Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Bertemu Danil


__ADS_3

"Siska?" panggil seseorang.


Siska dan Mila serempak melihat ke arah suara tersebut. Seorang pria berusia sekitar dua puluh empat tahun, menuju ke arah mereka.


Siska mencoba mengingat siapa pria ini.


"Pasti lupakan?" terka si pria.


"Eh, iya," sahut Siska bingung, menggaruk kepalanya.


"Danil Nugraha, emang, sih, kita jarang ketemu, aku teman sekelas Nathan dan Cakra di SMA Bina Harapan Internasional, kakak kelas kamu," terang pria bernama, Danil Nugraha.


"Oh, iya, Siska ingat, kak Danil yang pernah ngajak Siska buat pergi acara wisuda?" jelas Siska.


"Iya, tapi, kamu pergi sama Cakra," sesal Danil.


"Maafkan, saat itu, Kak," sesal Siska.


"Nggak pa-pa, udah berlalu juga, by the way, gimana kabar kamu?" tanya Danil, dia tidak memperhatikan gadis yang bersama Siska.


"Baik, Kak. Kakak apa kabar?" tanya Siska berbasa-basi.


"Baik, udah lama nggak ketemu kamu, tambah cantik aja," puji Danil.


"Ah, Kakak bisa aja," jawab Siska tersipu malu. "Kakak udah makan? Kalau belum. Ayo, gabung sama kami," tawar Siska.


"Boleh, emang rencana mau makan." Danil duduk di depan Siska. Sementara Mila di samping Siska.


"Sampai lupa, kenalkan Kak, teman Siska, Mila ... Mil, kenalkan, serior gue, kak Danil," ujar Siska memeprkenalkan Mila dan Danil.


"Mila,"


"Danil,"


Mereka saling berjabat tangan, Danil memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Eh, sepertinya kalian udah mau selesai, ya. Tambah lagi aja, ya," tawar Danil. Tanpa menunggu jawaban Siska maupun Mila, dia langsung memesankan minuman tambahan dan beberapa cemilan.


Mila yang baru pertama kali makan di Restoran Jepang sangat senang. Dulu Mila kira makanan Jepang tidak enak, ternyata setelah dia merasakannya. Dia menjadi suka, apa lagi pilihan Siska, cocok di lidahnya.


"Kakak, kerja dimana?" tanya Siska.


"Baru mulai nyoba merintis usaha, Sis," jawab Danil, merendah.


Danil merupakan pewaris Nugraha Group yang berkecimpung dalam usaha tekstil dan juga food and beverage.


"Kakak ini terlalu merendah, ntar kalau Siska butub kerja, boleh dong melamar ke perusahaan Kakak," rayu Siska.


"Kamu, bukannya masih kuliah?" heran Danil.


"Siska kuliah malam, Kak," beritahu Siska.


"Ini kartu namaku, nanti kamu bisa hubungi aku di nomor itu, jika butuh bantuan, apa aja!" kedip Danil bercanda kepada Siska.

__ADS_1


"Emang usaha yang baru dirintis apaan, sih, Kak?" penasaran Siska.


"Pertambangan batu bara," balas Danil.


Pesanannya datang dan pelayan menghidangkannya serta mencentang pesanan yang telah mereka hidangkan.


"Terima kasih," ucap Danil kepada pelayan.


"Wah, keren banget usaha, Kakak," puji Siska.


Mereka lanjut mengobrol lebih banyaknya tentang zaman sekolah dan tentang Danil yang kuliah di luat negeri.


Ponsel Danil berbunyi, dia izin mengangkat telepon tersebut.


"Sis, Maaf, aku harus balik ke kantor, aku bisa minta nomormu lagi? Aku udah ganti nomor," jelas Danil.


Siska menyebutkan nomornya, kemudian Danil memanggil nomor ponsel Siska.


"Itu nomor aku, jangan lupa save, ya," ujar Danil.


"Tenang aja, udah, nih." Siska memperlihatkan ponselnya kepada Danil.


"Sip, semua aku yang bayar, sampai jumpa lagi," pamit Danil.


"Eh, nggak usah, Kak," cegah Siska.


Akan tetapi, Danil udah pergi ke kasir untuk membayar.


"Loe, sekolah di SMA Bina Harapan Internasional dulu. Sis?" penasaran Mila. Dia saat Danil memberitahu tentang SMA Bina Harapan Internasional langsung penasaran.


"Iya, kenapa memangnya?" heran Siska.


"Loe, anak orang kaya?" tebak Mila.


"Itulah Mil, gue lupa, yang gue ingat keluarga gue cukup berada. Namun, suami gue bilang papa, gue udah bangkrut. Dan mungkin saja karena papa bangkrut, makanya gue bekerja sebagai house keeper di I-Shine," terang Siska. Setelah dia kait-kaitkan tentang benang merah kenapa dia bekerja, hanya itu alasan yang tepat bagi Siska.


"Gue, nggak tahu juga, karena loe, nggak pernah cerita, sih. Loe hanya bilang kerja demi membiayai hidup loe dan mama loe," ungkap Mila.


"Iya, dan sekarang gue, hidup sebatang kara," sedih Siska, mengingat orang tuanya yang telah tiada dan parahnya Siska tidak ingat dengan kematian ornag tuanya tersebut.


"Setidaknya loe, udah punya suami," ujar Mila.


"Loe, benar," sahut Siska.


"Ngomong-ngomong, Kakak tadi nyebut-nyebut nama Cakra, bukan CEO kita, 'kan?" canda Mila sambil tertawa.


"Ha." Siska hanya tersenyum.


"Tapi, loe, dulu, 'kan, pernah dipanggil sama pak Cakra, jangan-jangan loe, beneran kenal lagi?" terka Mila.


"Apaan, sih," tolak Siska, dia tidak menjawab pertanyaan Mila.


"Ya udah, gue bentar lagi mau berangkat kerja. Loe, bawa motor sendiri, 'kan?" tanya Mila.

__ADS_1


"Motor?" Seingat Siska dia tidak bisa membawa motor.


"Iya motor bebek yang loe, yang selalu, loe bawa ke hotel," ujar Mila.


"Oh, gue, nggak bawa, gue pake mobil online, aja," sahut Siska.


"Oke, gue cabut dulu. Selamat atas kehamilan dan pernikahan, loe," pamit Mila. Mereka melakukan ritual untuk berpisah, yaitu cium pipi kanan dan kiri.


Mila meninggalkan Siska sambil melambaikan tangan kepada Siska. Siska membalas lambaian tangannya.


Siska memesan mobil online untuk kembali ke apartment Cakra.


Siska masih memikirkan tentang kejadian yang menimpanya. Siska memasuki apartment. Mengganti pakaian dengan pakaian nyaman yang tadi dia beli.


Siska bosan karena jadwal kuliahnya masih lama. Siska memutuskan untuk membersihkan apartment. Sesekali Siska mengusap perutnya.


"Baik-baik di dalam, ya, Sayang, hanya kamu milik mama," gumam Siska di perutnya.


Setelah lelah, Siska memutuskan untuk beristirahat. Pukul enam sore, Siska bersiap-siap untuk ke kampus. Dia telah rapi dan menunggu Cakra untuk mengantarnya ke kampus.


Tidak lama Cakra masuk ke dalam apartment.


"Sis!" panggil Cakra.


"Ya, Bang, Siska udah selesai." Siska keluar dari kamarnya.


"Abang, mandi dulu, ya," ucap Cakra. Dia kemudian menuju kamarnya.


Cakra langsung menuju kamar mandi, Siska mengikuti Cakra ke dalam kamar, untuk menyiapkan pakaian bersih Cakra.


"Bang, masih ingat sama kak Danil? Teman sekelas Abang waktu SMA, bareng kak Nathan?" mulai Siska bercerita.


Cakra yang sedang menyiram tubuhnya menjadi terhenti. Cakra ingat, Danil yang dulu naksir dengan Siska zaman Sekolah. ( bagi yang lupa, bisa cek bab wisuda )


Cakra mempercepat mandinya. Apa Siska izin keluar tadi karena ingin bertemu Danil. Awas saja, jika Siska berbuat macam-macam.


Cakra keluar dari kamar mandi dan langsung membalikan tubuh Siska yang sedang menata pakaian Cakra diatas kasur.


"Kamu janjian bertemu Danil?" tuduh Cakra.


"Enggak, Siska hanya kebetulan ketemu sama kak Danil," terang Siska. Heran dengan tatapan Cakra yang tidak biasa.


"Yakin?" selidik Cakra.


"Iya, lagian Abang kenapa, sih?" heran Siska, dia mencoba melepaskan tangannya yang dicengkaram oleh Cakra.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2