Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Bertemu Belahan Jiwa


__ADS_3

Sejak Siska dan bayinya pergi, Cakra menyibukan diri dengan pekerjaannya. Hari ini telah lewat satu minggu dan Cakra berencana untuk membujuk Siska. Meskipun Cyntia rutin mengiriminnya foto kegiatan Siska dan bayi mereka. Tetap saja berbeda dengan dia melihat sendiri.


Cakra melirik jam di tangannya, waktu menunjukan pukul enam sore. Cakra menutup laptop dan bersiap-siap menuju rumah orang tuanya. Sebelum meninggalkan ruangannya Cakra melihat kembali foto yang dikirim mamanya. Siska sedang memandikan Atha. Cakra merindukan saat itu, saat mereka bersama-sama memandikan Atha di hari Cakra libur kerja.


Cakra menuju rumah orang tuanya, dia harus bertemu Siska dan menyelesaikan masalah mereka. Tidak peduli larangan dari mamanya, yang penting Cakra harus segera bertemu dengan istri dan anaknya.


Cakra melajukan mobil dengan sedikit kencang, tapi tidak terlalu mengebut. Cakra memarkirkan mobil tepat di depan pintu rumahnya. Dia meminta sopir keluarga untuk memarkirkan mobil. Cakra masuk ke rumah, tujuannya adalah kamar lamanya karena Siska dan bayi mereka berada di sana.


"Cakra!" panggil Cyntia saat melihat Cakra berjalan menuju lantai dua. Cakra berhenti pada tangga pertama, saat mamanya memanggil.


"Mama, Cakra buru-buru, Cakra harus bertemu Siska dan Atha,"


"Apa tidak sebaiknya lain kali saja kamu bertemu mereka? Mama takut Siska masih belum bisa menerima kamu," saran Cyntia.


"Cakra takut, Siska berpikiran lain karena satu minggu lebih Cakra tidak menjemputnya pulang," ujar Cakra.


"Ya, sudah kamu bujuk saja. Jangan membuat Siska marah," pesan Cyntia. Dia menuju kamarnya.


Cakra menaiki anak tangga dua sekaligus, dia melihat Siska tidur menyamping. Bisa dipastikan di balik tubuh Siska pasti ada bayi mereka yang tengah menyusui. Cakra menutup pintu dengan pelan agar Siska tidak menyadari kehadirannya.


Cakra meletakan tas dengan hati-hati kemudian, ikut tidur di balik punggung Siska. Cakra memeluk Siska. Aroma bayi menguar dari tubuh Atha dan juga Siska.


Siska terkejut karena kedatangan Cakra, dia tahu bahwa pria yang memeluknya adalah Cakra dari aroma parfumnya.


"Abang!" seru Siska, dia menggoyangkan bahu agar Cakra pergi. Itu adalah bentuk penolakan Siska.


"Abang rindu kalian." Cakra mencium leher belakang Siska dan bahunya. Memberikan sensasi hangat di tubuh Siska karena sentuhan bibir Cakra.


"Apa yang Abang lakukan?" hardik Siska. Hardikan Siska membuat Atha terkejut dan menangis. "Tuh, 'kan, gara-gara, Abang, Atha jadi kaget," ujar Siska menyalahkan Cakra. Dia kembali membujuk putranya agar diam dan memasukan kembali ASI ke mulut mungil Atha.

__ADS_1


"Abang, nggak ngelakuin apa-apa, loh, Sis!" Cakra merapatkan tubuh dan memeluk Siska erat.


"Abang awas, jangan peluk-peluk. Siska, 'kan masih marah," tolak Siska. Dia menggoyangkan bahu agar Cakra menyingkir. Tapi, Cakra seperti lintah yang tidak mau lepas dari tubuh Siska.


"Jangan tega gitulah, Sis. Abang minta maaf. Aline hanya masa lalu. Kamu jangan khawatirkan dia," bujuk Cakra. Dia masih mencium pundak Siska.


"Nanti, kita bicarakan lagi, biar Atha tidur dulu," saran Siska.


"Baiklah, Abang mandi dulu," pamit Cakra. Dia senang Siska tidak semarah sebelumnya, mungkin dia telah mulai tenang.


Cakra turun dari ranjang, sebelum masuk ke kamar mandi, dia menyempatkan untuk mencium pipi Siska.


Siskapun sangat bahagia, dia pikir setelah kepergiaannya, Cakra tidak akan datang untuk membujuk, karena Cakra tidak ada menghubunginya. Satu minggu ini Siska sedikit uring-uringan karena pikirannya kemana-mana. Siska sempat berpikir bahwa pasti Cakra bersama Aline, tengah memadu kasih.


Akhirnya Atha tertidur dan Siska bangkit dari ranjang. Dia mengambilkan pakaiaan untuk Cakra, memang beberapa pakaiaan Cakra masih sengaja dia tinggalkan di rumah orang tuanya. Siska meletakan pakaiaan di atas ranjang. Siska melihat ke jendela, matahari telah tenggelam sempurna. Siska menutup gorden.


Siska kembali ke atas ranjang dan tiduran di samping Atha. Cakra keluar dari kamar mandi, aroma maskulin menguar dari tubuhnya bercampur sabun mandi yang dipakainya. Cakra melihat bahwa Siska telah menyiapkan pakaiaannya. Cakra mengambil pakaian dan menyampirkannya di atas kursi yang ada dalam kamarnya.


"Abang!" Siska membalikan tubuhnya dan menghadap Cakra. Siska terperangah saat melihat tubuh setengah polos Cakra. tubuh atletis dan dada bidangnýa tercetak di depan mata Siska. Siska refleks menutup mata. Hal itu membuat Cakra menjadi geram. Cakra menarik hidung mungil Siska.


Dia semakin merapatkan tubuh ke arah Siska, Cakra menaikan dagu Siska dengan dagunya. Cakra menatap bibir mungil berwarna pink itu. Mengelusnya dengan sensual, pandangan mata Cakra tidak lepas dari wajah Siska yang sangat dirindukannya.


Siska menatap Cakra dengan wajah merona merah. Tidak dipungkiri bahwa dia juga sangat merindukan pria cinta pertamanya ini. Apalagi dapat Siska lihat bahwa Cakra menatapnya dengan penuh kerinduan.


Cakra semakin mengikis jarak di antara mereka, refleks Siska menutup matanya. Cakra mencium bibir Siska dengan rakus, menyusuri setiap inchinya. Cakra menarik tubuh Siska agar mendekat kepadanya dan menjauhi Atha yang tengah tertidur lelap.


Cakra terus mencumbu Siska, dia mulai memasukan tangan nakalnya ke dalam baju Siska. Meraba aset kembar yang semakin hari membuat Cakra ingin menyentuhnya. Apalagi Cakra selalu cemburu saat melihat Atha yang dengan gampang tanpa diminta selalu berada di sana. Sementara Cakra, akan mendapat penolakan dari Siska.


Gairah mereka berdua telah naik diubun-ubun. Cakra dengan tergesa-gesa membuka pakaian Siska, melemparkannya ke lantai, menyisakan pakaian dalam saja. Cakra kembali mencumbu Siska, dia seperti harimau yang kelaparan dan tidak mendapatkan makanannya selama satu minggu. Siskapun sama, pikirannya lelah karena berpikir yang aneh-aneh, takut Cakra kembali lagi kepada Aline.

__ADS_1


"Abang, masuk, ya!" ucap Cakra yang bergairah. Siska hanya menganggukan kepala tanda setuju. Dia telah menahan dari tadi agar Cakra mulai memasukinya.


Cakra bersiap untuk masuk,l. Namun, pintu kamar di ketuk.


"Cakra, Siska, ayo makan malam!" teriak Cyntia dari luar pintu. Dia mencoba membukanya, tapi terkunci.


Cakra dan Siska saling berpandangan, Siska mencoba mendorong tubuh Cakra dari atas tubuhnya.


"Sis, yang benar saja, gantung ini, loh." Cakra menahan tubuh Siska agar tetap berbaring.


"Tapi, Mama, memanggil, Bang. Masa diabaikan begitu saja," sewot Siska, dia mencoba mendorong dada Cakra lagi.


"Lagian Mama. Kenapa harus datang sekarang, sih? Apa nggak tahu kalau anaknya lagi usaha buat ngasih dia cucu kedua," guyon Cakra dengan nafas masih memburu.


"Sis, Cak!" teriak Cyntia, tidak pengertian. Apa dia tidak tahu bahwa putranya dan menantunya sedang melampiaskan rindu. Belum lagi satu minggu ini mereka telah berpuasa.


"Kamu tetap di situ, jangan kemana-mana!" perintah Cakra. Siska menarik selimut menutupi tubuh polosnya. sementara Cakra memakai handuknya kembali dengan gairah masih terpancar. Cakra membuka pintu sedikit dan mengeluarkan kepalanya.


"Mama, kami akan menyusul, sekarang pergilah, ini sangat gantung," usir Cakra.


Cyntia mengerti. "Maaf kalau begitu, silahkan di lanjutkan. Mama akan menemani papa makan. Jangan terlalu membuat Siska lelah," nasehat Cyntia sebelum pergi.


Cakra menutup pintu kamar dan kembali menguncinya. Cakra kembali menuju arah Siska, dia kembali menindih Siska. Mereka melanjutkan kembali kegiatan yang tertunda.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!

__ADS_1


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2