Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Koma


__ADS_3

Cyntia memperhatikan wajah Cakra yang kusut dan penuh penyesalan.


"Cakra ada apa?" tanya Cyntia heran. Dia melihat Cakra menggenggam tangan Siska dan menciumnya.


"Maaf, Siska maafkan, Abang. Abang tidak bermaksud membuatmu menderita," mohon Cakra lagi.


"Cak, ada apa!" ulang Cyntia, dia memegang pundak Cakra, agar Cakra sadar.


"Mama, benar, Cakra yang telah memperkosa Siska," beber Cakra. Dia terduduk dilantai memegang tangan ibunya.


"Apa?" Cyntia tadi hanya bercanda mengatakan bahwa Cakra yang memperkosa Siska. "Lalu, kenapa kau bilang bahwa kau menikahi Siska karena kasihan dan bukan karena tanggung jawab?" Cyntia masih bingung, dia membiarkan Cakra masih memegang tangannya.


"Cakra saat itu mabuk dan tidak sengaja melakukannya dengan paksa kepada Siska. Setelah itu Cakra tidak mengingat lagi kejadian itu. Saat Siska bimbang karena hamil, Cakra hanya mengajaknya menikah karena--bagaimana jika hal itu menimpa Cheryl," terang Cakra. Dia masih terduduk di lantai.


Cyntia menampar pipi Cakra, dia tidak menyangka. Jika putranya akan berbuat hal rendah seperti itu. Apa Cakra tidak ingat bahwa dia memiliki adik perempuan?


"Bagaimana bisa kau melakukan itu kepada sahabat adikmu sendiri?" bentak Cyntia. Dia memalingkan wajah dan menjauh dari Cakra. Dia mengepal tangannya agar tidak kembali menampar Cakra. Sampai kepalannya bergetar karena menahan marah.


"Cakra, khilaf, Ma. Cakra tidak sadar saat melakukannya," cicit Cakra. Dia masih terduduk di lantai dengan lutut menopang berat badannya.


"Sebelum Siska sadar, kau tentukan apakah kau mau menjalankan pernikahan yang sebenarnya dengan Siska atau melepaskannya?" tawar Cyntia. Mau bagaimanapun, semua telah terjadi. Sekarang hanya perlu menatap masa depan. Terutama untuk cucunya. Dia harus memberitahu Candra kembali tentang berita ini. Entah bagaimana reaksi suaminya itu nanti?


"Cakra tidak akan melepaskan Siska dan anak Cakra, Ma. Cakra akan belajar mencintai Siska," putus Cakra.


"Berdo'alah, supaya Siska mau menerimamu dan terutama berdo'alah agar dia segera bangun. Sehingga ada kesempatan buatmu membuktikan bahwa kau mau mencoba mencintainya," ucap Cyntia. "Sekarang berdirilah, lihat bayi itu," tunjuk Cyntia ke box bayi.


Cakra berdiri dan melangkah menuju box bayi. Cakra menggendong bayinya dan menciumnya. "Maafkan, Papa, yang telah mengabaikan kalian," cicit Cakra menatap bayi mungil itu.


Cakra teringat kembali, saat Siska dan ibunya diusir dari rumah kontrakan mereka. Malam naas itu, jika saja Cakra terlambat bisa dipastikan Siska dan bayinya pun tidak akan selamat dari preman-preman yang ingin melecehkan Siska.


Dapat Cakra lihat perjuangan Siska dalam menjaga kehormatannya. Bahkan ibunya pun mengorbankan dirinya.


Bayi itu menangis, Cakra menggoyang-goyangkan tangannya. Namun, tetap saja bayi itu menangis.


"Sepertinya dia haus," ucap Cyntia. Dia memanggil perawat dan perawat datang. Kemudian memeriksa bayi dan membawanya kembali ke ruangan bayi.


***

__ADS_1


Satu minggu berlalu, Siska belum juga sadarkan diri. Dokter pun tidak mengerti mengapa Siska belum sadar.


"Sepertinya, dia sendiri yang memutuskan untuk tidak ingin bangun," terka dokter, setelah memeriksa kondisi Siska.


"Kenapa, Dok?" serentak Cakra dan Cyntia.


"Ini hanya tebakan saya saja. Bisa jadi keinginan hidupnya sudah tidak ada? Apakah dia pernah mengalami, hal yang tidak menyenangkan?" tanya dokter. Karena dari hasil pemeriksaan fisik Siska, semua normal dan baik-baik saja. Beberapa dokter lainpun ikut memeriksa. Namun, tidak menemukan hal aneh.


"Maksud. Dokter?" Cakra memastikan apa saja bagian dari kejadian yang tidak menyenangkan itu.


"Misalnya, orang tuanya dibunuh dan dia menyaksikannya, atau orang terdekatnya mengalami kecelakaan, atau orang yang dicintainya meninggal dengan tidak wajar. Bisa juga karena dia pernah mengalami hal seperti diperkosa atau pelecehan sexual. Jadi membuat keinginan untuk hidupnya tidak ada lagi," beber dokter.


Seketika Cakra dan Cyntia, terdiam. Hampir semua hal yang disebutkan dokter memang pernah dialami Siska.


"Lalu, bagaimana cara kita memancing keinginan untuk hidupnya lagi, Dok?" tanya Cyntia. Cakra hanya menerawang, tidak tahu kemana arah pikirannya.


"Kita harus merangsang kembali keinginan untuk hidupnya. Mungkin dengan mengajak dia bicara atau sering dekatkan dia dengan bayinya. Siapa tahu cara itu bisa membuat keinginan untuk hidupnya kembali. Dan yang terpenting dia harus merasakan cinta dari orang-orang terdekatnya. Juga saat sadar buatlah dia nyaman dan jangan membuatnya setress," terang dokter memberi saran.


"Kami akan melakukannya, Dok," balas Cyntia.


Cyntia memperhatikan Cakra yang masih terdiam seperti orang linglung. Cyntia dapat melihat wajah lelah Cakra. Cakra bahkan belum kembali ke kantor sejak Siska melahirkan. Dia memutuskan merawat Siska dan menjaganya.


Cyntia kembali teringat saat dia memberitahu suaminya, tentang kebenaran siapa ayah dari bayi Siska. Candra langsung ke rumah sakit dan menghajar Cakra.


"Papa, tidak pernah mengajarkan kamu untuk berkelakuan bejat, seperti ini," bentak Candra setelah dia memukul Cakra.


Cakra hanya pasrah karena memang itu adalah salahnya.


"Papa, selalu mengatakan agar kamu menjaga nama baik keluarga, kamu adalah penerus perusahaan. Bagaimana kamu bisa melupakannya?" geram Candra.


"Maafkan, Cakra, Pa. Cakra janji akan menjadi lebih baik lagi," lirih Cakra. Dia memegang pipinya yang panas akibat pukulan dari Candra.


"Kamu memang kuliah di luat negeri. Tapi, jangan sampai budaya sana, kamu bawa ke sini. Dan juga di sanapun tidak boleh melecehkan, karena hukumannya akan sangat berat, beruntung Siska tidak melaporkanmu ke polisi," ungkap Candra.


"Setelah Siska sadar, gelar resepsi pernikahan kalian. Agar rekan bisnis kita tahu bahwa kamu telah memiliki istri," lanjut Candra. Memang itu rencana Cakra.


"Baik, Pa," sahut Cakra.

__ADS_1


Cyntia melihat Cakra mendekat kembali ke Siska. Dia duduk di tepi brangkar dan memeluk Siska.


"Bangun, Sis. Abang akan menurutkan semua keinginanmu," bisik Cakra di telinga Siska. Namun, Siska belum memberikan respon. "Abang, akan memperlakukanmu dengan baik," bujuk Cakra.


"Mama akan meminta perawat untuk membiarkan bayi tidur di sini," ujar Cyntia, dia menghubungi perawat dan meminta agar cucunya dibawa ke kamar ibunya.


"Apa kau telah menyiapkan nama untuk putramu?" tanya Cyntia.


"Aku akan menunggu saat Siska sadar, siapa tahu dia telah membuat nama untuk bayi kami," sahut Cakra.


Perawat masuk dengan mendorong box bayi.


"Ini bayinya, Pak," tunjuk perawat kepada bayi di dalam box. "Ini adalah peralatan susunya." perawat menerangkan cara membuat susu serta mensterilkan kembali peralatannya.


"Terima kasih, " ucap Cyntia kepada perawat.


"Saya pamit dulu, Bu. Jika butuh bantuan silahkan kembali menghubungi saya," Perawat meninggalkan ruang rawat inap Siska.


Cakra mengambil bayi dan menggendongnya. Dia mendekatkan bayi mereka dekat dengan tubuh Siska. Kemudian meletakkan tubuh mungil itu di dada Siska.


"Bangun. Sis. Apa kamu tidak ingin melihat anak kita?" bujuk Cakra.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Sambil nunggu aku up silahkan mampir ke karya temanku ya, gak kalah kece!


...PENANTIAN KINARA...



Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2