Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Naas


__ADS_3

"Ibu tahu kemana mereka pergi?" ulang Cakra karena tidak mendapat jawaban dari pemilik rumah.


"Mana saya tahu mereka pergi kemana ... yang penting mereka tidak menyusahkan orang lain," sewot pemilik rumah.


"Kamu siapa mereka?" pemilik rumah menilai penampilan Cakra.


"Siska istri saya!" Cakra tidak tahu kenapa dia mengucapkan kata-kata tersebut?


"Dilihat dari penampilanmu, sepertinya kamu orang kaya, lalu kenapa ... jika dia istrimu ... kenapa mereka tinggal di sini?" curiga pemilik rumah.


"Saya permisi dulu." Cakra meninggalkan pemilik rumah, tidak tahan dengan tuduhannya.


Cakra melajukan mobil dengan santai. Dia memperhatikan jalanan siapa tahu, dia bisa berjumpa Siska. Cakra khawatir jika terjadi apa-apa dengan Siska dan ibunya. Apalagi saat ini Siska tengah hamil.


Hujan turun membasahi bumi, semakin lama semakin lebat. Jarak pandang Cakra terbatas. Dia semakin mencemaskan keadaan Siska dan ibunya. Di mana mereka akan tinggal dan bermalam? Cakra yakin pasti telah terjadi sesuatu dengan Siska. Kalau tidak pasti dia telah membayar sewa rumahnya.


Cakra tidak habis pikir kenapa Siska tidak memberitahunya? Atau Nabila, sahabatnya yang ada di Indonesia karena Cheryl dan yang lainnya kuliah di luar negeri. Hampir satu jam Cakra berputar di sekitaran lingkungan rumah sewa Siska. Namun, dia belum melihat keberadaan Siska.


Tiba-tiba Cakra seperti melihat dua orang wanita dengan perbedaan usia yang jauh. Cakra menghentikan mobilnya. Keluar menghampiri dua orang wanita tersebut.


"Siska!" panggil Cakra, namun, dia harus menelan kecewa karena dua wanita tersebut bukan Siska dan ibunya.


Cakra kembali ke mobil dengan baju yang sedikit basah. Cakra berpikir, kira-kira kemana Siska akan pergi membawa ibunya? Cakra melewati ruko-ruko yang telah kosong. Dia kembali melihat dua orang wanita dan tujuh pria yang sedang mencoba melecehkan wanita muda. Wanita tua mencoba menghalanginya. Salah satu pria memukul wanita tua.


Cakra segera menghubungi polisi dan memberitahukan kejadian dan lokasinya. Setelah itu Cakra keluar dari mobil dan menolong para wanita tersebut.


"Apa yang kalian lakukan, lepaskan mereka!" hardik Cakra. Dia belum bisa melihat dengan jelas siapa para wanita tersebut.


"Abang?" Cakra tahu itu adalah suara Siska. Siska mencoba melepaskan diri dari pegangan dua pria. Namun, tenaganya kalah kuat.


Cakra berkelahi dengan empat orang pria. Dua pria tersebut membawa Siska dan menidurkannya di sebuah meja kayu yang ada di sana. Satu pria mencoba melepaskan celana jeans yang dipakai Siska. Ibu Siska yang tidak ingin putrinya diperkosa memukul si pria yang mencoba melepaskan celana jeans Siska dengan kayu.


Si pria yang dipukul dan mengeluarkan darah kalap membuat Widia ketakutan.


"Dasar wanita tua." Si pria mengambil kayu yang dipegang Widia. Dia memukulkannya kepada Widia dengan bertubi-tubi.


"Cukup, jangan pukul, Mama," mohon Siska, dia semakin memberontak. Namun, dia juga dipukuli oleh dua pria tersebut.


Widia terjatuh dan tubuhnya terjerembab ke besi runcing, sehingga mengenai perut Widia.


"Mama!" teriak Siska histeris. Si pria yang memukul Widia terdiam, begitu juga yang lainnya.

__ADS_1


Bertepatan polisi datang, para pria yang mencoba melukai Siska mencoba kabur. Namun, mereka tidak sempat. Polisi menangkap mereka.


Siska melihat darah yang keluar dari tubuh ibunya. Dia memeluk ibunya. Cakra juga babak belur melawan empat pria. Cakra menuju Siska dan ibunya. Siska menangis dan mengguncang tubuh ibunya agar bangun.


"Mama, bangun, jangan pergi," histeris Siska, dia masih mengguncang tubuh Widia, berharap Widia sadar. Melihat darah yang semakin banyak membuat Siska pingsan. Beruntung Cakra memegang Siska cepat.


Ambulance datang dan membawa tubuh Widia. Cakra menggendong Siska, membawanya masuk ke mobilnya. Cakra mengikuti Ambulance, membawa Siska dan ibunya ke rumah sakit terdekat.


Para preman telah ditangkap dan diamankan oleh polisi. Widia tidak bisa diselamatkan. Dokter memeriksa kondisi Siska. Memasangkan infus ke tubuh Siska.


Polisi datang dan meminta keterangan dari Cakra. Setelah memberikan keterangan kepada polisi, Cakra kembali ke kamar rawat inap Siska dan bertanya kepada perawat yang baru saja mengganti pakaian Siska dengan baju rumah sakit.


"Bagaimana keadaaanya, Sus? Kenapa dia belum sadar dari pingsannya?" tanya Cakra.


"Kami belum bisa pastikan, Pak ... jadi kita harus menunggu dulu," jawab perawat.


"Bagaimana dengan kandungannya?" tanya Cakra lagi.


"Kandungannya baik-baik saja. Dokter telah memberikan obat di infusnya ... saya pamit dulu, Pak." Setelah menjelaskan kondisi Siska, perawat meninggalkan Cakra dan Siska.


Cakra memandang wajah Siska, wajah dan di beberapa bagian tubuh lainnya memar. Sepertinya Siska mencoba dengan sekuat tenaga. Namun, tidak bisa. Cakra yang melawan empat orang saja babak belur. Apalagi Siska yang di keroyok tujuh orang sebelum Cakra datang.


Sekarang Cakra bingung, bagaimana cara untuk menjelaskan kepada Siska tentang ibunya?


Mereka harus melakukan tindakan extra, agar Siska dan bayinya tetap selamat.


Cakra mengurus pemakaman ibu Siska. Juga memastikan para preman yang menyebabkan ibu Siska terbunuh, mendapatkan hukumannya.


Telah berlalu selama tiga hari dari kejadian. Siska masih belum sadar dari komanya. Cakra membayar perawat untuk merawat Siska karena dia tidak bisa full menjaga Siska.


Perawat memberitahu Cakra, jika Siska telah sadar. Cakra segera ke rumah sakit. Dia melihat Siska sedang diperiksa dokter.


"Sis!" panggil Cakra.


"Abang, kenapa ke sini?" tanya Siska heran? Cakra juga heran kenapa Siska seperti tenang saja? Tidak kelihatan sedih?


"Tentu saja untuk membawamu pulang?" jawab Cakra.


"Kenapa Siska harus pulang sama Abang? Papa sama mama Siska mana? Abang lagi libur kuliah, ya?" tanya Siska.


Cakra melirik dokter, meminta penjelasan. Dokter keluar dan mengajak Cakra berbicara di luar.

__ADS_1


"Sepertinya Siska mengalami amnesia Lakunar," beritahu dokter.


"Apa itu dokter?" bingung Cakra.


"Amnesia lakunar dimana pengidap amnesia ini mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak. Jadi hanya sebagian ingatannya yang hilang, sepertinya dia menghilangkan kondisi yang membuat dia trauma. Dia tidak mengingat kejadian tiga hari yang lalu. Sepertinya dia belum mengetahui kematian ibunya," terang dokter.


"Apa yang harus saya lakukan dok?" tanya Cakra


"Buatlah dia nyaman dulu, jangan memaksanya untuk mengingat kejadian lalu," saran dokter.


"Apa dia tahu kalau sedang hamil, Dok?" tanya Cakra lagi.


"Dia belum menyadarinya. Perlahan beritahu dia," usul dokter.


Cakra ingat cerita Sandi Santoso jika ayah Siska bangkrut dan bunuh diri. Sepertinya Siska melupakan hal itu, juga melupakan pemerkosaan yang dialaminya dan juga kematian ibunya.


Cakra kembali memasuki ruangan Siska, bersama dokter. Dokter membaca hasil periksaan Siska.


"Hasil pemeriksaannya bagus, mudah-mudahan besok dia telah bisa pulang." jelas dokter. Dokter dan perawat meninggalkan ruangan.


"Kenapa Siska ada di rumah sakit, Bang?" tanya Siska, "Abang sedang libur kuliah?" lanjut Siska. Dia menatap Cakra, bahagia karena bertemu dengan Cakra. Sejak kuliah Cakra jarang kembali pulang ke Indonesia.


Siska pikir Cakra, menyibukan diri karena ingin melupakan Nabila yang Cakra ketahui telah berpacaran dengan Nathan.


"Kamu benar tidak ingat yang terjadi?" Cakra memastikan.


"Tidak, oh, Siska melupakan sesuatu," ucap Siska sambil memukul keningnya, "seharusnya Siska membantu Nabila, dia sedang mengikuti lomba design," beber Siska. "Apa Abang pulang ke sini karena ingin memberi dukungan pada Nabila?" cecar Siska.


Dia sedih karena Cakra masih saja mengingat Nabila.


Andai abang tahu bahwa Nabila telah menikah dengan Nathan secara diam-diam? Apakah abang akan tetap berharap kepada Nabila atau melupakannya?


"Sis, sebaiknya kamu istirahat saja dulu, ya. Jangan memikirkan yang lain," pinta Cakra.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2