti papa” jelas Hadibrata dengan mata yang mulai berkaca. Dia sangat menyayangi kedua anaknya. Leon dan Lia. Selama ini dia membesarkan kedua anaknya dengan limpahan kasih sayang yang sangat hangat. Apalagi sejak istrinya meninggal 10 tahun yang lalu. Dia bertekad membesarkan dan menjaga anaknya yang saat itu masih kecil seorang diri. Tanpa kurang suatu apapun.


“Aku akan sehat bila ketemu Azriel pa. Aku sangat kangen dengan dia” mohon Lia.


“Begini saja, papa akan minta Azriel pulang duluan untuk menjagamu selama mau Ujian. Kamu bisa belajar dengan dia. Papa dan kakakmu ada urusan kantor kerjasama dengan perusahaan di sana. Bisa sampai satu minggu. Papa usahakan cepat pulang” bujuk Hadibrata.


“Okey. Aku tidak perlu ke sana bila Azriel datang. Dia akan menginap di sini. Aku akan tiap hari ketemu dia. Waaaahhhh” wajah Lia berbinar.

__ADS_1


Pagi ini Hadibrata sudah sampai di US. Pesawat mendarat pukul 09.45 waktu US. Dia menuju apartemen putera sulungnya yang didampingi sahabatnya, Azriel.


“Papa…apa kabar pa?” Azriel menyambut papa Leon dengan rentangan tangan dan pelukan hangat. Mereka begitu dekat, seperti keluarga.


“Dimana temanmu yang badung itu, pasti keluyuran lagi dia” Hadibrata menggeleng-gelengkan kepala.


“Leon berlibur ke Hawai pa, sama teman-teman. Mungkin 2 hari lagi baru sampai. Ini musim panas. Dia menikmati pantai di sana. Papa istirahat dulu saja ke kamar. Biar Azriel yang menata barang-barang papa” jawab Azriel.


“Terimakasih zriel, kamu lebih dewasa dibanding 2 anak manja itu” Hadibrata menepuk pundak Azriel dan memasuki kamar untuk bersih-bersih. Azriel dibantu Asisten untuk merapikan semua barang dalam koper.


Azriel makan bersama laki-laki setengah baya yang dalam kurun beberapa tahun ini sudah dia anggap seperti orang tuanya. Azriel bertemu Leon mulai awal masuk kuliah S3. Dan karena satu asrama pada tahun awal, mereka selalu bersama dan saling mengisi. Leon, pemuda ceria yang selalu peduli dengan sesama meski dibesarkan di


keluarga yang mempunyai kekayaan tak terhingga, mengagumi sosok Azriel yang merupakan laki-laki mendekati sempurna. Kedewasaan Azriel dalam menghadapi masalah baik ketika kuliah, maupun membantu Leon mengatasi masalah keluarga dan perusahaan bapaknya ketika mengganti beberapa waktu adalah nilai lebih bagi Azriel.


“Zriel…kapan kelulusan kalian? sekarang sudah sampai mana proses disertasi kalian?” tanya Hadibrata.


“Sebentar lagi pa. Sidang kami sudah selesai. Tinggal pengukuhan 2 bulan lagi jadwalnya. Karena ada beberapa jadwal pengukuhan dari professor kami. Leon dan Saya hanya terpaut satu minggu jadwalnya” jawab Azriel.


“ Azriel sebenarnya tidak mau merepotkan papa, sudah banyak sekali bantuan papa kepada Azriel. Azriel tidak mampu menanggungnya, apalagi membalas pa” sahut Azriel.


“Jangan begitu. Lupakan perasaanmu itu, papa sudah anggap kamu seperti anak papa. Apalagi Leon dan Lia mereka sangat menyayangimu. Papa juga merasa sudah tidak sanggup lagi. Usia papa tidak lama lagi” balas Hadibrata.


“Jangan bicara seperti itu pa. Umur tidak ada yang tahu. Bisa saja kita yang masih muda yang dipanggil” sergah Azriel.


“Tidak tahu, akhir-akhir ini papa sering bermimpi ketemu dengan mama Leon. Dan sangat rindu dengan dia. Papa sudah tidak kuat sendiri” Hardibrata menjawab dengan sendu. Azriel memegang tangan Hadibrata dengan lembut, menyalurkan kekuatan. Dia pandang laki-laki itu dengan penuh kasih sayang.


“Dengar Zriel…berjanjilah bila terjadi apa-apa dengan papa. Kamu akan menjaga Leon dan Lia. Temani mereka tolong jaga mereka dengan kasih sayang untuk papa” pinta Hadibrata dengan sungguh-sungguh. Dia menatap Azriel dengan tatapan kosong. Ada sesuatu yang hampa yang dirasakannya beberapa hari ini. Selalu khawatir dengan kedua anaknya dan hatinya tidak tenang. Entah apa yang akan terjadi. Tapi dia percaya Azriel laki-laki yang bisa menjadi penopang nak-anaknya.


“Zriel…papa mau bicara serius dengan kamu. Sebentar…” Hadibrata berdiri mengambil sesuatu di kamar. Dan dia membawa map di tangannya.


“Ini ada surat perjanjian dari notaris. Papa sudah membicarakan matang-matang dengan Leon dan Lia. Dan semua dengan pihak direksi tentang kepemimpinan PT ADI WARDHANA ke depan. Papa harap kamu menerima permintaan papa. Ini sudah keputusan papa final. Tidak bisa diubah. Dan ini juga wasiat terakhir papa nanti” terang Hadibrata. Azriel menerima map tersebut dan membaca dengan teliti isinya.

__ADS_1


“Pa…ini? maksudnya… pa…aku gak bisa…” tanya Azriel tersentak melihat isi perjanjian itu. Di akhir perjanjian terdapat tanda tangan seluruh keluarga Hadibrata.


“Papa mohon…” Hadibrata menangkupkan kedua tangannya memohon kepada pemuda di depannya dengan sendu.


“ Pa…jangan seperti ini. Papa tidak pantas melakukannya. Azriel gak sanggup memikul beban ini pa… dan seharusnya yang berhak adalah Leon dan Lia. Azriel hanya…” sergah Azriel. Hadibrata menggelengkan kepala tanda menolak. Siang ini kedua insan ini saling berbicara dengan serius. Azriel dengan usaha untuk menolak pemberian amanah yang besar dari Hadibrata, sementara Hadibrata dengan usaha untuk meyakinkan Azriel menerima pemberiannya. Seolah bagi dia, sudah tidak ada hari esok. Leon mengetuk pintu Azriel dengan tergesa. Semakin keras, sedangkan Azriel baru membaca Alquran selesai sholat dzuhur siang ini.


“Zriel…Lia sakit. Dia dibawa ke Rumah Sakit oleh Bik Nunik. Dia tiba-tiba pingsan” Leon langsung bersua dengan panik ketika Azriel membuka pintu kamarnya.


“Terus gimana keadaannya…apa dokter sudah memeriksa?” jawab Azriel tak kalah panik.


“Dokter bilang kondisi Lia buruk, sel kanker di tubuhnya semakin menyebar. 4 hari lagi Lia ujian akhir. Kata Bik Nunik Lia tidak meminum obat beberapa hari ini karena terus belajar. Sudah dipaksa tapi tidak mau” terang Leon.


“Tadi aku sudah telepon papa. Dia baru ada meeting. Papa minta kamu pulang dulu ke Indonesia. Besok aku dan papa akan menyusul penerbangan pagi. Tiket untuk kamu sudah aku belikan untuk penerbangan mala mini. Aku mohon Zriel” Leon memegang tangan Azriel dengan erat.


“ Aku dan papa ada pertemuan nanti malam dengan Klien papa. Kalau aku yang pulang, Lia tetap tidak akan mendengarkan omonganku. Dia hanya mendengar nasehatmu “ tambah Leon.


“Le, kamu tidak perlu memohon. Aku akan pulang sekarang. Lia sudah seperti adikku sendiri. Aku siapkan kebutuhanku sebentar. kamu jangan khawatir” jawab Azriel.


“Terimakasih Zriel. Berjanjilah kamu akan menjaga Lia. Berjanjilah selama kami tidak ada di sisinya, kamu akan selalu di sisinya. Dia tidak merasakan kasih sayang mama Kamu ikuti kata hatimu. Bila kamu menyayangi dia sebagai seorang adik, maka lakukanlah. Aku tahu cinta tidak bisa dipaksa. Cukup memberi kaish sayang dia sebagai adik. Tolong jaga dia untukku Zriel” Leon memohon dengan tatapan kosong. Dia memegang tangan Azriel erat.


Malam ini Azriel sudah sampai tanah Air. Dengan cepat dia menuju Rumah sakit setelah sopir perusahaan menjemputnya di bandara. Dia menuju ruang ICU. Lagi-lagi ruang ini. Lia memang sering menginap di ruang ini. anak itu sering mengalami drop dan dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tak sadar diri. Azriel menemani Lia dengan membisikkan kata-kata agar Lia mendengarnya. Dia juga membacakan ayat-ayat Alqur-an.


Assalamualaikum Zriel…aku dan papa sudah di dalam pesawat. Sebentar lagi pesawat take off. Kemungkinan 9 jam lagi sampai bandara Jakarta. Aku matikan Handphoneku.  Tolong jaga Lia untuk kami. (isi pesan Leon kepada Azriel).


Azriel membaca pesan. Dari kemarin dia teirngat dengan kata-kata Hadibrata dan Leon. Kenapa mereka mengucapkan kata-kata yang sama. Menitipkan dan meminta menjaga Lia. Azriel membersihkan diri dan bersiap untuk sholat Dhuha pagi ini. dia terus teringat perkataan bapak dan anak ini.


Telah terjadi lost contact pesawat udara Gxxxxx xxxxxxxxx rute Massachussets- Jakarta dengan call sign GAxxxxxx. Terakhir terjadi kontak pada pukul 10.00 WIB


Total penumpang 70 orang, bersama 12 kru yang terdiri dari 62 dewasa, 6 anak-anak dan 4 bayi


Azriel membelalakkan mata melihat berita pesawat yang jatuh pagi ini di layar TV ruang tunggu ICU. Dadanya bergemuruh, nafasnya tercekat, darahnya seolah berhenti berdesir. Azriel membuka pesan Leon. Dia membuka foto tiket yang dikirim Leon dengan tangan bergetar seraya berdoa semoga ini salah. Dan apa yang diharapkan Azriel tidak terjadi, tiket yang dikirim Leon adalah tiket pada pesawat yang sama dikabarkan hilang lost contact….

__ADS_1


“Innalillahi wainnalillahi rojiun…Astaghfirulloh….Astaghfirulloh” Azriel memegang dadanya. Tubuhnya lemas, hanya istighfar yang bisa dia lantunkan sebanyak-banyaknya.


__ADS_2