Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Gagal


__ADS_3

"Maaf," cicit Siska sambil mundur dan membalikan tubuhnya.


Melihat Siska mundur dan membalikan tubuhnya menuju pintu. Cakra tidak tega, dia menarik tangan Siska dengan keras membuat Siska kembali merapat ke tubuh Cakra. Cakra dengan cepat ******* bibir Siska, dia ingat rasa ini, dulu saat di SMA dan entah kenapa Cakra setelah kembali ke Indonesia juga pernah merasakannya.


Cakra mendorong tubuh Siska hingga jatuh ke ranjang. Setelah ciuman panas mereka, Cakra memberi jeda karena ingin memgambil nafas. Cakra masih menimbang, apakah dia boleh melakukan ini?


Siska sedang hamil, dan itu bukan anaknya. Bagaimana mungkin Cakra tega menyakiti Siska. Namun, nafsu Cakra telah berada di puncaknya, mundur salah, maju juga salah.


Cakra juga menatap mata Siska yang Cakra tahu, dia juga pasti menginginkannya. Ditambah Siska tahu Cakra adalah suaminya, pasti wajar baginya untuk melayani Cakra.


Siska masih menunggu Cakra untuk melanjutkannya. Cakra ingin mengatakan sesuatu, bahwa dia tidak bisa melakukannya.


Ponsel Cakra berbunyi, Cakra merasa bersyukur karena hal itu menyelamatkannya.


"Maaf, Sis, Abang angkat dulu." Cakra bangkit dan mengambil teleponnya. Siska menarik kembali tali dasternya yang tadi sempat melorot saat Cakra menciumi lehernya.


Cakra memberi kode kepada Siska, bahwa dia akan menerima telepon di luar kamar.


Siska turun dari ranjang, melangkah ke balkon apartment. Dia ingin menenangkan jangungnya yang sempat berolah raga. Siska menyaksikan pemandangan langit malam yang ditaburi bintang-bintang serta bulan purnama yang terang benderang.


Siska menyandarkan tangannya di pagar besi balkon, menghirup udara malam yang menyejukan dan menyapa wajah dan rambut Siska yang tergerai. Lampu-lampu dari gedung-gedung lain dan jalan juga bersinar dengan terang.


Siska berpikir, kenapa Cakra seperti ragu untuk menyentuhnya? Apakah Cakra masih menyimpan perasaan terhadap Nabila? Lalu bagaimana dengan kehamilannya? Apa mereka sungguh-sungguh saat melakukannya?


Siska tahu bahwa ada yang diswmbunyikan Cakra, tapi apa? Siska juga melihat bahwa di apartment Cakra tidak afa foto pernikahan mereka?


Siska memperhatikan jalanan yang dipadati kendaraan. Pikiran Siska larut dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya pusing. Siska mengurut kening yang mulai berdenyut.


"Sis!" panggil Cakra, begitu memasuki kamarnya kembali. Dia tidak melihat Siska di dalam kamar. Cakra pikir mungkin Siska di dalam kamar mandi. "Sis!" ulang Cakra mengetuk pintu kamar mandi. Namun, tidak ada sahutan dari dalam, juga Cakra tidak mendengar suara apapun alias hening. Cakra mencoba membuka pintu kamar mandi, kosong.


"Sis!" teriak Cakra, dia takut Siska telah mengingat kejadian kematian mamanya dan melakukan hal bodoh. Cakra melihat balkon yang terbuka dan tertiup angin.


"Sis!" lega Cakra saat melihat Siska menghadap balkon. Cakra langsung memeluk Siska dari belakang.


"Abang!" kaget Siska saat tiba-tiba Cakra memeluknya. Kehangatan tubuh Cakra menghangatkan Siska. Siska bahagia dengan perlakuan manis Cakra.


"Abang takut terjadi apa-apa padamu," ternag Cakra, dia meletakan dagunya diceruk leher Siska yang terexpose.


Cakra takut jika Siska mengingat kematian mamanya, dan Siska melakukan hal seperti papanya. Itu yang dicemaskan Cakra.

__ADS_1


"Siska baik-baik saja, Bang," sahut Siska. Dia membalikan tubuhnya hingga menghadap Cakra.


"Syukurlah," lega Cakra.


"Emang, Abang pikir, Siska akan melakukan apa?" heran Siska.


"Tidak ada, Abang takut kamu tidak menerima kematian mamamu," jawab Cakra.


"Tenang saja, Bang, Siska sudah ikhlas, kok, mungkin Yang Kuasa lebih menyayangi mama," ucap Siska, Sambil memeluk manja tubuh Cakra.


"Sis, kamu nggak pa-pa, 'kan, jika Abang tinggal di apartment sendirian?" harap Cakra.


"Kenapa?" tanya Siska.


"Abang harus kembali ke kantor, ada sesuatu yang mesti Abang selesaikan," ujar Cakra.


Siska ingat, dia belum tahu Cakra bekerja dimana? Meskipun Siska tahu pasti di salah satu usaha keluargnya.


"Abang, kerja di I-Shine Hotel," balas Cakra. Dia tahu pasti Siska tidak ingat, karena Siska tahunya Cakra masih kuliah di Harvard University.


"I-Shine?" Siska merasa familiar dengan nama hotel itu. Siska juga merasa aneh karena setahu Siska, hotel milik keluarga Chery tidak ada I-Shine, malahan I-Shine hotel adalah milik teman papa Siska, om Sandi?


"Jadi, Abang harus ke hotel malam ini juga?" Siska memastikannya.


"Iya. Kamu tidak apa-apakan ditinggal sendiri?" ulang Cakra.


"Iya. Abang tenang saja," balas Siska meyakinkan.


"Ayo, masuk. Nanti kamu semakin kedinginan, jika di sini terus," ajak Cakra menuntun Siska ke kamar.


Cakra mengganti pakaiannya dengan kaos santai dan celana panjang. Siska sedikit heran karena Cakra berganti pakaian di dalam kamar mandi. Padahal di depan Siskapun tidak masalah.


"Ini ponsel kamu." Cakra memberikan ponsel Siska. Ya, ponsel Siska memang di simpan oleh Cakra sejak di rumah sakit dan Cakra meminta Siska beristirahat. Dan selama satu bulan ini, Siska tidak menggunakan ponselnya.


"Sama Abang, Siska kira hilang di rumah sakit," ucap Siska, dia mengambil ponsel dari Cakra.


"Abang pergi dulu, tidak usah menunggu Abang, tidurlah, kamu pasti lelah, mau tidur di sini atau kamarmu, terserah kamu saja. Jika terjadi apa-apa. Hubungi Abang segera, ya," nyinyir Cakra.


"Iya," balas Siska singkat. Cakra keluar dari kamar.

__ADS_1


Siska menatap kepergian Cakra. Siska merasa Cakra masih tidak ingin tidur dengannya. Siska menatap ponselnya, mencoba menghidupkannya.


Habis baterai rupanya.


Siska mencari charge ponsel dan kebetulan ada di meja nakas samping ranjang. Siska mengisi daya ponsel. Siska menunggu beberapa saat. Dia melihat pakaiannya yang masih berserakan. Siska mengumpulkannya kembali.


Sebaiknya kembali ke kamar saja, sepertinya Abang sedikit tidak nyaman, jika aku tidur di sini.


Siska menuju kamarnya kembali dengan membawa pakaiannya. Siska merapikan pakaian tersebut kembali ke lemari kemudian kembali ke kamar Cakra untuk mengambil ponselnya.


Siska melihat ponsel cukup terisi untuk bisa dihidupkan kembali. Siska melihat banyak pesan masuk, juga panggilan tidak terjawab dari Cakra. Mila house keeper I-shine dan Veronica house keeper I-shine. Itu nama yang tertera di ponsel Siska.


Siska heran apa dia punya teman dengan nama Mila dan Veronica. Siska membaca pesan dari Cakra, pesan satu bulan yang lalu.


-Sis, kamu dimana? Angkat telepon Abang!- Cakra.


Kemudian beberapa pesan dari Mila juga.


-Sis, loe dimana, kok, nggak masuk kerja?- Mila house keeper I-shine.


-Sis, mbak khawatir, apa kamu baik-baik saja?- Veronica house keeper I-Shine.


Apa aku pernah bekerja sebagai house keeper di I-Shine?


Pesan terakhir masuk lagi dari Mila


-Sis, apa loe baik-baik saja, ini sudah satu bulan, dan loe nggak ada kabar? Apa terjadi sesuatu? Gue dan mbak Veronica, mengkhawatirkan loe. Kami juga tanya tentang kelanjutan case loe kepada bu Adel, tapi dia hanya bilang, sebaiknya tunggu loe yang menjelaskannya saja, apa loe benar-benar hamil? Apa loe dipecat gara-gara hamil diluar nikah?- Mila house keeper I-Shine.


Apa maksud pesan Mila ini?


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2