Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Obsesi


__ADS_3

"Terima kasih my soul," ucap Cakra mencium bibir Siska sekilas, setelah sesi percintaan mereka yang menggairahkan.


Siska hanya diam, dan mendekatkan wajahnya ke dada bidnag Cakra. Mereka tidur sambil berpelukan, hanya untuk memulihkan tenaga.


Awan semakin pekat dan udara malam semakin dingin. Siska merapatkan tubuhnya ke Cakra, berharap suhu tubuh Cakra menghangatkannya.


Atha mengeliatkan badannya dan mulai mengeluarkan suara rintihan karena tidurnya yang mulai tidak nyaman. Siska refleks membalikan tubuhnya menghadap Atha. Dia menggeser putranya, agar lebih dekat dan bisa menyusui Atha. Atha menghisap sebentar kemudian melepaskannya. Dia kembali merengek.


Cakra akhirnya turun dari ranjang dan memakai handuknya kembali. Dia tahu Siska pasti sangat kecapekan. Cakra memeriksa Atha, ternyata popoknya sudah basah. Cakra mencari popok baru dan menggantinya.


Atha kembali merasa nyaman, sebenarnya Atha sudah bisa di tidurkan kembali ke atas tenpat tidur. Akan tetapi, Cakra lebih senang menggendongnya. Dia membawa Atha dalam gendongannya sambil berjalan mengelilingi kamar. Itu dilakukan untuk menghilangkan rindunya.


Ternyata Atha tidak begitu suka di gendong, dia merasa tidurnya terganggu. Dia kembali merengek dengan terpaksa Cakra meletakan tubuh mungil Atha di atas kasur. Dan mendekatkannya ke tubuh Siska.


Cakra melihat Atha seperti kehausan, dia mendekatkan mulut Atha agar bisa menyusu.


***


Pagi ini baik Siska maupun Cakra bangun dengan tubuh lebih fresh. Siska meminta Sari untuk memandikan Atha.


"Sis, kita pulang, ya!" bujuk Cakra saat Siska memasangkan dasi di leher Cakra. Siska hanya diam karena dia sibuk membuat simpul untuk dasi.


"Atau kamu lebih suka tinggal di sini? Kalau kamu mau tinggal di sini. Abang akan pindah juga di sini?" tambah Cakra.


"Nggak, Siska lebih suka kita tinggal sendiri dengan keluarga kecil kita," tolak Siska.


"Oke, Sore pulang kerja nanti, kamu siap-siap, ya. Abang mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap Cakra penuh rahasia.


"Kemana?" Siska penasaran.


"Ada, deh." Cakra mencubit hidung mungil Siska.


"Apaan, sih, Bang." Siska memegang hidungnya.


"Ayo. Kita makan dulu, sebelum Mama dan Papa mencari kita," ajak Cakra. Mereka keluar dari kamar. Siska melihat Sari telah selesai memandikan dan memakaikan baju untuk Atha.


Cakra menggendong putranya dan mereka menuju meja makan. Di sana telah ada Candra dan Cyntia.


"Mama, pikir kalian tidak akan sarapan," sindir Cyntia. Seketika wajah Siska memerah, dia teringat kejadian semalam.


"Sarapan dong, Ma. Ntar lapar dan sakit gara-gara nggak makan," balas Cakra. Candra tertawa mendengar perkataan Cakra.

__ADS_1


Cakra meletakan Atha di stroller yang ada di samping kursinya. Mereka makan dengan lahap. Cakra kemudian pamit untuk ke kantor, dia sedikit terlambat karena teridur pulas.


Cakra mencium istri dan anaknya kemudian langsung memasuki mobil. Mobil telah diletakkàn oleh sopir keluarga mereka. Cakra melambaikan tangan ke arah Siska sebelum menjalankan mobil.


Pagi ini begitu cerah secerah hati Cakra, dia tidak sabar untuk bertemu istri dan anaknya lagi nanti sore. Padahal dia baru beberapa menit meninggalkan mereka. Jalan raya seperto biasa sangat padat, semua berlomba-lomba agar sampai duluan ke tempat tujuan masing-masing.


Cakra sampai di kantor dan langsung menuju ruangannya. Cakra terkejut saat seorang wanita duduk manis di sofa ruangannya.


"Aline! Apa yang kamu lakukan di sini?" hardik Cakra, saat mengetahui bahwa wanita yang tengah duduk manis di sofanya adalah Aline.


Aline memakai dress berwarna gold dengan lengan spaggetti dan high heel berwarna gold juga. Aline seperti biasa kelihatan cantik.


"Tentu saja menunggu kekasihku datang," rayu Aline dengan tidak tahu malu. Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri Cakra. Aline mencoba mencium dan memeluk Cakra, dengan cepat Cakra menghindar.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku pikir kau telah kembali ke Amerika," bentak Cakra. Dia tidak menyangka Aline masih di Indonesia.


"Aku tidak akan kembali ke Amerika sebelum mendapatkanmu dan mengajakmu kembali bersamaku," tekad Aline. Dia harus memiliki Cakra kembali.


"Jangan berkhayal Aline, kau tahu aku tidak akan kembali padamu. Sejak kau berkhianat aku tidak akan mau kembali bersamamu lagi. Sekarang pergilah," usir Cakra. Dia membuka pintu ruangannya, agar Aline keluar dari sana.


"Aku tidak akan kemana-mana sebelum kau ikut bersamaku." Aline kembali duduk manis. Dia harus bisa membujuk Cakra. Dia tahu Cakra orang yang tidak akan tega, apalagi jika itu menyangkut dirinya.


"Kalau begitu, kau membuatku tidak memiliki pilihan lain," ancam Cakra. Dia menghubungi Lena, tidak lama Lena langsung masuk ke dalam ruangan Cakra.


"Siapa yang mengizinkan wanita ini masuk ke dalam ruanganku?" bentak Cakra.


"Maaf, Pak. Nona Aline mengatakan bahwa dia adalah kekasih anda, dan mengancam akan memecat saya jika tidak mengizinkan dia menunggu anda di dalam," jelas Lena dengan terbata-bata.


"Apa semua wanita yang mengaku menjadi kekasih saya akan kau izinkan untuk masuk ke dalam ruanganku?" Cakra menatap nyalang kepada Lena. Membuat Lena semakin ketakutan. Jika boleh memilih Lena ingin menghilang dari sana, dari situasi ini. Tidak pernah Lena melihat Cakra semarah ini kepadanya.


"Maaf, Pak. Awalnya saya juga tidak percaya. Tapi, nona Aline memperlihatkan foto saat bersama Bapak. Dan sekali lagi maaf, Pak, foto tersebut sangat intens." Lena mencoba membela diri. Dari foto yang diperlihatkan oleh Aline kepadanya adalah, saat Cakra tidur memeluk Aline.


"Apa?" murka Cakra.


"Sekali lagi, maafkan saya, Pak." Lena hampir menangis karena Cakra membentaknya. Sementara Aline hanya tersenyum puas.


"Saya telah menikah dan memiliki anak, istri saya adalah Siska. Jadi selain dia jangan biarkan wanita manapun nantinya yang akan mengaku-ngaku menjadi kekasih saya. Jangan biarkan masuk ke dalam ruangan saya," titah Cakra.


"Ba--ik, Pak, saya akan mengingatnya," jawab Lena tegas.


"Saya akan mengirimkan foto keluarga saya padamu nanti. Sekarang panggil satpam untuk mengusir wanita ini dan ingat jangan pernah biarkan wanita ini berada di lingkungan hotel. Apalagi di ruangan saya," tegas Cakra.

__ADS_1


"Baik, Pak, akan saya panggilkan Satpam untuk mengusir nona Aline. Atau nona Aline, apakah kau ingin keluar secara sukarela," bujuk Lena.


"Jangan harap, kau keluar saja," usir Aline.


Lena keluar dan memanggil Satpam.


"Kau benar-benar tidak tahu diri, ya, Aline. Pergilah sebelum Satpam mendepakmu secara kasar, aku tidak ingin kembali padamu. Aku sudah menikah dan memiliki putra," kata Cakra.


"Aku tidak peduli, kau bisa menceraikannya dan soal anak, aku juga bisa memberikanmu anak dengan segera," bujuk Aline, dia kembali berdiri dan merayu Cakra.


"Apa kau gila? Bagaimana mungkin aku menukar berlian dengan batu parit? Dan kau ingin aku bertanggung jawab untuk anak yang kau kandung? Ayah anak itu saja tidak mau, apalagi aku. Kau pikirkan sendiri, apakah aku akan meninggalkan darah dagingku sendiri demi darah daging orang lain? Apa kau punya otak untuk berpikir? Ini Indonesia Aline, bukan Amerika. Pria Indonesia tidak akan segampang itu mau bertanggung jawab," ejek Cakra. Dia menepis tangan Aline yang tengah mencoba mengelus dadanya.


"Tapi kau beda, aku tahu kau bukan pria Indonesia sembarangan, kau kuliah di luar negeri, dan pastinya pola pikirmu pasti seperti mereka," bujuk Aline lagi.


"Kau salah, pola pikirku untuk bekerja mungkin akan aku terapkan dnegan cara di sana. Tapi, tidak untuk hubungan pribadi. Sadarlah, aku telah menikah dan bahagia bersama istri dan anakku. Pergilah ke Amerika dan minta temab specialmu untuk menikahimu," sindir Cakra. Dia duduk di kursinya dan membuka laptop, mencoba mengabaikan Aline.


"Dia tidak mau menikahiku. Dia telah memiliki kekasih baru dna meninggalkanku," jujut Aline. Entah dia bodoh atau terlalu pintar sehingga membeberkan aibnya sendiri.


"Dia saja tidak ingin menikahimu, apalagi aku," ejek Cakra lagi.


"Tapi kau beda. Kau adalah Cakra, pria baik yang selalu ada untukku," bujuk Aline.


"Kau terlalu menganggap dirimu berharga. Seharusnya kau tidak mengkhianatiku, jika bersamaku. Dan kau tahu sekali prinsipku seperti apa. Aku orang yang sangat berkomitment dan aku tidak akan mudah melanggar komitmentku, begitu juga dengan wanita yang menjadi pasanganku. Aku akan meminta dia berkomitment bersama," tegas Cakra.


"Apakah wanita yang kau katakan istrimu wanita seperti itu?" Aline mencoba mencaritahu kelrmahan musuhnya.


"Ya, dan kami sangat bahagia, dengan pernikahan kami,"


Satpam memasuki ruangan Cakra.


"Bawa dia keluar dan pastikan dia tidak akan pernah mendekati gedung ini lagi," perintah Cakra.


"Baik, Pak." Satpam langsung menarik Aline keluar dari ruangan Cakra.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Aline. "Kau akan menyesal, Cak. Aku adalah wanita yang kau cintai, kau sendiri yang mengatakannya!"


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!

__ADS_1


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2