
"Ada apa, sih, Mas?" tanya Cyntia setelah mereka di luar dan cukup jauh dari pintu kamar rawat inap Siska. Dia akan memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas' jika serius.
"Cakra mengalami kecelakaan!" beritahu Candra.
"Apa?" teriak Cyntia dan Cheryl serempak.
"Pelankan suara kalian, jangan sampai Siska mendengarnya!" bisik Candra memberikode kepada Cyntia dan Cheryl.
"Bagaimana bisa?" heran Cyntia. Dia masih merasa seperti mimpi mendengar perkataan Candra.
"Aku juga tidak tahu," balas Candra.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" panik Cyntia. Dia mencemaskan keadaan putranya. Baru saja dia merasa bahagia karena menantunya telah siuman. Dan sekarang dihapuskan dengan berita kecelakaan putranya.
"Dia sedang dioperasi,"
"Di mana?" Giliran Cheryl yang bertanya, dia merasa bersalah telah menghajar saudaranya. Cheryl menitikan air mata, jika ini saat terakhir Cakra, maka, dia telah bersalah memukul dan memaki saudaranya.
"Di rumah sakit ini juga," Cyntia merasa lemah dengan cepat Candra memegang istrinya. Cheryl pun dengan cepat ikut memegang mamanya.
Jika Cakra dioperasi, maka bisa dipastikan bahwa kecelakaan yang dialami Cakra sangat parah. Cyntia tidak ingin kehilangan putranya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Candra, dia masih memegang Cyntia.
"Aku baik-baik saja," ucap Cyntia, dia berusaha membuat dirinya kuat.
"Operasinya masih berlangsung," lanjut Candra.
"Sebaiknya kita ke sana," ajak Cyntia.
"Sejak kapan Siska sadar?" tanya Candra.
"Tadi siang," jawab Cheryl.
"Tadi sebelum pingsan, Cakra memintaku untuk mencari Siska. Apa yang terjadi?"
"Entahlah," bingung Cyntia.
"Apa Cakra ada menghubungi, kalian?" Candra mencoba mencari tahu, apa yang membuat putranya kecelakaan?
"Aku belum melihat ponsel dari tadi," balas Cyntia.
Cheryl memeriksa sakunya dan mengambil ponsel dari sana.
"Abang ada menghubungi Cheryl, ada banyak panggilan tidak terjawab," tunjuk Cheryl, memeprlihatkan ponselnya kepada papanya.
"Sebaiknya kita segera melihat keadaannya," potong Cyntia. Bukan saatnya mencaritahu penyebab kecelakaan putranya. Sebaiknya mereka fokus kepada pengobatan Cakra.
"Ayo!" Candra mengajak Cyntia untuk ikut dengannya. Cherylpun mengikuti mereka.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu menjaga Siska, Cher," perintah Cyntia.
"Tapi, ma--,"
"Mama benar, sayang, sebaiknya kamu menjaga Siska dan jangan beritahu dia tentang kecelakaan Cakra. Papa, takut, dia baru saja siuman, dan belum siap mendengar berita ini," terang Candra. Dia memghentikan langkah. Begitupun Cheryl.
"Kalau Siska bertanya tentang Abang, Cheryl harus jawab apa?" bimbang Cheryl.
"Bilang saja, Abang mendadak ada pekerjaan di luar negeri," jawab Cyntia.
"Sekarang, kembalilah ke kamar Siska, Papa, tidak ingin dia menjadi curiga," tambah Candra. Candra dan Cyntia meninggalkan Cheryl. Cheryl menghapus air mata yang sempat menetes. Dia tidak ingin Siska menjadi curiga.
"Cheryl, apa yang terjadi?" todong Siska beigu Cheryl telah masuk ke dalam kamar. Dia merasakan perasaan yang tidak enak.
"Hmm, tidak apa-apa, Papa, tadi hanya menolong seorang pria yang kecelakaan," elak Cheryl. Seperti kata papanya, jangan membuat Siska cemas.
"Syukurlah, Om, tidak apa-apa," lega Siska. Atha telah tertidur. Jenifer melihat pasti Siska telah kelelahan menggendong putranya.
Jenifer menuju ke arah Siska. "Gue, akan membawanya ke box," ucap Jenifer, dia mengambil Atha dari gendongan Siska. Kemudian menidurkan bayi itu di boxnya.
Mila melirik jam yang berada di ruangannya, dia mulai khawatir pulang terlalu malam karena adik-adiknya pasti sangat ketakutan dan mencemaskannya.
"Hmm, Sis, gue, pulang dulu, ya. Takut terlalu malam dan adik-adik nyariin gue," pamit Mila.
"Iya, terima kasih, sudah datang dan hati-hati di jalan," ucap Siska tulus.
"Sis, aku juga pamit, ya," Danil menyalami Siska dan mengusap kepalanya. "Cepat sembuh, kalau tidak aku bisa memecatmu, loh," ejek Danil.
"Siapa juga yang ingin sakit lama-lama," cemberut Siska.
Danil dan Mila meninggalkan kamar Siska. Siska melihat waktu telah menunjukan pukul sembilan malam. Siska merasa heran kenapa Cakra belum muncul juga? Apa dia lembur? Saat sadar tadi Siska memang sedikit kecewa karena Cakra tidak ada di sampingnya. Hal itu juga membulatkan tekad Siska untuk berpisah dari Cakra.
"Cher! Abang loe, kok, dari tadi nggak kelihatan?" tanyq Maura. Siska lega Maura bertanya, mewakili dirinya. Setidaknya itu tidak membuat Siska malu.
"Hmm, itu, Abang mendadak ke luar negeri," sahut Cheryl terbata-bata. Dia memberi kode Maura, agar tidak bertanya lebih lanjut.
Maura mengerti dengan kode Cheryl.
"Dasar, Abang, loe, istri masih sakit, dia malah ke luar negeri," umpat Jenifer.
"Bukan, gitu, Abang juga sebenarnya nggak mau, tapi, bagaimana lagi, cuma Abang yang bisa," dusta Cheryl. Dia mencoba memberi kode Jenifer. Jenifer justru menjadi bingung.
"Apa?" bentaknya.
Siska memperhatikan tingkah Cheryl yang aneh.
"Bukan apa-apa," balas Cheryl.
"Tapi, tadi, loe, mengedipkan mata ke gue?" heran Jenifer.
__ADS_1
Maura merutuk dalam hati, kenapa Jenifer sekarang jadi oon gitu, biasanya Cheryl yang oon.
"Itu karena mata gue, kemasukan debu. Udah kalian pulang aja, udah malam, Siska mau istirahat," usir Cheryl. Semakin lama mereka di sini, semakin banyak ke bohongan Cheryl.
Cheryl mendorong tubuh kedua sahabatnya itu. Siska hanya tersenyum dengan tingkah mereka.
"Bye, Sis, cepat sembuh, ya," ujar Jenifer sebelum benar-benar diusir Cheryl.
"Terima kasih," balas Siska.
Di luar Cheryl, langsung menutup pintu.
"Apa yang terjadi," Maura yang penasaran langsung bertanya kepada Cheryl.
"Abang, gue kecelakaan," bisik Cheryl. Dia melangkah lebih jauh lagi dari pintu kamar Siska. Takut Siska mendengar pembicaraan mereka.
"Apa? Bukannya loe, baru menghajar dia?" ucap Jenifer.
"Sekarang bagaimana keadaanya?" tanya Maura.
"Sekarang dia sedang dioperasi, gue juga nggak tahu bagaimana keadaannya. Papa dan mama di sana menunggui, Abang," terang Cheryl.
"Ya, ampun, baru juga Siska sadar, sekarang Abang loe pula yang kecelakaan," sesal Maura. Dia mengusap lengan Cheryl untuk menenangkannya.
"Makanya, gue terpaksa bohong, bilang Abang ke luar negeri karena keluarga gue nggak mau Siska tahu. Loe, tahu sendiri, dia baru siuman," lanjut Cheryl.
"Kami paham, semoga Abang loe baik-baik saja dan cepat sembuh," do'a tulus Jenifer.
"Sebaiknya kami segera pergi. Nanti Siska terlalu lama menunggu," pamit Maura. Dia memeluk Cheryl. "Loe, yang tabah, ya, gue yakin bang Cakra baik-baik saja. Dia baru saja punya anak, kasihan anaknya," isak Maura memberi kesabaran kepada Cheryl.
"Iya, terima kasih, kalian selalu membantu gue, gue beruntung punya sahabat seperti kalian," Cheryl menahan air mata, agar tidak jatuh. Akan sangat susah jika Siska melihat matanya sembab dan alasan apa yang harus dibuat Cheryl?
Maura dan Jenifer melambaikan tangan, melangkah meninggalkan Cheryl. Cheryl kembali mengusap air matanya dan mencoba menenangkan diri agar Siska tidak curiga.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties!
Sambil nunggu author up, silahkan mampir ke karya temanku ya!
...REWRITE OUR DESTINY...
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad
__ADS_1