Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Kedatangan


__ADS_3

Seminggu berlalu, Siska telah bisa kembali berjalan secara normal. ASInya pun telah keluar dari tiga hari yang lalu dan Siska telah bisa memberikan ASI kepada Atha. Hampir setiap hari sejak Cakra di luar negeri, Siska memeriksa ponselnya dan berharap Cakra menghubunginya. Namun, Cakra tidak menghubunginya.


Apa Abang tidak tahu bahwa dia telah siuman?


Cheryl memperhatikan Siska yang terus saja melihat ponselnya.


"Kenapa, Sis? Kusut banget mukanya?" ejek Cheryl.


"Nggak pa-pa, ngomong-ngomong bang Cakra, udah tahu kalau gue udah siuman?" tanya Siska.


"Udah, kenapa?" selidik Cheryl. Siska kecewa dengan kawaban Cheryl. Ternyata Cakra tahu bahwa dia telah sadar. Lalu, kenapa dia tidak memghubunginya?


"Nggak pa-pa," jawab Siska dengan kecewa.


"Dokter bilang besok, loe, udah bisa pulang," beritahu Cheryl.


"Benarkah? Ah syukurlah," senang Siska. Siska meletakan ponselnya.


"Atha besok, kita pulang, ya," rayu Cheryl kepada keponakannya. Bayi mungil yersebut hanya tertawa dan mengibas-ngibaskan tangannya.


"Abang, loe, kapan kembali dari luar negeri?" Negara mana, sih, dia pergi?" akhirnya Siska bertanya juga.


"Gue, juga nggak tahu, kenapa? Loe, udah kangen ya sama dia," ledek Cheryl.


"Eh, mana ada," balas Siska kesal. Dia mengambil bayinya dan duduk di sofa Siska mulai menyusui bayinya. Diam-diam Cheryl mengambil Siska yang tengah menyusui putranya dan mengirimkannya kepada Cakra.


Siska tidak tahu bahwa setiap dia terapy, Cheryl membawa Atha untuk bermain bersama Cakra.


Sementara Cakra yang mendapat kiriman foto dari Cheryl. Tidak kuasa lagi menahan rindunya kepada Siska.


"Ma, antar Cakra ke ruangan Siska," pinta Cakra.


"Nanti Siska, kaget melihat kondisimu," nasehat Cyntia.


"Tapi, jika menunggu Cakra kembali normal, akan sangat lama, Ma. Apalagi patah tulang, proses sembuhnya sangat lama, bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Lama sekali Cakra harus bertemu Siska," mohon Cakra. "Lagian besok kami sama-sama telah boleh pulang," lanjut Cakra.


"Ya sudah, terserah kamu saja," sahut Cyntia. Dia memapah Cakra untuk duduk di kursi roda. Cyntia membawa Cakra ke kamar Siska.


Cyntia membuka pintu kamar Siska, Siska yang sedang menyusui Atha tidak mendengar kedatangan Cyntia dan Cakra. Cakra memeluk Siska dari belakang. Siska yang terkejut karena seseorang memeluknya dari belakang, langsung memutar badannya.


"Abang!" panggil Siska tidak percaya bahwa yang memeluknya adalah Cakra.


Cakra hanya terdiam karena fokusnya justru teralihkan saat melihat bukit kembar Siska yang tengah dihisap oleh putranya. Siska yang menyadari bahwa tatapan Cakra ke asetnya langsung menarik asetnya dengan paksa dari mulut Atha, membuat Atha menangis karena tidak rela dan dia masih lapar. Dengan terpaksa Siska memberikannya kembali kepada Atha.

__ADS_1


"Mata Abang, kondiiskan!" sindir Siska.


"Lihat istri sendiri nggak pa-pa lah, Sis." balas Cakra. Siska hanya menatap kesal, kemudian kembali membalikan badannya, agar Cakra tidak melihat.


"Cher, sebaiknya kita tinggalkan mereka," ajak Cyntia.


Siska baru menyadari bahwa di ruangan ini ada Cyntia dan Cheryl juga.


"Mama, benar, sebaiknya kita mencari cemilan malam." Cheryl menggandeng tangan mamanya dan ke luar.


"Kalian yang akur," nasehat Cyntia, sebelum benar-benar ke luar.


"Tenang saja, Ma. Pergi yang lama!" teriak Cakra. Namun, Cyntia dan Cheryl telah menutup pintu.


"Abang!" tegur Siska. Saat Cakra kembali memeluknya dengan erat.


"Abang, sangat rindu sama kamu," ucap Cakra tulus.


Siska membalikan kembali tubuhnya menghadap Cakra. Dia memperhatikan kondisi Cakra.


"Apa yang terjadi?" todong Siska.


"Kamu tidak perlu cemas, Abang baik-baik saja," balas Cakra. Pandangannya teralihkan kepada Atha yang asik menyusu.


"Yah, Sis, mengganggu kesenangan orang saja," keluh Cakra.


"Biarin," sewot Siska.


"Apa kamu tidak rindu sama Abang?" rayu Cakra.


"Abang, kecelakaan?" tanya Siska mengabaikan rayuan maut Cakra. Dia ingat saat papa Cakra datang dengan kondisi tragis. Apakah yang mengalami kecelakaan waktu itu adalah Cakra?


"Iya, tapi, kamu tidak usah khawatir, abang baik-baik saja," balas Cakra.


"Jadi, Abang bukan ke luar negeri?" lanjut Siska.


"Tidak, Abang hanya di rawat di rumah sakit ini," jawab Cakra. Dia memperhatikan putranya yang tertutup selimut. "Sis, Atha, nanti tidak bisa bernafas, jika kamu tutupi seperti itu," cemas Cakra.


"Tenang saja, dia tidak apa-apa," balas Siska meyakinkan Cakra. "Eh, tunggu dulu, bagaimana Abang tahu nama dia Atha?" curiga Siska.


"Tentu saja dari Mama dan Cheryl," jawab Cakra.


"Abang bisa menghubungi Cheryl, tapi, kenapa tidak menghubungi Siska?" kesal Siska.

__ADS_1


"Maaf, Abang tidak menghubungi Cheryl, dia yang ke kamar Abang saat kamu terapy dan membawa Atha. Seharusnya Abang yang marah, kenapa kamu memberi nama tidak mengajak Abang? Padahal Abang menunggu sampai kamu sadar, agar kita bisa memberi nama bersama," terang Cakra dengan kesal.


"Eh, itu, Siska pikir Abang tidak peduli dalam memberi nama?" bela Siska.


"Apa? Dari mana kamu mengambil kesimpulan seperti itu?" tatap Cakra tajam.


"Karena dari awal Abangkan, nggak peduli, dan Abang, 'kan, nggak tahu kalau Atha anak Abang," terang Siska. Dia masih berpikir Cakra tidak tahu bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak Cakra. "Siska telah ingat, Bang. Atha anak Abang," lanjut Siska lagi.


"Abang tahu, maafkan Abang, ya, Sis?" mohon Cakra. Dia merangkul Siska dan memeluknya. "Maaf karena Abang telah membuatmu hamil, maaf karena Abang melupakan kejadian itu, maaf membuatmu berjuang sendirian dan menderita. Tapi, saat Abang mengajak menikah kenapa kamu tidak memberitahu Abang bahwa Abanglah pelaku yang memperkosamu?" heran Cakra.


"Siska kesal, Abang tidak mengingatnya," ketus Siska.


"Maaf, Abang memang lupa, kamu sendiri tahu Abang melakukannya karena tidak sadar, kamu ingat kejadian saat di sekolah, Abang bisa, 'kan tidak melakukannya, padahal kamu sudah sukarela ngasih," terang Cakra.


Siska menjadi malu sendiri dengan kelakuannya saat SMA.


"Waktu itu, 'kan Siska juga tidak sadar Bang, Siska kan diberi obat sama teman Abang itu, si mak lampir," bela Siska.


"Ya, udah, berarti kita impas, ya?" bujuk Cakra.


"Ya, deh," ucap Siska dengan terpaksa.


"Sini mendekat ke Abang," perintah Cakra. Siska yang lugu mendekatkan wajahnya ke Cakra. Dengan cepat Cakra memegang tengkuk Siska dan mencium bibir secepat kilat. Siska hanya terpana dan terdiam dengan kelakuan Cakra. Melihat reaksi Siska yang tidak menolak, Cakra menjadi berani, dia ******* bibir Siska. Siska yang memang merindukan Cakra hanya pasrah dan membalasnya.


Atha menangis karena kegiatan menyusunya terganggu oleh kegiatan orang tuanya. Tangisan Atha menyadarkan Cakra dan Siska. Siska mengangkat kembali wajahnya dari hadapan Cakra.


"Maafkan, Mama, sayang," ucap Siska dia membuka selimut yang dijadikan penutup dan mengelus pipi putranya.


Cakra menghindari melihat aset Siska, dia takut khilaf.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Sambil nunggu up, silahkan mampir ke karya temanku ya besties !


...ISTRI RASA DEPKOLEKTOR...



Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2