
Kelanjutannya
LAURA POV
Aku terperanjat saat suara pria yang aku kenal dan dulu sangat kucintai itu memanggil manggil namaku dengan lantang bahkan dia tidak ragu untuk berteriak di dalam keramaian cafe tempatku duduk saat ini.
Aku sangat shock mendapati dirinya bergerak menghampiriku padahal panggilannya terus saja kuacuhkan. Entah apa yang dipikirannya saat ini. Dia meraih tubuhku dan memeluknya sangat erat saat dirinya telah berada didepanku. Ia tidak lagi memperdulikan orang orang yang menatap kami dengan kebingungan seperti drama yang mereka tonton di acara televisi kesukaannya.
Dia terus saja mengucapkan namaku, dan menanyakan aku darimana saja. Namun tak sepatah katapun aku jawab. Bibirku terbukam, lidahku kelu. Ingin rasanya aku berteriak dan memakinya berkali kali karena kesalahan yang dibuatnya. Namun aku bisa apa. Semua telah terjadi dan aku juga wanita bersuami sekarang.
Pria yang kucintai sekarang berada didepanku, dan bukan pria yang memelukku saat ini. Dia adalah pria tampan keturunan Turki yang bernama Osman. Mata coklatnya selalu membuatku hanyut berkali kali dengan cinta yang ia berikan. Pesona nya itu membuatku melupakan betapa sakitnya dikhianati oleh pria yang aku cintai dulu yaitu Ryu Antara Bachri.
Namun apa yang sekarang telah terjadi. Osman menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan saat tubuhku dipeluk oleh Ryu (nama panggilan kesayanganku untuk Bachri). Aku segera melepaskan pelukannya dan tanganku segera meraih tangan suamiku sekarang. Aku sungguh ketakutan jika Osman akan berfikiran buruk tentangku. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria ini. Pria yang menjijikkan bagiku.
"Aku bukan lauraa, aku Luna tuan,, jawabku memecahkan berbagai spekulasi yang berada di otaknya. Aku tidak ingin dia mengharapkan apapun dariku. Biarlah aku seperti ini saja. dan aku sudah bahagia.
Wajah itu semakin terkejut mendapati aku yang berpura pura tidak mengenalnya dan mencoba mengubah nama asliku. Dia tetap saja mengelaknya dan mengatakan jika aku adalah istrinya yang bernama laura
__ADS_1
Dengan wajah yang menahan amarah, Osman mencoba menghempaskan tangannya dengan kasar saat dirinya ingin meraih lenganku. Ia menjelaskan jika aku adalah istrinya bukan istri seorang Ryu lagi.
Dan lagi lagi wajah pria yang dulu aku cintai itu seperti shock dengan apa yang terjadi saat ini. Namun aku tak lagi memikirkannya karena tangan Osman menyeret tubuhku untuk menjauh dari kerumunan orang orang yang melihat adegan diantara kami dengan antusias dan tak sedikit dari mereka yang mencoba merekamny dengan ponsel yang mereka bawa.
Langkahku mulai tak beraturan karena tidak bisa menyeimbangkan langkah Osman Yaang begitu cepat. Namun tiba tiba saja sorot mataku terpaku kepada gadis kecil kesayanganku yang duduk disalah satu bangku cafe menatapku penuh kerinduan. Ya dia adalah putriku Ayumi yang sangat cantik. Gadis kecil yang selama ini masuk kedalam mimpi mimpiku yang membuatku merasakan kerinduan yang luar biasa.
Ingin rasanya aku berlari dan memeluknya, mencurahkan segala kerinduan yang telah aku pendam selama ini. Tapi aku bisa apa,? aku sangat takut jika obsesi Ryu hanya membuatku sulit untuk menjangkau putriku. Akhirnya aku hanya bisa menahannya dan mengikuti langkah Osman.
Disebelah gadis kecilku ada seorang wanita yang membuatku sakit hati jika melihatnya. Dia adalah wanita yang ingin Kumaki maki keberadaannya dan wajah cantiknya itu ingin kurobek menjadi bagian bagian kecil. Dia yang sudah merebut kebahagiaanku selama ini, dia yang sudah menggantikan posisiku yang dulu. Bahkan anakku saja terlihat lebih mengkhawatirkan kondisinya ketimbang berlari menghampiriku. Dan memeluk aku sebagai ibunya.
Angan tetap saja menjadi angan dan tidak akan menjadi kenyataan. Pada akhirnya tubuh mungil yang sangat kurindukan itu tak terlihat lagi bersamaan dengan tubuhku yang sudah menjauh dari tempat tersebut.
"Anda mengalami amnesia nyonya,, Dan tubuh anda mengalami lumpuh sebagian. Ucap dokter yang menanganiku selama aku dirawat dirumah sakit swasta yang sangat besar.
Entah siapa yang membawaku kesini , aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya.
Dokter yang menanganiku menjelaskan jika selama 8 bulan aku mengalami koma. Dia tidak mengerti siapa keluargaku. Yang ia tahu hanya seorang pria muda yang membawaku kesini dan dia menjadi wali yang menjamin semua kebutuhanku dan biaya rawat selama di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Itu Tuan Osman nyonya,, dia yang membawa anda kesini.. ujar dokter tersebut.
Aku memandangi wajah tampan yang bergerak mendekatiku itu dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya. Dia terlihat bahagia karena aku sudah siuman.
"Akhirnya kau bangun...!! ucapnya penuh haru, bahkan sekarang aku bisa melihat mata coklatnya itu mengeluarkan cairan bening yang kuyakini itu air matanya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Aku berusaha meraih tangannya namun tubuhku sulit untuk aku gerakkan. Aku ingat jika saat ini aku lumpuh. Dan itu seakan membuat duniaku runtuh seketika. Aku hanya beban bagi orang lain. Aku kesal sekali dengan kenyataan ini.
Seakan tau apa yang sedang aku pikirkan. Pria yang bernama Osman itu mendekatkan tangannya untuk meraih tanganku. Mencoba menyalurkan sebuah kehangatan yang bisa membuatku bangkit dari keterpurukan.
"Thaaa.. thaannkk you sir,,!! ucapku terbata bata mencoba menggerakkan bibirku yang kaku karena lama tidak digunakan untuk berbicara.
Pria itu tersenyum sangat manis saat aku berusaha berbicara dengannya.. Ia menganggukkan kepalanya pelan dengan sorot mata yang sedari tadi fokus menatapku tanpa berpaling kearah lain.
Dokter yang merawatku tadi pamit untuk mengecek pasien lain dan memberikan waktu sekitar 30 menit untuk kami berbincang bincang. Karena aku harus butuh istirahat penuh dan belum diperbolehkan bergerak terlalu sering untuk menghindari capek.
Pria bernama Osman itu lagi lagi hanya menganggukkan kepalanya saat dokter itu pamit kemudian pergi dari ruangan yang meninggalkan kami berdua.
__ADS_1
-Bersambung-