Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Kecelakaan


__ADS_3

"Siska! Kamu di mana? Jangan tinggalkan Abang," mohon Cakra. Dia memukul tepi ranjang Siska, meluapkan emosi karena kehilangan Siska.


Cakra bangkit dan melihat pakaian Siska, masih ada. Berarti Siska tidak pergi. Cakra kembali mencoba menghubungi mamanya maupun Cheryl. Akan tetapi, masih sama, di antara mereka tidak ada yang menjawab teleponnya.


Cakra keluar dari apartment, bisa saja Siska dan anaknya di rumah orang tuanya. Namun, apakah Siska sudah sadar?


Cakra menuju rumah orang tuanya, jalanan sangat macet karena jam seperti ini, orang-orang kembali ke rumah mereka. Jalan dipenuhi lautan kendaraan yang tidak sabaran untuk sampai di tujuan masing-masing, termasuk Cakra. Perasaannya tidak enak dan merasa bimbang.


Apakah Siska dan bayi mereka meninggalkannya? Jika itu terjadi Cakra tidak bisa memaafkan dirinya. Dia belum meminta kesempatan kedua kepada Siska.


Cakra menunggu dengan tidak sabaran, agar mobil yang dikendarainya bisa bergerak. Cakra melihat pengendara yang melawan arus, membuat jalanan semakin macet. Cakra mengumpat dengan kesal kepada pengendara minus akhlak tersebut.


Langit berubah menjadi jingga, matahari bergerak lambat ditutupi kabut. Tiba-tiba kilat menyambar di ujung langit. Perlahan rintik hujan turun dengan malu-malu. Semakin lama, semakin deras. Para pengendara sepeda motor, mulai menyingkir dari jalanan. Mereka mulai berteduh di bawah ruko-ruko maupun toko-toko yang telah tutup.


Mobil Cakra bergerak perlahan layaknya siput berjalan. Beberapa pengendara motor masih ada saja yang membandel. Mereka mencoba menyalip antrian mobil yang menunggu untuk bisa bergerak.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Cakra bisa melajukan mobil dengan normal. Cakra masih berusaha menghubungi Cyntia dan Cheryl. Akan tetapi, tidak ada satupun di antara mereka yang mengangkat teleponnya.


Hujan semakin deras membasahi bumi. Awan gelap pun membuat suasana yang seharusnya belum terlalu malam menjadi sangat gelap. Cakra terus melajukan mobil dengan menambah kecepatannya. Cakra tidak melihat ada truk yang melaju dengan kencang.


Cakra membanting setir ke kiri untuk menghindari truk, agar mereka tidak bertabrakan. Cakra menabrak pembatas jalan, membuat mobil cukup hancur. Cakra masih sadar dan meraba keningnya yang berdarah. Cakra berusaha untuk membuka pintu. Namun, tidak bisa terbuka, belum lagi, saat mencoba menggerakan kaki, Cakra merasakan sakit luar biasa.


Dia mencoba mencari ponselnya, dia ingin menghubungi papanya. Namun, ponselpun tidak diketahui di mana terjatuh. Kepala Cakra pusing karena di keningnya masih mengalirkan darah. Cakra menahan agar tetap sadar.


Dia harus segera mencari Siska dan bayinya. Cakra harus memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Cakra mengabaikan rasa sakit di kaki dan keningnya dia terus mencoba untuk menarik kakinya. Semakin Cakra mencoba, perasaan sakit yang tak tertajankan muncul. Jalanan terlihat sepi karena derasnya hujan. Mereka yang lewatpun tidak ada yang berhenti untuk menyelamatkan Cakra. Cakra hanya pasrah dan berdo'a agar ada yang menghubungi polisi dan segera menyelamatkannya.


***


Candra mendapatkan telepon dari pihak kepolisian, bahwa Cakra mengalami kecelakaan. Candra sendiri menuju rumah sakit untuk menjemput Cyntia. Karena berita tersebut, dia merubah arah menuju tempat kejadian.


Candra melihat jalan tempat Cakra kecelakaan, telah di penuhi polisi dan ambulance. Sekitaran jalan tersebut juga telah diberi garis polisi.


"Maaf, Pak. Saya orang tua Cakra, tadi Bapak menghubungi saya, apa yang terjadi dengan putra saya?" tanya Candra kepada salah satu petugas polisi.


"Sepertinya, dia menghindari truk yang melaju kencang, sehingga membanting setir ke kiri dan menabrak pembatas jalan," terang Polisi.


"Bagaimana kondisinya, Pak?" tanya Candra lagi.

__ADS_1


"Kami sedang mengevakuasinya, sepertinya dia terjepit," lanjut Polisi.


"Saya ingin melihatnya, Pak," izin Candra.


"Silahkan," ucap Polisi.


Candra memperhatikan petugas yang tengah mengeluarkan Cakra. Kondisi mobil cukup parah. Bersyukur airbag mobil bekerja dengan baik sehingga tubuh Cakra tidak mengalami luka yang parah. Hanya saja kaki Cakra terjepit dan keningnya mengalirkan darah.


Candra tidak bisa melihat dari dekat karena Cakra tengah diselamatkan oleh petugas. Cukup lama proses evakuasi, akhirnya Cakra bisa di keluarkan dan langsung di larikan ke rumah sakit. Candra meminta untuk dibawa ke rumah sakit NFL.


Candra mengikuti ambulance menuju rumah sakit. Tim medis telah menunggu dan mengangkat tubuh Cakra. Luka di kaki Cakra cukup parah. Namun, Cakra masih sadar.


Cakra melihat Candra di sampingnya.


"Siska!" ucap Cakra. Dia ingin bertanya tentang Siska.


"Kenapa dengan Siska?" tanya Candra. Karena dia tidak tahu dengan maksud Cakra.


"Di mana dia?" lanjut Cakra terbata-bata, dia melawan rasa kantuk yang mulai menyerang. Darah di kakinya semakin banyak mengalir.


"Jangan pikirkan apa-apa, Dokter akan menyembuhkanmu," ucap Candra menenangkan putranya.


"Pasien harus dioperasi," jelas Dokter yang menangani Cakra.


"Lakukan yang terbaik, Dok. Selamatkan putra saya," mohon Candra.


"Kami akan melakukan yang terbaik, Pak. Berdo'alah agar operasinya berhasil," lanjut Dokter lagi.


Candra menunggu di luar sampai operasi Cakra selesai. Namun, dia ingat bahwa keluarganya harus tahu tentang apa yang menimpa Cakra. Candra mencoba menghubungi Cyntia. Namun, Cyntia tidak mengangkat telepon. Candra mencoba menghubungi Cheryl, masih sama.


Akhirnya Candra memutuskan untuk menuju kamar rawat inap Siska. Candra berlari menuju ruangan itu. Berharap setelah memberitahu istrinya mereka bisa menunggu kembali saat operasi Cakra selesai.


Candra memasuki kamar Siska dengan tergesa-gesa.


"Sayang!" heran Cyntia saat melihat suaminya yang basah dan sepertinya ada noda darah yang menempel di pakaiaannya.


Semua heran melihat kondisi Candra yang jauh dari kata rapi.

__ADS_1


"Siska telah sadar?" tanya Candra, dia tidak tahu jika Siska telah sadar.


"Oh ya ampun, aku lupa memberitahumu," ujar Cyntia dengan perasaan bersalah.


"Om, apa yang terjadi?" tanya Siska.


"Sis, jangan panggil om, panggil papa saja," sanggah Cyntia. Siska hanya tersenyum.


"Papa, kenapa basah seperti itu? Juga ada noda darah? Apa Papa terluka?" cecar Cheryl.


"Oh, itu," Candra ragu untuk memberitahu bahwa Cakra mengalami kecelakaan. Apalagi di depan Siska yang baru siuman.


Cheryl dan Cyntia mendekati Candra, mereka ingin memeriksa bahwa laki-laki tercinta mereka baik-baik saja.


"Kenapa, Papa basah?" tanya Cheryl lagi. Dia tengah memeriksa pakaian Candra. Memang ada noda darah tapi tidak melihat adanya luka.


"Papa, tidak apa-apa. Tadi, Papa hanya menolong korban kecelakaan. Sayang ayo, kita keluar sebentar," ajak Candra sambil menggandeng Cyntia keluar dari dalam. Cyntia pasrah mengikuti suaminya.


Cheryl yang penasaran juga ikut keluar. Mila, Danil, Maura dan Jenifer hanya bengong melihat situasi tersebut.


"Ada apa, sih, Mas?" tanya Cyntia setelah mereka di luar dan cukup jauh dari pintu kamar rawat inap Siska. Dia akan memnaggil suaminya dengan sebutan 'Mas' jika serius.


"Cakra mengalami kecelakaan!"


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Sambil nunggu author up, boleh donk mampir ke karya temanku besties!


...BENIH YANG KAU TINGGALKAN...



Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2