
Cakra terus melajukan mobil dengan kencang. Berharap dia tidak terlambat. Cakra mengingat saat pertama kali dia bertemu Aline. Di hari pertama dia di kampus.
Cakra tengah memperhatikan peta kampus. Saat seorang gadis menyapanya.
"Apa kamu orang Indonesia?" tanya gadis cantik berwajah blasteran. Cakra melirik kepada gadis tersebut. Jantung Cakra berdetak kencang. Dia merasa melihat Nabila. Cakra mencoba menenangkan hatinya. Apakah gadis di depannya bisa membuat dia melupakan Nabila?
"Ya," jawab Cakra datar, menutupi degup jantungnya yang bertabuh dengan kencang, seperti drum yang dipukul.
"Sama, kenalkan aku, Aline. Mau aku bantu antar ke fakultasmu. Aku telah menghafalnya sejak berada di sini," tawar Aline.
"Boleh, terima kasih," ucap Cakra.
"Fakultas apa?" tanya Aline.
"Fakultas Ekonomi," jawab Cakra.
"Ikut aku," ajak Aline, dia menarik tangan Cakra. Cakra membiarkan gadis itu menariknya.
Mereka berjalan menuju fakultas Cakra. Aline gadis yang ceria, selama mereka menuju fakultas, Aline tidak berhenti berceloteh. Cakra akhinya tahu bahwa Aline telah di Amerika selama empat tahun. Dia mengikuti ibunya yang memang orang Amerika.
Aline orang yang terbuka, dia bahkan tidak segan untuk menceritakan kepada orang yang baru pertama dia jumpai bahwa orang tuannya telah bercerai. Aline memilih ikut ibunya pindah ke negara asalnya.
Aline sendiri mengambil mata kuliah seni. Sedangkan Cakra mengambil mata kuliah ilmu administrasi bisnis dan manajemen.
"Apa kamu telah lama tinggal di Amerika?" tanya Cakra.
"Aku telah empat tahun di sini, seperti yang aku katakan, sejak orang tuaku bercerai," ucap Aline blak-blakan. Dia tidak malu untuk mengakui kondisi keluarganya.
Cakra hanya diam, dia tidak tahu harus mengomentari apa. Mereka terus berjalan hingga sampai tujuan.
"Boleh, aku minta nomor kamu? Siapa tahu kita bisa berteman dan aku bisa mengajakmu jalan-jalan," bujuk Aline.
Cakra memberikan nomor ponselnya, Aline memanggil nomor Cakra. "Itu nomor aku, jangan lupa di save, ya," perintah Aline.
Cakra menyimpan nomor Aline dan memperlihatkannya kepada Aline. Aline tersenyum.
Sejak pertemuan pertama tersebut mereka sering bertemu. Entah itu pergi makan, jalan-jalan bahkan Aline juga mengajak Cakra untuk sesekali ke clubs.
Setahun mereka berteman, Cakra merasa bahwa Aline bisa membuat dia melupakan Nabila. Apalagi tingkah dan manjanya Aline seperti Nabila. Cakra merasa mendapatkan pengganti Nabila.
Suatu malam saat sebelum libur tahunan, Cakra memantapkan hati ingin menjadikan Aline kekasihnya. Mereka tengah berada di suatu tempat yang indah dengan pemandangan yang memesona.
"Aline!" panggil Cakra dengan gugup. Aline melirik ke arah Cakra dan tersenyum.
"Ya," jawabnya singkat. Aline sudah merasakan bahwa Cakra pasti menyukainya. Aline sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya kepada Cakra.
Dia memang juga merasa nyaman selama berteman dengan Cakra. Akan tetapi, untuk berpacaran dengan Cakra, dia belum ingin terikat. Aline adalah type gadis bebas. Namun, dia juga tidak ingin kehilangan perhatian Cakra, jika menolaknya.
__ADS_1
"Aku menyukaimu dan ingin kita berpacaran," pinta Cakra, dia mengatakannya dengan cepat.
"Bagaimana dengan menjadi teman special?" tawar Aline.
Cakra tidak mengerti dengan maksud Aline trman special, bukankah itu tetap artinya berpacaran?
"Maksudmu?" tanya Cakra. Aline tidak menjawab dia langsung mencium bibir Cakra. Cakra terkejut. Namun, hanya sebentar, akhirnya dia membalas ciyman Aline. Cakra mengartikan ciuman Aline adalah sebagai pernyataan bahwa mereka telah resmi berpacaran.
Cakra tahu Aline sangat lihai berciuman, artinya Cakra bukan yang pertama. Sedangkan bagi Cakra Aline juga bukan yang pertama karena ciuman pertamanya bersama Siska.
Ciuman Aline semakin menuntut, ditambah Aline telah bergerilya kemana-mana.
"Ayo, kita ke apartmentmu," rayu Aline. Cakra yang memang telah tersulut, langsung menggendong Aline menuju mobil.
Cakra melajukan mobil sedikit tergesa-gesa menuju apartmentnya. Sampai di dalam apartment, Aline langsung kembali mencium Cakra dengan bergairah. Cakra membalasnya, Cakra menggendong Aline menuju ranjangnya.
Sejenak Cakra ragu. Apakah dia harus kehilangan keperjakaannya sekarang?
"Ada apa?" tanya Aline, yang telah setengah bugil.
"Aku ragu, ini tidak biasa," jawab Cakra.
"Oh please, Cak. Ini di Amerika, *** adalah biasa di sini dan sudah menjadi kebiasaan serta tradisi," bujuk Aline.
Dia kemudian membuka celana Cakra. Dia tahu Cakra masih ragu. Aline memberikan service di area sensitif Cakra. Cakra tidak bisa menolak lagi. Aline memberikan alat kontrasepsi kepada Cakra. Meskipun Aline sendiri telah menggunakan KB. Namun, lebih banyak pengaman lebih baik.
Mereka melakukannya beberapa kali, hingga akhirnya tertidur.
Cakra bangun kesiangan, dia melihat Aline masih tidur. Cakra memutuskan untuk membuat sarapan pagi. Aline keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan dan memakai baju kaos Cakra.
Cakra tersenyum melihat tingkah Aline yang menurutnya menggemaskan.
"Jam berapa sekarang?" tanya Aline.
"Jam sebelas, apa kamu memberitahu ibumu, bahwa kau menginap, jangan sampai dia khawatir," saran Cakra.
"Dia tidak akan khawatir, dia selalu sibuk, bahkan dia tidak akan sadar dengan keberadaanku," terang Aline.
"Kalua begitu, apakah kamu tinggal bersamaku?" tawar Aline.
"Tidak, aku type orang yang sangat bosan, jika aku tinggal bersamamu, aku takut akan menjadi bosan denganmu," elak Aline. Cakra hanya diam, dia tidak bisa memaksa Aline karena karakter Aline memang bebas.
"Pastikan saja kamu tidak berhubungan dengan pria lain," ancam Cakra.
Aline yang tengah minum menjadi tersedak. Dia merasa Cakra terlalu serius menganggap hubungan mereka. Aline juga telah memiliki seorang teman special lainnya. Bahkan terkadang dia melakukan one night stand dengan orang yang menarik menurutnya. Tentu saja Cakra tidak boleh mengetahuinya.
Cakra mengusap pundaknya dan memberikan tissu kepada Aline.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, sebaiknya aku mandi dulu dan pulang ke rumah. Sebelum Mommy menyadari bahwa anaknya belum pulang," elak Aline.
Dia langsung kembali ke kamar Cakra dan membersihkan diri.
***
Hubungan mereka berlangsung selama dua tahun. Cheryl tidak menyukai Aline karena dia bisa menilai Aline adalah wanita yang bebas. Bahkan Cheryl sering menasehati Cakra. Namun, Cakra mengabaikannya.
Cheryl sendiri tidak tinggal di apartment yang sama dengan Cakra. Dia memilih apartement luas bersama Jenifer dan Maura. Tentu saja uniy mereka bersebelahan dengan Evan, Rangga dan Ferry. Namun, gaya berpacaran mereka masih batas normal. Ketiga gadis tersebut bertekad tidak akan terjerumus pergaulan bebas di Amerika. Jenifer yang blasteran pun tetap memegang teguh norma-norma. Bisa dikatakan mereka masih berpikiran kuno.
Setahun lagi Cakra akan lulus kuliah, dia sedikit semakin sibuk. Cakra mengunjungi Aline ke rumah orang tuanya. Dia merasa sangat rindu dengan Aline. Dia telah mencoba menghubungi Aline. Namun, tidak dibalas Aline.
Cakra melihat pintu rumah Aline tidak tertutup rapat. Dia langsung masuk ke dalam menuju kamar Aline.
Cakra mendengar suara orang tengah bercinta.
Apakah ibu Aline sedang di rumah bersama kekasihnya?
Cakra mengabaikan saja, toh, sudah biasa di Amerika. Di tetap menuju kamar Aline. Akan tetapi, suara tersebut semakin terdengar jelas. Apalagi pintu kamar Aline juga sedikit terbuka, sehingga suara-suara tersebut semakin keras.
Perasaan Cakra menjadi tidak nyaman, dia membuka cepat pintu kamar Aline. Alngkah kaget Cakra saat mendapati Aline yang tengah bugil dan berada di atas tubuh seorang pria yang juga sama bugilnya.
Gerakan Aline terhenti saat pintu dibanting Cakra. Aline melirik ke belakang dan dia melihat tatapan Cakra yang marah. Cakra langsung pergi dari kamar Aline.
"Cakra tunggu!" Aline langsung turun dari tubuh pria bule yang juva merupakan teman specialnya. Dia menyambar selimut dan memakainya. Kemudian mengejar Cakra.
"Aline, apa kau gila!" teriak pria bule dalam bahasa inggris. "Aline, yang benar saja, apa kau akan meninggalkanku dalam posisi gantung?" kesal si pria.
Aline mengabaikannya. Aline menarik tangan Cakra.
"Cakra, kamu mau ke mana?" Cakra menghentikan langkahnya.
"Kita tidak akan bertemu lagi, jangan pernah menghubungiku. Aku pernah memperingatkan padamu untuk tidak berhubungan dengan pria lain," ancam Cakra.
"Tapi, dia juga teman specialku sebelum kamu." Aline mencoba membela diri.
"Kalau begitu, apakah kau bisa memilih satu saja?" Cakra sengaja bertanya karena dia yakin Aline tidak akan bisa. Dan memang benar Aline hanya diam.
Cakra meninggalkannya, sejak saat itu Cakra menghindari Aline dan fokus dengan kuliahnya. Sejak saat itu Cakra tidak lagi berpacaran.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
__ADS_1
Tiktok : lady_mermad