
"Abang--,"
"Siska, akan membebaskan, Abang setelah anak ini lahir," putus Siska memotong ucapan Cakra. Dia tahu Cakra masih bingung dengan perasaannya.
"Maaf, Abang tidak bermaksud menyakitimu. Namun, Abang tidak bisa menjanjikan apa-apa," ujar Cakra. Dia memeluk Siska dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Siska.
"Siska, sudah sangat senang, Abang membantu dan perhatian dengan Siska. Tapi, mulai hari ini, bersikaplah biasa. Siska tidak ingin menjadi salah paham dan berharap masih ada harapan untuk Siska," pinta Siska.
Cakra menatap Siska dengan sedih, ada perasaan tidak rela yang dia rasakan, saat Siska menyerah. Akan tetapi, Cakra tidak dapat berkata apa-apa.
"Siska, akan mencari pekerjaan dan mencari kontrakan. Siska tidak ingin berhutang terlalu banyak," lanjut Siska lagi. Dia menatap keluar jendela kamar rawat inapnya.
Hujan membasahi bumi, sepertinya ia juga tahu bahwa Siska terluka dan kecewa. Siska memperhatikan pohon ketapang kencana yang berayun karena tertiup angin.
Setidaknya setelah hari ini Siska akan mencoba untuk hidup mandiri dan menata masa depan bersama bayinya kelak. Gadis itu telah menjadi sebatang kara, jadi hanya bayinya yang dia miliki. Berharap dia akan bahagis meskipun hanya berdua dengan anaknya.
"Abang, tidak setuju kamu pindah dari apartment. Abang khawatir jika kamu tinggal sendirian. Biarlah--setidaknya selama kamu hamil, tinggalah bersama Abang," cemas Cakra. Bagaimana jika kejadian masa lalu Siska membuat dia melakukan sesuatu yang ditakutkan Cakra.
"Baiklah, setidaknya, izinkan Siska untuk mencari pekerjaan," pinta Siska.
"Apa kamu yakin, jika bekerja dalam kondisi hamil?" cemas Cakra.
"Tenang saja, Siska bisa, kok," ujar Siska menenangkan Cakra. Meskipun Siska ragu apakah ada perusahaan yang mau menerima wanita hamil bekerja? Akan lain halnya jika wanita itu hamil setelah bekerja beberapa tahun.
"Kalau kamu mau, Abang, bisa carikan posisi di I-Shine untukmu?" tawar Cakra.
Siska ingat informasi dari Mila bahwa dia pernah bekerja sebagai house keeper.
Apa Siska kembali bekerja sebagai house keeper saja di sana? Setidaknya pekerjaan itu memiliki shift dan akan tetap bisa dia kuliah.
"Apa bisa Siska bekerja di sana kembali setelah dipecat?" tanya Siska.
"Tenang saja, Abang bisa mengurusnya," ucap Cakra.
"Sebaiknya tidak, Siska tidak mengenal mereka lagi. Akan kelihatan aneh nantinya, belum lagi gosip yang beredar. Nanti Siska cari kerja di tempat lain saja," putus Siska.
"Ya udah, terserah kamu saja," balas Cakra.
***
Dua bulan telah berjalan sejak kejadian Siska bertemu Nabila. Siska telah mencoba memasukan lamaran dibeberapa tempat. Namun, tidak ada yang mau memperkerjakan Siska dengan alasan kehamilan Siska dapat memperlambat pekerjaan Siska.
__ADS_1
Kehamilan Siska telah memasuki bulan ke enam. Siska telah mengetahui jenis kelamin bayinya. Bayi laki-laki. Skripsi Siska pun sedang di kerjakannya.
Siska bersyukur, mungkin dia belum diterima bekerja karena masih sibuk mengerjakan skripsinya. Siska berusaha tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Cakra, demi kesehatan jantungnya.
Cakrapun sedang sibuk-sibuknya. Apalagi I-Shine semakin maju dan banyak pelanggan yang berminat untuk menginap di sana.
***
Akhirnya Siska wisuda, saat usia kandungannya tujuh bulan. Cakra menemani Siska saat wisuda. Setidaknya mereka berperan sebagai suami istri yang harmonis.
Cyntiapun sesekali mengunjungi Siska, dia sangat suka bersama Siska. Seperti tengah bersama Cheryl. Kadang Siska merasa bersalah karena telah memanfaatkan kebaikan Cakra dan semakin merasa bersalah karena hamil bukan anak Cakra. Sementara Cyntia memperlakukan Siska dengan baik.
"Apa sudah ketahuan jenis kelaminnya, Sis?" tanya Cyntia saat mengunjungi apartment.
"Udah, Ma, laki-laki," balas Siska. Sebenarnya dia tidak ingin terlibat dalam membicarakan anaknya dengan Cyntia. Karena Siska merasa seolah-olah tengah membohonginya.
"Baguslah, semoga dia sehat," ujar Cyntia.
Setelah asik mengobrol, akhirnya Cyntia pamit untuk pulang.
Siska mulai berpikir untuk benar-benar mencari pekerjaan. Siska melihat nama-nama yang ada di kontak ponselnya.
-Malam, Kak, ini Siska- Siska mengetik pesan dan mengirimnya kepada Danil.
Siska menunggu cukup lama, Danil belum juga membalas pesannya. Dua jam berlalu, akhirnya Siska memutuskan untuk tidur. Saat mimpi mulai menghampirinya. Suara pesan masuk membangunkan Siska. Siska kembali membuka mata dan meraih ponsel.
-Siska, akhirnya kamu menghubungiku, maaf, aku baru baca, tadi sangat sibuk- tulis Danil.
-Apa kita bisa bertemu, Kak?- tulis Siska.
-Tentu saja, kamu ingin kita bertemu dimana?- balas Danil dnegan cepat.
-Terserah Kakak saja, asal tidak mengganggu jadwal Kakak?- Siska.
-Besok ke kantorku aja, bagaimana?- Danil.
-Boleh, jam berapa?- Siska.
-Jam 10, besok, Kakak saher lokasinya- Danil.
Kemudian Danil mengirimkan alamat kantornya.
__ADS_1
***
Siska telah bersiap-siap untuk ke kantor Danil. Siska mengeluarkan motornya. Ya sejak Siska keluar dari rumah sakit, dia memang bertanya tentang motornya. Informasi Mila siska bekerja dulu menggunakan motor.
Bersyukur saat kejadian naas, Cakra masih menyimpan motor Siska tersebut. Siska pun ke kampus dan kemana saja selalu memakai motor.
Siska mulai melajukan motor menuju alamat yang diberikan Danil. Siska tidak memberitahu Cakra, bahwa dia ingin meminta Danil untuk memberinya pekerjaan.
Siska menatap kantor Danil, kantor tersebut berada di dalam kawasan perkantoran grand Sudirman yang terletak di jalan Sudirman. Siska memarkirkan motor, kemudia melapor kepada satpam.
"Selamat pagi, Pak. Saya ingin bertemu bapak Danil Nugraha," izin Siska kepada Satpam.
"Apa sudah membuat janji?" tanya satpam.
"Sudah, pak," jawab Siska ramah.
Satpam sedikit curiga karena ada seorang wanita hamil ingin bertemu dengan pemilik perusahaan.
"Tunggu sebentar saya akan menghubungi beliau dulu." satpam menekan nomor extension ruangan Danil dan memberitahu Danil tentang kedatangan Siska.
"Sialhkan ke lantai tiga, sebelah kanan, ruangan pak Danil, gampang, kok nyarinya. Lihat aja tulisan CEO di pintunya." Akhirnya Satpam mempersilahkan Siska ke ruangan Danil.
Siska menuju ruangan Danil. Sepanjang dia melewati ruangan lain. Pandangan karyawan yang melihat Siska dengan aneh. Akan tetapi, Siska mencoba mengabaikannya. Dia butuh pekerjaan.
Siska berdiri di depan pintu ruangan Danil mencoba merangkai kata-kata untuk meminta bantuan Danil. Siska masih ragu untuk mengetuk pintu ruangan Danil. Cukup lama Siska berdiri, saat hatinya masih ragu. Dia takut Danil menolak membantu mencarikannya pekerjaan, Apalagi kondisi Siska yang tengah hamil besar. Siska akhirnya mengetuk pintu ruangan Danil.
"Masuk," perintah Danil. Dia yakin Siska yang datang dan Danil telah menunggunya.
Siska membuka pintu dan melangkah masuk.
"Siska!" Pandangan Danil langsung tertuju kepada perut Siska yang membuncit. "Kamu hamil?"
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad
__ADS_1