
Cakra dan Siska telah diperbolehkan pulang, Cakra terpaksa memakai tongkat untuk membantunya berjalan.
"Ah, akhirnya sampai rumah juga," ucap Siska. Dia menuju kamarnya, membawa Atha yang masih digendong.
Cheryl dan Cyntia memerintahkan sopir, untuk membawa tas dan perlengkapan mereka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Cakra. Saat dia melihat Siska menuju ke kamarnya.
"Tentu saja, ke kamar Siska, Bang dan menyusun pakaian kami," tunjuk Siska kepada tas yang berisi pakaiannya dan Atha.
"Kamu pindah ke kamar, Abang," perintah Cakra.
"Eh, kenapa?" tanya Siska bingung.
"Kok, malah nanya, sih, Sis? Nggak boleh membantah, pokoknyw kamu harus pindah," tegas Cakra.
Siska yang segan berdebat di depan mertua dan sahabatnya hanya bisa mengalah. Apa kata mereka nantinya? Oke, jika Cheryl telah tahu, tapi mama mertuanya 'kan belum tahu detail permasalahan yang mereka hadapi?
Siska menuju kamar Cakra, dia kaget melihat kamar Cakra telah ada box bayi di dalamnya. Siska membuka lemari pakaian, ternyata pakaian Siskapun telah dipindahkan. Cakra menuju kamarnya dengan bantuan tongkat untuk berjalan.
Siska meletakan Atha di dalam box bayi agar tidurnya terasa nyaman. Siska mulai memasukan pakaian ke dalam lemari.
"Sis, gue, sama Mama, pulang ya, kalian yang akur, jangan bertengkar," pamit Cheryl tapi masih sempat meledek Siska dan Cakra.
Cheryl berada di pintu kamar Cakra. Sementara Cyntia masih meletakan makanan yang tadi mereka beli saat di jalan.
"Apaan, sih, Cher," malu Siska. Dia bersiap menuju luar menemui mertuanya.
"Mama, apa tidak makan atau minum, dulu?" tawar Siska. Dia telah membiasakan diri untuk memanggil Cyntia 'Mama' karena berkali-kali ditegur oleh Cyntia.
"Tidak usah, sebaiknya kalian istirahat saja, makanan sudah Mama letak di meja makan, jadi kalau kalian lapar tinggal makan saja. Dan obat kamu dan Cakra Mama tarok di lemari dapur juga," terang Cyntia.
"Terima kasih, Ma," balas Siska. Dia memeluk Cyntia.
"Hiduplah bahagia, sayang, anggap, Mama adalah ibu kandungmu," ucap Cyntia, dia mengusap punggung dan kepala Siska. Siska menjadi terharu, dan hal itu mmebuat dia ragu untuk membahas perceraian dengam Cakra.
Bolehkah Siska berharap, bahwa masih ada kesempatan buatnya? Apalagi kemarin Cakra menciumnya, seakan-akan Cakra mencintainya. Atau hanya itu karena situasi dan naluri kelelakiannya saja?
"Ayo, Ma, Cheryl, mau istirahat juga," ucap Cheryl yang telah ikut ke dapur.
Cyntia mengurai pelukannya, dan mencium pipi Siska. Siska tersenyum, dia seperti mendapat kasih sayang mamanya lagi.
"Nanti, Mama, akan utus seseorang buat membersihkan apartment kalian, sekalian juga buat masak, dan juga pengasuh untuk Atha," jelas Cyntia.
__ADS_1
"Apa nggak sebaiknya mereka cari apartment atau rumah yang lebih besar aja, Ma," usul Cheryl.
"Kamu benar, Sayang, nanti kita cari rumah baru untuk kalian, kasihan Atha dan calon adik-adiknya nanti, ruangan untuk mereka bermain terlalu sempit dan tidak ada taman," terang Cyntia.
Wajah Siska menjadi panas, saat Cyntia membicarakan tentang adik-adik Atha selanjutnya.
"Sekarang fokus buat kesembuhan Abang dan Siska aja dulu, Ma. Biar aja mereka memilih rumah seperti apa yang mereka inginkan," sahut Cheryl.
"Ah, benar, tentu saja, istirahatlah, Sayang, kami akan meninggalkan kalian," pamit Cyntia. Bukannya menuju luar, Cyntia justru ke kamar Cakra. Cakra tengah duduk di atas ranjang dengan meja laptop dan laptop di depannya.
"Mama!" panggil Cakra.
"Kamu kenapa di depan laptop, Cak?" tanya Cyntia. Jangan katakan bahwa putrahya sedang bekerja.
"Cakra hanya memeriksa email dan beberapa laporan," jawab Cakra.
"Ingat, kamu harus fokus istirahat, jangan sampai justru semakin lama sembuhnya," nasehat Cyntia. Dia menuju boz bayi.
"Iya, Cakra tahu, kok, Ma,"
"Sayang Oma, pasti Oma akan rindu mendengar suara tangismu. Nanti sering-sering main ke rumah Oma, ya, mumpung aunty Cheryl masih lama, liburnya," bujuk Cyntia kepada Cucunya. Dia mencium pipi temben bayi mungil itu.
"Mama, pulang. Cak. Ingat jangan sakiti Siska," ancam Cyntia.
Cyntia meninggalkan kamar Cakra. Dia melihat Siska dan Cheryl mengobrol.
"Yuks, Cher," ajaknya.
"Bye, Sis. Nanti gue sering-sering main ke sini sama Mama, mau ketemu Atha." Cheryl melambaikan tangan di balas oleh Siska.
Selepas mereka pergi, Siska kembali ke kamar Cakra. Dia akan melanjutkan kembali merapikan pakaiannya.
"Bang, sebaiknya kita membeli lemari baru untuk pakaian Atha," beritahu Siska.
"Lemari itu tidak muat?" tanya Cakra.
"Iya, dan lebih baik pakaian bayi dibedakan dengan pakaian orang dewasa," jelas Siska. "Eh, lemari yang dikamar Siska aja, dipindahin, ya?" usul Siska.
"Nggak usah, beli lemari baru aja, kalau lemari di kamar kamu yang dipindah. Di sana masa tidak ada lemari," tetang Cakra. Dia masih sibuk di depan laptop.
" Terserah Abang aja," jawab Siska.
Selesai mengatur barang-barang, Siska melihat bayinya yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
"Bang!" panggil Siska.
"Ya," jawab Cakra singkat.
Siska menimbang, apakah tepat untuk membicarakan hal ini sekarang. Siska ingin memberitahu Cakra bahwa dia akan kembali bekerja.
"Hmm," ragu Siska. Dia memilin-milin tangan karena gugup.
Karena melihat Siska belum juga mengatakan sesuatu Cakra mengalihkan pandangan dari laptop dan fokus dengan apa yang akan dikatakan Siska. Dia pikir Siska tersinggung karena dia tidak memperhatikannya.
"Ada apa?" bujuk Cakra.
"Siska mau kembali bekerja, Bang," cicit Siska.
"Sis, sini deh!" panggil Cakra, agar Siska duduk di sampingnya. Siska menaiki ranjang dan duduk di depan Cakra. Cakra meletakan laptop di meja yang ada di sampingnya. "Abang, nggak akan melarang, kamu untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai, tapi, apa kamu akan tega meninggalkan Atha hanya dengan pengasuh?" rayu Cakra. Dia berharap Siska hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
"Tapi--,"
"Sis, kamu dan Atha adalah tanggung jawab, Abang. Jadi kamu tidak usah memikirkan apapun. Percayalah. Abang tidak akan menyia-nyiakan kalian," potong Cakra sambil menggenggam tangan Siska meyakinkannya.
"Baiklah, Siska juga ingin merawat Atha dengan baik," putus Siska. Sebaiknya dia menekan ego, menerima pemberian dari Cakra.
"Lebih dekat ke sini." Cakra menarik tangan Siska membuatnya merapat ke Cakra.
"Abang, mau ngapain?" Siska menahan jantungnya yang berdebar dengan kencang. Apa yang akan Cakra lakukan? Wajah Siska memerah, dia merasakan hawa panas di sekitar mereka, meskipun AC hidup.
Cakra mencium bibir Siska dengan lembut, perlahan lebih menuntut. Bahkan Cakra menuju lehernya dan memberi tanda di sana. Cakra membuka satu persatu kancing baju Siska. Siska yang terlena dengan perlakuan Cakra hanya pasrah membiarkan Cakra melakukan apa saja. Kancing baju Siska telah terbuka separuh dan menampilkan asetnya yang sexy dan besar. Tahu sendiri aset ibu-ibu menyusui.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Sambil nunggu up, mampir donk besties ke karya temanku !
...CINTA BERTANDA MERAH...
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad
__ADS_1