Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Bertemu Nabila


__ADS_3

Dua bulan berlalu, Siska mulai menerima keadaannya. Dia telah memutuskan untuk menjadi istri yang baik bagi Cakra. Setidaknya itu bentuk terima kasih Siska kepada Cakra karena telah membantu dan menolongnya dari cibiran orang-orang.


Siska tidak pernah meminta Cakra untuk menemaninya ke dokter kandungan untuk memeriksa kehamilan. Kuliah Siska berjalan dengan lancar. Siska pun tidak memberatkan Cakra lagi, untuk mengantar jemputnya ke kampus. Siska mengatakan kepada Cakra bahwa kondisinya benar-benar telah stabil dan dia bisa ke kampus sendiri dengan mobil online.


Perut Siska sudah mulai terlihat, meskipun masih bisa dia tutupi.


Siska keluar dari kampus, waktu menunjukan pukul dua belas. Satu mata kuliah Siska ini memang hanya jadwal jam sepuluh pagi. Bersyukur harinya adalah hari di mana Siska off day saat bekerja di I-Shine.


Siska merasa lapar, akhir-akhir ini dia memang sering merasa lapar, mungkin karena tiga bulan kehamilan telah dia lewati. Dan sekarang nafsu makannya telah kembali. Siska memasuki kantin kampus untuk makan.


"Siska!" panggil Nabila, yang datang dari belakang Siska.


"Nabil!" Siska tidak menyangka mereka akan bertemu di sini.


"Loe, kemana saja, terkahir di pesta pernikahan gue, habis itu di group juga nggak pernah nimbrung lagi," sewot Nabila.


"Gue, sedikit sibuk, rencana gue mau nyusun," alasan Siska, sebenarnya bukan karena itu juga.


"Eh, loe udah mau skripsi?" tabjub Nabila.


"Iya, rencana gue ngejar tiga tahun aja atau tiga tahun setengah," balas Siska


"Loe, sih, gue nggak heran, emang otak loe dari dulu encer," puji Nabila.


"Loe, sendiri gimana kabarnya?" tanya Siska.


"Baik-baik aja, loe, tahu nggak, gue udah hamil, loh," bangga Nabila.


Mereka memilih tempat duduk dan meminta buku menu kepada pelayan. Mereka langsung memesan saja karena sudah sangat lapar. Harap maklum dua orang ibu hamil.


"Wah, selamat, akhirnya," puji Siska. "Terus, loe, ngidam apa aja?" penasaran Siska.


"Kak Nathan yang ngidam, gue, mah, santai aja, mau makan apa aja lewat. Nggak ada morning sickness juga karena semua kak Nathan yang ngalamin," terang Siska.


"Wah, enak banget." Ada sedikit iri yang dirasakan Siska. Andai dia dicintai seperti Nabila oleh Nathan. Pasti akan sangat bahagia. "Coba, gue juga seperi itu," cicit Siska.


"Loe, 'kan nggak hamil," ejek Nabila. Dia masih bisa mendengar perkataan Siska.


Siska hanya tersenyum kaku. Lagian tidak mungkin juga Cakra ngidam karena bukan anaknya.


Mereka mulai makan dengan lahap.


"Enak, apa karena gue lapar, ya," ucap Siska setelah mengunyah makanannya.


"Iya, enak, gue mau nambah, ah," balas Nabila.

__ADS_1


"Gue juga, Nab," pinta Siska.


"Oke, eh, makan loe banyak juga, ya? Ngalahin gue yang hamil," sindir Nabila.


"Gue, juga hamil," celetuk Siska tanpa sadar.


"Eh, serius? Loe juga hamil?" tanya Nabila penasaran.


"Oh, i-tu--,"


"Sis, loe, nggak boleh bohongin gue, loh," ancam Nabila.


"Iya," cicit Siska, dia tidak berani menatap mata Nabila yang pasti menyelidikinya.


"Loe, udah nikah? Kok, Loe nggak ngundang-ngundang kita?" kecewa Nabila.


"I--tu, gimana, ya, gue ngomongnya?" balas Siska, karena terus terang dia juga bingung.


"Gue paham, loe, pasti merahasiakan pernikahan loe, sama kayak gue?" Pikir Nabila pasti Siska melakukan hal yang sama sepertinya.


"Iya,"


"Jadi, loe nikah sama siapa? Emang, loe udah move on dari Bang Cakra?" cecar Nabila.


"Kok, loe tahu gue suka sama bang Cakra?" seingat Siska dia hanya menyimpan perasannya dan tidak ada dia menceritakan kepada orang lain.


"Terlihat sekali, ya?" yakin Siska.


"Hooh," balas Nabila mantap.


"Berati bang Cakra, dulu juga tahu, dong?"


"Kalau itu, nggak tahu gue, karena kadang cowok kurang peka," sahut Nabila. "Jadi, loe nikah sama siapa dan kandungan loe, udah berapa bulan?" lanjut Nabila.


"Gue, hamil empat bulan,"


"Widih, tokcer benar laki loe," salut Nabila. "gue aja nikah empat tahun, baru sekarang dapat," Nabila menghembuskan nafasnya.


"Tapi, yang pentingkan loe, akhirnya hamil," ujar Siska menenangkan Nabila.


Andai Nabila tahu bahwa kehamilan Siska belum waktunya alias tidak dia harapkan. Dan jika Nabila tahu bahwa dia korban pemerkosaan, apa tanggapan Nabila.


"Loe, benar, jadi siapa pria beruntung yang menikahi, Loe?" kepo Nabila.


"Nab, bagian itu, gue belum bisa cerita, suatu saat pasti gue ceritakan," mohon Siska.

__ADS_1


Nabila sempat melihat ada kesedihan dimata Siska. Apa yang telah terjadi kepada Siska?


Nabila teringat saat Siska hadir di pesta pernikahannya dengan pakaian biasa dan seperti kelelahan. Apa yang disembunyikan Siska?


"Ya udah, gue, hormati keputusan, loe. Apapun yang terjadi, loe, bisa minta bantuan gue, kapan pun, gue akan siap buat bantu, loe," bujuk Nabila. Dia menghormati keputusan Siska. "Ya, udah ayo, kita lanjut makan lagi para ibu hamil," ajak Nabila, menghilangkan kecanggungan mereka.


Selesai makan pesanan kedua, Nabila membayar makanan.


"Gue aja," tawar Siska.


"Gue aja, sesekali, zaman SMA, 'kan, loe terus yang sering traktir gue," bantah Nabila. Ya, saat SMA memang Siska yang sering mentraktir mereka, yang jelas Nabila urutan terakhir paling jarang mentraktir.


"Ya, deh," pasrah Siska. Siska sedikit was-was, jika Nabila membahas kado yang dikasihnya saat pernikahan Nabila. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, Siska, 'kan tidak menuliskan namanya di kado itu. Semoga saat Siska menyerarahkannya, Nabila tidak ingat bahwa itu dari Siska.


Mereka menuju, parkiran.


"Loe, pulang sama siapa?" tanya Nabila.


"Gue, naik mobil online aja, loe? Pasti di jemput kak Nathan, ya?" tebak Siska.


"Iya, tapi, kak Nathan agak telat jemput karena masih rapat katanya," cemberut Nabila.


"Nanti, gue temanin, deh. Biar loe, nggak bengong," tawar Siska.


"Ah, Siska emang ter the best," balas Nabila dengan senang hati. Dia langsung memeluk Siska. Dan dapat dirasakan Nabila perut Siska memang sedikit membuncit. "Wah, perut loe, udah terasa banget, ya," ujar Nabila sambil mengusap-usap perut Siska.


"Ya, iyalah, 'kan udah empat bulan," balas Siska tertawa.


"Loe benar, jadi kita cuma jarak satu bulan saja," bela Nabila. "Ntar kalau anak kita beda kelamin, jodohin, yuks," kelakar Nabila.


"Emang, zaman sekarang masih mau jodoh-jodohin," ejek Siska. Kalau Nabila tahu asal usul anaknya, apa Nabila masih mau menjodohkan anaknya dengan anak Siska?


"Iya juga, sih," balas Nabila


Mereka kembali berjalan. Mereka tidak menyadari jika ada motor yang mengebut.


"Awas!" teriak seorang pria. Dia langsung berlari menuju arah Nabila dan memeluknya, hampir saja Nabila terserempet, jika tidak dibantu pria itu yang memeluknya agar tidak jatuh. Hanya saja gerakan pria tersebut membuat Siska justru terjatuh.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2