Korban Cinta Pertama

Korban Cinta Pertama
Ajakan Menikah


__ADS_3

Cakra keluar dari ruangan pemeriksaan mamanya. Cakra menebus resep, sementara papa masih menemani mama.


Siska? Dia sakit? Cakra melihat Siska menuju praktek dokter kandungan. Namun kenapa ke dokter kandungan? Cakra mengabaikan saja karena dia buru-buru menebus obat mamanya.


Akan tetapi, pikiran Cakra masih mengingat Siska. Cakra teringat pembicaraan Siska dan teman-temannya di toilet. Benarkah Siska hamil? Siapa yang menghamilinya?


"Pa, ini obat mama, Cakra ada urusan mendadak." Cakra menyerahkan obat mama kepada Candra.


"Ke mana, Cak?" tanya Candra.


"Ada urusan bentar, Pa." Cakra bersiap untuk meninggalkan papa dan mamanya.


"Tapi kamu pulangkan, Cak?" tanya Chintia.


"Ma, Cakra ingin mandiri, bukan saatnya kita harus membahas ini ... Cakra harus pergi." Cakra benar-benar meninggalkan orang tuanya.


Tadi memang Candra menghubungi Cakra. Saat maag Chintia kambuh dan Candra membawa Chintia ke rumah sakit. Meminta Cakra juga menyusul ke sana. Karena Chintia kalau sakit sangat manja, makanya saat diperiksa dia harus ditemani Candra. Dan Cakra yang menebus resep. Chintia tidak akan membiarkan suaminya meninggalkannya sendiri untuk diperiksa.


Cakra mengedarkan pandangan mencari Siska. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Siska. Kenapa hidup Siska menjadi seperti ini? Cakra yakin Siska memasuki ruangan obgyn. Cakra menunggu, Siska keluar dari ruangan dokter tersebut. Cakra melihat Siska seperti setress, berjalan seperti orang linglung, memegang kertas menuju apotik untuk menebus obat.


Di samping apotik ada lorong menuju nursery room. Cakra menarik Siska dan memeluknya di lorong tersebut. Siska berusaha berontak.


"Tenang, Sis," ujar Cakra, dia mengambil kertas yang ada di tangan Siska. Di lorong itu juga ada kursi. Cakra menyuruh Siska duduk. Siska menangis dengan terisak.


"Apa yang harus aku lakuin, Bang?" isaknya. Siska sadar ternyata yang memeluknya adalah Cakra.


Cakra membaca hasil pemeriksaan Siska, sekalipun tidak mengerti, namun Cakra paham jika Siska hamil. Kondisi Siska yang menangis menjelaskan segalanya.


"Kamu hamil?" Cakra bertanya untuk meyakinkan diri. Siska hanya mengangguk dan kembali terisak.


"Siapa? Siapa ayah bayi ini?" Siska memelototi Cakra, bisa-bisanya Cakra bertanya siapa ayah dari bayi yang sedang di kandungnya. Apa Cakra sebegitu tidak ingat dengan apa yang dia lakukan terhadap Siska sebulan yang lalu?


"Kamu punya pacar?" Cakra kembali bertanya karena melihat Siska hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Cakra. Siska hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Lalu siapa pelakunya, Sis?" geram Cakra karena Siska tidak juga kunjung berbicara.


"Aku diperkosa!" cicit Siska, dia ingin memberitahu Cakra tapi melihat Cakra seperti tidak bersalah membuat Siska bimbang. Jika dia memberitahu Cakra bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak Cakra, apakah Cakra akan bertanggung jawab dan percaya?


"Apa?" Cakra merasa sangat kasihan dengan Siska.


"Apa kamu ingat siapa yang memperkosamu?" Siska kembali diam, dalam hatinya berteriak '!abang pelakunya'. Karena siska hanya diam. Cakra membayangkan jika Siska diperkosa oleh orang yang tidak dikenalnya.


Mereka sama-sama terdiam dalam waktu yang lama, Siska masih terisak. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Abang akan bertanggung jawab," ucap Cakra, dia pikir dia harus membantu Siska, Siska adalah sahabat adiknya. Toh, gadis yang dicintai Cakra telah menikah. Jadi tidak ada salahnya dia menolong Siska.


Siska yang mendengar bahwa Cakra akan bertanggung jawab menjadi senang. Apakah Cakra ingat bahwa dia yang telah memperkosanya?


"Abang akan bertanggung jawab?" beo Siska mencoba meyakinkan diri dengan yang didengarnya. Percikan kebahagiaan menghantui Siska. Dia merasa lega Cakra mau bertanggung jawab.


"Ya, anggap saja Abang menolongmu karena kamu teman Cheryl, Abang tidak bisa membayangkan ... jika itu menimpa Cheryl," lanjut Cakra. Membuat perasaan Siska yang tadi melambung menjadi jatuh kembali.


"Nggak usah!" kesal Siska. Dia merasa terluka.


"Kenapa?" Cakra heran Siska menolak kebaikannya. Seharusnya Siska berterima kasih.


"Abang tidak perlu berkorban, jika bukan PELAKUnya." Siska sengaja menenkankan kata 'pelaku' agar Cakra ingat.


"Abang akan tetap bertanggung jawab, apa kamu tidak kasihan dengan anak itu, terlahir tanpa ayah?" Siska semakin kesal, seharusnya Cakra sadar.


"Lagian hidup Abang tidak ada tujuan lagi. Nabila telah menikah, jadi tidak ada salahnya Abang membantumu. Abang akan menikahimu. Setidaknya kamu tidak menjadi gunjingan orang. Dan kamu tidak menjadi karyawan yang akan dipecat jika hamil diluar nikah," jelas Cakra


"Namun, jika suatu hari Abang menemukan wanita yang membuat Abang jatuh cinta, Abang mohon, kamu ikhlas melepaskan Abang," lanjut Cakra lagi. Membuat Siska semakin sakit hati. Perasaan yang dia simpan selama enam tahun berubah menjadi semakin benci. Saat Cakra memperkosanya Siska telah membunuh perasaan cintanya kepada Cakra.


Sebegitu tak berhargakah dia dimata Cakra? Apakah hanya Nabila yang menjadi prioritas dan patokan bagi Cakra dalam mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya?


"Baik, jika itu mau Abang, mari kita menikah besok." Setidaknya Cakra harus bertanggung jawab, tahu atau tidak, anak ini tetap punya dia.

__ADS_1


"Tapi kita harus merahasiakannya. Abang tidak ingin orang di hotel tahu. Jika kamu ingin berhenti kerja, tidak masalah. Abang akan membiayai hidupmu. Jadi tidak perlu merahasiakan pernikahan kita," tambah Cakra.


"Tidak, Siska masih ingin bekerja, biar seperti saling tidak mengenal di kantor. Siska hanya ingin surat bahwa kita menikah, agar anak ini tidak dicap sebagai anak haram," sarkas Siska lagi. Setidaknya bebannya akan hilang, tidak perlu menerima cemoohan dari masyarakat.


"Oke, besok kita menikah. Beritahulah mamamu," usul Cakra.


"Terima kasih," ucapan yang sebenarnya ditujukan Siska untuk menyindir Cakra.


"Ayo, kita tebus obatnya!" ajak Cakra, Siska hanya mengikuti Cakra dari belakang.


Selesai menebus obat, mereka keluar dari rumah sakit.


"Kamu bawa motor?" tanya Cakra, karena Cakra yakin yang dia lihat waktu itu benar Siska.


"Tidak," jawab Siska singkat.


"Biar, abang antar."


"Bisakah nanti, tidak memberitahu mama jika Siska hamil?" pinta Siska.


"Baik ... lalu apa alasan kita menikah cepat?" Siska juga bingung dengan pertanyaan Cakra. Apa alasan yang harus diberitahukannya kepada mamanya?


Mereka memasuki mobil Cakra, mereka sama-sama terdiam. Bingung memikirkan alasan yang tepat yang harus dikatakan kepada mama Siska.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2