Kontrak Nikah Sang Presdir

Kontrak Nikah Sang Presdir
BAB 45


__ADS_3

kelanjutannya


"Jangan terlalu banyak bergerak dulu,, ucapnya dengan lembut. Tangannya yang sedari tadi memegang tanganku sekarang sudah terlepas.


" Kau butuh istirahat yang banyak. jelasnya lagi.. tangannya meraih bantal yang berada di bawah kepalaku dan membenarkan letak tidurku agar kepalaku terasa nyaman.


Aku hanya menggeleng kan kepalaku pelan tanda tidak menyetujui ucapannya.


"Saa,,, saayaa baik baik saja ttuu,, tuann.. ucapku lagi lagi terbata bata. Memang benar jika bibir ini sudah sangat kaku.


"Aaa,, andaa orang Indonesia? Tanyaku yang mulai penasaran dengannya karena dia bisa berbahasa Indonesia.


"Jangan panggil saya tuan,, panggil saja Osman itu namaku.. serunya...


"Eehhh,,, Baa ...baikk... ucapku lagi.


"Ya saya bukan warga indonesia, lebih tepatnya saya hanya seorang turis yang bekerja disini. jelasnya lagi dengan suara yang tetap saja terdengar lembut.


"Ohh... sautku singkat.


" Ke,, kenapa andaaa mau mem..membawaku kesini? tanyaku tetap saja dengan logat yang terbata bata.


"1mKau mengalami kecelakaan sebelumnya. dan mobilmu masuk kejurang. Aku berusaha menolongku dan membawamu ke rumah sakit, dan hampir 8 bulan ini kau dirawat disini.. ucapnya.


"Apa kau tak ingat jika kau mengalami kecelakaan? tanyanya yang terkejut saat mendapati diriku yang tidak mengingat apapun.

__ADS_1


"Saya baru siuman hari ini, dan dokter menjelaskan jika saya kemungkinan mengalami amnesia karena tidak satu pun memori yang ku ingat.. jelasku yang mulai berbicara dengan lancar. Syukurlah bibir ini tidak lagi terasa kaku seperti tadi. Namun tetap saja hati ini gusar, mengingat aku tidak tahu kemana aku harus kembali setelah ini. Sangat sedih memang, dengan kondisi cacat seperti ini. mau bagaimana lagi, menangis pun tak akan menyelesaikan masalah.


"Ohhh astaga..,, serunya sambil menangkupkan tangannya untuk menutup mulutnya yang terbuka. Dia terlihat shock dengan kata kataku tadi.


"Tidak apa apa jangan berusaha mengingat lebih keras jika kondisimu belum stabil. Tenanglah,, ada aku disini kau tak perlu khawatir. Aku akan membantu sebisaku. sautnya dengan nada tegas seolah menjelaskan jika aku akan baik baik saja jika berada disisinya. Dan itu sedikit membuatku terharu.


"Terima kasih,, ucapku mencoba menaikkan lengkuk bibirku itu tersenyum meskipun lumayan susah juga.


Dan akhirnya percakapan itu berakhir saat seorang suster masuk dan menyuruh Osman untuk keluar agar aku bisa beristirahat.


Pria itu mengangguk sekilas dan sebelum pergi ia meraih kepalaku dan mengecupnya pelan. Aku tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan olehnya, namun tetap saja tubuh ini seakan hanyut setiap sentuhan yang ia berikan.


"Aku akan menjengukku lagi nanti.. ucapnya membuyarkan lamunanku. Pria itu kemudian menutup pintu dan pergi dari ruanganku saat ini.


Dengan sabarnya pria itu terus saja mencoba memberikan pelayanan agar aku nyaman disetiap proses penyembuhan. Kadang dia akan memijat kakiku yang masih terasa mati ini agar suatu saat ada keajaiban yang membuatku bisa berjalan lagi. Dan terkadang juga ia tertidur disebelahku mungkin karena kelelahan akibat merawatku.


Aku kadang terfikir apa yang sedang ia lakukan kepadaku, mengapa memperlakukanku seistimewa ini padahal aku bukan kerabat atau saudaranya. Dan katanya dia sedang bekerja dinegara ini, kenapa dia tidak pernah pergi untuk bekerja, kenapa selalu saja ada waktu untuk menemaniku. Dan jika aku bertanya apa dia tidak punya kesibukan hal lain. Dia akan menjawab, aku hanya ingin menyibukkan diriku bersamamu.. ucapnya yang selalu membuatku merasa tersanjung.


Waktu berlalu dengan sangat cepat. Suatu hari dokter mengatakan kepada kami bahwa aku sudah bisa pulang. Aku sangat bahagia sekali mendapati diriku tidak lagi berada ditempat yang berbau obat ini. Namun perasaan kesendirian itu kembali, aku bingung harus kemana aku pulang, sedangkan di otakku tidak ada satupun memori yang tersisa tentang masa laluku.


Kemudian tangan kekar itu meraih tanganku, dan dikecupnya pelan.


"Kau bisa tinggal dirumahku kapanpun engkau mau..!! ucap Osman yang berusaha meyakinkanku seakan akan dia selalu tahu tentang apa yang aku pikirkan.


Aku sedikit terperangah dibuatnya, aku mengerti jika dia pria yang baik, terbukti jika selama ini dia memperlakukan ku sangat lembut. Namun siapa aku sampai dia mau melakukan hal sampai seperti ini, aku bukan kerabatnya atau siapa siapa dirinya, karena aku sadar diri, jika hal ini terus berlanjut aku akan terus menyusahkannya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin merepotkan mu lagi,,,, kata kata itu akhirnya keluar dari mulutku. Aku sudah tidak tahan jika selamanya harus bergantung dengan orang lain. Aku tidak ingin dia mendapatkan kesulitan dengan merawatku, ya meskipun akhir akhir ini kakiku mulai bisa bergerak walaupun jauh dari kata normal. Tapi aku bersyukur seenggaknya aku bisa tertatih tatih berpegangan pada tempat tertentu tanpa bantuan kursi roda lagi.


"Sama sekali tidak, kenapa kau bicara seperti itu.. ucapnya tidak suka.. Raut wajahnya terlihat kecewa dan kesal. Aku sangat sedih melihatnya seperti itu. Ahh ... kenapa hatiku seperti ini. gumanku dalam hati.


" Terus aku harus bagaimana...? tanyaku yang mulai frustasi dengan keadaan.


" Kau bisa kerumahku, atau ke apartemenku, atau vila ku sekalipun. Kau bisa tinggal dimana saja, asal kau nyaman.. jelasnya lagi.


Aku terkejut dengan semua ucapannya. Se kaya apa dia hingga memiliki semua itu. Apa pekerjaannya. Sekelebat bayangan tidak menyenangkan bersarang diotakku. Apakah aku akan dijual menjadi budak setelah aku sembuh.. batinku bertanya tanya..


Kemudian ia menjitak keningku lumayan keras.


"Ctakkkk...!!!


"Awww...awww ini sakit,, panas tau...!! ucapku kesal sembari mengusap usap keningku yang berdenyut.


"Apa yang sedang kau pikirkan. Aku tidak seburuk itu. ujarnya seperti tahu apa yang sedang aku batin. Seperti cenayang saja..


" Ya sudahh ayoo kita pulang...!! ajaknya seraya mendorong kursi rodaku menjauh dari kamar yang sudah berbulan bulan aku tempatii.


Dengan senyum bahagia aku hanya menuruti semua kemauannya. Mungkin saja ini takdir, aku dipertemukan dengan orang sebaik dirinya. Terima kasih Tuhann.. batinku dengan rasa syukur


Flashback End


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2