
Azriel menyenderkan punggungnya beberapa waktu di sandaran kursi mobil. Dia tetap menunggu penjelasan dari Ayu. Tapi yang ditunggu tidak jua menanggapi.
“ Lho dek … mas nunggu dek Ayu ngomong lho dari tadi. Kok malah diam saja ? “ Azriel
“ He … he … he… Ayu bingung mau ngomong apa tadz ? “ Ayu nyengir tanpa rasa bersalah. Padahal Azriel sudah menunggunya cukup lama. Mungkin bila buat antri minyak goreng sudah cukup dapat minyak 2 liter itu …. Pizzz
“ Oooooh … jadi kamu selain cantik … juga nggemesin ya ! “ Azriel.
Azriel gemas dan bersiap mengolor pipi Ayu … tapi yang punya pipi reflek menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Azriel tidak kalah pintar, dia acak acak rambut panjang nan kemilau Ayu. Ayu menjerit jerit seperti sedang bercanda dengan adek adeknya di rumah.
“ Sssssstttt …. Jangan teriak teriak gitu dong dek. Nanti didengar orang di luar. Dikira aku ngapain kamu. “ Azriel. Celingak celinguk memperhatikan keadaan luar mobil.
“ Habisnya tadi ustad sih, ngacak ngacak rambut Ayu. Kan jadi berantakan “.
Azriel semakin gemas dengan tingkah laku Ayu. Apalagi melihat mukanya yang memerah dengan bibir cemberut …. Tambah manis. Ingin sekali dia …….. Astaghfirulloh. Batin Azriel.
“ Mas Cuma ingin tahu, kenapa dek Ayu tadi mennagis dan bilang bila kita tidak mungkin bersama, apa yang membuat tidak mungkin ? mas cinta dek Ayu. Dan bila dek Ayu merasakan hal yang sama …. Kenapa tidak bisa?
“ Atau jangan jangan dek Ayu sudah mempunyai kekasih dan mencinta pria lain? Jujur saja dek. Mas ingin tahu apa isi hatimu. Jangan diam saja. “ Azriel menjelaskan keingintahuannya dengan pelan pelan. Dia tahu sedang menghadapi anak yang baru berusia 17 tahun. Terpaut 4 tahun dengan dia.
__ADS_1
Ayu menggeleng geleng. Dia memandang wajah Azriel dengan seksama. Akhirnya dia menjelaskan beberapa kekhawatirannya tentang hubungan mereka.
“ Ustad Azriel dan Ayu sangat berbeda dan jauh. Jauuuuh sekali malah. Ustad dari keluarga ulama. Sedangkan keluarga Ayu ? ustad dari keluarga berada, sedangkan keluarga ku kami berjuang keras untuk hidup. Ustad punya orang tua yang disegani sedangkan orang tuaku di desa ….. “ Ayu tidak mampu melanjutkan kata katanya. Bibirnya bergetar, jantungnya seakan mau berhenti berdetak Ketika memikirkan posisi bapaknya di desa.
“ Sudaaah …. ? hanya itu yang mau kamu katakan ? “ mata Azriel tidak lepas dari netra mata Ayu. Mereka berhadapan sangat dekat.
“ Dengar … pertama. Mas dari keluarga Ulama. Apa ada larangan keluarga ulama berpasangan dengan keluarga bukan ulama “
“ Kedua … mas dari keluarga berada. Yang berada menurut dek Ayu itu orang tua mas. Bukan mas. Mas masih berjuang dek. Mas tidak memiliki apa apa. Tapi insyALLAH setelah pendidikan mas selesai, mas akan mendirikan usaha dan membuktikan kepada dek Ayu bahwa mas bisa mandiri. Dan tentang padangan warga desa terhadap bapakmu …. “ Azriel menghentikan ucapannya sebentar, dia tetap melihat respon Ayu.
“ Apapun bapakmu, dia adalah orang tuamu. Mas melihat sisi berbeda. Bapakmu berjuang keras. Sangat keras untuk menghidupi keluarganya. Bahkan nekat menyekolahkan ketiga puterinya. Tidak ada orang di desa yang seperti itu dek, mereka lebih memilih memupuk harta dan menikahkan puterinya saat lulus SD dengan laki laki yang mempunyai sawah dan rumah mewah. Bapakmu tidak seperti itu. Dia yang katanya tidak pernah sholat dan melaksanakan ibadah, dia dengan senang hati mengantarkan anak anaknya ngaji dan menggendongnya ketika masih kecil. Dia menyekolahkan di madrasah. Itu artinya dia ingin anak anaknya dekat dengan agama. Mungkin tidak seperti dia. Dia lebih baik dek. Dia pahlawan bagi keluarganya jika orang lain mau memahaminya dari sisi berbeda “ Azriel menjelaskan dengan sabar seperti orang tua menjelaskan kepada anaknya.
Mata Ayu berbinar melihat tanggapan Azriel. Dia tersimpati, tidak menyangka Azriel memiliki pemikiran yang berbeda dengan warga desa. Ini sama dengan dia dengar dari Ustad Imron. Ustad Imron pun salah satu orang yang menghormati bapaknya Ayu. Tatapan mereka sangat dalam, jarak yang begitu dekat mmebuat Azriel terbuai dengan aroma vanilla Ayu. Dia mendekatkan wajahnya perlahan, semakin lama semakin dekat sedangkan Ayu memundurkan badannya sedikit demi sedikit
Azreil lagi lagi tersenyum. “ Maaf ya ….. ayooo dibuka. Ayoooo …mas janji gak akan macam macam. Mas janji dek … ayoo buka “ azriel membuka tangan Ayu.
“ O ya sekarang mas yang Tanya. Kenapa dek Ayu memikirkan jauh tentang hubungan kita hingga ke keluarga kita sampai menangis. Jangan jangan dek Ayu …. Ada rasa dengan mas ? “ Azriel bertanya dengan sangat berharap sambil menganggukkan kepalanya.
Mendengar itu, Ayu memalingkan wajahnya ke luar jendela. Dia tidak berani menatap mata Azriel yang tajam. Dia berusaha menghindar. Azriel menangkup wajah Ayu yang sangat bersinar itu. Dituntunnya untuk melihat ke arah dia.
__ADS_1
“ Katakan.“ Azriel.
Mengangguk. Ya. Ayu mengangguk. Dia mengangguk sebagai jawaban bahwa dia juga mempunyai perasaan dengan Azriel. Tapi dia malu memandang wajah Azriel. Dia menunduk dalam. Azriel tak kuasa mendengar ini. Betapa bahagia hatinya. Betapa berdegup kencang jantungnya melihat semua yang dia doakan selama ini terkabul. Dia terenyuh tidak bisa berkata kata dan tanpa terasa air matanya jatuh. ( hadeeeeh … zriel … zriel … ditolak nangis, diterima nangis. Maunya apa to orang gantheng ini ???)
Azriel mendekap erat tubuh wanita yang sekarang menjadi kekasihnya. Meski mereka belum ada kata sepakat untuk menjalin hubungan, tapi anggukan Ayu adalah sebuah kepastian. Mereka berpelukan cukup lama. Hanya berpelukan tidak lebih. Azriel mengusap ngusap punggung Ayu. Memberikan kenyamanan di sana. Dia bersedia menjadi sandaran Ayu kapanpun dan dimanapun.
“ Mulai sekarang jangan panggil Ustad lagi yah. Seperti guru sama murid saja. “
“ Memang “ jawab Ayu reflek.
“ Ooooohhhh … berani meledek mas ya. Minta dicium berarti “. Azriel mulai memonyongkan bibirnya. Sebenarnya dia hanya bercanda. Ingin menjahili sang pacar. Tapi Ayu memang ketakutan dibuatnya .
“ Kalau gak mau mas cium, panggil mas dong “. Azriel
“ Iya …. Mmmmm maaaa ….. mas “ Ayu masih kikuk mnengucapkan kata ‘mas’
“ Anak baik. Mas tambah cinta “ Azriel memajukan wajahnya ke wajah Ayu untuk menjahili, tat kala Ayu takut Azriel melakukan hal hal yang tidak diinginkan, Azriel malah tersenyum jahil sambil mengedipkan matanya.
Mereka tertawa bahagia bersama.
__ADS_1
“ Ayoooo kita pulang. Sudah sore. Nanti calon mertua bisa membunuhku bila mas mengantarkan puterinya malam malam “ Azriel tersenyum renyah.
“ Mas tolong !!! Jangan antar aku sampai ke rumah. Di kecamatan kota saja. Aku akan naik ojek. Aku mohon ???? tatapan Ayu penuh ketakutan. Dia memegang lengan Azriel dengan erat seolah akan ada bahaya yang akan menghampiri mereka jika permintaannya tidak dipenuhi. Azriel menggenggam tangan Ayu untuk memberikan kekuatan. ditepuknya tepuknya tangan Ayu.