
"Hei kamu, ke sini," panggil salah satu Direktur kepada Siska.
Untung ada masker, Siska memasangnya kemudian berbalik menuju rombongan Cakra.
"Oh, Siska, ayo ikut kami ke dalam kembali," ajak Manager Siska yang memang kenal dengan Siska. Siska hanya mengangguk, ikut berada dalam barisan.
Siska hanya bisa menundukan wajah, takut Cakra mengenalinya. Cakra yang saat Manager Siska menyebut nama Siska, langsung memperhatikan Siska. Hanya saja Cakra tidak mengenalinya karena Siska memakai masker dan selalu menunduk. Empat tahun mereka tidak bertemu dan pertama kali bertemu saat pesta penikahan Nabila. Jadi mungkin Siska telah banyak berubah.
Cakra tidak bisa memperhatikan gadis bernama Siska karena dia berada di belakang barisan sedangkan Cakra berada di depan. Cakra memang sempat melihat name tag bertuliskan 'Siska'. Mereka menuju kamar yang tadi dibersihkan Siska.
"Buka pintunya, Sis!" perintah Manager Siska.
Siska langsung menuju ke pintu kamar. Dia risih karena Cakra terus memandanginya. Siska berharap Cakra tidak mengetahui bahwa itu dia. Siska tidak ingin mengeluarkan suara karena takut Cakra mengenalinya. Pintu di buka Siska, kemudian dia mundur ke belakang.
"Silahkan, Pak," ucap Manager karena melihat Siska tidak bersuara untuk mempersilahkan mereka masuk.
Rombongan masuk ke dalam, diikuti Siska dari belakang. Mereka memeriksa ruangan. Candra menyapukan jari di meja, kemudian tersenyum karena puas. Ternyata kamar tersebut bersih dan tidak ada debu yang menempel.
Cakra juga memeriksa kelengkapan kamar dan kamar mandi. Memeriksa air hangat dan dingin di kamar mandi berfungsi sebagai mana mestinya. Cakra juga memeriksa siaran televisinya.
"Siaran televisinya agak bersemut, coba nanti hubungi pihak provider untuk memeriksanya," perintah Cakra.
"Siap, Pak," jawab Manager service operation, dia langsung mencatat keluhan tersebut.
"Juga untuk chanel-chanelnya, kurang lengkap, minimal chanel-chanel favorite harus kita miliki karena menjadi nilai tambah hotel kita," saran Cakra lagi.
"Siap, Pak," jawab Manager Sales.
"Jadi kamu yang membersihkan ruangan ini tadi?" tanya Cakra kepada Siska. Dia sengaja berbicara dengan Siska untuk memastikan apakah ini, Siska yang dia kenal. Siska hanya mengangguk, membuat Cakra semakin tidak puas. Melihat Cakra yang seperti tidak suka. Manager Siska mengambil alih.
"Benar, Pak, Siska yang melakukannya. Dia salah satu karyawan teladan dengan pekerjaan baik. Hampir setiap bulan Siska mendapat poin bagus untuk tugas-tugasnya." Manager membela Siska, sekalipun dia bingung kenapa Siska tidak menjawab, namun dia tidak ingin Siska dapat masalah karena dia tahu kinerja Siska sangat bagus.
"Kenapa dia tidak menjawab." Akhirnya Cakra meluapkan kekesalannya.
"Maaf, Pak, saya sedang sakit tenggorokan, jadi agak sakit jika banyak berbicara," ucap Siska dengan suara yang dibuat-buat agar Cakra tidak mengenali suaranya.
"Oh, saya pikir kamu bisu," sindir Cakra.
Cakra ingin bertanya lagi, namun di potong oleh Direktur Finance.
"Pak, kita harus lanjut karena ada serah terima dengan pemilik sebelumnya di ruangan meeting," beritahunya.
"Oke." Mereka keluar dari kamar.
"Kamu boleh melanjutkan pekerjaan, Sis," perintah Manager.
"Terima kasih, Pak," ucap Siska. Cakra berhenti, seperti suara Siska?
Terpaksa Cakra mengabaikannya karena rombongan telah berjalan. Cakra melirik ke belakang kembali sebelum pergi. Siska yang menyadari dia keceplosan hanya terdiam kaku. Bersyukur Cakra telah kembali berjalan dan rombongan tersebut meninggalkan Siska. Siska bernafas lega
Cakra, Candra dan rombongan Direktur serah terima hotel dengan pemilik sebelumnya. Sandi Santoso, dia adalah teman papa Siska. Usaha mereka sepertinya sama-sama mengalami penurunan, hanya saja Sandi tidak sampai bangkrut total seperti Wirman Wiguna, papa Siska.
Selesai penandatanganan serah terima kepemilikan hotel.
"Pak Cakra, bolehkah, saya meminta sesuatu?" tanya Sandi saat mereka telah selesai dengan rangkaian acara. Sandi berbicara dengan Cakra.
__ADS_1
"Cukup Cakra saja, Pak, karena anda sepantaran papa saya ... dan tentu saja boleh," jawab Cakra, mereka berdiri di depan pintu ruangan meeting. Sambil berjalan menuju luar.
"Begini Cakra, saya mohon jika suatu hari, anda, melakukan pengurangan karyawan, saya minta satu nama jangan dipecat. Dia adalah anak teman saya. Dia juga mengalami kebangkrutan seperti saya, hanya saja ... saya tidak separah dia ... karena tidak sanggup menerima, teman saya tersebut akhirnya bunuh diri. Bersyukur istrinya tidak melakukan hal yang sama, sedangkan putri semata wayangnya, mengambil tanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga," terang Sandi kepada Cakra. Dia berharap Cakra tidak memecat Siska nantinya.
"Siapa nama karyawan ini, Pak?" tanya Cakra. Dia merasa kasihan dengan yang dialami keluarga teman Sandi tersebut.
"Namanya Siska, dia house keeper. Dia telah bekerja selama hampir dua tahun. Dia juga karyawan yang rajin dan pintar," puji Sandi lagi.
Cakra terdiam mendengar informasi dari Sandi. Apakah Siska ini adalah sahabat adiknya? Cakra mengingat saat dia bertemu dengan Siska di pesta Nabila. Membuat dia semakin yakin bahwa memang telah terjadi sesuatu kepada Siska. Dan informasi ini menjawab rasa penasaran Cakra.
"Siska, tepatnya nama lengkapnya apa, Pak?" Cakra ingin memastikan kembali. Kalau dia tidak salah orang.
"Saya tidak ingat nama lengkapnya, tapi nama Siska bagian house keeper hanya satu orang di sini," tambah Sandi.
"Baik, Pak. Saya akan memeriksa datanya nanti, agar saya tidak salah orang."
"Saya titip, gadis itu. Mamanya juga mengalami delusi sejak papanya meninggal, hanya saja tidak parah, gadis yang malang," lanjut sandi.
Selesai melewati rangkaian acara perpindahan kepemimpinan hotel I-Shine. Chandra dan Cynthia telah kembali Pulang. Cakra juga bersiap-siap untuk pulang dan dia menuju parkiran.
Saat Cakra memasuki mobilnya, dia melihat seseorang yang seperti Siska. Siska mengendarai sepeda motor bebek. Keluar dari hotel. Cakra segera mengikutinya. Namun Siska melaju cukup kencang bahkan menyelip. Sehingga Cakra tidak bisa mengikutinya.
Cakra memukul stir mobil karena kehilangan jejak Siska. Besok dia harus meminta data karyawan ke bagian HRD. Cakra tidak pulang ke rumah, melainkan menuju Apartmentnya. Seminggu ini Cakra telah pindah ke Apartment yang dia beli saat mulai bekerja di perusahaan keluarga.
Cakra membuka pintu Apartment, meletakan tasnya. Cakra membuka jas dan melonggarkan dasi. Hari ini begitu melelahkan. Cakra memutuskan untuk mandi. Selesai mandi, Cakra merasa lapar. Dia kemudian keluar untuk mencari makanan.
Cakra melajukan mobil dengan santai. Dia mencari makanan kaki lima. Entah kenapa dia ingin makanan kaki lima. Sepanjang jalan menyajikan aneka makanan khas nusantara dari ayam penyet, ayam geprek, pecel lele, sate kambing dan masih banyak lagi. Cakra ingin memakan ketoprak, dia melajukan mobil semakin jauh, akhirnya Cakra melihat tenda penjual ketoprak yang sepertinya sangat ramai.
Cakra pikir itu pasti yang terenak, makanya ramai. Cakra memarkirkan mobil. Dia melihat Siska baru keluar dari tenda ketoprak dengan menenteng plastik. Siska menaiki motor bebeknya dan pergi dari sana. Cakra tidak sempat kembali untuk mengejar Siska. Cakra memutuskan untuk membeli ketoprak saja.
***
Tidak butuh waktu lama, sekretaris telah mendapatkan berkas berisi data karyawan I-shine hotel. Manager HRD memberikan data dalam bentuk hard copy dan soft copy. Sekretaris Cakra adalah sekretaris Sandi dulunya. Wanita itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun, sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Lena, sekretaris Cakra, mengetuk pintu ruangan Cakra. Cakra menyuruhnya masuk.
"Ini, Pak, data yang bapak minta. Ini yang telah diprint dan ini soft filenya," ucap Lena menunjukan hasil print dan flaskdisk yang berisi data karyawan I-Shine.
"Terima kasih." Hanya itu yang diucapkan Cakra. Membuat Lena merasa jika Cakra sangat dingin.
Lena meninggalkan ruangan Cakra. Cakra langsung mengambil flaskdisk dan membuka file tersebut. Cakra melihat data karyawan terutama bagian house keeper. Memang ada nama Siska 'Siska Jesika Wiguna'. Di data tersebut juga lengkap foto dan alamat Siska yang sekarang. Dan Cakra tahu alamat tersebut bukan alamat Siska yang dia tahu dulu saat zaman Sekolah.
"Lena, suruh, Siska, bagian house keeper ke ruangan saya," perintah Cakra kepada Lena, melalui pesawat telepon.
"Baik, Pak." Lena langsung menghubungi manager Siska agara Siska ke ruangan CEO.
***
Siska baru selesai membersihkan salah satu kamar saat Mila menghampirinya.
"Sis!" teriak Mila dia berlari ke arah Siska.
"Ada apa, Mil? Sampai ngos-ngosan gitu?" Siska masih sibuk membereskan peralatannya.
"Loe ...." Mila kembali menarik nafas.
"Loe ... di suruh ke ruangan pak Cakra!" Akhirnya Mila menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Apa!" teriak Siska panik. Dia berusaha mati-matian menghindari Cakra. Sekarang Cakra justru langsung mencarinya. Apa dia harus jujur saja kepada Cakra?
"Bilangin aja, gue lagi off," pinta Siska.
"Nggak bisa, manager udah terlanjur bilang, kalau loe hari ini ada alias masuk," ucap Mila lagi.
"Jadi gimana donk?" panik Siska, meminta pendapat Mila.
"Udah loe tenang aja, loe kan nggak salah ... jadi ke sana aja loe," saran Mila.
"Tapi gue masih harus membersihkan beberapa kamar lagi." Siska masih berusaha untuk menolak.
"Makanya manager nyuruh gue buat gantiin loe ... tapi loe jangan lama-lama ya, biar loe bisa ambil alih lagi kerjaan loe," cengir Mila.
"Iya, deh." Siska mencoba menetralkan jantungnya yang berdegub kencang.
Siska meninggalkan Mila dan menuju ruangan Cakra.
Siska melapor kepada sekretaris Cakra. Sekretaris memberitahu Cakra bahwa Siska telah datang.
"Silahkan masuk, mbak Siska," perintah sekretaris.
Siska memasuki ruangan Cakra, Cakra sedang sibuk di laptopnya. Cakra mendongakan kepala, benar saja gadis di depannya adalah Siska yang dia kenal. Siska memakai pakaian house keeper.
"Siska?" heran Cakra.
"Pagi, Pak!" sapa Siska dengan formal. Sekalipun Cakra adalah saudara laki-laki sahabatnya. Dan saat sekolahpun mereka cukup dekat.
"Duduklah, Sis," perintah Cakra. Siska duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ruangan yang dulu dihuni oleh om Sandi, teman papa Siska.
"Apa yang terjadi padamu dan keluargamu?" Cakra menghampiri Siska yang duduk di sofa dan duduk di samping Siska.
"Kami baik-baik saja, Pak." Ini yang dicemaskan Siska. Rasa kasihan dari Cakra maupun sahabat-sahabatnya.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau papamu telah meninggal?" sesal Cakra. Dia tahu kejadian saat papa Siska meninggal Cakra masih di luar negeri. Selama kuliah dia jarang kembali ke Indonesia. Dia ingin melupakan Nabila.
"Sudah berlalu, Pak." Siska masih menjawab dengan kaku.
"Panggil seperti biasa, jika hanya kita berdua," perintah Cakra.
"Baiklah, Bang,"
"Sekarang kamu tinggal di mana?"
"Kami menyewa sebuah rumah yang cukup nyaman,"
"Apa kamu mau tinggal di Apartmen Abang? Biat lebih nyaman," tawar Cakra lagi.
"Tidak perlu, Bang. Kami bisa melewatinya. Siska harus kembali bekerja, Bang," pamit Siska. Siska kemudian keluar dari ruangan Cakra. Cakra tidak dapat berbuat banyak.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad