
"Maaf, untuk bertemu Pak Cakra harus membuat janji dulu," jelas Resepsionis dengan mempertahankan ke ramahannya. Meskipun dia kesal dengan ketidak sopanan Cheryl.
"Gue, nggak butuh buat janji, kasih tahu aja ruangannya di lantai berapa?" desak Cheryl lagi.
"Cheryl!" sapa Cakra yang kebetulan akan keluar bersama Manager Marketing.
Cheryl langsung menghampiri Cakra dan memukulnya dengan tasnya.
"Maaf, Nona, apa yang anda lakukan?" lerai Manger Marketing. Dia mencoba menarik Cheryl dari Cakra.
Manager Markketing heran karena Cakra tidak melawan saat dipukuli secara membabi buta oleh wanita ini.
"Jangan ikut campur!" hardik Cheryl. Entah kenapa Manager Marketing menjadi takut saat mendapat pelototan dan hardikan dari Cheryl.
Siapa sih, wanita ini? Berani sekali dia?
"Cheryl, hentikan!" bentak Cakra. Dia mencoba mengambil tas yang digunakan Cheryl untuk memukulnya.
Pak Cakra mengenal wanita ini? Apa kekasihnya? Tapi, pak Cakra telah menikah dengan Siska?
"Dasar bajingan!" bentak Cheryl tanpa memanggil Cakra Abang.
Manager Marketing kemudian menarik tubuh Cheryl membuat Cheryl seperti melayang dengan kaki berusaha menendang Cakra.
"Siapa kau? Lepaskan!" bentak Cheryl. Dia mencoba memukul Manager Marketing.
"Turunkan dia!" perintah Cakra.
Manager Marketing menurunkan Cheryl, Cheryl langsung memukul Manager Marketing dengan tasnya. Kemudian beralih untuk memukul Cakra lagi. Cakra berusaha menghindar dan mengambil tas Cheryl kemudian melemparkannya, agar Cheryl tidak lagi menggunakan tas tersebut untuk memukulnya.
Sementara Manager Marketing hanya diam saja menyaksikan pertengkaran dua orang itu. Resepsionis menghubungi security, agar ke sini. Bersyukur tamu tidak begitu ramai, dan mereka juga tidak kepo dengan kejadian tersebut.
"Udah, Cher!" teriak Cakra. Dia memegang tangan Cheryl yang berusaha memukulnya. Cheryl seperti orang yang kerasukan. Dia tidak terima jika Cakra membuat sahabatnya menderita.
"Apa yang kalian lakukan?" hardik seorang pria paruh baya, yang baru saja memasuki hotel dan melihat kejadian memalukan di depan meja resepsionis.
Pria itu adalah Candra Pragya, ayah dari Cakra dan Cheryl. Dia datang bersama beberapa orang yang mengikutinya di belakang. Manager Marketing yang melihat Candra, langsung memberi hormat. Dia menjadi pucat karena Candra datang dan melihat kejadian ini.
Cakra melepaskan tangan Cheryl, sementara Cheryl mengambil kesempatan untuk kembali memukul Cakra.
"Cheryl, hentikan!" bentak Candra.
Semua yang ada di sana heran karena Candra mengenal gadis yang menghajar Cakra. Cheryl memang jarang terexpose, jadi hampir semua karyawan Candra tidak mengenal Cheryl.
"Papa!" ucap Cheryl. Dia baru menyadari kedatangan Candra dan Cheryl baru menyadari bahwa dia menjadi tontonan orang-orang disekitarnya. Cheryl mengambil tasnya yang tadi dilempar Cakra.
"Ayo, kita bicara di ruangan Abang kamu," ajak Candra.
__ADS_1
Semua yang ada di sana, kaget ternyata Cheryl adalah anak pemilik hotel.
"Kalian semua, silahkan tunggu di ruang rapat," perintah Candra kepada rombongannya.
"Ajak mereka ke ruang rapat," perintah Cakra kepada Manager Marketing.
Candra melangkah menuju ruangan Cakra, diikuti kedua anaknya. Sementara Manager Marketing mengajak rombongan Candra untuk ke ruang rapat terlebih dahulu.
Candra dan Cakra memang akan mengadakan rapat terkait penambahan bisnis yang akan mereka lakukan. Sekretaris Cakra heran karena Cakra telah kembali bersama Candra dan seorang wanita.
Mereka memasuki ruangan Cakra. Begitu di dalam Cheryl kembali memukul Cakra dengan geram.
"Dasar, Abang, biadab," geramnya. Cakra tahu kenapa Cheryl marah, ini pasti karena Siska dan dapat Cakra ketahui pasti Cheryl telah bertemu dengan mamanya?
"Kenapa, Abang, menyakiti Siska?" tuduh Cheryl.
"Cheryl, sudahlah, Papa telah menasehatinya," potong Candra. "Sekarang kita hanya perlu menunggu Siska sadar. Setelah itu kita akan mengadakan resepsi pernikahan mereka," lanjut Candra.
"Enak, sekali, Pa," ejek Cheryl tidak peduli dengan perkataan papanya.
"Cakra telah menyesal," tambah Candra.
"Cheryl, tidak percaya, Emang Abang udah move on dari Nabila? Jangan sampai Abang menyakiti Siska!" ancam Cheryl. Dia tahu bahwa Siska mencintai Cakra, akan sangat terluka jika Cakra tidak membalas perasaannya.
"Nabila teman kamu?" tanya Candra heran. Apa hubungannya dengan Nabila?
"Jadi, Abang menikahi Siska hanya karena dia hamil?" tuduh Cheryl.
"Bukankah itu hal bagus, setidaknya dia mau bertanggung jawab," jelas Candra.
"Tidak bisa gitu, Pa. Cheryl takut Abang akan membuat Siska terluka," cemas Cheryil.
"Sudahlah, Cher, toh, memang ini yang terbaik. Mereka telah memiliki anak, jadi mau tidak mau mereka harus hidup bersama demi anak mereka," terang Candra.
"Papa, sama, saja," kesal Cheryl. Dia pergi meninggalkan ruangan Cakra dengan jengkel. Meskipun dia sedikit lega dapat menghajar Cakra.
"Cheryl, tunggu!" panggil Candra sebelum Cheryl benar-benat keluar dari ruangan.
"Apalagi, sih, Pa," rajuk Cheryl. Dia masih kecewa karena papanya membela Cakra.
"Papa, harap, kejadian seperti tadi, tidak terulang lagi. Ingat bagaimanapun Abang kamu adalah pemimpin di sini," nasehat Candra.
"Iya," balas Cheryl. Dia membuka pintu dan keluar dengan cepat sebelum nasehat papanya panjang lebar. Bahka. Bisa menghabiskan satu hari satu malam. Author lebay.
Sekarang Cheryl bimbang bagaimana memberitahu sahabat-sahabatnya yang lain? Apakah Nabila tahu Siska menikah dengan Cakra? Seharusnya Nabila tahu karena mereka satu kampus. Akan tetapi, Cheryl ingat perkataan mamanya, bahwa mereka merahasiakan pernikahan mereka.
Cheryl kembali ke rumah sakit dan langsung menuju kamar Siska.
__ADS_1
"Kamu kenapa, main pergi saja?" ucap Cyntia. Mau memarahi putrinya, dia tahu Cakra yang salah. Cheryl pasti sangat marah karena Cakra menyakiti sahabatnya.
"Cheryl, memberi pelajaran kepada Abang," jawab Cheryl cuek.
"Memang, apa yang kamu dapatkan dari itu?" tanya Cyntia. Dia sedang memberi susu formula kepada cucunya.
"Setidkanya, Cheryl merasa lega," sahut Cheryl. Dia menuju arah mamanya dan menatap bayi mungil yang menggemaskan itu.
"Hi, boy, welcom to the world," sapa Cheryl kepada keponakannya. "Siapa namanya, Ma?" tanya Cheryl.
"Belum ada," balas Cyntia.
"Kenapa?" heran Cheryl.
"Abangmu, ingin berdiskusi dengan Siska, setelah Siska sadar nanti, baru diberi nama," jelas Cyntia. Dia menyingkirkan botol yangbtelah kosong dari mulut bayi mungil itu.
"Memang mereka kemana, sih? Sampai-sampai belum menyiapkan nama untuk anak mereka?" sindir Cheryl lagi.
Perawat masuk. "Saya akan memandikannya, Bu," izin perawat.
"Silahkan," balas Cyntia. Perawat menggendong sang bayi dan memandikannya. Cheryl memdekat ke arah Siska.
"Maafkan, Abang gue, ya, Sis!" sahut Cheryl di telinga Siska sambil memeluk Siska.
Cheryl mengajak Siska berbicara, tentang kuliah dia dan juga masa-masa mereka SMA. Cheryl juga mengatakan bahwa dia merasa rindu dengan masa itu. Dia juga meminta Siska segera bangun.
Perawat telah selesai memandikan si bayi. Cheryl mengambil bayi itu dan menggendongnya. Dia mendekatkan bayi ke Siska.
"Lihat, Sis, bayi loe sangat tampan, apa loe tidak ingin bertemu dan melihatnya?" ucap Cheryl lagi.
Siska merespon ucapan Cheryl dan sentuhan bayinya. Siska menggerakan jarinya.
"Siska!"
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Sambil nunggu up silahkan baca karya temanku ya!
...CINTA BERTANDA MERAH...
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
__ADS_1
Tiktok : lady_mermad