
Cakra dan Siska sampai di rumah. Cakra memperhatikan rumah sederhana tersebut, rumah kontrakan dengan rumah type 45, sangat sederhana. Namun, cukup rapi dan bersih. Sepertinya mama Siska merawat rumah tersebut dengan baik.
Cakra ingat rumah lama Siska, taman bunganya juga terawat bahkan mereka punya rumah kaca. Karena hobby mama Siska adalah berkebun.
"Mama!" panggil Siska sambil mengetok pintu. Cakra mengikuti dari belakang.
"Siska, kamu sudah pulang?" Mama membukakan pintu, sebenarnya Siska memiliki satu kunci lagi. Hanya saja dia tetap ingin Widia yang membukakan pintu, kecuali Siska pulang terlalu malam.
"Iya, Ma," jawab Siska.
Widia melihat seorang pemuda bersama Siska. Widia merasa pernah bertemu pemuda ini, tapi dimana?
"Siapa pemuda ini, Sis?" Akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulut Widia.
"Kenalkan, Ma, ini bang Cakra, abangnya Cheryl." Siska memperkenalkan Cakra dan Widia.
"Oh, saudara Cheryl toh, ayo, masuk Cak," ajak Widia, dia menyingkir dari pintu agar Siska dan Cakra bisa masuk.
Cakra memperhatikan rumah sewa Siska, ada dua kamar, ruang tamu mungil serta dapur yang tergabung dengan ruang makan dan kamar mandi. Ruang tamu hanya ada karpet dan meja bulat. Nasib Siska benar-benar berubah, rumah yang sekarang di tempati Siska sangat jauh dari rumah lamanya. Cakra salut, Siska masih bisa bertahan.
"Maaf ya Cak, hanya bisa duduk lesehan di bawah." Widia merasa tidak enak. Sejak tinggal di rumah ini, Cakra adalah tamu pertama mereka.
"Iya ... nggak pa-pa, Tante." Cakra juga sungkan.
"Bentar ya, Bang, Siska buatkan minum dulu." Siska melangkah ke dapur.
"Nggak usah, Sis." Cakra menarik tangan Siska, membuat langkah Siska terhenti.
"Gimana hasil pemeriksaan keshatanmu, Sis?" Widia bertanya.
"Oh ... hanya masuk angin biasa aja kok, Ma ... jadi tidak perlu cemas," bohong Siska
"Syukurlah, kamu harus jaga kesehatan sayang," pesan Widia lagi.
"Iya, Ma," sahut Siska
"Ya, udah Mama tinggal ya." Mama meninggalkan Siska dan Cakra.
"Bang, sebaiknya kita menikah besok, nggak usah kasih tahu mama, deh," saran Siska.
"Kenapa, Sis?" tanya Cakra heran.
"Siska baru ingat, mama dan papa mau Siska menikah, jika telah tamat kuliah ... jadi bakalan susah buat jelasin ke mama ... toh yang penting Siska cuma butuh buku nikah aja ... agar anak ini nggak dicap sebagai anak haram," jelas Siska.
Meskipun lambat laun Widia pasti tahu bahwa Siska hamil. Saat perut Siska mulai terlihat. Dan mungkin saat itu Siska baru akan jujur kepada Widia.
"Terserah kamu aja, Sis. Yang jelas abang udah memberikan bantuan kepada kamu, dan cepat atau lambat mamamu pasti akan tahu," nasehat Cakra. "Untuk tinggal bagaimana?" tanya Cakra lagi.
"Tidak ada yang berubah, Bang, kita tetap jalani hidup masing-masing. Orang tua Abang juga nggak tahu kan?"
"Iya, Abang juga tidak tahu bagaimana ngomong sama mama dan papa, jika Abang bertanggung jawab untuk perbuatan yang Abang tidak lakukan, pasti mama murka," jelas Cakra.
Inikan perbuatan abang, harusnya abang sadar dan bertanggung jawab, dan apa yang akan terjadi, jika mama abang tahu?
Tapi apa mau dikata, Cakra sendiri tidak ingat dengan perbuatannya.
"Jadi ini kita rahasiakan, seperti pernikahan Nabila dan kak Nathan?" Siska tidak sadar jika dia keceplosan.
"Maksud kamu apa? dengan pernikahan Nabila dan Nathan? memang mereka merahasiakan pernikahan, lalu kenapa kita diundang?" tanya Cakra bingung.
"Eh, itu ... Siska salah bilang Bang, maksudnya menikah seperti Nabila dan kak Nathan ... hanya saja kita merahasiakannya," elak Siska. Siska tidak sanggup memberitahu Cakra jika Nabila dan Nathan telah menikah saat Nabila naik kelas dua belas. Bisa-bisa Cakra akan mengamuk padanya karena hal itu.
***
Pagi sekitar jam sepuluh, Cakra keluar dari kantor. Dia menuju rumah sewa Siska. Sesuai janji dia akan menjemput Siska, kemudian mereka akan mendaftarkan pernikahan ke kantor KUA.
"Semua sudah lengakapkan, Sis?" tanya Cakra saat Siska telah masuk ke dalam mobil.
"Udah Bang, abang?" tanya Siska kembali.
"Tuh." Cakra menunjuk map coklat di belakang.
Siska hari ini off day, jadi dia tidak perlu izin maupun bertukar shift.
Mereka memasuki kantor KUA. Cakra dan Siska mendaftarkan untuk menikah hari ini. Petugas melihat ternyata surat-surat mereka tidak lengkap dan harus dilengkapi dulu. Cakra mengambil jalan pintas agar bisa menikah hari ini. Karena kebetulan jadwal off Siska.
Akhirnya petugas menikahkan mereka dan memberikan surat keterangan sementara. Sambil buku nikahnya selesai.
Siska puas, setidaknya dia memiliki surat keterangan menikah.
"Jadi bagaimana dengan tawaran Abang kemarin, Sis?" Kamu maukan tinggal di apartment abang?" tanya Cakra saat dia mengantar Siska pulang.
"Nggak usah, Bang. Kami udah nyaman tinggal di sana," balas Siska.
"Kamu yakin?" tanya Cakra lagi.
"Iya, Bang lagian bingung juga ngomong ke mama kayak apa? Nanti justru banyak pertanyaan dari mama," jelas Siska.
__ADS_1
"Ya, sudah, nanti kalau kamu berubah pikiran, bilang saja sama Abang."
***
Siska kembali bekerja, entah kenapa dia merasa, teman-teman kerjanya memandang aneh dirinya? Kenapa dengan mereka? Siska memperhatikan pakaiannya, mencium badannya sendiri. Tidak ada yang salah?
Akhirnya Siska mengabaikan saja. Tiba-tiba seseorang menarik tangan Siska dan mereka masuk ke kamar yang terbuka. Kamar yang sedang dibersihkan oleh Veronica.
"Sis, jujur sama kita," todong Mila setelah menarik Siska kedalam kamar yang dibersihkan Veronica.
"Jujur apa?" Siska berpikir apakah mereka mengetahui bahwa dia mengenal Cakra, CEO baru mereka?
"Loe, hamilkan, Sis?" tanya Veronica ragu dan segan. Siska tidak percaya kalau pertanyaan itu yang akan ditanyakan oleh Veronica.
"Maksud Mbak ... apa?" gugup Siska, masih mencoba, agar mereka tidak tahu.
"Kemarin, saat kamu off, Rahmi bercerita bahwa dia melihat kamu di rumah sakit, masuk bagian obgyn, terus Rosa juga mendengar pembicaraan kita waktu itu di toilet. Saat gue bilang gejala loe, seperti orang hamil. Sekarang gosip loe, hamil telah beredar," jelas Veronica.
"Apa?" Siska merasakan lemas kakinya, dia tidak menyangka ada yang melihatnya di rumah sakit. Apa yang harus Siska lakukan, jika dia menunjukan surat keterangan nikahnya. Apa nama Cakra yang ada di sana akan menjadi pertanyaan?
"Sis!" panggil Veronica lagi karena melihat Siska melamun.
"Eh ... iya," balas Siska kelihatan dia sedang tidak konsentrasi dan sedikit linglung.
"Benar loe, ke rumah sakit dan ke bagian obgyn?" tanya Mila.
"Itu ... benar ...." cicit Siska, dia tidak bisa berbohong lagi.
"Jadi apa hasilnya?" tanya Veronica lagi. Sedikit panik, jika benar Siska hamil di luar nikah maka tentu dia akan dipecat.
"Hasilnya ... gue ..." Siska masih menimbang apakah harus jujur kepada mereka atau tidak. Siska benar-benar berada dalam dilema.
Apa yang harus dilakukannya?
"Gue apa, Sis? tanya Mila lagi, dia mulai tidak sabar. Dia sama dengan Veronica mencemaskan nasib Siska.
"Gue ..."
"Di sini kalian rupanya." Rahmi memasuki kamar yang di bersihkan Veronica.
"Bukannya bekerja malahan bergosip," sindir Rosa yang datang bersama Rahmi.
"Berarti loe, udah tahukan gosip tentang loe? Gue yakin mereka telah memberitahu loe," tunjuk Rahmi kepada Veronica dan Mila.
"Dan apa maksud loe menyebarkan gosip itu?" tanya Siska tidak suka dengan kelancangan Rahmi. Siska memang tidak akrab dengan Rahmi dan Rosa. Dia tidak tahu kenapa mereka tidak menyukainya.
"Berarti loe, ngak hanya kerja di sini ya? Tapi juga kerja di luar sebagai pelacur! Atau jangan-jangan loe juga mencari pelanggan dari tamu hotel ini?" tuduh Rosa di telinga Siska. Siska tidak tahan menampar wajah Rosa. Rosa yang kaget dan tidak terima dengan perlakuan Siska balas ingin menampar wajah Siska lagi. Namun, segera ditangkis oleh Siska. Semakin membuat Rosa kesal dan mencoba menjambak rambut Siska. Rahmipun membantu Rosa.
Terjadilah perkelahian diantara mereka, Mila yang tidak terima Rahmi dan Rosa main keroyok, ikut membantu Siska.
"Stop ... hentikan!" teriak Veronica melerai mereka. Veronica yang tertua diantara para gadis tersebut dan diapun telah memiliki anak. Jadi tidak mungkin ikut berkelahi membela Siska.
Mereka masih saling mencoba mencakar dan menjambak. Cepol rambut mereka telah berantakan. Begitu juga dengan pakaian mereka yang menjadi awut-awutan.
Veronica merasa tidak ada gunanya dia melerai mereka. Akhirnya Veronica melaporkan kejadian tersebut kepada Adelia, supervisor mereka. Adelia meminta beberapa house keeper pria untuk ikut membantunya.
Mereka ke kamar tersebut, kamar menjadi berantakan dan mereka masih bergumul saling mencakar dan menjambak. House keeper pria mulai memegangi mereka.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Adelia.
Akhirnya perkelahian bisa dihentikan, para gadis tersebut telah dipegangi oleh house keeper pria.
"Ada yang bisa menjelaskan kepada saya kenapa kalian berkelahi?" tanya Adelia. Semua hanya bisa terdiam.
"Tidak ada yang bicara?" tegas Adelia lagi.
"Siska menampar saya, Buk." Rosa membela dirinya.
"Itu karena kamu mengatakan, Siska pelacur," bela Mila, tidak mau Siska disalahkan.
"Emang dia pelacur, buktinya dia hamil di luar nikah," tuduh Rahmi membela Rosa.
"Emang kalian punya bukti," bela Mila lagi.
"Benar yang dikatakan Rahmi, Siska?" tanya Adelia. Dia juga telah mendengar gosip bahwa Siska hamil. Sebenarnya Adeliapun ingin memanggil Siska perihal gosip tersebut.
"Saya bisa jelaskan, Bu," sanggah Siska. Tiba-tiba Siska merasakan perutnya sakit. Kepala Siska mulai pusing. Dia jatuh, untung saja di belakang Siska masih ada house keeper yang memeganginya tadi saat berkelahi.
Siska pingsan untuk yang kedua kalinya dan sepertinya dari kaki Siska merembes darah. Adelia dan yang lainnya panik. House keeper pria langsung menggendong Siska.
"Bawa ke mobil saya, kita harus membawanya ke rumah sakit," perintah Adelia.
"Kalian semua kembali bekerja, setelah dari rumah sakit, saya akan melakukan konseling terhadap kalian." Adelia berjalan ke parkiran. Dia membawa Siska ditemani house keeper pria yang menggendong Siska.
Sesampai di rumah sakit, perawat langsung membawa Siska dengan brangkar menuju ruangan IGD.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya perawat kepada Adelia, sambil mendorong brangkar.
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu, dia habis bertengkar dengan salah satu rekannya dan tiba-tiba pingsan, saya lihat darah mengalir dari kakinya," jelas Adelia.
"Apa dia hamil?" tanya perawat lagi.
"Saya tidak tahu," sahut Adelia.
Begitu sampai di ruangan IGD, perawat membersihkan darah yang mengalir di kaki Siska dan dokter langsung memeriksa Siska.
"Sebaiknya dibawa ke dokter kandungan," perintah dokter yang menangani Siska.
Siska dibawa ke ruangan dokter obgyn. Dokter kandungan memeriksa Siska. Dia melakukan USG dan memberikan infus kepada Siska.
"Bersyukur bayinya masih selamat," ucap dokter kandungan yang memeriksa Siska.
"Jadi, dia benar hamil, Dok?" tanya Adelia. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Benar, dan menurut pemeriksaan saya kandungannya berusia lima minggu,"
"Apa?" Adelia masih tidak percaya, setahu dia Siska belum menikah.
"Dia tidak perlu dirawat, setelah siuman boleh pulang. Saya akan memberikan vitamin buat penguat janinnya," lanjut dokter.
"Ini silahkan, Ibu tebus resepnya." Dokter memberikan resep kepada Adelia.
Adelia menerima resep tersebut dan menebusnya. Dia menyuruh house keeper pria yang menolong Siska untuk kembali bekerja. Adelia yang akan menunggui Siska.
"Apa yang terjadi?" Siska terbangun dan menatap langit kamar yang serba putih. Dan merasakan tangannya diberi infus.
"Kamu telah sadar, Sis?" Adelia mendekati Siska yang telah bangun.
Siska mengingat kejadian sebelum dia di sini.
"Ibu, maaf," pinta Siska. Pasti Adelia telah mengetahui kehamilannya.
"Tidak perlu dibahas sekarang ... bayi kamu baik-baik saja ... karena kamu telah sadar, saya akan panggil perawat dulu." Adelia memanggil perawat. Dan mengurus biaya berobat Siska.
Mereka menuju parkiran. Adelia mengantar Siska pulang.
"Istirahat saja dulu, jika besok kamu sudah merasa baikan, silahkan datang ke hotel," tawar Adelia.
"Sekali lagi, maaf telah merepotkan Ibu. Saya ... " Siska merasa bersalah dan tidak bisa meneruskan kalimatnya.
"Jika kamu belum siap menceritakannya. Nanti saja kamu jelaskan saat kembali bekerja." Adelia belum bisa memberikan keputusan terhadap kasus yang menimpa Siska.
"Ibu ... saya sebenarnya telah menikah secara siri." Siska terpaksa berbohong karena dia tidak ingin dipecat. Mungkin saja dengan ini mereka tidak memecatnya.
"Jadi kamu telah menikah secara siri? Dan suamimu?" tanya Adelia untuk memastikan ucapan Siska.
"Benar, Bu ... namun saya dan suami terpaksa tidak tinggal bersama," jelas Siska.
"Apakah suamimu bekerja di luar kota?" tanya Adelia lagi.
"Tidak, Bu, hanya saja pernikahan kami di rahasiakan?" jelas Siska lagi.
"Siska ... Siska ... kamu tidak usah membohongi saya, jika kamu telah menikah ya sudah, saya tidak perlu tahu rumah tanggamu seperti apa ... saya belum bisa mengambil keputusan ... sebaiknya kamu istirahat saja dulu." Pikir Adelia mungkin Siska punya permasalahan sendiri yang tidak bisa dia ceritakan.
"Terima kasih, ibu memahaminya." Siska keluar saat Adelia telah berhenti di depan rumah Siska.
Adelia meninggalkan Siska.
"Sis, kok udah pulang?" tanya Widia, saat melihat Siska turun dari mobil.
"Mama!" Siska bingung bagaimana menjelaskan tentang keadaan dirinya. Apakah Siska harus memberitahu Widia sekarang atau nanti saja? Saat kehamilannya tidak bisa ditutupi lagi.
"Sis!" panggil Widia lagi karena melihat Siska hanya berdiri dan melamun.
"Siska tadi tidak enak badan, Ma, makanya pulang diantar bu Adelia," sahut Siska.
"Kamu masih ... masuk angin?" tanya Widia lagi.
"Sepertinya, Ma ... Mama sendiri sedang apa?" Siska berusaha mengalihkan pikiran Widia dari sakitnya.
"Mama, hanya merapikan kebun kecil kita ini." Widia memang sedang membersihkan kebun kecil yang ada di rumah kontrakannya.
"Tapi ini tidak penting, yang penting kesehatanmu ... sebaiknya kita masuk ... Mama akan membuatkan teh dan menyiapkan makanan untukmu." Widia mendekati Siska.
"Terima kasih, Ma," ucap Siska.
"Sis, ada darah di betismu?" Beritahu Widia, saat melihat darah di betis Siska.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
__ADS_1
Tiktok : lady_mermad