Kontrak Nikah Sang Presdir

Kontrak Nikah Sang Presdir
BAB 22


__ADS_3

Andara berjalan mondar mandir didepan pintu kamar Bachri. Dia kebingungan dengan tindakannya sekarang. "Apa sudah benar dengan apa yang aku lakukan nanti? gumannya dengan gigi yang menggigit kuku kuku lentiknya...


Tangannya mulai mengetuk pintu kuat, berharap suaminya akan segera membukakan pintu..


"Tokk,, tokk,,, tokkk..


Tuann,,? anda didalam? tanya nya memastikan..


Namun lama tidak ada jawaban.


"Tuan bolehkah aku masuk? sekali lagi Andara bertanya karena tidak ada suara didalam.


Dia mengulurkan tangannya untuk mengetuk kembali namun suara orang berjalan dari dalam menghentikannya.


"Cklekkkk,, pintu di buka dari dalam..


Tampak Bachri berdiri didepan Andara dan tangannya dilipat ke depan perutnya..


" Tuan,, saya ingin membicarakan hal penting.. Andara langsung berbicara to the poin saja. Ia takut jika kehadirannya nanti malah mengusik kenyamanan suaminya dan merusak rencana untuk menolong anak tirinya dari skema home schooling yg tidak dia sukai..


Bachri hanya terdiam, Wajahnya terlihat datar, namun sorot matanya menelisik ke arah Andara, memindai sosok wanita cantik tersebut dari atas sampai bawah.


"Kenapa dia semakin mempesona. Dia terlihat berbeda dari saat awal bertemu. batinnya kagum. Namun perasaan itu segera ia singkirkan karena egonya lebih besar. untuk saat ini prioritasnya hanya anak gadisnya.. Dia merasa sudah tua untuk menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Pria itu tidak percaya diri, dan menganggap Andara hanya sedang bermain main dengannya..


"Tuann,,, seru Andara karena sedari tadi ia melihat Bachri hanya terdiam dan matanya terus melihat kearahnya ..

__ADS_1


"Masuklah,,,, ujarnya setelah mampu menguasai diri akibat hayalan konyolnya dengan Andara. Tubuhnya di gerakkan kesamping agar istrinya bisa masuk ke kamarnya.


Andara memasuki kamar suaminya yang terakhir kali ia masuki saat dirinya sah menjadi istrinya saat itu. Kamar dengan cat yang sama, dekorasi yang sama, harum mint yang sama dan foto cinta nya yang masih sama terpajang di tembok kamar menghadap ranjang tidurnya.


Deggg...!!


Andara seperti terserang penyakit jantung dadakan, hatinya tidak kuat jika harus berada disini untuk waktu yang lama. Seperti ada duri yang menancap tapi tak terlihat, yang dirasakan hanya perih dan sakit.. Sudah setahun lebih dia sering menjadi pengasuh sekaligus mami bagi Ayumi tapi tetap saja dia belum bisa melupakannya. Pernikahan ini benar benar tidak ada artinya bagi dia


"Bagaimana bisa aku menggantikan posisimu nyonya, jika di kamar ini masih penuh dengan memorimu,, bisa saja di lemarinya masih terdapat bajumu, parfum apa yang kau pakai dan aksesoris apa yang sering kau gunakan. dan aku sangat yakin jika dikamar mandinya ia masih menyimpan sabun mandi kesukaanmu dan shampo yang membuat dia tidak bisa melupakanmu..


Andara sibuk dengan segala pergulatan di pikirannya tanpa memperhatikan jika Bachri sekarang telah duduk di sofa panjang dan meraih tablet kerjanya.


"Nona,, panggil Bachri pelan. Namun tidak ada jawaban dari istrinya..


"Apa yang sedang anda pikirkan,,!! suara Bachri meninggi ketika Andara mengacuhkannya..


Lalu ia menatap Bachri secara intens dan berdiri didepannya tanpa ia mau duduk disebelah Bachri atau diranjang tidur suaminya.. Dia takut jika hal itu dianggap mengotori tempat sakral suaminya dengan mantan istrinya dulu.


" Bicaralah,, titah Bachri dingin, wajah datarnya tidak lagi memperhatikan Andara , ia sibuk membuka email pekerjaanya.


Andara yang merasa sudah tidak nyaman dari tadi segera ia berujar..


"Tuan,, bisa kah Anda memikirkannya lagi? kurasa Ayumi tidak menyukainya,,? ujarnya dengan lemah...


"Menyukai? tentang hal apa? tanya Bachri pura pura tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan istrinya..

__ADS_1


"Homeschooling,, dia sangat keberatan tentang hal itu.. kata Andara melanjutkan..


"Bisakah anda memberi waktu, mungkin pekerjaannya akan saya kurangi, agar dia bisa belajar di sekolah dengan normal.. jelas Andara pelan. Berharap suaminya mau memikirkan lagi rencananya..


"Putriku itu masih sangat kecil, homeschooling akan menghambat aktivitasnya,, dia butuh teman teman bermain.. meski dia sedikit agak dewasa sebelum waktunya. bisa jadi itu hanya bentuk perlindungan atas dirinya karena ia telah ditinggal oleh mendiang ibunya, dia butuh kasih sayang lebih dan tempat yang nyaman.. tutur Andara panjang lebar meyakinkan suaminya agar Ayumi bisa tetap sekolah seperti biasa.


"Dia putriku, bukan putrimu, tolong anda ingat itu,, kau tidak melahirkan dia,, ketus Bachri. "Apapun yang aku lakukan itu untuk kebaikannya, dan aku tidak minta persetujuan darimu, kau hanya orang luar yang merangkak kesini dan berharap menjadi nyonya. Dan kehadiranmu bukan sesuatu yang penting. lanjutnya lagi dengan mulut pedasnya..


"Ctarrr,,!! seperti tersambar petir,, tubuh Andara langsung melorot kebawah. Terduduk diatas dinginya lantai marmer kamar Bachri. Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya barusan. "Bukan sesuatu yang penting". kata kata itu terus terngiang ngiang ditelingannya. Jadi selama ini dia tidak ada artinya. pikirnya..


Kata kata Bachri sangat tajam..


"apa salahnya dia menganggap Ayumi sebagai anaknya, dia sangat menyayangi gadis kecil itu.. " Tidakk,, ini sudah sangat salah, bagaimanapun dia tidak pantas di perlakukan dan dihina seperti ini oleh suaminya..


"Merangkak,,? hahaha.. dia menertawai dirinya yg bodoh... sejak kapan aku terpukau dengan lambang nyonya dikeluarga ini.. ini bukan tujuannya.


Air matanya tidak kuasa ia bendung. netra biru itu mulai menitikan air bening yang lambat laut menjadi isakan yang terdengar sangat pilu.


Bachri terkejut setelah melihat Andara menangis dan semakin menjadi jadi,, Dia tidak tega melihatnya.. ada rasa kasihan di hatinya. namun karena egonya ia enggan untuk meraih tubuh mungil istrinya itu agar tidak duduk dilantai yang dingin.


"Apa aku keterlaluan,,,? pikir Bachri. namun tetap saja ia membiarkan Andara terduduk dengan tangisannya yang pecah..


"Jangan mengotori kamarku dengan tangisan palsumu itu nona,, ucap Bachri kasar .. Pria itu berdiri menuju pintu kamarnya lalu ia membukanya..


"Keluarlah.... aku tidak ingin melihat anda berada disini dan menangis seperti ini..

__ADS_1


Aku bukan produser yang mencari bakat dalam perfilm an.. acting anda sangat buruk.. cerca Bachri berkali kali..


__ADS_2