Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Dipecat


__ADS_3

"Sis, ada darah di betismu?" beritahu Widia, saat melihat darah di betis Siska. Siska melihat ke bawah, dia pikir dia pendarahan lagi. Ternyata pendarahan tadi, sepertinya perawat kurang bersih membersihkannya.


"Apa kau terluka?" Widia membalikan tubuh Siska untuk memeriksa dimana letak luka Siska.


"Tidak apa-apa, Ma ... Siska tidak terluka sepertinya itu hanya tinta," bohong Siska, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada Widia.


"Kamu yakin?" Widia memastikan kembali.


"Iya, mama tenang saja. Siska mau mandi dulu," ucap Siska sambil melangkahkan kakinya.


"Mandilah, Mama akan membuatkan teh dan menyiapkan makanan." Widia menuju dapur.


Keesokan harinya, Siska telah merasa fit dan kembali bekerja. Siska memasuki tempat loker, menaruh tas dan mengganti seragam. Siska heran melihat pandangan rekan kerjanya yang tidak bersahabat bahkan seperti memandang rendah dirinya.


Siska berusaha bersikap biasa dan mengabaikannya. Dia bekerja dengan giat, tidak memperdulikan bisik-bisik rekan kerja yang menggosipkannya.


Waktu istirahat akhirnya tiba, Siska membawa bekal makanan dan duduk di kursi tempat karyawan biasa makan.


"Sis, loe nggak pa-pakan?" tanya Mila yang datang menghampiri Siska. Mila juga membawa bekal makannya.


"Iya, gue nggak pa-pa. Terima kasih loe telah menolong gue kemarin," ucap Siska tulus.


"Nggak pa-pa, tapi si Rosa dan Rahmi jelek-jelekin loe lagi tuh, geram gue ... pengen gue tabok aja tu anak," kesal Mila.


"Emang mereka ngapain lagi?" tanya Siska.


"Itu saat loe pingsan dan ngeluarin darah dan loe dibawa bu Adel ke rumah sakit ... mereka langsung bilang 'tuhkan pasti hamil beneran, cuma wanita hamil yang lagi pendarahan ngalami kayak gitu?" terang Mila, menyuap nasi ke mulutnya.


"Biar aja." Siska menenangkan Mila.


"Gimana gue, bisa tenang, mereka semakin nyebari gosip yang nggak-nggak loch tentang loe." Mila masih merasa kesal.


"Mereka bilang loe hamil terus pendarahan, kayaknya loe keguguran. Guekan nggak mau mereka bergosip tentang teman-teman gue," bela Mila lagi.


"Ya udah mari kita makan, bentar lagi waktu istirahat selesai," ucap Siska, menyudahi pembicaraan tentang gosip yang beredar tentangnya.


Setelah istirahat Siska dipanggil Adelia. Siska memasuki ruangan office staff. Siska duduk di hadapan Adelia.


"Ya, Bu," ucap Siska setelah duduk.


Apakah ini karena kejadian kemarin?


"Jadi gini, Sis ... sebelumnya saya minta maaf." Adelia seperti menimbang kalimat yang akan dia keluarkan.


"Apa ini karena kejadian kemarin, Bu?" khawatir Siska.


"Benar, Sis ... maaf gosip tentangmu telah menrebak, saya takut gosip ini semakin tidak terkendali dan para atasan mengetahui permasalahan kamu ini," mulai Adelia membuka cerita.


"Saya mengerti, Bu, tapi saya benar telah menikah." Siska membela diri.


"Siska, saya percaya, hanya saja ... jika hanya berdasarkan omongan dan tidak ada bukti yang jelas, saya tidak bisa membantu kamu."


"Tapi, Bu ...."


"Sekali lagi, saya minta maaf, sebaiknya kamu istirahat dulu."


Siska takut jika memperlihatkan surat keterangan menikahnya, maka nama Cakra akan terexpose.


"Jadi saya dipecat, Bu?" lemas Siska.

__ADS_1


"Jika kamu bisa menunjukan surat keterangan menikah atau buku nikahmu,  saya akan terima kamu bekerja kembali ... saat ini anggap saja kamu diskor," putus Adelia. Dia sendiripun tidak tega melakukannya.


Siska pulang ke rumah dengan lemas. Dia bingung bagaimana caranya untuk memberitahu Widia. Siska tidak mau membebani Widia. Siska sampai di rumah, dia membuka pintu yang tidak di kunci.


Siska melihat banyak paper bag berserakan di meja dan lantai ruang tamu. Siska berpikir siapa yang berbelanja sebanyak ini?


"Mama!" panggil Siska.


"Oh, Siska, kamu sudah pulang ... Mama membelikan makanan enak untuk kita." Widia menarik tangan Siska dan membawanya ke meja makan.


"Mama, apa yang terjadi?" Bingung Siska.


"Itu ... pembantu kita sedang pulang kampung ... tidak ada yang memasak, jadi Mama beli saja. Ayo makan," ajak Widia.


"Mama, kantong-kantong belanjaan di depan punya siapa?" tanya Siska hati-hati setelah meminum air dan selesai makan.


"Oh itu ... Mama membeli beberapa pakaian untuk kita ... semua sedang diskon, Ayo!" ucap Widia bangga. Dia menarik Siska untuk melihatnya. Siska hanya mengikuti Widia dengan perasaan nelangsa.


"Ini buatmu." Widia menyerahkan lima kantong belanjaan. Siska melihat harganya. Jika dulu harga ini tidak akan menjadi masalah baginya. Namun, jika dia menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli barang ini? Akan sangat disayangkan.


"Mama, dapat uang dari mana?" Akhirnya Siska bertanya karena dia takut Widia berbelanja dengan kartu ATM yang Siska suruh mamanya pegang. Widia juga mengetahui pinnya.


"Tentu saja dengan kartu ATM yang kamu kasih ke Mama," jawab Widia tanpa bersalah.


"Mama, apa yang mama lakukan? Hanya itu uang yang kita miliki." Siska tidak dapat lagi menahan tangisnya.


"Apa maksudmu, Siska? ... nanti Mama akan menyuruh papa untuk menstransfernya lagi ... tidak usah menangis," bentak Widia. Siska tahu Widia sedang mengalami delusi. Pasti dia merasa bahwa mereka masih orang kaya dan papanya masih hidup.


"Mama, sadarlah, papa telah meninggal!" teriak Siska, mengguncang bahu mamanya. Siska tidak tahu bagaimana masa depan mereka. Nanti malam pemilik rumah akan meminta uang sewa. Apa yang harus Siska lakukan? Mereka telah sering menunggak sewa. Pasti pemilik rumah tidak akan percaya lagi dan mengusir mereka. Lalu dimana mereka akan tinggal?


"Apa yang kamu katakan? Papa masih hidup ... dia sedang di luar negeri ... kemarin dia baru berangkat," sanggah Widia tanpa merasa bersalah. Dalam pikirannya suaminya masih hidup.


Widia berjalan ke kamarnya. Menutup pintu. Siska menjadi cemas. Jangan sampai kemarahan Siska membuat Widia bunuh diri seperti papanya.


"Mama, maafkan Siska, Ma.!" Siska mengetuk pintu. Berharap Widia membukanya. Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Siska khawatir jika mama melukai dirinya.


"Mama ... jangan tinggalkan Siska," ucap Siska lirih, dia terduduk di pintu kamar Widia.


Siska sangat setress, dia dipecat, uangpun dihabiskan Widia belanja.


Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya?


Cakra, ya hanya Cakra yang bisa membantu Siska. Toh, dia dipecat karena hamil anak Cakra. Tidak Siska tidak ingin merendahkan harga dirinya. Setidaknya Cakra mau bertanggung jawab menikahinya, sekalipun dia tidak ingat.


Siska ke kamarnya, mengambil surat keterangan menikah kemarin. Siska menimbang perlukah dia memperlihhatkan surat ini. Di sini hanya ada nama, tidak ada foto. Jadi tidak akan ada yang menyangka bahwa Siska menikahi Cakra, CEO mereka. Sehingga pernikahan mereka tetap bisa di rahasiakan.


"Siska!" teriak pemilik rumah. Siska kaget, dia diam saja dengan tubuh bergetar karena takut diusir pemilik rumah.


"Siska ... buka pintunya, saya tahu kalian ada di rumah ... saya hanya mau mengambil uang kontrakan," ulang pemilik rumah lagi. Dia kesal karena Siska maupun Widia tidak menghiraukan panggilannya.


Siska hanya berdiri mematung, dia memasukan kembali surat keterangan nikahnya.


Apa yang harus dia lakukan?


Siska mencoba mengambil dompetnya, siapa tahu dia sempat mengambil uang tunai. Siska harus menelan kecewa karena di dompetnya hanya ada uang seratus ribu rupiah.


"Siska ... jika kau tidak membuka pintu ... aku akan menyuruh seseorang mendobraknya," ancam pemilik rumah. Siska berjalan keluar dan membuka pintu.


"Maaf, Bu, bisakah beri waktu kami lagi?" mohon Siska.

__ADS_1


"Tidak, bukankah hampir dua tahun ini kalian selalu saja telat membayar sewa. Kesabaran saya telah habis. Silahkan keluar dari rumah ini," usir pemilik rumah.


"Ibu, saya mohon, atau Ibu bisa ambil barang belanjaan ini." Siska mengambil paper bag dan memberikannya kepada pemilik rumah.


"Saya tidak butuh ini, saya butuh uang sewanya." Pemilik menyerahkan kembali paper bag tersebut kepada Siska.


"Barang-barang ini, bahkan lebih mahal dari harga sewa kontrakan, Bu ... tolong izinkan kami membayar dengan barang-barang itu," mohon Siska lagi.


"Kalian gila ya? Membeli barang ini sanggup, membayar sewa selalu telat ... dasar tidak tahu diri. Kalian pikir saya bodoh?" murka pemilik rumah lagi.


"Kami tidak bermaksud seperti itu, Bu ... percayalah saya akan bayar ... sekarang semua uang telah di belanjakan mama saya. Saya janji kami akan segera membayarnya." Siska memohon lagi. Berharap pemilik rumah mau memberi toleransi kepada mereka.


"Saya tidak percaya lagi dengan janji kamu ... saya minta kalian keluar dari sini, SEKARANG!," teriak pemilik rumah, dia membuang kantong belanjaan Siska keluar.


"Ibu, tolonglah," bujuk Siska lagi.


"Saya bilang keluar ya keluar. Saya akan kasih kalian waktu untuk berkemas satu jam." Pemilik duduk di kursi teras.


Siska tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia sangat tertekan.


"Mama ... tolong Siska," pinta Siska di pintu kamar Widia.


"Siska!" Widia membuka pintu dan memeluk putrinya yang sedang kacau. Wajah Siska berantakan. Air mata mengalir dari pipinya.


"Kita harus pergi dari rumah ini, Ma," ujar Siska, mengusap air matanya, sekalipun dia tidak tahu harus kemana?


"Apa? Kenapa?" tanya Widia bingung.


"Kita tidak bisa membayar sewanya, Ma." Siska terduduk lemas lagi di lantai. Widia sadar kembali, dia sadar jika mereka bukan orang kaya lagi.


"Maafkan, Mama, Sayang ... percayalah kita akan baik-baik saja." Widia memeluk Siska untuk menenangkannya.


Setelah saling menguatkan, mereka mengumpulkan barang-barang. Perabotan adalah milik yang punya rumah. Siska baru menyadari jika pakaiannya pun tidak banyak.


"Ini sudah lebih dari satu jam!" hardik pemilik rumah lagi.


"Iya, Bu, sebentar." Ucap Siska lagi.


Hari telah senja, langit mulai gelap, mendungpun menyelimuti langit. Siska memasukan barang-barang yang dibeli Widia ke dalam tasnya.


"Mama, apakah sudah selesai?" tanya Siska. Siska tidak mendengar bahwa handphonenya berbunyi.


"Sebentar, sedikit lagi," jawab Widia.


"Siska bantu, ya." Siska ke dalam kamar mamanya. Membantu Widia berkemas. Siska meletakan tas di motornya. Menyusun sedemikian rupa agar bisa memuat barang-barang mereka yang lainnya.


"Ini kunci, rumahnya, Bu." Siska menyerahkan kunci rumah kepada pemilik.


"Kalian tidak menyimpan duplikatnyakan?" tuduh pemilik rumah dengan curiga.


"Tidak, Bu. Kami tidak akan melakukan hal itu." Balas Siska, tidak pernah dia berniat seperti itu.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2