
Ayu tidak menanggapi berbagai pertanyaan Umi dan Ria. Teman kosnya. Semua mata memandang Ayu. Menunggu jawaban. Tapi yang ditunggu dan membuat penasaran, tidak menanggapi. Ayu hanya tersenyum kecil. buah mangga yang tadi dibelikan Azriel ketika selesai membeli beberapa koleksi buku kajian islam. Dia mengupas dan memasukkan ke piring untuk dimakan bersama teman temannya. Melihat wajah Ayu yang tidak ada keinginan membahas tentang Azriel, temannya rahayu menengahi.
“ Eh yuuuu … tugas kamu tata Negara yang dari pak tyo sudah selesai belum yu? yang membedakan dua ilmu itu. Masak Pak Tyo baru masuk kelas belum memulai pelajaran sudah langsung ngasih tugas. Dikira kita sudah membaca buku apa ya? “ Rahayu mengalihkan pembicaraan sekaligus menggerutu salah satu guru di kelas.
“Kamu kan biasanya paling pinter bila disuruh memahami kata kata Yu ? contekki dong ?
“Sebentar tak ambilnya“ Ayu menuju kamarnya.
“Eh gak usah ngomongin hal pribadi lah. Kasihan Ayu. Baru saja ditinggal Ilham sama si tia yang gak jelas itu. Sudah ada masalah lagi. Kayaknya dia gak mau dibahas. Sudahlah. Jangan ikut ikutan“ Rahayu mengingatkan teman temannya.
“ Iya iyaaa “ jawaban Umi dan Ria.
“ Ini ada ringkasan yang tak buat tentang buku yang buat sumber bacaan. Kamu baca dulu sebentar pasti bisa jawab tugas pak Tyo. Nanti kalau kamu nyontek jawabanku, besok kalau pak tyo tanya kamu nggak bisa menjelaskan. Bener gak ?” itulah cara Ayu membantu temannya. Dia tidak langsung memberikan jawaban tugasnya. Tapi sudah menyiapkan ringkasan untuk dibaca teman yang membutuhkan. Dengan begitu mereka bisa membaca cepat dan memahami cepat, Ayu juga dapat keuntungan bisa menuangkan apa yang dibaca dalam bentuk ringkasan kembali.
Di sekolah, waktu jam istirahat tiba tiba Ayu dihadang oleh kakak sepupunya. Dia berada di kelas berbeda. Kakak sepupu laki laki Ayu seumuran dan satu sekolah ketika SMP. Mereka melanjutkan sekolah di SMA Favorit di kota bersama.
“ Yuyuk … (begitu dia memanggil sejak kecil ) aku mau ngomong. Sini “. Aro
“ Heeeemmm “ Ayu
“ Kabarnya kamu pacaran ya sama calon orang. Kamu ngrebut atau kamu gak tau dia sudah dijodohkan ke orang lain yuk “ Deg Ayu kaget. Dijodohkan? Siapa? Azriel? Kabar dari Aro ini tentang hubungan dia dengan Azriel atau tentang kabar perjodohan Azriel sebenarnya.
“Siapa yang dijodohkan? siapa yang ngrebut calon orang? jangan ngada ngada “ Ayu
__ADS_1
“Ngada ngada gimana. Tuuuu di kelas teman teman cowok sama tim basket tadi pagi latihan ngomongin kamu. Katanya kamu jalan sama ustad. Dan ustad itu padahal sudah mau nikah sebentar lagi? benar gak? jangan yang aneh aneh“ Aro
“Astaghfirullah … Ayu gak pernah ngrebut calon orang. Kalau tentang Ayu jalan dengan ustad …. Ituuu … ituuuu anu“.
“ Berarti benar kamu jalan sama ustad. Cepet banget kamu nerima orang lain. Baru selesai sama Ilham “ kamu ngapain sih yuyuuuk … nyari perkara? gak usah. Diudahin saja itu. Bapakmu reaksinya gimana?" Aro.
“ Baaapak bapak belum tahu Ro “ Ayu
“ Memangnya kamu yakin bapakmu belum tahu? Memangnya ada yang tidak bapakmu tahu dari dirimu? Ilham saja bapakmu punya nomornya. Dan tahu fotonya. Bahkan datangi ke asramanya. Padahal Ilham di luar kota. Lha ustad itu satu desa sama kamu. Kamu nyari perkara yuuuukkk ! “ tegas Aro
“ Haaaaaahhh … bapak ke asrama mas ilham ? bapak tahu dari mana? Kok bisa kenal? Kamu tahu dari mana ? “ Ayu kaget. Tapi seharusnya dia tidak sekaget ini. Karena dia tahu bapaknya bisa tahu siapa saja dan melakukan apa saja.
“Kamu jaga diri dan yang hati hati. Kamu itu cantik, pinter, supel, banyak yang suka. Jadi harus mawas diri “ pesan Aro berlalu menuju kelas setelah bel tanda masuk kelas berbunyi.
Seperti biasa Ibu Ayu berjalan keliling warga sekitar rumah. Sasarannya hanya beberapa RT untuk menjajakan aneka gorengan dan kolak pisang. Ibu Ayu jualan sore hanya bila jualan bahan makanan yang dia jual di pasar di pagi hari masih ada sisa, maka daripada rugi dia mengolahnya untuk menjadi bahan makanan siap makan dan dijajakan keliling sehabis Ashar. Dulu ketika Ayu masih kecil, dia sering ikut berkeliling untuk jualan. Kelas 5 SD, Ayu sudah kuat membawa satu ember isinya kolak pisang untuk berjualan. Sedangkan ibunya membawa wadah besar isinya aneka macam gorengan dan lauk pauk. Tapi setelah anak anaknya sekolah lebih tinggi, banyak tugas dan di luar kota, Ibu Ayu jualan seorang diri sekuatnya.
“ Bu Dar … sini aku beli kolak pisang sama sukun goreng ya. “ bu Jami mencegat Ibu Ayu.
“Ya bu de “
“ Dar … tahu tidak anakmu sekolah di Kota itu sekolahnya temen atau malah mainan saja?“ Bu Jami
“ Lho … Ayu anaknya pinter lho bu de sering menang lomba … dari SD rangking 1 terus. Dapat beasiswa juga. Lha kalau gak temen ya gak bakal bisa seperti tu “ Ibu Ayu menimpali sambil menyiapkan pesanan Bu jami .
__ADS_1
“Mosok sih … kemarin ada yang lihat dengan mata kepala sendiri … anakmu Ayu malah pacaran. Gak sekolah sampai Kxxxx. Sama laki laki gak sopan sayang sayangan " bu Jami mencibir.
“Lihat orang gak nyapa dan gak pamitan langsung pergi kayak gitu gak malu masih nempeli terus lakinya “.
“Mosok de …. Bukan Ayu pasti de. Ayu anaknya gak mau pacaran. Dia mau kerja dulu. Belum pernah pacaran. “
“Itu katanya di rumah kalem dar … lha di luar malah ngrayu dan jadi simpanan wong berduit. Itu kenyataannya “
“ De. Jaga omongan. Ayu gak mungkin melakukan hal menjijikkan itu de. Ayu anak baik“ Ibu Ayu agak menaikkan intonasi mulai ada sedikit emosi.
“ Lha gak percaya ya tanya anakmu sendiri. Nanti kamu kaget bila tahu gandhengannya siapa. Malah malu kamu punya anak kayak Ayu. Jadi kayak di film film yang nyari orang kaya dan jadi pelakor itu lho“.
Ibu Ayu tanpa basa basi segera pindah tempat dan melanjutkan keliling. Dia yakin seyakin yakinnya bila ayunya tidak mungkin serendah itu. Dalam perjalanan menuju rumah, Ibu Ayu bertemu dengan rombongan ibu ibu yang sedang duduk bergerombol di depan tempat wudhu mushola.
“Lho dar … sudah habis jualane kok jalane tergesa gesa. Gak mampir ke sini ? bu lastri bertanya sambil senyum senyum tipis.
“Lha ya tergesa gesa to yu, wong mau jadi besan kyai besar. Paling tidak ya persipananya banyak. Nyiapkan rumah. Lha nanti kan ya dapat lamaran barang berjejer, rumahnya sampai gak muat. Yang dipilih ya yang kayanya selangit. Kalau anak orang biasa kayak anakku ya gak bakal dilirik sama si Ayu yang merasa paling wuaaaayu sak dunia itu“ bu karni menanggapi sambil bersungut sungut (bu karni adalah ibu dari Ustad Imron, ustad yang mengejar cinta Ayu bertahun tahun lamanya, tapi cintanya ditolak).
Sementara itu, Ati berjalan dengan santai sambil bernyanyi lagu Malaysia kesukaannya. Dia berdendang dengan menenteng tas plastik berisi uang untuk ke warung membeli kecap botol pesanan memasak ibunya sebelum berangkat jualan. Suasana warung tumben lumayan rame. Warung mbak tun yang biasanya sepi, menjadi riuh dengan suara ibu ibu yang bergosip. Suara tawa mereka memekak telinga.
“Waaaaah ini mbak Ati yang mau makan gemblong lamaran banyaaakkk. Nanti jangan lupa bagi bagi sama tetangga lho mbak. Pasti rumahnya gak muat. Kan dapatnya anak pak kyai“ salah satu ibu berseloroh (gemblong adalah kue basah dari ketan yang biasanya diberikan seorang laki laki bila mau melawar calon istri dalam adat jawa).
“Diajari mantra apa sama bapaknya mbak Ati dan mbaknya? kok ces pleng. Sekali nangkap langsung dapat kakap besar. Diajari to mbak rahasianya. Ibu ibu di sini ya mau tu anaknya kita bawa ke dukun buat dikasih mantra yang ces langsung kenaaaa“ Ibu yang lain menimpali dengan tertawa.
__ADS_1