Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Cakra vs Danil


__ADS_3

Satu bulan berlalu sejak pertama kali Siska masuk kerja. Siska telah cukup mengerti dengan pekerjaannya.


Danil juga memberitahu Sisaka bahwa dia juga tengah memulai usaha renovasi gedung dan design interior rumah, kantor dan gedung-gedung lainnya.


Danil sangat senang karena Siska memiliki banyak ide dan bisa mempresentasikan ide yang Danil punya.


"Sis, saya ada janji dengan rekan bisnis makan siang, kamu mau ikut?" ajak Danil saat waktu istirahat.


"Nggak usah, Pak. Siska di sini aja," tolak Siska. Dia merasa cepat lelah jika harus ikut dengan kondisi hamil besar ini. Apalagi hanya pergi makan. Lebih baik tenaganya disimpan untuk yang lain.


"Baiklah, aku berangkat, ya," pamit Danil.


Siska hanya makan di kantor, kebetulan dia memesan makanan via aplikasi pesan antar online. Siska makan di pantry, setelah makan Siska beristirahat di ruangan yang telah di sediakan. Waktu istirahat berakhir, Siska kembali ke mejanya dan menyelesaikan tugas.


Telepon extensionnya berbunyi. "Dengan Siska, ada yang bisa dibantu?" salam Siska saat menerima telepon.


"Sis, buatkan dua buah kopi dan antar ke ruangan saya, ya," perintah Danil.


"Baik, Pak," sahut Siska.


Kapan kak Danil, kembali ke ruangannya?


Siska merasa heran. Namun, diabaikannya saja. Dia menuju pantry dan membuatkan dua kopi permintaan Danil.


Sepertinya ada tamu di dalam.


Siska membawa nampan yang berisi dua kopi dan cemilan ke ruangan Danil. Siska tidak memperhatikan siap yang menjadi tamu Danil. Siska meletakan kopi di atas meja.


Danil dan tamunya duduk di sofa yang ada di ruangan Danil.


"Silahkan diminum, Pak," tawar Siska.


"Siska!" panggil tamu Danil. Ternyata tamu Danil adalah Cakra.


"Abang!" kaget Siska saat melihat Cakra. Cakra duduk di sofa yang membelakangi Siska.


"Kamu, kerja di sini?" tanya Cakra. Dia menatap Danil curiga, kemudian Siska.


Pantasan saja Siska diterima karena pemilik perusahaan adalah Danil. Cakra menjadi was-was takut Danil berniat mendekati Siska.


"Iya, Bang," balas Siska.


"Cak, loe tahu Siska udah nikah? Bukannya SMA kalian pacaran? Kok, bisa putus?" ejek Danil. Dia ingat duku Cakra pernah mengatakan bahwa dia adalah pacar Siska.

__ADS_1


"Kami, tidak pacaran, Pak," elak Siska.


"Ya, kami pacaran," aku Cakra. Siska melotot kepada Cakra.


Sejak kapan dia pernah pacaran di SMA dengan Cakra? Yang ada Cakra sempat pacaran pura-pura dengan Nabila.


Danil melihat Cakra kemudian Siska bergantian.


"Nggak penting juga sekarang kalian pacaran atau tidak. Yang jelas Siska udah nikah, nggak ada juga di antara kita yang dapatin Siska," jelas Danil.


"Siska istri, gue," aku Cakra yang langsung dipelototin Siska.


"Apa? Yakin loe, suami Siska? Kenapa loe, biarkan dia kerja kondisi hamil besar, naik motor lagi," sindir Danil. Tadinya dia akan paham jika Siska tidak menikah dengan Cakra. Bisa jadi suami Siska hanya orang biasa. Berbeda, jika suami Siska adalah Cakra karena Cakra kaya.


Danil memang hampir setiap hari melihat Siska pergi dan pulang bekerja dengan motor bebeknya. Hal itu membuat Danil berpikir bahwa suami Siska pasti hanya orang biasa.


"Bukan salah, Bang Cakra, Kak. Siska sendiri yang tidak ingin direpotkan," belas Siska. Jangan sampai Cakra dihujat Danil. Danil tidak tahu pengorbanan apa yang telah dilakukan Cakra.


Cakra mau menikahinya saja, telah sangat membantu Siska.


Sementara Cakra kesal mendengar Siska memanggil Danil dengan 'Kak'. Seharusnya Siska bersikap formal, ini malahan bersikap akrab.


"Dia, 'kan suami kamu, ya, wajarlah dia direpotkan. Apa lagi itu, 'kan anak dia?" sewot Danil.


"Udah, nggak usah dipermasalahkan, Siska senang, kok, dengan keadaan ini," sahut Siska.


"Tetap saja, aku nggak ikhlas lihat kamu seperti sekarang. Meskipun kamu malahan terlihat semakin cantik, setidaknya kamu tidak harus bekerja dalam keadaan hamil besar," terang Danil.


"Ya udah, kamu pecat saja dia," putus Cakra.


"Tidak bisa, Bang. Siska butuh pekerjaan ini. Lagian setelah melahirkan, kita akan bercerai," beber Siska, dia tidak sadar mengatakannya. Dalam pikirannya dia hanya tidak boleh berhenti bekerja.


"Apa?" heran Danil.


"Siapa bilang kita akan bercerai?" tegas Cakra.


"Apa?" kali ini Siska yang heran. Bukankah mereka telah membahas bahwa mereka akan bercerai setelah anak ini lahir. Karena tidak ada kesempatan bagi Siska untuk memiliki Cakra.


Cakra sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak bisa menjanjikan apa-apa?


"Aku pinjam sekretarismu, hari ini dia izin." Cakra menarik tangan Siska keluar dari ruangan Danil.


Danil terpaku diam, apa yang sebenarnya terjadi? Jika, Siska bercerai dari Cakra, dia bisa kembali mendekati Siska. Bagi Danil, Siska adalah cinta pertamanya.

__ADS_1


"Abang, apa-apaan, sih. Lepas," pinta Siska mencoba melepaskan tangan dari cengkraman Cakra.


"Maaf, Cak, tapi, loe, nggak bisa membawa Siska begitu saja. Sekalipun loe, suaminya. Tetap di kantor, Siska tanggung jawab gue." Danil menarik tangan Siska satunya lagi.


"Bang, please, bersikaplah profesional. Masalah rumah tangga kita. Nanti akan kita selesaikan di rumah," mohon Siska lagi. "Bukankah, kalian tadi sedang membicarakan bisnis? Anggap saja Siska tidak ada." Siska melepaskan tangannya dari cengraman Cakra maupun Danil. Siska keluar dari ruangan tersebut.


"Ah!" teriak Cakra gusar sambil mengacak-acak rambutnya.


"Siska benar, sebaiknya kita melanjutkan pembicaraan bisnis. Aku tidak akan merebut Siska darimu. Namun, jika kalian bercerai, jangan halangi aku untuk maju mendekatinya," ancam Danil.


"Maka, berhentilah berharap, karena aku tidak akan bercerai darinya, bersikaplah seperti seorang atasan. Jangan mendekatinya dengan tujuan lain," tegas Cakra. "Aku tidak mood lagi untuk membicarakan bisnis, besok saja kita lanjutkan setelah kondisi kita sama-sama tenang." Cakra keluar dari ruangannya.


Danil hanya tercengang, setelah Cakra dan Siska meninggalkannya. Kenapa dia menjadi seprti orang bodoh di ruangannya sendiri?


Apa sebenarnya yang terjadi dengan pernikahan Siska dan Cakra?


Cakra melihat Siska yang duduk di depan meja kerjanya. Cakra menghampiri Siska.


"Cepat sekali? Memang Abang dan Pak Danil selesai membahas pekerjaan?" tanya Siska saat melihat Cakra menghampirinya.


"Abang, nggak mood lagi. Abang harap, kamu tidak melewati batasmu," tegas Cakra.


"Maksud Abang Apa?" Siska tersinggung dengan perkataan Cakra.


Apa Cakra pikir Siska akan merayu dan menggoda Danil? Siska bukan wanita murahan. Apa karena Siska hamil dan tidak mengetahui siapa ayah dari anaknya? Cakra menganggap Siska wanita ******?


"Kamu tahu maksud Abang," ujar Cakra menatap tajam Siska.


"Siska hanya bekerja, karena Siska harus menatap masa depan yang lebih baik bersama bayi Siska. Setelah bayi ini lahir Abang tidak akan Siska repotkan lagi. Siska dan bayi ini akan menjauh dari hidup Abang," tegas Siska.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Sambil nunggu up, cus mampir ke karya teman author ya.


...CINTA & DENDAM...



Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2