Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Hamil


__ADS_3

Siska keluar dari ruangan Cakra, dia merasa lega, Cakra telah mengetahui kondisinya, dimana papa Siska telah bangkrut dan meninggal. Setidaknya Siska tidak perlu lagi bersembunyi saat bekerja.


"Gimana? Kenapa kamu dipanggil?" cecar Mila, saat Siska telah kembali ke kamar di mana seharusnya Siska yang membersihkan kamar tersebut.


"Tidak ada apa-apa sih." Siska tidak ingin memceritakan kepada siapapun bahwa dia mengenal Cakra, CEO baru mereka. Siska tidak mau teman-teman kerjanya menjadi iri atau berpikiran lain terhadapnya.


"Masa nggak ada apa-apa, Sis? Sampai-sampai CEO baru nyariin loe?" todong Mila lagi dengan curiga. Dia yakin pasti ada sesuatu. Jika hanya untuk memecat Siska, pasti manager atau supervisor yang duluan memberitahu mereka. Tidak CEO langsung, karena mereka cuma karyawan rendahan.


"Hanya masalah dengan kamar yang gue bersihin kemarin aja. Dia sangat suka dengan kinerja gue. Jadi mau memberikan apresiasi saja secara langsung," bohong Siska. Tidak mungkin dia menceritakan bahwa Cakra mengintrogasi dia karena kenapa Siska bekerja? Bukannya kuliah atau bersenang-senang seperti biasanya.


"Wah, mantap juga pak Cakra, langsung turun tangan memberikan apresiasi," salut Mila.


"Udah, jangan gosip, kerja lagi, yuks." Siska mulai melanjutkan pekerjaannya. Namun tiba-tiba dia mual dan pusing. Bersyukur Mila langsung memegang Siska.


Veronica yang melewati kamar tempat Siska dan Mila, melihat Mila mencoba menyadarkan Siska.


"Sis, bangun ... Sis ...." Mila menepuk-nepuk pipi Siska.


"Kenapa Siska, Mil?" tanya Veronica, dia mengeluarkan minyak kayu putih yang memang selalu dibawanya. Mengoleskan ke leher dan hidung Siska.


"Apa yang terjadi?" tanya Siska saat sadar, dia merasa kenapa ada dipelukan Mila? Dia yakin tadi masih berdiri, bersiap-siap melanjutkan membersihkan kamar.


"Loe, pingsan, gue panik, untung ada mbak Ver," jelas Mila.


"Pingsan?"


Siska berdiri dan lagsung menuju kamar mandi kamar tersebut. Dia muntah di dalam sana. Veronica menggosok-gosok punggung Siska. Setelah berhenti muntah Siska keluar dari kamar mandi, dipapah Veronica. Mila memberikan air putih hangat buat Siska.


"Sis, maaf sekali lagi ... gejala loe ini seperti orang hamil." Veronica kembali memberitahu Siska tentang kecurigaannya.


"Mbak Vero ngaco nih, masa Siska hamil, wong dia belum nikah," heran Mila dengan yang diinformasikan Veronica.


"Menurut mbak, nggak ada salahnya loe periksa, siapa tahu ada penyakit lain ... bukankah lebih cepat diketahui lebih baik? Sebelum penyakit itu menggerogoti tubuh loe," saran Veronica lagi.


"Gue, rasa karena masuk angin dan mungkin juga karena gue agak setress, mbak." Siska masih tidak terima jika dia hamil. Bagaimana nasibnya dan bayi itu nantinya?


Sampai saat ini Cakra bahkan tidak mengingat kejadian itu. Apalagi merasa bersalah.


"Bisa jadi, Sis. Pergantian pemilik memang membuat kita cemas dan was-was, serta tidak tenang," ucap Veronica lagi.


"Iya, gue juga setress, sekalipun kita diberi waktu tiga bulan buat membuktikan diri, tetap aja, kalau atasan nggak suka, pasti nama kita diajuin buat di PHK," ucap Mila memelas.

__ADS_1


"Ayo, kita lanjut kerja lagi, daripada semakin di cap jelek." Siska bersiap membersihkan kamar lagi.


"Loe ... yakin nggak pa-pa Sis?" Veronica memastikan kalau Siska baik-baik saja.


"Iya, Mbak, gue nggak pa-pa," balas Siska meyakinkan Veronica.


"Ntar loe pingsan lagi," canda Mila.


"Loe, udah sarapan, Sis?" tanya Veronica lagi.


"Udah, tenang aja Mil, Mbak, Siska nggak pa-pa, kok, jangan cemas." Siska meyakinkan Veronica dan Mila.


***


Siska sampai di rumah sewanya. Dia merasa lelah sekali. Entah kenapa akhir-akhir ini Siska merasa sering kecapekan. Sepulang kerja Siska langsung ke kampus. Siska mengambil kuliah non reguler sehingga jadwal kuliah lebih banyak sore dan malam. Berbeda di semester pertama, sampai di tahun kedua yang kebanyakan jadwal kuliah pagi.


Kelas yang diambil Siska memang mayoritas adalah para pekerja, sehingga sering tidak hadirpun yang penting mengerjakan tugas-tugas. Nilai ditentukan dari tugas yang dikerjakan. Apa lagi Siska masih mendapatkan beasiswa jadi dia harus tetap mempertahankan nilainya. Jangan sampai beasiswanya dicabut.


"Sis, mandi sana, habis itu kita makan, Mama masak ayam rica-rica dan sayur lodeh," beritahu Widia, begitu Siska memasuki rumah.


"Siap, Ma." Siska langsung ke kamar dan mandi dengan cepat karena dia telah merasa lapar.


Siska kembali makan, namun, hal yang sama masih terjadi. Widia juga bingung tidak biasanya Siska muntah-muntah. Apa lagi ini adalah makanan kesukaannya.


"Sis, kamu kenapa, Nak?" tanya Widia cemas. Dia takut Siska sakit parah dan meninggalkannya.


"Nggak tahu juga, Ma, akhir-akhir ini, Siska sering muntah," jujur Siska.


"Kamu nggak keracunan makanankan?" tanya Widia.


"Entahlah, Ma. Siska juga tidak tahu karena--Siska rasa Siska makan yang normal saja," terang Siska.


"Sebaiknya kita bawa ke dokter saja gimana?" tawar Widia.


"Iya, biar nanti Siska ke dokter saja," putus Siska.


"Biar ada tenaga, Mama bikinkan teh hangat, ya?" Widia langsung merebus air untuk teh hangat Siska.


"Boleh, Ma, terima kasih."


Setelah minum teh hangat dan memaksa untuk memakan masakan Widia. Siska merasa sedikit bertenaga, dia mengeluarkan motor. Siska berencana ke rumah sakit.

__ADS_1


"Sis, jangan naik motor, kamu masih pucat mama lihat, sebaiknya naik ojek online atau mobil online, aja," perintah mama.


"Siska udah nggak pa-pa kok, Ma," elak Siska.


"Mama nggak mau ambil resiko jika tiba-tiba kamu pingsan di jalan." Siska ingat tadi dia pingsan saat bekerja.


Siska telah mengirim pesan kepada dosen yang mengajarnya hari ini, bahwa dia tidak bisa hadir.


Siska memesan ojek online saja karena lebih hemat.


Siska menuju rumah sakit rujukan dari tempatnya bekerja. Siska menuju IGD.


"Keluhannya apa, Mbak?" tanya dokter setelah perawat memeriksa tensi dan berat badan Siska.


"Saya akhir-akhir ini sering merasa lemah Dok, sepertinya saya masuk angin karena sering mual dan muntah ... dan tadi saya sempat pingsan di tempat kerja," jelas Siska.


"Mual dan muntahnya ada waktu tertentu?" tanya dokter IGD.


"Setiap pagi, terus jika saya mencium aroma yang menyengat, Dok," jelas Siska lagi.


"Makan masih normal?"


"Sekarang nafsu makan saya berkurang dan hampir hilang dok."


"Menstruasinya masih lancar?" Siska bingung dengan pertanyaan dokter. Tapi dia segera sadar ke mana arah diagnosa dokter.


"Terakhir sebulan yang lalu," jawab Siska, dia panik, bagaimana jika benar hamil?


"Sebaiknya, ibu saya rujuk ke dokter kandungan, ya," saran Dokter memberikan surat rujukan agar Siska bisa langsung ke bagian obgyn.


Siska berjalan dengan gontai, apa yang harus dilakukannya jika benar dia hamil? Bagaimana cara memberitahu Cakra? Lalu apakah Cakra akan percaya? Sementara Cakra sepertinya tidak mengingat kejadian itu dan bahkan mungkin telah melupakannya.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2