Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Kecewa


__ADS_3

Nathan tengah meeting dengan tim marketing, membahas rencana kerja bulan berikutnya dan evaluasi akhir bulan ini.


Direktur marketing dan sales, tengah mempresentasikan evaluasi dan rencana kerja bulan depan. Meskipun Nathan lebih muda dari Direktur Marketing dan Sales. Akan tetapi, kemampuan Nathan tidak bisa diremehkan oleh mereka. Makanya setiap divisi akan was-was jika rapat bersama Nathan. Mereka pasti menampilkan presentasi terbaik dan tanpa cacat karena Nathan tidak suka jika tidak sempurna.


Menurut mereka Nathan lebih, menyeramkan dari pada ayahnya, Nino. Nino, masih bisa diajak untuk bercanda karena memang humories, sementara Nathan sedikit kaku menurut mereka.


Perasaan Nathan menjadi tidak enak, dia memang telah memberitahu Nabila bahwa dia sedikit telat menjemput Nabila karena rapat mereka belum kelar. Padahal waktu makan siang telah masuk.


Nathan menyuruh, sekretaris untuk menyediakan makan siang untuk peserta rapat.


Perasaan tidak enak Nathan semakin lama semakin kuat, dia teringat dengan Nabila.


"Stop," ucap Nathan memotong presentasi dari Direktur Marketing dan Sales. Membuat wajah Direktur menjadi pucat. Apakah dia melakukan kesalahan?


"Ke--kenapa, Pak?" tanya Direktur dengan cemas.


"Saya harus pergi, kalian lanjutkan tanpa saya, hasilnya kamu langsung laporkan kepada saya," jelas Nathan. Dia langsung meninggalkan ruangan rapat.


Semua peserta merasa lega, mereka telah merasa lapar dan tertekan. Sekretarsi Direktur Marketing dan sales langsung memberikan minuman kepada atasannya.


Nathan mencoba menghubungi ponsel Nabila. Namun, Nabila tidak mengangkatnya, membuat Nathan semakin cemas.


Apa terjadi sesuatu kepada Nabila? Semoga Nabila dan bayiku baik-baik saja, do'a Nathan.


Dia mempercepat laju mobil. Namun, jalanan Jakarta sangat macet. Terpaksa Nathan menurunkan kecepatan mobil dan berjalan seperti merangkak.


***


Sementara itu Cakra berbicara dengan rekan bisnisnya untuk rencana promosi I-Shine hotel di salah satu televisi swasta.


Selesai rapat kecil dengan rekan bisnisnya, dan rekan bisnis tersebut keluar. Sekretaris Cakra, Lena langsung ke dalam ruangan Siska.


"Maaf Pak, jam sebelas nanti ada kuliah umum dan Bapak sebagai pembicaranya," ucap Lena mengingatkan Cakra.


Cakra baru ingat bahwa dia menjadi pembicara pada kampus Siska.


"Saya segera berangkat, minta tolong sopir untuk menemani saya," perintah Cakra.


Lena segera menghubungi sopir.


"Pak, mobil dan sopir telah menunggu di Lobby," beritahu Lena.


"Terima Kasih," Cakra keluar dari ruangannya dan menuju Lobby.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama dan Cakra telah sampai di kampus Siska. Panitia acara datang dan menyambut Cakra.


Mahasiswa yang ikut kuliah umum tersebut telah datang dan menunggu. Cakra salut mereka datang tepat waktu. Cakra telah terbiasa untuk selalu tepat wkayu karena dia kuliah di luar negeri, Harvard University.


"Silahkan, Pak," sambut panitia mengajak Cakra untuk masuk ke aula.


Cakra memperhatikan cukup banyak mahasiswa yang ikut. Tentu saja karena pemberi materinya masih muda dan tampan. Rata-rata mahasiswa yang ikut adalah para wanita.


"Terima kasih," ucap Cakra mengikuti panitia memasuki aula.


"Apa bisa langsung kita mulai, Pak?" tanya Panitia. Cakra memgangguk.


Panitia memberi kode kepada Host untuk segera memulai acara.


Host memperkenalkan Cakra serta sedikit biodata Cakra.


"Marilah kita sambut pemateri kita kali ini, Bapak Cakra Pragya," sambut Host. Semua peserta memberikan tepuk tangan yang meriah.


"Terima kasih," ucap Cakra mengambil mic yang diberikan Host kepada Cakra.


Cakra mulai memberikan materi kuliah umum dengan tema 'Pentingnya Meningkatkan Skill individu'.


Selesai Cakra mempresentasikan materinya. Selanjutnya adalah session tanya jawab. Antusias para mahasiswapun sangat ramai, mereka bergantian bertanya dan Cakra menjawabnya dengan bahasa yang mudah dimengerti.


Panitia telah menyediakan makan siang untuk Cakra. Mereka makan di aula tersebut, sambil berbicara tentang apa saja, dari peluang usaha hingga politik serta issue luar negeri.


Selesai makan, Cakra pamit untuk kembali ke kantornya. Salah satu panitia menemani Cakra menuju parkiran kampus.


Selama perjalanan mereka berbicara tentang hal yang ringan. Cakra melihat dua orang wanita yang sangat dikenalnya.


"Siska? Nabila?" gerutu Cakra.


"Siapa, Pak?" tanya Panitia. Dia mendengar Cakra menyebutkan nama dua orang wanita.


"Tidak apa-apa," balas Cakra. Pandangan matanya masih terpaku kepada dua orang wanita tersebut. Malahan Cakra tidak lagi mendengar perkataan panitia. Dia lebih fokus melihat ke arah dua orang wanita tersebut.


Cakra melihat Nabila memeluk, Siska. Nabila memang selalu lebih ceria, sedangkan Siska lebih pendiam dan serius. Makanya teman-teman mereka selalu mengatakan bahwa Siska si bijaksana.


Cakra tersenyum melihat interaksi mereka, seolah-olah ia merasa kembalinke zaman sekolah. Nabila kelihatan semakin cantik, begitupun Siska.


Cakra penasaran dengan pembicaraan mereka. Dia melihat Nabila seperti mengusap-usap perut Siska.


Apa Siska telah menceritakan kepada Nabila bahwa dia hamil dan menikahinya?

__ADS_1


Cakra berharap Siska tidak menceritakannya. Cakra tidak ingin orang-orang di sekolahnya dulu tahu bahwa Cakra telah menikah.


Cakra melihat motor yang melaju sangat kencang dan akan menabrak mereka.


"Awas!" teriak Cakra. Dia langsung berlari menuju arah Nabila dan memeluknya, hampir saja Nabila terserempet, jika tidak dibantu Cakra yang memeluknya agar tidak jatuh. Hanya saja gerakan Cakra tersebut membuat Siska justru terjatuh.


Siska melihat ke arah Cakra, yang tengah memeluk Nabila dengan cemas. Tatapan kecewa Siska sempat terlihat oleh Siska. Namun, Cakra mengabaikannya.


"Loe, nggak pa-pa, 'kan, Nab?" cemas Cakra, dia memeriksa sekeliling tubuh Nabila, melihat apakah Nabila terluka.


"Nabil, nggak pa-pa, Bang," ujar Nabila, dia takut Siska salah paham. Nabila melihat tatapan kecewa Siska.


Apa Siska masih belum move on dari bang Cakra? Bukankah Siska telah menikah dengan orang lain?


Nabila melihat Siska memegang perutnya.


"Ayo, kita ke dokter," ajak Cakra. Dia langsung menggendong Nabila dan membawa Nabila ke mobilnya. "Siska, kamu bisa jalan dna mengikuti Abang, 'kan?" tanya Cakra. Dia langsung meninggalkan Siska.


"Bang, Nabila nggak pa-pa, Siska yang sepertinya terluka," sanggah Nabila.


"Nanti, Abang bantu Siska setelah kamu masuk ke dalam mobil," sopir membukakan pintu. Panitia yang berjalan bersama Cakra menjadi heran.


Cakra berlari kembali untuk membantu Siska yang berjalan tertatih. Pergelangan kaki Siska terkilir dan lecet. Cakra mencoba memegang tubuh Siska. Namun, ditepis oleh Siska.


"Siska, bisa berjalan sendiri, Bang." Siska menepis tangan Cakra yang ingin memegangnya. Siska berjalan dengan menahan sakit dipergelangan kakinya. Siska tidak menyadari bahwa sikunya berdarah akibat kena sudut trotoar. Saat terjatuh Siska yang terpelest, menahan berat badan dengan siku agar bokongnya tidak terhempas ke jalan. Karena akan membahayakan bayinya.


"Sikumu berdarah, Sis," beritahu Cakra. Siska masih mengabaikannya.


"Tidak usah pedulikan, Siska, Abang perhatikan saja Nabila," kesal Siska.


"Apa maksudmu, Sis?" heran Cakra yang tidak peka.


"Abang tahu Siska hamil, kenapa Abang malah membantu Nabila?" bentak Siska, dia akhirnya mengeluarkan kekesalan dan kekecewaannya.


"Itu bukan anak Abang," ceplos Cakra tanpa sadar. Dia tidak bermaksud memberitahu Siska.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2