
"Aku akan meninggalkan apartment ini dengan Atha," ancam Siska. Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Cakra tertegun, kemudian kesadarannya kembali.
"Sis! Dengarkan Abang, jangan pergi! Lamu tahu Abang tidak bisa hidup tanpamu dan Atha. Beri Abang kesempatan, setiap orang punya masa lalu. Namun, berilah kesempatan untuk memperbaikinya dan berubah. Abang sadar telah banyak membuatmu terluka. Tapi, bisakah kita memulainya lagi dengan baik?" Cakra mengetuk pintu kamar.
"Siska benci Abang!" teriak Siska dari dalam. Membuat Atha menangis.
"Sis, kenapa dengan Atha?" cemas Cakra.
"Gara-gara, Abang," sewot Siska. Dia mengayunkan Atha agar kembali diam.
"Makanya, biarkan Abang masuk, Abang akan bujuk Atha," rayu Cakra.
Cakra mendengar keheningan, dia sedikit cemas. Apa yang dilakukan Siska, Cakra mencoba mengintip dari lubang kunci. Namun, tidak dapat melihat apa-apa.
Siska sendiri mengemasi pakaiannya dan memasukannya ke dalam tas. Begitu juga dengan pakaiaan Atha. Siska juga mengumpulkan peralatan Atha dan mainannya.
Siska berpikir ke mana dia akan pergi? Cheryl telah kembali ke Amerika. Apa dia menginap saja sementara waktu di rumah mertuanya? Bagaimana, jika mertuanya menjadi khawatir?
Yang jelas, harus segera pergi dulu, biar Abang tahu rasa.
"Sis! Apa yang kamu lakukan?" pikiran Cakra mulai kemana-mana. Dia berpikir sedikit horror. Karena cukup lama di dalam kamar menjadi hening?
Siska membuka pintu, menyingkirkan Cakra dari pintu agar bisa melewatinya. Cakra kaget saat Siska menarik koper dan menggendong Atha menggunakan kain gendongan dan satu tas kain. Cakra yakin isinya adalah perlengkapan Atha.
"Minggir!" Siska mendorong Cakra agar menyingkir dari pintu.
"Kamu, mau ke mana?" cemas Cakra. Ini yang dia takutkan sejak dia melihat Siska dan bayinya tidak berada di kamar rawat inapnya dulu. Cakra takut Siska dan Atha pergi meninggalkannya.
"Bukan urusan, Abang, minggir!" usir Siska lagi, dia bersusah payah menyeret koper.
"Tidak, kamu tidak boleh pergi dari Abang, jika kamu pergi Abang juga ikut," bujuk Cakra. Dia membentangkan tangan menghambat Siska, agar tidak bisa keluar.
__ADS_1
Hah! Yang benar saja, masak aku mau kabur dari Abang. Abang malah minta ikut?
Kesal Siska dengan tingkah Cakra. "Enak aja Abang minta ikut, nggak ada, nggak ada," tegas Siska.
"Pokoknya, Abang akan ikut, tunggu Abang ambil pakaian Abang dulu," mohon Cakra.
"Abang, apa-apaan, sih. Abang egois, Abang sendiri yang bilang bahwa Siska harus melepaskan Abang, jika suatu saat Abang menemukan pengganti Nabila. Dan Siska yakin, Aline pasti cocok menjadi pengganti Nabila. Siapa saja bisa menilai dia sedikit mirip dengan Nabila!" bentak Siska, dia mendorong tubuh Cakra agar menyingkir.
Cakra justru memeluk Siska dengan erat dari belakang, agar tidak pergi.
"Maafkan, perkataan Abang saat itu, saat itu, Abang belum mengerti dengan perasaan Abang sendiri. Abang menyadarinya saat kamu koma setelah melahirkan bayi kita. Abang menyesal, Abang tidak ingin kehilanganmu. Kemudian saat Abang, pikir kamu pergi meninggalkan Abang, Abang rasanya tidak bisa hidup lagi, jika tak ada kalian. Please, Siska beri Abang kesempatan. Bukankah seorang pendosapun, jika bertaubat akan mendapatkan ampunan? Abang tahu, Abang telah kejam memperlakukanmu di masa lalu. Namun, Abang berjanji, akan menebusnya seumur hidup Abang," mohon Cakra.
Siska tidak tega mendengar permintaan Cakra. Namun, dia harus memberi Cakra pelajaran, setidaknya Cakra harus merasakan perasaan diabaikan. Apa Cakra tidak tahu bagaimana Siska telah menahan perasaan cintanya dari kelas sepuluh?
"Sebaiknya, kita sama-sama instropeksi diri dan menenangkan diri masing-masing. Mungkin setelah itu kita dapat menyembuhkan luka yang pernah ada," putus Siska.
Cakra merasakan kakinya seperti lumpuh, tubuhnya seakan tidak berada di bumi lagi. Dia tahu dan mengerti Siska tetap ingin pergi darinya.
"Siska tidak bisa menjawabnya sekarang, Siska hanya ingin tenang dulu, setelah semua kejadian, rasanya Siska tidak percaya diri lagi. Siska--," Siska tidak bisa meneruskan kata-katanya. "Jika kita memang berjodoh, maka kita akan kembali bersama," lanjut Siska.
"Abang, yakin dan percaya, hanya kamu jodoh Abang. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikanmu. Bahkan Nabila sekalipun," ucap Cakra tegas. Dia telah pasrah dengan keputusan Siska. Namun, jangan dipikir Cakra tidak akan berjuang mendapatkan Siska kembali.
Siska menatap tajam mata Cakra, mencari kebohongan di sana. Sayang, Siska tidak menemukannya.
"Biarkan, Siska pergi untuk menenangkan diri," pinta Siska.
"Jika kamu bersikeras untuk pergi, maka, tinggalkan Atha bersama Abang," ancam Cakra. Hanya itu satu-satunya cara agar Siska tidak meninggalkannya.
"Tidak akan, jika Abang melakukan itu, maka Siska akan benar-benar menggugat cerai Abang di pengadilan. Dan kita akan berpisah selamanya." Siska justru mengancam Cakra kembali. Dia hanya ingin menenangkan diri.
"Jangan, Jangan lakukan, Abang, akan memperjuangkanmu," Cakra menyingkir dari depan Siska. Mungkin dengan mengizinkan Siska pergi, akan tetap membawa Siska kepadanya lagi. Cakra rela mundur satu sangkah untuk bisa meraih dua langkah bahkan sepuluh langkah untuk mendapatkan Siska kembali.
" Mbak Sari!" panggil Siska, dia akan membawa Sari juga. Siska membiarkan barang-barang. Dia harus memberitahu Sari, agar Sari bisa mengemaskan barang-barangnya.
__ADS_1
Siska membuka pintu apartment dan melihat Sari menunggu diluar.
"Mbak, kita akan pergi, kemasi barang-barang Mbak secepatnya," perintah Siska.
"Baik, Bu," jawab Sari dengan cepat. Dia memasuki apartment, diikuti Siska. Sari sempat melihat Cakra yang frustasi. Namun, Sari tidak ingin ikut campur. Dia segera menuju kamarnya dan memebreakan semua barang-barangnya. Barang-barang Sari juga tidak banyak.
Sari keluar dari kamarnya.
"Mbak Sari, bisa bawakan koper, Siska juga?" pinta Siska.
"Bisa, Bu." Sari mengambil koper Siska dan berjalan keluar duluan.
"Tunggu di lobby," ucap Siska. Dia kembali ke kamarnya dan mengambil tas make up.
"Abang akan mengantar kalian, kamu mau kemana?" tawar Cakra.
"Nggak usah," sewot Siska, dia menuju luar membawa tas kain dan make up. Tas tersebut tidak terlalu berat.
Cakra mendekati Siska. "Papa, akan memenangkan hati Mamamu, kita akan bersama lagi. Papa, akan berjuang, demi kalian," ucap Cakra. Dia kemudian mencium Atha. Cakra bersiap untuk mencium bibir Siska. Namun, Siska memalingkan wajahnya, Cakra hanya bisa mencium pipi Siska.
Siska melangkah meninggalkan Cakra. Cakra menyusulnya dan mengambil tas dari tangan Siska. "Abang, hanya akan mengantar sampai lobby," mohon Cakra. Dia tidak tega melihat Siska membawa tas dan menggendong Atha.
Siska membiarkannya. Dia terus berjalan menuju lift diikuti Cakra. Siska hanya diam, ada perasaan tidak tega padanya.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad
__ADS_1