
Dua bulan berlalu, Atha berumur tiga bulan. Keluarga kecil mereka sangat bahagia. Siska memutuskan untuk berhenti bekerja. Baik Siska maupun Cakra tidak ada lagi membicarakan masalah perceraian.
Cakrapun memperlakukan Siska dengan sangat baik. Bahkan Siska merasa bahwa Cakra sangat mencintainya, meskipun Cakra tidak pernah mengucapkannya. Mereka menjalankan rumah tangga layaknya pasangan suami istri normal.
Kaki Cakra telah sembuh, sepenuhnya dia telah mulai bekerja kembali sejak sati bulan yang lalu. Siska merawatnya dengan baik, pengasuh buat Athapun telah bekerja selama dua minggu. Sedikit membuat pekerjaan Siska menjadi ringan.
Cakra terbangun setelah sesi percintaan mereka semalam. Cakra memandang wajah Siska yang terlelap, kemudian memainkan rambut Siska di jemarinya. Cakra terbangun karena mendengar suara Atha yang menangis.
Cakra segera bangin dari tempat tidur dan memakai boxernya. Dia melangkah menuju box Atha.
"Hi, jagoan kecil, jangan menangis, kasihan Mama, pasti sangat kelelahan," bujuk Cakra.
Atha yang melihat kehadiran salah satu orang tuanya, menjadi sangat bahagia. Dia mengangkat tangan agar Cakra segera menggendongnya. Cakra memeriksa popok Atha, ternyata sangat basah, karena itu membuat dia tidak nyaman dan menangis. Cakra mengganti popok Atha.
Atha memainkan bibirnya, sepertinya dia haus.
"Atha lapar? Mau mimik sama Mama?" Cakra pura-pura bertanya. Dia menggendong Atha dan membaringkannya tepat di depan Siska yang tidur dengan lelap.
Merasakan bahwa ada sesuatu yang diletakkan di depannya. Siska menjadi terbangun. Namun, belum membuka mata, mungkin karena masih mengantuk atau masih merasa lelah.
Cakra memandang Siska yang masih di dalam selimut. Dia yakin bahwa dibalik selimut Siska masih belum memakai apapun. Siska merasakan sentuhan tangan Atha di kulitnya. Masih menutup mata, Siska menggeserkan posisi bayinya agar pas untuk dia dapat memberikan ASI.
Atha langsung melahap dengan rakus, melihat putranya telah menyusui. Cakra kembali ke ranjang dan tidur di samping Siska yang memunggunginya. Cakra memasuki selimut dan memeluk Siska dari belakang.
"Abang, nanti Atha terganggu," tegur Siska.
"Tenang saja, buktinya dia lahap saja meminum ASI, Abang jadi iri dengan Atha," sindir Cakra.
"Jangan aneh-aneh," tegur Siska.
"Iya, bawel." Cakra mencubit pipi Siska. "Kalian adalah anugrah terindah Abang, Abang tidak tahu apa yang akan terjadi jika nggak ada kalian dalam hidup Abang," tambah Cakra.
"Kok, terdengar seperti seorang playboy," ejek Siska.
"Emang seperti itu yang Abang rasakan," lanjut Cakra, dia mencium pundak belakang Siska yang telanjang. Mengalirkan nafas hangat Cakra membuat Siska kegelian.
"Bang, Siska haus, bisa ambilkan minum?" pinta Siska.
"Tentu saja," sahut Cakra. Dia turun dari ranjang dan menuju dapur. Cakra mengambil minuman untuk Siska. Tidak lama, dia telah kembali ke kamar. Siska telah duduk menyusui putranya. Dia menerima gelas yang diberikan Cakra, meminumnya sampai tandas dan menyerahkannya kembali kepada Cakra.
***
Siska telah bangun pagi, dia menyiapkan sarapan untuk Cakra sebelum berangkat ke kantor. Siska membuat mie tek-tek, melihat resep di tuyub.
__ADS_1
Sebelum ke dapur, Siska telah memberikan Atha kepada pengasuhnya. Pengasuh telah memandikan Atha.
"Bu, Atha telah mandi," beritahu pengasuh yang bernama Sari, dia wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahun, seorang janda tanpa anak.
"Bentar ya, Mbak." Siska tetap menghormatinya karena secara umur dia lebih tua.
Siska menghidangkan sarapan, mencuci tangan kemudian mengambil Atha dari gendongan Sari. Siska membawanya ke dalam kamar. Cakra tengah memakai bajunya. Dia memasang dasi dengan susah payah. Siska meletakkan Atha di atas kasur dan mulai membantu Cakra.
Begitu selesai Cakra memeluk Siska dan menvium bibirnya dengan lembut. Siska menikmati perlakuan Cakra. Dia menerima saja saat Cakra mulai menjelajahi lehernya.
Siska sadar jika tidak dilarang, maka dapat dipastikan Cakra akan melakukan hal lebih jauh lagi.
"Udah, ah, Bang," tolak Siska memperingati Cakra. Cakra melepaskan diri dari memeluk Siska membiarkan Siska menuju putranya.
"Anak, Papa, sudah mandi dan wangi. Pasti menunggu ASInya, 'kan?" Cakra mencium Atha dengan geram.
Siska mulai memberikan Atha ASi. "Abang, kalau mau sarapan, duluan, aja, Siska nggak bisa temankan," ucap Siska.
"Santai saja, waktunya masih lama, Abang mau temankan Atha sarapan dulu." Cakra menaiki ranjang dan menggangu putranya dengan mengelus-elus pipi tembemnya.
Cakra menciumi putranya yang tengah asik menyusu, membuat Atha menjadi marah dan menangis.
"Abang, tu, 'kan Atha jadi ngambek, deh," tegur Siska.
Siska memberika ASI kembali kepada Atha yang merajuk. Namanya bayi gampang sekali dibujuk, dia kembali menyusu dengan lahap.
Tidak lama Atha telah merasa kenyang dan melepaskan bibirnya dari payudara Siska. Siska sudah sangat hafal, jika putranya melepaskan sendiri, itu tandanya dia telah kenyang. Siska merapikan kembali bajunya, Cakra menggendong bayinya.
Mereka keluar dari kamar, pengasuh telah bersiap-siap untuk mengambil Atha. Dia telah tahu jadwal dan kebiasaan keluarga ini. Siska menemani Cakra sarapan.
"Dapat resep dari mana, Sis?" tanya Cakra.
"Tuyub, nggak enak ya?" cemas Siska. Ini percobaan pertamanya membuat mie tek-tek.
"Enak, hanya sedikit pedas," balas Cakra.
"Benar hanya itu?" selidik Siska, menurut lidahnya cukup enak.
"Iya, lain kali, jika buat lagi kurangi cabenya," saran Cakra.
"Siap!"
Cakra mengahbiskan makanannya dan meminum kopi. Siska juga telah selesai sarapan, dia mmebersihkan peralatan makan. Meskipun sebenarnya Siska tidak perlu melalukannya karena akan datang jam tujuh petugas pembersih apartment mereka. Akan tetapi, Siska selalu mengerjakan pekerjaan yang bisa dilakukannya sendiri.
__ADS_1
Cakra mengambil tas kerjanya di kamar, dia bersiap-siap untuk berangkat kerja.
"Sis, Abang pergi dulu," pamit Cakra. Dia memeluk Siska dari belakang, Siska masih mencuci piring. Segera Siska melap tangannya dan membalikan tubuhnya agar menghadap Cakra. Cakra dengan cepat menyambar bibir Siska. Siska berusaha melepaskan diri, akan sangat memalukan jika pengasuh Atha memergoki mereka tengah seperti ini.
"Abang, malu, ih," ucap Siska dengam wajah yang telah memerah semerah cherry.
"Kenapa mesti malu, kamu, 'kan istri Abang," bela Cakra.
"Kalau dilihat mbak Sari, 'kan malu," jawab Siska. Dia membersihkan bibir Cakra yang tertempel lipstik.
Cakra mencium Atha dan berangkat ke kantor.
Siska bermain bersama Atha, petugas pembersih apartment telah datang dan membersihkan apartment.
Tidak terasa waktu menunjukan pukul sebelas, Siska menidurkan Atha, dia telah membiasakan bayinya tidur jam sebelas dan bangun jam satu siang.
Siska telah menyuruh pengasuh mencuci pakaian Atha.saat dia bermain bersama Atha tadi.
Pintu kamar Siska di ketuk oleh Sari.
"Ya," jawab Siska.
"Maaf, Bu. Sepertinya ada tamu, saya tidak berani membukakan pintu. Sebaiknya, ibu, periksa saja," ungkap Sari.
"Sebentar." Siska kembali menggendong Atha dan membawanya keluar. Siska mengintip dari kamera, seorang wanita. Siapa dia?
Siska membuka pintu, dan melihat penampilan wanita cantik itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Siska begitu pintu telah dia buka.
Wanita tersebut seperti merasa aneh, dia melihat Siska dari atas sampai bawah. Dan juga bayi yang di gendong Siska.
"Maaf, apakah ini apartment Cakra?"
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad
__ADS_1