Kisahku Dengan Sang Ustad

Kisahku Dengan Sang Ustad
Lia Lagi


__ADS_3

“Aku tidak peduli ! dia hamil anak kamu kan? kalau dia hamil kenapa kamu tidak bertanggung jawab dan menikahi dia?” Ayu nangis dan berteriak. Apalagi mendengar wanita yang dipeluk Azriel sedang hamil.


“Yaaaa…! aku akan bertanggung jawab dan menikahi dia! Puas kamu!” Azriel.


“Haaahhhh…haaahhh” nafas Ayu menderu melihat tatapan Azriel yang menyala. Baru kali ini dia melihat tatapan itu. Tatapan marah dan kecewa. Ayu takut. Ada sedikit penyesalan ketika dia mengatakan kata “tanggung jawab dan menikah” yang selanjutnya ditanggapi Azriel dengan emosi. Lelehan air mata membasahi pipi Ayu. Mengalir deras tanpa suara. Itu yang menyakitkan.


Greeep…tiba-tiba tubuh Ayu ditubruk oleh Azriel. Azriel memeluk erat tubuh Ayu yang masih telentang. Dan pergelangan tangannya masih dicekal kuat oleh Azriel.


“Maaf…maaaaf bila mas menyakitimu” Azriel berbisik. Sama dengan Ayu berderai air mata.


“Mas janji akan menyelesaikannya dengan baik dek. Tolong percaya sama mas” bisik Azriel lagi.


Dreeet…dreeetttt…


“Haloo…” Azriel menjawab panggilan dengan sengaja me loud speaker agar Ayu mendengar. Berharap istrinya tahu pembicaraannya dengan seseorang dari rumah sakit. Kini dia sedang berbaring telentang di samping Ayu. Ayu pun tidak keberatan, dia tanpa respon apapun. Bahkan ketika Azriel dengan lembut memeluknya dari samping dan menghirup harum rambutnya sambil menjawab telepon, Ayu tidak bergeming.


“Haloo pak Azriel…ini dari rumah sakit. Mau memberikan kabar kalau Nona Diana sudah sadar. Dan dia mencari seseorang bernama Edward. Bila bapak mengenal lebih baik diajak ke sini. Mungkin bisa menenangkan Nona Diana” suara perempuan yang merupakan perawat khusus penjaga Diana.


“Aku tidak mengenalnya. Tapi sebentar lagi aku akan ke sana. Tolong jaga dia” jawab Azriel kemudian mematikan HP dengan tetap memeluk istri kesayangannya.

__ADS_1


“Sayang dengar. Mas hanya bermaksud menolong Diana. Dion sudah aku hubungi. Tapi dia tidak membalas panggilan dan pesanku. Mungkin dia sibuk. Aku yakin dia akan segera ke sini. Setelah Dion sampai, kita pulang ke tahan air. Mungkin dua atau tiga hari lagi. Mas mohon kamu bisa memahami posisi mas. Mas dan Dion sudah bersahabat sejak kuliah. Dia sudah banyak membantu mas dan selaau ada buat mas selama berjuang untuk perusahaan. Sekarang saatnya mas membantu dia menjaga Adiknya” Azriel mengusap rambut Ayu dengan penuh kasih.


“Diana adalah adik Dion. Mereka kembar. Dion dan Diana hidup sebatang kara. Mereka ditinggal orang tua sejak masih SMP. Dan Papa Leon yang mengadopsi mereka. Kami bertiga bersahabat. Leon dan Lia sudah tidak ada. Sekarang tinggal Dion dan Diana. Kami sudah seperti keluarga. Papa Leon mendidik kami untuk saling menyayangi dan rukun seperti saudara kandung. Kami diberi kasih sayang merata dan kami hidup saling menyayangi. Aku sudah menganggap Diana sebagai adikku” jelas Azriel kemudian.


“Dia seperti Lia Lagi kan?” sahut Ayu lirih.


“Ya. Dia Lia bagi mas. Dia sudah mas anggap adik mas. dulu biasanya bila Dion baru bimbingan atau kuliah, dia seiring meminta mas untuk menjemput Diana di kelasnya. Dion sangat menyayaangi adiknya karena hanya Diana yang dia punya. Diana orangnya baik. Tidak seperti Lia. dia lebih lembut dan kalem. Dia sangat dewasa.Berbanding


terbalik dengan Lia” jawab Azriel dengan memeluk dan membangunkan Ayu. Ayu terdiam.


“Sekarang kita ke rumah sakit yuk. Ikut mas lihat Diana. Kamu pasti suka dia” rayu Azriel dengan pelan. Dia berharap Ayu luluh dan mau mengikutinya, agar dia lebih jelas dan tidak berprasangka akan hubungan Azriel dan Diana.


Di rumah sakit, sepanjang jalan menuju kamar perawatan Azriel memegang tangan istrinya. Sesekali dia mencium punggung tangan itu dan mengelus. Dia memandang sang istri yang masih terdiam dan menunduk. Sebelum masuk kamar, Azriel berhenti dan menasehati istrinya.


Azriel menganggukkan kepala tanda bertanya kepada Ayu. Dan Ayu menyambut dnegan anggukan tanda mengerti dan….setuju. Senyuman terbit dari bibir Azriel. Dia menyukai istrinya yang seperti ini. Mengutarakan sesuatu walau hanya anggukan. Tetapi tidak hanya diam. Azriel memandang penuh makna Ayu. Begitu sayangnya dia dengan sosok di hadapannya itu.


“Assalamualaikum…” salam dari Azriel.


“Waalaikumsalam wr wb…Mas Azriiiiiieeeelll?” jawaban Diana yang kaget dengan kehadiran sosok pengganti kakaknya itu.

__ADS_1


“Hai…gimana…apa sudah baikan?” Azriel mendekati ranjang Diana. Dan mengambil kursi duduk untuk Ayu. Sementara dia duduk di kursi yang lain.


“Din…gimana keadaanmu. Kamu sudah baik? Ini istriku. Ayu. Kamu sudah dengar kan? kamu juga dapat undangan dariku. Tapi kamu tidak bisa hadir” Azriel menarik lembut tangan Ayu dan memperkenalkan kepada Diana. Diana mengangguk dan tersenyum. Dia meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Gadis itu menangis.


“Kamu seperti yang diceritakan mas Azriel. Cantik dan menawan. Seperti rembulan. Pantas sekali mas Azriel jatuh mati sama kamu. hanya ada kamu di hatinya selamanya” Diana menggenggam tangan Ayu dengan penuh keyakinan.


Ayu terpana. Dia tidak percaya apa yang dia lihat. Sekarang, dihadapannya adalah seorang Gadis yang menawan dengan penampilan hijab Syar’i panjang. Wajahnya sangat kalem dan teduh. Namun tampak banyak kesedihan di sana. Tapi bagaimana bisa ini adalah wanita yang sama dengan yang kemarin? bukankah wanita yang dia lihat tadi malam adalah wanita cantik tubuh seksi dengan pakaian menggoda? apa Azriel membohonginya? Ayu tidak bisa berkata apa-apa.


“Kemari Ayu. Aku ingin lebih dekat dengan kamu. Siapa tahu aku tertular sedikit wajah Ayumu “ Diana tersenyum teduh. Azriel tersenyum melihat tingkat Diana.


“Sekarang katakan padaku apa kamu sudah baik?” tanya Azriel. Diana mengangguk mantap.


“Ada yang bisa aku dengar, alasna kenapa semua ini terjadi? Ini bukan kamu Din. Apa yang terjadi?” tanya Azriel lagi. Diana menunduk tidak menjawab. Hingga beberapa lama. Azriel berusaha memberi waktu.


“Siapa Edward?” Azriel memandang Diana dengan tatapan tajam.


“Kamu jelaskan Din. Aku tidak bisa bertanggung jawab kepada kakakmu jika kamu diam saja. dan bagaimana aku bisa melindungimu bila kamu tidak cerita?” Azriel


“Kamu sudah sering kan cerita kepada mas. Kenapa sekarang diam? Siapa yang membuat kamu seperti ini?” Azriel mengatakan dengan lembut.

__ADS_1


“Apa mas Azriel tahu, kalau aku sedang hamil? padahal aku sudah menutupinya dengan baju longgarku dan jilbab panjang. Tapi semalam…aku memakai gaun pendek…” batin Diana meronta.


“Katakan…siapa ayah dia? apakah Edward?” tanya Azriel pelan. Dia tidak kuasa bertanya seperti itu kepada Diana yang saat ini baru tersadar.


__ADS_2