
"Siska hanya bekerja, karena Siska harus menatap masa depan yang lebih baik bersama bayi Siska. Setelah bayi ini lahir Abang tidak akan Siska repotkan lagi. Siska dan bayi ini akan menjauh dari hidup Abang," tegas Siska.
"Siska tahu, Abang pasti menganggap Siska wanita murahan," geram Siska.
"Sis! Abang tidak pernah berpikir seperti itu. Sebaiknya kita berbicara sekarang." Cakra menarik tangan Siska.
"Lepas!" hardik Siska.
"Kamu pilih, berjalan sendiri atau Abang akan menggendongmu!" ancam Cakra.
Siska tidak ingin membuat keributan lagi. Dia melangkah keluar. Cakra mengikutinya, Cakra mencoba meraih tangan Siska untuk menggandengnya. Namun, Siska menolak dan menghempaskan tangan Cakra.
Mereka melewati ruangan divisi lain. Semua orang heran saat melihat Siska bersama Cakra. Mereka tahu bahwa Cakra adalah rekan bisnis Danil.
Mungkin dia hanya mengantarkan pak Cakra, pikir mereka. Karena Siska adalah sekretaris Danil dan wajar jika Siska mengantarkan Cakra ataupun tamu dari atasan mereka ke luar.
Cakra memasuki mobil dan diikuti Siska.
"Abang minta maaf," mulai Cakra. Siska hanya diam dan menatap ke depan. "Abang harap, kamu mengurungkan niat untuk bercerai dari Abang," pinta Cakra.
"Kenapa?" tanya Siska akhirnya. Dia melirik ke arah Cakra.
"Entahlah, Abang hanya tidak ingin kamu hidup menderita. Biarkan Abang menjagamu dan bayi itu," bujuk Cakra.
"Siska akan bekerja keras agar hidup kami tidak menderita." Siska tidak suka jika Cakra merendahkannya dan mengasihaninya.
"Pokoknya, Abang tidak akan pernah menceraikanmu," putus Cakra.
"Baiklah, jika kita memang ingin menjalankan pernikahan ini dengan normal. Apakah Abang akan mulai mencintai Siska dan benar-benar menganggap bayi ini seperti anak Abang?" tunjuk Siska kepada perutnya.
Cakra hanya diam, dia tidak yakin dengan perasaaannya? Dia tidak ingin kehilangan Siska. Namun, tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk Siska. Bagaimana jika nanti dia bertemu seseorang yang menarik hatinya? Seperti perasaannya kepada Nabila?
"Maaf," cicit Cakra.
"Tidak ada yang perlu kita bahas lagi." Siska keluar dari mobil. Cakra hanya membiarkan saja.
***
Satu bulan berlalu sejak kejadian pertengkaran Siska dan Cakra. Mereka tidak lagi bertegur sapa. Lebih tepatnya Siska menghindari Cakra.
Padahal Siska telah mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Pinggangnya telah mulai sering sakit, kakinya pun mulai bengkak.
Jika istri-istri lain pasti telah setiap malam dipijit suaminya. Berbeda dengan Siska, dia tidak bisa mendapatkan itu.
Siska bekerja seperti biasa, Danilpun tidak ingin membahas masalah rumah tangga Siska dan Cakra. Namun, perhatian Danil kepada Siska cukup membuat Siska berterima kasih.
"Sis, ikut aku ke I-Shine hotel, ya?" ajak Danil, dia tidak akan memaksa jika Siska tidak ingin.
"Baik, Pak," balas Siska. Dia harus bersikap profesional. Suka atau tidak suka, dia sedang bekerja.
"Suruh juga, bagian design mengirimkan salah satu anggotanya," perintah Danil.
"Siap, Pak," ujar Siska. Dia langsung menghubungi bagian design dan meminta bagian logostik menyiapkan mobil beserta sopir.
__ADS_1
Mereka menuju I-Shine hotel. Mereka meeting di ruangan meeting I-Shine hotel. Cakra kesal melihat kedekatan Siska dan Danil. Dapat Cakra lihat bahwa Danil sangat perhatian dengan Siska. Jika hanya bertiga dan tidak ada orang lain, pasti Cakra telah berdebat bahkan berkelahi dengan Danil.
Selesai rapat mereka menuju kamar-kamar tamu yang akan di renovasi serta ruangan kantor staf. Siska merasa lelah mengikuti mereka, apalagi perutnya yang sudah sangat besar membuat dia cepat sekali lelah.
Cakra memperhatikan bahwa Siska telah sangat lelah. Seorang house keeper keluar dari sebuah kamar yang telah dia bersihkan.
"Kamu!" panggil Cakra.
House keeper melihat rombongan Cakra.
"Pak Cakra, ada yang bisa saya bantu?" tanya house keeper, dia adalah Mila.
"Buka lagi kamar itu," perintah Cakra.
"Baik, Pak," balas Mila. Dia tidak menyadari jika Siska ada di rombongan itu. Mila kembali membuka pintu kamar yang baru saja di kuncinya.
Cakra menarik tangan Siska dan membawanya ke dalam kamar tersebut. Mereka melewati Mila. Mila baru menyadari ada Siska.
"Siska!" hanya gerakan bibir Mila. Siska pun melakukan hal.yang sama.
"Istirahatlah, di sini," tawar Cakra kepada Siska. Siska menatap Cakra, dia tidak menyangka jika Cakra memperhatikannya. Danilpun ikut masuk ke dalam kamar.
Mila mengingat di mana dia pernah bertemu Danil?
Siska di dudukan di atas ranjang, Cakra melepas sepatu Siska dan memijit pergelangan kaki Siska. Danilpun melakukan hal yang sama di kaki kiri Siska.
Cakra memang bersama manager marketing, sementara tim Danil manager design bersamanya. Mereka heran dengan tingkah atasan mereka. Tidak wajar menurut meraka.
"Apa yang loe lakukan?" hardik Cakra saat melihat Danil ikut melakukan hal yang sama dengannya.
"Kau tahu dia telah menikah, jadi berhenti mengganggu istri orang," bentak Cakra.
"Memangnya dia istrimu," sindir Danil. Dia ingin tahu keberanian Cakra dalam mengakui bahwa Siska adalah istrinya.
"Kau tahu siapa suaminya," jawab Cakra dengan kesal.
"Siska, tidak apa-apa, Pak," Siska menyingkirkan tangan Danil dan Cakra dipergelangan kakinya.
"Sebaiknya kita, biarkan dia istirahat," putus Cakra. Dia menarik tangan Danil, agar meninggalkan Siska untuk istirahat.
"Kami akan ke ruangan kantor house keeper dan logistik," beritahu Cakra. Siska tersenyum kepada Cakra. Cakrapun membalas senyuman Siska.
"Terima kasih, Pak," sahut Siska.
"Ayo, pergi," ajak Cakra kepada semua anggota rombongannya.
Mila masih berdiri di samping kamar. Begitu rombongan Cakra pergi, dia langsung memasuki kamar tempat Siska berada.
"Sis!" panggil Mila.
"Mila, gue, pikir loe, udah pergi," sahut Siska, dia mengangkat kaki dan mulai memijit-mijitnya.
"Apa hubunganmu dengan mereka?" selidik Mila. Dia ikut duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
"Aku bekerja sebagai sekretaris Kak Danil," ungkap Siska.
"Danil itu, orang yang waktu itu, kita ketemu, bukan?" kepo Mila.
"Iya," balas Siska singkat.
"Lalu, kenapa, Pak Cakra juga, sangat perhatian padamu?" selidik Mila.
"Aku belum bisa cerita, maaf ya, Mil. Sebaiknya aku kembali ke rombongan." Siska memakai sepatunya kembali dan berdiri.
Mereka menuju ruangan house keeper. Mereka bertemu dengan Rahmi dan Rossa yang baru saja keluar dari salah satu kamar. Mereka sama-sama menuju ruangan house keeper dan melewati ruangan logistik.
Rahmi dan Rosaa memperhatikan perut Siska yang membuncit.
"Ternyata loe, emang hamil, ya?" sindir Rahmi.
"Ada bapak anak itu?" ejek Rossa.
"Mana ada bapaknya, 'kan emaknya wanita yang bisa dipakai setiap orang yang membookingnya," lanjut Rahmi.
"Jadi dia, nggak tahu, donk, ya, siapa bapak anaknya." Rossa tertawa sinis diikuti Rahmi.
Siska menahan tangisnya karena memang dia tidak tahu siapa ayah dari bayinya?
"Pantasan, saja dipecat," tambah Rahmi.
"Jaga, ya, mulut kalian!" hardik Mila yang tidak tahan dengan sindiran dan ejekan Rahmi dan Rossa.
"Mulut-mulut, gue, mau apa, loe?" tantang Rahmi.
Mila langsung menjambak rambut Rahmi, Rossa membantu Rahmi. Siska tidak bisa tinggal diam melihat Mila di keroyok. Dia pun ikut membantu Mila. Terjadilah perkelahian diantara mereka. Siska merasakan kontraksi di perutnya.
"Aw!" teriak Siska memegang perutnya.
Cakra dan rombongan keluar dari ruangan logostik. Dia melihat perkelahian dan Siska yang kesakitan. Cakra dan Danil berlari menuju Siska.
Cakra langsung menggendong Siska, begitupun Danil yang telah memegang bahu Siska.
"Biar aku saja, dia karyawanku," ucap Danil.
"Dan, aku suaminya," bentak Cakra kesal.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Sambil nunggu author up, silahkan mampir ke karya teman author ya!
...AFTER ONE NIGHT MISTAKE...
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad