
Cakra tengah rapat bersama divisi marketing. Akhir-akhir ini Cakra sangat sering tersenyum. Dia merasa bahagia kehidupan rumah tangganya berjalan lancar. Dan Siska tidak lagi membahas tentang perpisahan maupun meminta cerai dengannya.
Mereka bahkan belum membicarakan tentang resepsi pernikahan yang akan mereka adakan. Cakra akan membiarkan Siska memilih tema resepsi pernikahan mereka nantinya.
Sebenarnya mama dan papanya telah sering bertanya kepada Cakra kapan mereka akan menggelar resepsi pernikahan. Candra ingin Siska diperkenalkan kepada rekan bisnis mereka. Jadi, saat ada pertemuan dengan rekan bisnis Cakra bisa membawa Siska sebagai pendampingnya.
Mungkin nanti malam, setelah pulang kerja, Cakra akan membicarakannya dengan Siska secara serius. Cakra tersenyum saat mengingat saat bersamanya dengan Siska dan putra mereka. Rasanya Cakra ingin selalu pulang lebih awal.
Lena, sekretaris Cakra juga ikut menemani Cakra rapat dengan divisi marketing. Dia mencatat semua hasil diskusi dan paparan rencana kerja oleh Manager Marketing. Lena, sedikit heran karena CEO mereka jafi sedikit ramah dan sering tersenyum dua bulan ini. Jika tidak dia hanya bersikap kaku dan datar.
Lena telah mendengar desas-desus yang mengatakan bahwa Cakra telah memiliki anak dengan seorang mantan house keeper di I-Shine hotel. Namun, Lena tidak tahu siapa yang dimaksud dan apakah mereka menikah atau hanya kumpul kebo? Mengingat Cakra kuliah di luar negeri dan tentu itu adalah hal biasa dilakukan di sana. Atau karena dia menyukai house keeper tersebut dan mereka tidak mendapat restu orang tua sang CEO? Karena status yang sangat jauh berbeda.
Cakra tidak memperhatikan jalannya rapat dengan fokus karena fokusnya melihat-lihat foto sang buah hati dan istrinya yang menggemaskan. Cakra kembali memusatkan perhatiannya kepada manger marketing yang tengah mempresentasikan rencana kerja bulan depan serta evaluasi kerja bulan ini.
Notifikasi dari ponsel Cakra berbunyi, Cakra melihatnya dan itu dari Aline. Tumben wanita itu menghubunginya, setelah hamoir dua tahun meΕeka tidak berkomunikasi. Awalnya Cakra mengabaikannya. Namun, masuk lagi pesan dan Cakra sempat melihat pesan tersebut berupa foto.
Cakra penasaran dan membuka ponselnya untuk melihat apa foto yang dikirim oleh Aline. Cakra melotot saat melihat foto yang dikirim Aline. Cakra tahu bahwa Aline ternyata di Indonesia dan Cakra sangat mengenal sofa yang diduduki Aline.
Berani sekali wanita ini kembali ke Indonesia dan sekarang berada di apartmentnya.
"Brengsek!" maki Cakra, membuat peserta rapat menjadi ketakutan. Mereka pikir Manager mereka melakukan kesalahan dalam mempresentasikan hasil kerja mereka. Cakra sendiri lupa bahwa dia tengah berada di ruang rapat.
"Maaf, Pak," cicit manager marketing ketakutan. Dia melirik ke infokus, apakah ada yang salah dari materi yang ditampilkannya? Setelah dilihat, dia yakin tidak melakukan kesalahan.
"Bukan, kamu, aku ada urusan mendadak silahkan kalian lanjutkan dan nanti kita bahas kembali. Lena catat semuanya," perintah Cakra. Dia langsung meninggalkan ruangan rapat.
Cakra menuju parkiran dan segera mrlajukan mobil dengan kencang.
Siska? Bagaimana dengan Siska? Jangan sampai Siska salah paham dan meninggalkannya. Hidup mereka telah bahagia selama dua bulan terakhir ini. Bahkan Cakra telah memutuskan hidup menua bersama Siska. Sampai anak-anak mereka dewasa, bahkan saat mereka memiliki cucu.
Cakra mengumpat, kenapa selalu di saat penting dia terjebak macet. Cakra membunyikan klakson dengan tidak sabaran. Bersyukur macetnya tidak lama, Cakra kembali melajukan mobilnya. Namun, seorang anak laki-laki remaja, tidak memperhatikan bahwa lampu lalu lintas trlah berubah warna. Dan Cakra trlah menjalankan mobil, membuat si anak terkejut dan jatuh. Cakra ingin meninggalkan anak tersebut karena terburu-buru. Akan tetapi, seseorang telah mengetuk kaca mobilnya meminta Cakra untuk keluar dari mobil.
"Maaf, Pak, saya buru-buru," beritahu Cakra.
__ADS_1
"Tidak bisa, kamu harus membawa anak itu le dokter," paksa si bapak.
"Tapi, saya tidak menabraknya, dia terjatuh sendiri," elak Cakra membela diri.
"Yang jelas, dia jatuh karena melihat mobil sampeyan yang akan berjalan," kekeh si bapak.
"Baiklah, bawa dia masuk," putus Cakra. Semakin dia berdebat semakin akan memperunyam suasana dan akan semakin lambat dia untuk sampai di apartment.
Pria itu memapah anak remaja masuk ke dalam mobil Cakra. Sebenarnya luka si anak tidak serius. Hanya luka ringan aliad lecet saja. Cakra mrlajukan mobil dan mengantarkan anak tersebut ke rumah sakit terdekat. Cakra memperhatikan jalan dengan seksama berharap ada klinik yang langsung dia jumpai.
Cakra terpaksa menelan kekecawaan karena hampir sepanjang jalan jalan menuju apartmentnya, dia tidak melewati klinik.
"Siapa namamu?" tanya Cakra.
"Bimo, Om," jawab si anak remaja berusia sekitar tiga belas tahun dengan takut.
"Bimo, setelah, Om, mengantarmu ke klinik, kamu bisa pulang ke rumahmu sendiri dengan naik mobil atau ojek online, 'kan?" tanya Cakra. Karena tidak memungkinkan baginya untuk mengantar anak itu ke rumahnya.
"Bisa, Om," jawab Bimo.
Cakra menyuruh Bimo untuk duduk di kursi tunggu, sambil dia mendaftar. Cakra menuju ke meja petugas.
"Siapa yang sakit, Pak?" tanya perawat penerima ramah.
"Anak iti terjatuh, karena terkejut," Jawab Cakra.
"Sillahkan, isi data, dulu, Pak." perawat mmeberikan formulis kepada Cakra dengan cepat Cakra memanggil Bimo.
Bimo menuju ke arah Cakra. Cakra meminta anak itu mengisi biodatanya. Sednagkan wali. Cakra mengisi namanya.
Setelah selesai menuisi formulir, Cakra menyerahkan kepada perawat.
"Tunggu, sebentar ya, Pak. Ini nomor antriannya, setelah pasien dalam ruang itu keluar, langsung giliran Bimo," tunjuk perawat ke sebuah pintu yang ada di depan mereka.
__ADS_1
Cakra dan Bimo menunggu, tidak lama pasien dari ruangan tersebut keluar.
"Ayo, pasiennya telah keluar," ajak Cakra. "Apa kau bisa berjalan sendiri?" tanya Cakra.
"Bisa, Om, lukanya tidak parah," jawab Bimo. Dia pun merasa bahwa, dia baik-baik saja. Tidak dibawa berobat ke klinikpun tidak masalah.
Bimo mengikuti Cakra yang telah duluan berjalan memasuki sebuah ruangan. Di sana telah menunggu seorang dokter. Dan perawat yang menerima laporan tadi masuk.membawa data Bimo.
"Bimo, silahkan duduk di sini," tunjuk dokter ke brangkar. Bimo mengikuti perintah dokter dan duduk.
Sementara menunggu Bimo diperiksa, Cakra mencoba menghubungi Siska. Namun, berkali-kali mencoba, Siska tidak mengangkat teleponnya.
Apa yang terjadi?
Cakra menjadi khawatir.
Siska please, angkat telepon Abang!
"Dia baik-baik saja, Pak. Kami telah membersihkan lukanya," ucap Dokter. Cakra mematikan ponselnya.
Mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Cakra membayar. Setelah itu dia berbicara kepada Bimo.
"Bimo, Om, tidak bisa mengantarmu pulang. Ambil ini, naik taxy atau apa saja agar kamu bisa pulang," Cakra mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikan Bimo uang satu juta untuk membayar ongkos taxy.
"Terima Kasih, Om," sahut Bimo bahagia melihat lembaran uang merah yang diterimanya.
Cakra langsung keluar dari sana, dan membawa mobil menuju apartment.
πππ
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad